
Kini Keano dan Devanya sudah berdiri di panggung kecil bersama dengan Andrea. Semua orang tersenyum melihat Keano dan Devanya yang terlihat serasi berdiri di depan. Tak terkecuali Andrea yang terlihat sangat bahagia karena keinginannya untuk melihat cucu pertama memiliki pasangan akan segera terwujud.
"Ano, Deva, di hari lahir Opa ini, ada hadiah istimewa yang opa inginkan dari kalian.Apa kalian mau memberikannya pada Opa yang sudah tua ini?" tanya Andrea.
"Tentu saja, Opa. Deva pasti memberikan apapun yang opa inginkan selama Deva mampu," ucap Devanya.
"Ano, apa bisa kasih yang Opa mau?" tanya Keano.
"Iya, Opa." Keano menjawab dengan hati yang gamang. Dia terbelenggu rasa bersalah pada sepupunya tapi dia juga tidak bisa menolak keinginan opanya dan membohongi hatinya kalau dia pun menginginkan Devanya untuk selalu bersamanya.
"Terima kasih, Opa hanya ingin kalian memakai ini sebagai hadiah ulang tahun untuk Opa." Andrea langsung membuka sebuah kotak kecil yang indah dengan swarovski yang menghiasi bagian atas kotak itu.
Tanpa menunggu lama lagi, pria yang usianya sudah lebih dari enam puluh tahun itu langsung memakai cincin berlian biru pada Devanya dan Keano. Meskipun gadis itu sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh bos papanya itu. Tetapi dia hanya diam karena tidak mau mempermalukan orang yang selalu baik pada keluarganya.
"Dengan mengucapkan basmalah, hari ini Opa nyatakan kalian sudah bertunangan. Terima kasih cantik sudah berkenan masuk ke dalam keluarga Wiratama. Opa sangat bahagia melihat Ano memiliki pasangan sepertimu. Ayo sun tangan Abang Ano dulu!" suruh Andrea
Seperti terhipnotis, Devanya hanya mengikuti apa yang Andrea suruh. Dia pun mencium punggung tangan kanan Keano dan Keano pun mencium pucuk kepala Devanya. Namun, saat semua orang bertepuk tangan, mereka menjadi tersipu.
"Ayo kita lanjutkan pestanya, musik mainkan!" suruh Andrea
Terlihat grup boyband dari negeri ginseng masuk ke dalam ruangan. Mereka terlihat senang karena di undang dalam perayaan pesta ulang tahun bos besar yang menaungi JS entertainment tempat mereka bernaung.
Meskipun semua orang berbahagia dengan pesta kecil yang meriah itu, tapi seorang gadis cantik yang hatinya bimbang, terus berusaha menyembunyikan kegundahannya. Devanya tidak pernah menyangka dia akan ditodong tunangan oleh Opa Andrea. Meskipun dia bertunangan dengan pangeran berkuda putihnya, tetapi hatinya terasa ada yang hilang.
Ion, maafkan aku! Aku tidak tahu akan seperti ini. Apa yang harus aku lakukan? Aku merasa sangat segan menolak keinginan Opa, batin Devanya.
Sevia yang duduk di samping Devanya hanya mengelus punggung tangan putrinya. Dia ingin menenangkan Devanya yang pasti masih terkejut dengan tunangan dadakan itu. Sebenarnya dia ingin memberitahu tentang acara ini pada Devanya tapi Dave melarangnya karena khawatir putrinya akan menolak untuk datang.
"Tenang sayang! Kita tidak bisa memilih dengan siapa kita harus menikah, karena jodoh sudah Allah tentukan sebelum kita terlahir ke dunia ini. Bagaimanapun kita menolak dan mengharapkan yang lain, tapi kita tidak bisa lepas dari jeratan takdir. Ikhlas sayang, ikhlaskan semuanya," ucap Sevia.
Devanya hanya melihat ke arah mamanya tanpa bersuara sedikit pun. Saat Devanya sedang larut dalam pikirannya, terdengar suara yang begitu merdu menyanyikan sebuah lagu lawas yang melegenda milik Andra and The Back Bone. Devanya langsung tersadar dari lamunannya saat Diandra menyenggol bahunya dan menunjuk ke arah panggung. Nampak di sana Keano sedang berdiri dengan mic di tangannya.
