Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 27 Sama-sama Mesum


__ADS_3

Hubungan Sevia dengan Dave semakin hari semakin baik. Mungkin karena dia tidak punya alasan untuk bersitegang dengan Dave. Apalagi, suami brondongnya itu kini selalu bersikap manis padanya. Tentu saja hal itu membuat gadis yang selalu haus kasih sayang menjadi senang karena merasa menjadi orang yang berharga.


Tidak jauh berbeda dengan Sevia, Dave pun merasa senang. Setiap hari dia selalu mendapatkan pelayanan plus-plus dari istrinya. Bahkan Sevia selalu menurut jika dia ingin praktek gaya baru yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.


"Dave, lusa aku harus seminar motivasi ke Senayan. Tapi aku gak tahu tempatnya, aku juga belum punya banyak kenalan di kampus," keluh Sevia dengan menulis abstrak di dada Dave saat mereka sudah menyelesaikan dua ronde percintaan panasnya.


"Hari Sabtu kan? Nanti berangkat sama aku. Sekalian aku pulang ke rumah dulu. Nanti pulangnya jam berapa?" tanya Dave dengan mengelus pelan rambut istrinya.


"Kalau lihat dari jadwal pulangnya sore. Besok aku juga mau cari baju hitam putih. Mungkin nanti aku pulang agak telat," Sevia terus saja menulis abstrak di dada suaminya dengan sesekali menciumi dada yang putih kebule-bulean itu.


"Via, kamu sedang meminta ijin apa sedang menggodaku lagi?" tanya Dave yang mulai terpancing dengan apa yang istrinya lakukan.


"Aku sedang minta ijin sekalian minta tambahan dana buat beli baju dan bekal ke Senayan," ucap Sevia cengengesan.


"Kamu sudah pintar menggodaku ya! Baiklah, karena hari ini kamu sudah jadi anak baik dengan bermain liar selama 2 ronde, maka aku akan kasih apa yang kamu mau." Dave langsung mengambil ponselnya dan menuliskan sesuatu di sana.


Tring!


Ponsel Sevia pun berbunyi pertanda ada pesan masuk. Saat dia lihat ternyata ada pesan dari M--banking yang memberitahukan ada sejumlah saldo yang masuk ke dalam rekening Sevia. Mata Sevia langsung melotot melihat jumlah saldo yang masuk ke rekeningnya. Dia sampai bingung menghitung jumlah nol yang ada di belakang angka satu.


"Dave nol-nya banyak sekali, kamu gak salah pencet?" tanya Sevia


"Tidak! Itu hanya seratus juta, Via. Kamu kayak belum pernah lihat nol sebanyak itu saja." Dave mencubit hidung minimalis Sevia dengan gemas.


"Aku pernah menghitung uang dengan jumlah nol yang banyak begini, waktu aku belajar pelajaran akuntansi. Malah nol-nya lebih banyak dari ini," bela Sevia.


"Kamu ingin lihat gak saldo rekeningku? Biar kamu lihat nol yang asli bukan yang bohongan," tawar Dave.

__ADS_1


"Boleh, aku ingin tahu berapa gaji Pak Direktur sebulan." Sevia langsung melongokkan kepala mengintip ponsel suaminya.


"Nih, coba kamu hitung dibelakangnya ada berapa jumlah nol-nya?" Dave menyodorkan ponselnya pada Sevia.


"Dave, aku pusing! Ini udah sepuluh masih ada lagi." Sevia terus menghitung angka nol di belakang huruf sembilan yang ada di saldo M--banking milik Dave.


"Sudah sini! Kamu lama menghitungnya." Dave langsung merebut ponselnya dan menyimpan kembali ke atas nakas yang ada di sampingnya.


"Dave aku belum selesai menghitungnya," rengek Sevia.


"Sudah bikin pusing hitung yang gituan, mending kita hitung berapa kali kamu pipis enak dalam satu kali pelepasan aku." Dave pun langsung menerjang kembali istrinya mengulang dan mengulang lagi sesuatu yang membuatnya selalu bergairah sampai akhirnya kedua pasangan suami istri terlelap dalam tidur setelah pelepasan untuk yang ke sekian kalinya.


