Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 35 Tidurlah!


__ADS_3

Hari pun terus berganti, kini semua karyawan begitu bersuka cita karena akan gathering perusahaan ke kota gudeg. Tak terkecuali Sevia yang sudah siap dengan koper kecil dan tas ransel di pundaknya.


"Via, koper kamu nanti biar dalam mobilku saja. Biar nanti gampang, kita kan satu kamar hotel," ucap Dave.


"Dave yang benar saja, nanti kalau mereka curiga bagaimana?" tanya Sevia.


"Gak akan, aku udah booking di hotel yang berbeda buat kita. Anggap saja acara bulan madu," ucap Dave dengan tersenyum lebar.


"Ya sudah deh, aku nurut aja sama suamiku yang tampan ini." Sevia pun segera turun dari mobil karena sudah sampai di Bandara. Tak lupa dia memakai masker dan sweater hoodie agar tidak dikenali oleh karyawan lain yang sudah sampai dengan bis.


Dave sengaja mengambil penerbangan yang berbeda dengan para staf dan karyawan karena dia ingin bersama dengan istrinya. Harry yang mengikuti ke mana Dave pergi merasa risih dengan kemesraan dua sejoli itu. Dave seperti tidak perduli dengan keadaan sekitar, tidak hanya sekali dia mencuri ciuman di pipi istrinya di depan Harry.


"Dave, malu ikh ada Harry." Sevia mencubit perut Dave saat suaminya itu lagi-lagi mencuri ciuman di pipi.


"Biar dia cepat-cepat cari istri. Kamu tahu, Umur dia itu lebih tua dari aku." Dave terus saja mengerjai Sevia yang duduk di sebelahnya saat berada dalam pesawat.


"Dave, hentikan! Kepalaku pusing, aku mau tidur." Sevia menjadi salah tingkah saat tangan Dave menelusup masuk ke dalam sweater dan memainkan tonjolan yang berada di atas bukit kembar.


"Diamlah! Mereka tidak akan tahu karena terhalang selimut. Biar pusing kamu hilang, bukankah ini penerbangan pertama kamu?" tanya Dave yang langsung mendapat anggukan dari Sevia.


"Dave aku geli," bisik Sevia.


"Apa kamu menginginkannya? Sabarlah, setelah sampai hotel kita akan langsung tempur." Dave mengerlingkan matanya nakal dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Sevia semakin gelisah karena brondongnya tidak mau melepaskan tangannya dari gundukan kenyal itu. Sampai akhirnya seorang pramugari datang membawa makanan dan minuman, barulah dia melepaskan istrinya.


"Alhamdulillah," lirih Sevia. "Dave, jangan menggangguku! Aku mengantuk mau tidur."

__ADS_1


"Sebelum tidur, makan dulu Via! Sini aku suapin," Dave pun memakan makanannya dengan sesekali menyuapi istrinya sampai makanannya kandas barulah kedua anak manusia itu terlelap tidur.


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam lebih akhirnya pesawat pun mendarat di bandara Adi Sucipto. Dave dan yang lainnya segera menuju ke JS hotel yang berada di jalan Malioboro. Lagi-lagi Sevia mengenakan masker dan hoodie untuk menyamarkan keberadaannya.


Sesampainya di hotel, Sevia langsung melanjutkan tidurnya. Dave hanya menggelengkan kepala dengan apa yang dilakukan oleh istrinya. Merasa bosan di kamar karena di tinggal tidur, Dave pun langsung menuju ke kamar Harry untuk menanyakan berkas yang harus di tanda tanganinya.


"Dave, kenapa tidak nanti saja. Aku mau istirahat dulu," keluh Harry.


"Nanti aku sibuk. Sekarang mumpung Sevia tidur jadinya aku kerja dulu," ucap Dave.


Pria bermata biru itu begitu serius dengan pekerjaannya. Dia tidak perduli di dengan Harry yang melihatnya dengan menggelengkan kepalanya.


