Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 122 Pilih salah satu


__ADS_3

Dion langsung membereskan barang-barangnya. Meskipun dia masih tidak bisa menerima keputusan Elisa, tetapi dia tidak mungkin harus adu jotos di perusahaan, yang justru akan semakin merusak reputasinya. Semua karyawan K'Lisa cosmetics pun merasa heran dengan keputusan pimpinan perusahaan. Mereka tidak menyangka, Elisa yang selalu terlihat mesra pada Dion, justru menurunkan Dion dari jabatannya.


"Mr. Dave, apa bisa saya bertemu dengan Elisa? Ada yang harus saya katakan padanya," tanya Dion.


"Tentu saja bisa Tuan Dion. Kebetulan sekali, nenek juga ingin berbicara sesuatu pada Anda. Beliau menunggu Anda di rutan. Nanti Pak Sony akan menemani pertemuan kalian," tutur Dave.


"Baiklah, saya permisi!" Dion langsung keluar dari ruangannya dengan memeluk satu dus barang-barangnya.


Aku tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini. Padahal sebelumnya aku sangat yakin kalau Elisa akan meninggalkan semua hartanya padaku. Ternyata aku salah perhitungan, batin Dion.


Dion berjalan dengan lunglai menuju ke lantai bawah. Banyak karyawan yang menatapnya sendu. Banyak pula yang merasa senang dengan kepergiannya. Dion yang dikenal ramah pada karyawan, sekaligus suka tebar pesona pada karyawan wanitanya. Bahkan, tidak hanya satu dua orang yang pernah diajak berkencan olehnya.


Setelah kepergian Dion, Dave pun segera menelpon pengacara pribadi Elisa. Dia memberitahukan tentang Dion yang akan bertemu dengan neneknya. Dave sebenarnya enggan mengurusi urusan Elisa, tapi dia merasa tidak tega melihat Elisa yang sepertinya sangat terpuruk.


...***...


Hari pun sudah berganti malam, namun Dion masih belum bisa memejamkan matanya. Dia teringat pertemuannya tadi siang dengan Elisa. Nenek itu, benar-benar telah membuangnya. Mulai hari ini dia berstatus menjadi seorang pengangguran.


Flashback on


Saat dia tiba di rumah tahanan, Elisa sudah menunggunya bersama dengan Roy. Pengacara pribadi Elisa. Dia langsung diberi selembar kertas oleh Roy saat baru saja duduk di kursi.


"Tuan Dion, tolong dibaca dulu dan langsung tanda tangani saja. Agar urusannya cepat selesai dan Anda mendapatkan bagiannya," ucap Roy.


"Maksud kamu apa, Roy?" tanya Dion merasa heran.

__ADS_1


"Nyonya Elisa menggugat cerai Anda, Tuan. Anda akan mendapatkan rumah yang sekarang Anda tempati dan sebuah mobil yang sekarang Anda pakai. Sedangkan perusahaan dalam pengawasan Mr. Dave," tutur Roy.


"Apa? Cerai? Kenapa kamu menceraikan aku Elisa?" tanya Roy tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Roy.


"Dion, aku sudah tua. Kulitku sudah keriput, aku ingin bertobat dari kesalahanku. Mumpung Tuhan masih memberi aku kesempatan. Aku membebaskan kamu, agar kamu bisa bersama dengan gadis muda seperti apa yang kamu inginkan." Elisa memalingkan muka tidak ingin melihat raut wajah Dion yang selalu membuatnya merasa tidak tega


"Lisa, apa kamu sudah tidak mencintai aku lagi?"


"Yang aku cintai hanya uang. Aku sangat kecewa karena kamu selalu menghamburkan uangku untuk memanjakan wanita lain di luaran sana."


"Elisa, aku khilaf. Kenapa kamu tidak memberikan aku kesempatan kedua?"


"Sudah habis kesempatanmu, sekarang nikmatilah kehidupan yang seperti kamu inginkan. Aku sudah cukup lelah menghadapi kamu. Aku pikir kamu sudah berubah, ternyata masih sama, masih menjadi seorang playboy."


Flashback off


Keesokan harinya, Dion kembali ke rumah sakit untuk menemui Nadine. Dia tidak memberitahu tentang perceraiannya ataupun tentang pekerjaannya yang sudah tidak menjadi CEO lagi. Dion selalu berusaha tenang di depan kekasihnya.


"Mas, kamu gak kerja lagi?" tanya Nadine saat Dion baru datang.


"Aku kepikiran kamu terus, jadinya ke sini untuk menjenguk. Bagaimana keadaan kamu?"


"Aku sudah mendingan, Mas."


Kenapa dia harus datang? Adjie kan mau datang ke mari, batin Nadine.

__ADS_1


Baru saja Nadine berpikir bagaimana caranya agar Dion segera pulang, terdengar pintu ruang perawatannya ada yang membuka dari luar. Nampak Adjie masuk dengan sebuket bunga di tangannya. Dia sengaja datang setelah pulang dari syuting di luar kota. Namun, sepertinya bukan hanya Nadine yang terkejut dengan kedua Adjie yang terlalu cepat, tetapi kedua pria dewasa itu kaget saat beradu pandang satu sama lain.


"Loh, Om Dion, Kenapa ada di sini? Apa Om mengenal pacarku?" tanya Adjie kaget.


"Apa? Pacar? Apa Nadine pacarmu?" tanya Dion tak kalah kaget saat melihat anak majikannya dulu masuk ke dalam ruang perawatan kekasihnya.


"Iya, Nadine pacarku. Kami sudah lama berhubungan. Hanya saja aku sibuk syuting di luar kota jadi jarang bertemu dengannya," tutur Adjie.


"Begitu ya! Pantas saja dia mendekati Om, ternyata dia kesepian karena kamu tinggalkan," ucap Dion.


"Maksud, Om? Apa Om pacaran dengan Nadine?" tanya Adjie kaget.


"Iya, kamu tanya saja sama dia. suruh dia pilih satu di antara kita," jawab Dion.


Kedua pria dewasa itu saling berpandangan, lalu mendekat ke arah Nadine yang sedang berbaring. Meskipun keadaannya sudah membaik, tetapi Nadine sedang menunggu pendonor ginjal yang cocok dengan tubuhnya.


"Nadine pilihlah satu di antara kami, atau kamu ingin aku memakai kamu secara bergiliran dengan Om Dion?"


...~Bersambung~...


...Terus dukung Author ya kawan! Klik like, comment, vote rate gift dan favorite....


...Terima kasih!...


Sambil nunggu update, kepoin juga karya othor keren yang satu ini.

__ADS_1



__ADS_2