...***...


Sevia sudah siap dengan seragam hitam putihnya karena pagi hari ini dia harus berangkat ke Senayan. Dia mengikuti seminar motivasi sebelum memulai perkuliahan. Memang sudah menjadi tradisi di kampus tempatnya mendaftar kuliah, semua mahasiswa baru harus mengikuti seminar motivasi sebagai pengganti ospek.


"Aku sudah siap dari tadi, kamu saja yang dandan ribet banget. Depan aku saja kamu polosan giliran mau ketemu cowok lain segala nempel tuh di muka." Dave merasa tidak suka saat melihat Sevia sudah berdandan cantik dengan lipstik yang menggoda imannya.


"Ya ampun! Aku hanya pake pelembab dan bedak." Sevia pun mengerucutkan bibirnya yang sukses membuat Dave ingin segera melahap bibir yang selalu membuatnya candu.


Tanpa bicara lagi, Dave langsung melahap bibir yag sedang mengerucut itu. Awalnya Sevia kaget dengan apa yang Dave lakukan. Namun, akhirnya dia pun ikut terlarut dalam permainan lidah suami brondongnya. Saat merasa pasokan oksigen sudah menipis, pasangan suami-istri itu pun melepaskan pagutannya.


"Dave, kamu merusak lipstik aku!" keluh Sevia.


"Sengaja, aku suka gak tahan kalau kamu memakai lipstik. Jadi sebelum orang lain melihatnya, aku yang akan mencicipinya." Dave tersenyum senang merasa dialah yang menjadi pemenangnya.


"Sudah, aku hapus saja!" Sevia langsung beranjak pergi meninggalkan suamianya yang masih tersenyum bahagia.

__ADS_1


Menyadari istrinya sudah pergi menuju ke basemen, Dave pun segera menyusulnya. Tanpa suara pasangan muda itu langsung masuk ke dalam mobil. Perlahan mobil itu keluar dari basemen sebelum akhirnya menancap gas setelah berada di jalan raya. Dave melirik ke arah Sevia yang kini lipstiknya sudah terlihat memudar. Dia hanya terkekeh melihat kekesalan istrinya.


"Jangan cemberut, nanti cantiknya hilang!" goda Dave.


"Aku cantik, Dave?" tanya Seviaa dengan mata yang berbinar.


"Nggak! Kamu gak cantik tapi menarik. Kamu tahu Via, banyak cewek yang patah hati olehku. Ternyata aku malah jatuh pada pesona tante mesum," sindir Dave.


"Hai! Aku gak mesum! Kamu itu brondong mesum, tiap hari minta jatah terus sama aku." Sevia membuang mukanya ke jalan dengan melipat tangan di dadanya.


"Sudahlah, kita terima saja kalau kita sama-sama mesum." Dave terkekeh dengan ucapannya sendiri. Sementara Sevia hanya diam tidak menanggapi.


Apa benar aku mesum? Bukankah aku hanya mengikuti apa yang dia mau? Lagipula permainan Dave selalu membuatku terbang melayang, batin Sevia.


Setelah perjalanan kurang lebih selama satu jam, akhirnya mobil Dave masuk arena Senayan. Sevia pun berpamitan pada Dave sebelum turun dari mobil. Saat sudah sampai di gedung tempatnya seminar dengan hati yang penuh haru. Dia tidak pernah menyangka mimpinya untuk melanjutkan kuliah bisa terwujud meski tanpa sokongan dari keluarganya. Namun saat Sevia akan masuk ke dalam gedung, terdengar ada suara yang memanggilnya.


"Via, tunggu sebentar!" panggil Andika yang memang terlibat menjadi salah satu panitia seminar.


Sevia pun menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah suara. "Andika, kenapa ada di sini? Kamu kuliah lagi?" tanya Sevia heran.


"Tidak! Aku jadi panitianya. Nanti kamu pulang bareng aku saja." jawab Andika.


Sepertinya ketenangan kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu harus sedikit terusik dengan kehadiran Andika yang terus menguntit Sevia. Bahkan Andika mendaftar menjadi dosen di kampus tempat Sevia mengambil kuliah kelas karyawan.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih!...


__ADS_2