"Harry, bagaimana meeting kita dengan Mr. Jason?" tanya Dave di sela-sela pekerjaannya. Namun, sepertinya tidak ada jawaban dari sahabatnya sehingga dia pun melihat ke arah assisten itu.


"Pantas saja diam, ternyata dia juga tidur," gumam Dave. Dia pun segera membereskan pekerjaannya dan kembali ke kamarnya.


Merasa terganggu dengan apa yang dilakukan suaminya, Sevia pun akhirnya membuka. Meskipun kaget karena merasa geli. Akhirnya dia hanya membiarkan brondong itu menikmati sesuatu yang tidak pernah dinikmati selagi masih bayi.


"Dave, apa yang kamu lakukan?" tanya Sevia dengan suara serak.


"Tidurlah lagi kalau masih pusing. Aku janji akan bermain di dengan lembut," ucap Dave dengan tidak menghentikan kegiatannya


Sevia pun akhirnya hanya mengikuti apa yang suaminya katakan. Brondong itu pun melanjutkan aksinya sampai akhirnya dia mendapatkan pelepasannya.


"Ternyata lebih asyik saat dia terbangun, kalau dia hanya diam saja rasanya kurang bergairah. Tapi aku suka dia selalu menuruti apa yang aku mau," gumam Dave sebelum akhirnya dia menyusul istrinya terlelap.


...***...

__ADS_1


Sementara itu, selepas kepergian Dave dari kamarnya. Harry segera membersihkan dirinya dan berencana untuk pergi ke restoran hotel. Perutnya yang terus berbunyi membuat dia semakin mempercepat langkahnya. Sampai pada pintu masuk restoran, tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seorang perempuan yang berjalan dengan setengah berlari ke arahnya. Sampai gadis itu hampir terjatuh seandainya Harry tidak dengan sigap menangkapnya.


"Nadine," lirih Harry.


Merasa namanya dipanggil, gadis yang sekarang berada dalam dekapan Harry kini mendongakkan wajahnya ke atas. Melihat siapa yang telah menangkapnya sehingga dia tidak sampai terjatuh. Namun, betapa kagetnya gadis yang bernama Nadine itu saat tahu murid yang dulu selalu mengejarnya, kini yang menangkapnya di saat dia akan jatuh.


"Harry," lirih Nadine.


Harry langsung membawa Nadine ke salah satu ruang private yang ada di restoran itu. Dia begitu senang bisa bertemu dengan cinta pertamanya. Cinta sepihak yang tidak pernah mendapat kepastian dari sang guru.


"Apa kabar, Nadine?" tanya Harry saat mereka sudah sama-sama duduk.


"Aku, baik! Terima kasih Harry, kamu sudah menolongku," ucap Nadine.


"Aku tidak butuh ucapan terima kasih darimu, aku hanya butuh kamu memberi kepastian padaku. Bukankah kamu bilang akan menunggu aku sampai aku kembali? Kenapa kamu menghilang dan keluar dari sekolah Garuda?" tanya Harry bertubi-tubi. Dia terus mencari di keberadaan Nadine. Namun, ternyata ketidaksengajaan membuat mereka bertemu kembali.


"Maafkan aku Harry! Aku tidak bisa menerima cintamu, sebentar lagi aku akan menikah," jawab Nadine dengan sedikit bergetar.


Dia pun merasa frustrasi saat orang tuanya menjodohkan dia dengan seorang lelaki yang dia tahu kekasih sahabatnya. Bahkan saat tadi dia tergesa-gesa karena dia mendapati calon suaminya itu sedang bermesraan dengan sahabatnya. Padahal pernikahan mereka tinggal menghitung hari.


Sebenarnya Nadine sudah menolak perjodohan itu. Akan tetapi keluarganya tidak menerima alasan yang dia katakan. Apalagi lelaki yang akan menjadi suaminya malah menyetujui perjodohan itu.


"Aku tidak terima penolakan kamu, Nadine. Kamu sudah berjanji untuk menunggu aku."


...~Bersambung~...


Jangan lupa dukungannya kawan! Biar Author terus semangat nulisnya meski kesehatan sedang tidak baik.

__ADS_1


__ADS_2