
Hari-hari pun terus berlalu, hubungan Harry dan Nadine semakin hari semakin renggang. Nadine sering kali tidak pulang ke rumah karena alasan shooting. Bahkan Setiap kali Harry meminta haknya. Nadine selalu punya seribu satu macam alasan untuk menolaknya. Hal itu tentu saja membuat Harry bertanya-tanya dengan perubahan istrinya yang semakin hari seolah semakin menjauhinya.
Sementara Usia kandungan Rani pun sudah memasuki bulan ke tujuh. Dia memutuskan untuk melahirkan di kampung halamannya sehingga meminta ijin pada Dave dan Sevia dengan kepulangannya.
"Via, aku minta maaf sebelumnya. Sepertinya aku mau berhenti kerja. Aku ingin melahirkan di kampung ditemani keluargaku," ucap Rani saat mereka sedang berkumpul di taman belakang.
"Padahal di sini aja, Rani. Nanti aku gak ada temannya," keluh Sevia.
"Maaf ya, Via. Mungkin saat anakku sudah bisa aku tinggalkan di kampung, aku akan nyari kerja lagi ke sini." Rani mencoba tersenyum meskipun hatinya merasa lelah.
"Rani, sebenarnya aku keberatan kamu pulang kamu. Tapi aku tidak bisa memaksa kamu untuk terus di sini. Semoga kelahirannya lancar ya, salam sama paman dan bibi," ucap Sevia. "Nanti aku akan mengajak Dave untuk mengantar kamu ke kampung."
"Siapa yang mau ke kampung?" tanya Dave yang baru pulang dari kantor.
"Rani katanya mau pulang kampung, Dave kita anterin yuk sekalian aku mudik!" ajak Sevia.
"Aku juga ingin mengantarnya, tapi pekerjaan aku lagi banyak. Aku gak bisa ambil cuti sekarang. Ada proyek penting yang sedang aku tangani," jelas Dave. "Nanti aku suruh Harry untuk mengantar. Memangnya kapan kamu pulangnya?"
"Mungkin Minggu depan," jawab Rani.
"Oh, besok kalian shopping aja, beli oleh-oleh buat orang kampung sekalian. Beli perlengkapan bayi, biar Tani gak usah beli lagi saat sudah di sana," suruh Dave.
"Baik, sayang! Ini yang aku suka," ucap Sevia dengan sumringah.
Keesokan harinya, Sevia mengajak semua orang yang bekerja di rumahnya untuk ikut jalan-jalan. Dia menyuruh mereka untuk memilih baju yang mereka suka. Tak terkecuali Rani yang memang sengaja dibelikan semua perlengkapan bayi. Setelah lelah berkeliling mall, Sevia pun mengajak makan dulu di restoran. Banyak orang yang melihat aneh ke arahnya dan orang-orang yang ikut bersamanya. Namun, dia masa pura-pura tidak tahu dengan tatapan remeh mereka.
"Mbak Sevia, Bibi malu masuk ke sini." Bi Ijah terlihat sekali kegugupan karena mendapat tatapan yang seperti itu.
"Bibi tenang saja, yang penting aku mampu membayar makanan yang ada di sini," ucap Sevia.
__ADS_1
Saat mereka sedang asyik menikmati makanannya, tanpa sengaja Rani melihat Nadine bersama dengan seorang pria tampan. Mereka terlihat begitu mesra dengan Nadine bergelayut manja di tangan kekar lelaki itu. Rani pun segera berbisik pada Sevia yang duduk di sampingnya.
"Via, coba lihat arah jam sembilan. Nadine dengan siapa? Kho mesra banget," tanya Rani dengan berbisik.
Sevia pun segera menengok seperti yang Rani katakan. Dia terus mengingat-ingat lelaki yang bersama Nadine karena merasa sudah tidak asing lagi. Sampai akhirnya, dia pun mengingat seorang sutradara terkenal yang wajahnya sering muncul di infotainment karena terlibat skandal dengan sejumlah artis.
"Rani, bukankah itu sutradara Adjie yang merupakan anak pengusaha sukses?" tanya Sevia.
