
Sevia langsung kembali ke ruang tamu setelah dia memberitahu Harry tentang kedatangan tamu yang mencarinya. Nampak dua paruh baya itu saling bergenggaman tangan. Seorang pria paruh baya yang sudah memasuki usia lima puluh tahun, dengan kulit putih pucat, berwajah bule dan rambut berwarna kecoklatan bercampur putih. Sementara seorang wanita paruh baya berwajah khas pribumi negeri ini. Mereka berdua adalah orang tua Harry yang sengaja datang untuk mengunjungi anak dan cucunya.
"Maaf Om, Tante! Sepertinya Harry sedang sibuk. Dia menyuruh untuk menunggu sebentar, katanya nanggung." Sevia tersenyum ramah pada orang tua Harry.
"Oh, tidak apa-apa! Bagaimana keadaan Gavin, apa Tante boleh melihatnya?" tanya Yenita, mamanya Harry.
"Tentu saja boleh, Tan. Sebentar Om, Tante, aku mengambilnya dulu." Sevia pun langsung pergi menuju ke kamar anak untuk mengambil Gavin yang sedang tertidur.
Lumayan lama Sevia berada di kamar anak, karena ternyata Devanya terbangun saat dia masuk ke situ. Setelah dia menenangkan kembali putrinya, Sevia pun langsung membawa Gavin ke ruang tamu. Namun, saat dia keluar dari kamar anak bersamaan dengan Harry dan Rani yang baru keluar dari kamar dengan wajah fresh dan rambut yang masih setengah basah.
"Via, memang siapa yang datang?" tanya Harry.
"Katanya dia orang tua kamu," jawab Sevia.
"Apa??? Mama dan papa datang?" saking kagetnya Harry bertanya dengan suara kencang, membuat Gavin yang masih tertidur langsung bangun dan menangis.
"Via, sini biar Gavin yang aku gendong!" pinta Rani yang mendadak gugup dengan kedatangan mertuanya.
"Jangan gugup, Rani! Orang tuaku pasti mengerti kho," ucap Harry yang mencoba menenangkan istrinya.
Pria yang terlihat kalem itu langsung berjalan menuju ke ruang tamu. Tempat di mana orang tuanya berada. Saat sampai sana, wajahnya langsung berbinar bahagia karena melihat papa yang sangat dicintainya sudah terlihat sehat dan segar. Harry pun langsung menghambur ke pelukan papanya sebelum dia menghampiri mamanya.
"Papa, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Harry setelah melepaskan pelukannya.
"Papa baik, son!" sahut Edward Pattinson, papanya Harry.
"Harry, apa kamu tidak merindukan Mama?" tanya Yenita dengan merentangkan tangannya.
__ADS_1
"Mama, apa kabar?" tanya Harry pada ibu sambungnya yang sudah seperti mamanya sendiri.
"Mama baik, mana putramu? Dia pasti tampan menurun dari mama papanya," tanya Yenita.
"Rani, ayo sini!" suruh Harry yang melihat Rani dan Sevia berada di ambang pintu penghubung ruang tamu dan ruang tengah. "Mama Rani ini ...."
"Iya, Mama tahu kalau di pengasuh putramu. Istrimu pasti sangat sibuk karena sekarang suah menjadi seorang artis. Mama tidak menyangka, ibu guru yang selalu terlihat kalem ternyata memiliki bakat terpendam. Teman-teman Mama pasti iri saat tahu kalau menantu Mama seorang artis yang sedang naik daun. Nanti Mama akan mengajak istrimu untuk ikut ke acara reuni sekolah." potong Yenita dengan mengambil Gavin dari gendongan Rani. Dia tersenyum senang saat membayangkan wajah kekaguman sahabatnya.
Aku hanya dianggap pengasuh cucunya. Apa aku memang tidak pantas menjadi istri Harry? Apalagi jika dibandingkan dengan mantan istrinya, aku sangat jauh berbeda. Mamanya Harry pasti tidak suka memiliki menantu seperti aku, batin Rani.
"Mama, Rani ini istriku! Aku dan Nadine sudah bercerai," jelas Harry dengan melihat ke arah Rani yang sedang menundukkan kepalanya.