__ADS_1
Di setiap langkahku, ku kan selalu memikirkan dirimu. Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu. Janganlah kau tinggalkan diriku. Takkan mampu menghadapi semua. Hanya bersamamu ku akan bisa.
Kau adalah darahku. Kau adalah jantungku.
Kau adalah hidupku, lengkapi diriku.
Oh sayangku, kau begitu sempurna, sempurna.
"Beruntung sekali Deva, kamu mendapatkan cinta Bang Ano. Seandainya lagu itu untuk aku, pasti aku sangat bahagia sekali," ucap Diandra dengan mata yang tak berkedip melihat ke arah Keano yang terus menatap Devanya.
"Aku bingung Dian," ucap Devanya dengan membalas senyum Ano yang tidak biasanya lelaki itu tersenyum begitu manis di depan banyak orang.
"Kenapa bingung? Bukankah dari kecil kita begitu mengidolakan Bang Ano? Kenapa saat kamu sudah mendapatkannya, kamu malah bingung?" Diandra merasa heran.
"Ion," lirih Devanya.
"Maksud kamu? Jangan bilang kamu benar-benar menjalin hubungan dengan bocah tengil itu dan jatuh cinta sama dia?" tanya Diandra yang sebenarnya sudah merasa curiga tapi belum memastikan kebenarannya.
Saat keduanya sedang berbincang, Icha datang menghampiri Devanya. Sedari tadi Nenek yang masih terlihat muda meskipun sudah berumur itu memperhatikan Devanya yang seperti tidak menikmati pestanya.
"Sayang, selamat ya! Nenek senang, kamu bersedia menikah dengan Ano. Nenek harap Deva bisa menerima Ano seutuhnya. Dia anak yang baik. Meskipun terkadang dia tidak menunjukkan perasaannya tetapi dia selalu memperhatikan kita dalam diam," ucap Icha
"Iya, Nek!"
"Tapi Nenek lihat, sekarang dia mulai berani menunjukkan perasaannya sama kamu. Semoga kebahagian menyertai cinta kalian ya!"
Devanya hanya tersenyum mendengar apa yang neneknya katakan. Dia pun akhirnya bertanya tentang Orion yang tidak ikut datang. "Nek, IOn kenapa tidak datang?"
"Ion dipanggil opa-nya, Nenek tidak tahu ada masalah apa tapi sepertinya hal yang serius," jawab Icha.
Semoga Ion baik-baik saja. Maafkan aku Ion!
__ADS_1
Saat malam sudah larut, pesta kecil pun berakhir. Semua yang ikut menghadiri pesta menginap di mansion. Begitupun dengan Devanya dan keluarganya. Hanya Harry yang memutuskan pulang sebelum pesta berakhir, karena sangat merindukan istrinya.
Diandra yang sudah mengantuk, dia langsung tertidur pulas saat sudah sampai di kamar. Sementara Devanya, masih terjaga karena pikirannya terus berkecamuk. Devanya memutuskan untuk pergi ke balkon kamar dengan membawa ponsel di tangannya. Dia pun mencoba menghubungi Orion yang sedari tadi nomornya tidak aktif.
"Ion ke mana? Kenapa ponselnya tidak aktif terus. Apa dia dihukum oleh opa-nya atau Om Malvin? papanya kan memang pendiam tapi saat sudah marah akan sangat menakutkan," gumam Devanya.
"Belum tidur?" tanya seseorang yang ada di balkon sebelah.
Devanya langsung menengok ke arah suara yang ternyata Keano yang sedang menumpukan tangannya pada pagar balkon. Gadis itu langsung cengengesan karena merasa tertangkap basah sedang memikirkan Orion.
"Belum, Bang. Sudah lama di situ?" tanya Devanya.
"Dari kamu mulai keluar kamar," jawab Keano dengan matanya yang melihat ke atas langit malam.
Berarti Bang Ano tahu kalau aku dari tadi mencoba nelpon Ion tapi gak aktif juga, batin Devanya.
"Ion dibawa Opa Zidan untuk menemui Om Malvin. Kamu tenang saja, dia tidak apa-apa." Seperti cenayang, Keano bisa tahu apa yang Devanya pikirkan.
"Abang tahu dari mana?" tanya Devanya heran.
"Dia menelpon Abang sebelum pergi."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...
Sambil nunggu up yuk kepoin karya teman othor yang keren ini
__ADS_1