"Iya benar, Via. Aku juga baru ingat," pekik Rani yang membuat orang-orang menengok ke arahnya.
"Apa mereka ada main di belakang, tapi kan Nadine sedang hamil," gumam Sevia
"Wanita hamil kadang terlihat seksih di mata lelaki," timpal Lina yang sedari menguping pembicaraan dua sahabat itu.
...***...
Harry yang sedang melamun memikirkan nasib pernikahannya dikagetkan dengan suara dering ponsel di kantong bajunya. Dia pun segera mengambil ponsel dan melihat nama Nadine yang tertera di layar ponsel. Harry secepatnya menerima panggilan telepon dari istrinya.
"Hallo Nadine, ada apa?" tanya Harry saat sudah tersambung.
"Hallo Harry, ini Aurel temannya Nadine. Dia dibawa ke rumah sakit, dia mau melahirkan" ucap Aurel di seberang sana.
"Apa? Ke rumah sakit? Share located, aku segera ke sana." Harry yang sedang bekerja langsung panik saat mendengar istrinya masuk ke rumah sakit. Secepatnya dia menyambar kunci mobil dan keluar dari perusahaan.
Saat sampai di tempat yang dituju, dia langsung menuju ke ruangan bersalin. Namun, hatinya mendadak merasa teriris saat melihat Nadine ditemani oleh seorang lelaki yang usianya di atas dia. Harry pun langsung menghampiri Nadine yang sedang terbaring di ruang bersalin menunggu sampai pembukaan sepuluh.
"Nadine, bagaimana keadaan kamu? Tadi Aurel menelpon memberi tahu kamu akan melahirkan," tanya Harry cemas.
"Perutku sakit Harry. Anakmu menyusahkan aku," ketus Nadine.
__ADS_1
"Kamu, suaminya Nadine? Pantas saja Nadine tidak betah bersama kamu," tanya Adjie dengan menyelidik penampilan Harry.
"Maksud kamu apa?" tanya Harry heran.
"Gak maksud apa-apa. Aku hanya ingin bilang, kalau aku pacarnya Nadine." Adjie tersenyum remeh pada Harry. "Lebih baik kamu pulang saja, Nadine butuh aku di sisinya." lanjutnya.
Bugh!
Tanpa bicara lagi, Harry langsung menonjok wajah tampan Adjie. Dia tidak peduli jika nanti harus berurusan dengan keluarga Wibisana. Harry sungguh tidak bisa menahan kemarahannya dengan apa yang Adjie katakan.
"Maaf Mas! Tolong jangan membuat keributan di sini," ucap seorang perawat langsung melerai. "Suami Bu Nadine silakan di sini sedangkan Mas yang satunya silakan menunggu di luar."
"Aku suaminya, Mbak!" sahut Harry sebelum Adjie bicara.
"Oh, silakan Mas yang satunya menunggu di luar!" suruh perawat itu.
Aku pikir Mas yang keluar itu suaminya. Ternyata suami dia masih terlihat muda sedangkan yang keluar itu sudah terlihat dewasa, batin perawat.
Adjie pun dengan terpaksa ke luar karena Nadine akan segera melahirkan setelah pembukaannya lengkap. Meskipun hatinya tidak karuan dengan kenyataan yang diketahuinya, tetapi Harry berusaha tegar demi kelahiran anaknya.
Sudah berkali-kali, Nadine berusaha untuk mengeluarkan anaknya. Tapi seperti ada yang menghalangi sehingga dia hampir kehabisan tenaga untuk mendorong bayi yang akan dilahirkannya. Melihat Nadine yang seperti kesusahan saat melahirkan anak mereka, Harry pun terus berdoa dalam hatinya untuk keselamatan anak dan istrinya.
Ya Tuhan, tolong selamatkan anak dan istri hamba. Hamba telah memaafkan semua kesalahan Nadine selama ini. Baik yang disengaja ataupun tidak. Hamba mohon, selamat anak dan istri hamba.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya! Langsung klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....
...Tolong jangan kasih boomlike ke karya othor ya!...
__ADS_1