"Apa??!! Bercerai? Bagaimana bisa kamu melepaskan wanita yang memiliki talenta seperti Nadine?" teriak Yenita yang kaget dengan apa yang dikatakan oleh Harry.
"Son, bisa jelaskan ke Papa kenapa bisa seperti ini! Apa karena perempuan ini, kamu meninggalkan Nadine? Lihat, putramu masih kecil. Apa kamu tega membuat cucu Papa tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu?" tanya Edward dengan menatap lekat putranya.
"Pah, Nadine selingkuh dengan sutradaranya. Aku tidak bisa menerima perempuan yang sudah dipakai lelaki lain saat dia menjadi pasanganku. Sekarang aku sudah menikah lagi dengan Rani," jelas Harry dengan merangkul pundak istrinya.
"Apa? Perempuan ini istrimu? Yang benar saja kamu mencari istri, kenapa selera kamu jadi rendah seperti ini, Nak?" tanya Yenita tanpa memfilter lagi kata-katanya.
"Mama, Rani memang tidak secantik Nadine tapi hatinya lebih cantik dari semua wanita yang aku temui. Lagipula setuju tidak setuju, Mama dan Papa harus menerima Rani sebagai menantu kalian." Harry semakin mempererat rangkulannya pada Rani, seperti seorang anak kecil yang ketakutan saat mainan barunya akan diambil orang.
Rani semakin menundukkan kepalanya mendengar perdebatan Harry dan mamanya. Dia sadar kalau dirinya seperti langit dan bumi jika harus dibandingkan dengan mantan istrinya Harry. Namun, tetap saja hatinya merasa sakit saat ada orang yang terang-terangan membandingkannya dengan Nadine.
"Harry kenapa tidak bilang sama Mama dan Papa kalau kamu sudah bercerai dengan Nadine. Mama bisa mencarikan kamu istri yang lebih baik dari dia. Astaga! Mama malu sama teman-teman Mama jika harus mengakuinya sebagai menantu Mama." Yenita menepuk jidatnya berkali-kali. Ekspektasinya tidak sesuai dengan kenyataan.
"Nyonya, Anda tidak perlu khawatir! Saya dan Harry hanya nikah siri, jadi Anda tidak perlu memperkenalkan Saya pada teman-teman Anda." Dengan suara yang sedikit bergetar, Rani mencoba bicara pada mamanya Harry.
__ADS_1
"Rani!" sentak Harry.
"Baguslah kalau begitu, terus rahasiakan pernikahan kalian. Mama tidak ingin malu di depan teman-teman dan keluarga Mama," ucap Yenita sangat tak berperasaan.
"Sudahlah! Bukankah kita ke sini untuk menengok cucu? Lihat wajahnya mirip sekali dengan Harry saat masih bayi!" Edward langsung mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin putranya marah dan melakukan yang tidak dia duga sebelumnya.,
"Iya benar sekali!" Yenita pun ikut larut dengan suaminya yang sedari tadi memangku Gavin saat istrinya berbicara dengan Harry dan Rani.
Tak berapa lama kemudian, Dave datang setelah selesai meeting. Tadi dia mendapat pesan dari Sevia kalau ada orang tua Harry datang ke rumah, sehingga dia terburu-buru untuk pulang ke rumah.
"Assalamu'alaikum," ucap Dave.
"Wa'alaikumsalam," jawab Sevia langsung berdiri dan menghampiri Dave serta mencium punggung tangan suaminya.
Apa yang dilakukan Sevia, tak lepas dari pengamatan Yenita. Ibu paruh baya itu tidak menyangka kalau perempuan yang dia kira pembantu itu ternyata bersikap mesra pada Dave. Apalagi, saat melihat mencium kening gadis itu, membuat wanita hanya menggelengkan kepalanya.
Aku tidak menyangka, bahkan Dave menyukai perempuan yang selevel pembantu. Ya ampun, aku benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Dave dan Harry selama aku dan Ed tidak ada di tanah air. Kenapa pilihan mereka perempuan yang seperti ini?
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...
Kepoin juga karya Author yang keren ini kak.
__ADS_1