Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 34 Sebatas Harapan


__ADS_3

Seperti yang sudah direncanakan, Devanya dan Diandra meminta ijin kerja setengah hari. Mereka pergi bersama dengan Devan dan Davin ke butik. Orion yang tidak tahu kalau kekasihnya ijin setengah hari, dia langsung kelimpungan saat tidak mendapati Devanya di ruang kerjanya. Dia pun segera menghubungi gadis yang dicintainya.


"Hallo, Vanya sedang di mana?" tanya Orion saat panggilan teleponnya sudah tersambung.


"Hallo Ion, aku sedang di butik sama Davin Devan dan Diandra."


"Kenapa tidak mengajak aku?" tanya Orion.


"Bukannya kamu ada meeting? Aku takut mengganggu kamu."


"Ya sudah, pulang dari butik aku jemput ya. Aku mau mengajak kamu ke suatu tempat."


"Boleh deh! Mungkin sepulang dari butik aku mau jalan-jalan dulu sama si kembar ke mall. Sudah lama gak main sama mereka."


"Oke deh sayang, aku tutup ya! Muuuaaachhh."


Orion tidak langsung menutup teleponnya karena dia menunggu balasan ciuman dari Devanya. Namun, kekasihnya itu hanya diam saja tidak menanggapi. Akhirnya Orion pun kembali bicara.


"Sayang, kenapa gak di balas sun jauhnya?"


"Ah itu Ion, aku sedang bersama Dian dan yang lainnya." Terdengar suara Devanya yang sedikit gugup.


"Ya udah, nanti saja aku minta balasannya langsung sama kamu. See you my dear girl!"


Orion langsung menutup teleponnya karena Keano datang bersama dengan Andrea. Dia hanya menganggukkan kepalanya sedikit pada Andrea yang sedang berbicara pada cucunya saat melewatinya.


Opa Andrea begitu perhatian pada anak cucunya, sangat berbeda jauh dengan Opa Zidan. Kami bahkan jarang bertemu, batin Orion.


...***...


Sementara di tempat yang berbeda, Devanya dan Diandra begitu sibuk mencoba gaun malam yang terlihat begitu indah di mata kedua gadis itu. Mereka menjadi bingung harus memilih yang mana. Devan dan Davin nampak begitu malas menunggu kakaknya yang sedang mencoba gaun malam.


"Vin, Kak Vanya lama banget milih baju doank. Aku jadi ngantuk," keluh Devan.


"Sabar saja, paling bentar lagi." Davin terus saja mengotak-atik ponselnya seraya berbincang dengan Devan.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Devanya dan Diandra keluar sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk pakaian yang ada di butik. Devan langsung berdiri dengan mulut yang menganga. Dia tidak menyangka, kakaknya yang biasa memakai celana bisa terlihat sangat anggun dengan gaun malam yang melekat di tubuhnya.


"Wow ... Davin lihat! Kita punya kakak perempuan yang cantik," seru Devan heboh seraya tangannya menggoyang-goyangkan kepala Davin.


Davin yang merasa kesal karena kembarannya menganggu kesenangannya, dia pun langsung menepis tangan Devan dan melihat ke arah Devanya. Yang memang terlihat sangat anggun. Namun fokusnya langsung beralih pada gadis manis yang berada di belakang kakaknya. Davin sampai tidak bisa melepaskan pandangannya dari Diandra yang terlihat semakin sangat cantik dan anggun di matanya.


"Cantik," lirih Davin.


Devanya yang menyadari tatapan adiknya bukan mengarah padanya, dia pun langsung menyingkir dari hadapan Diandra dan segera menghampiri Devan. Lalu adik kakak saling berbisik.


"Devan, memang Davin belum bisa move on ya?" bisik Devanya.


"Belum, kasian adik kakak yang satu itu. Cintanya sudah mentok sama kak Diandra." Devan pun ikut-ikutan kakaknya berbisik.


"Makanya kalau jatuh cinta itu jangan sama yang lebih tua, nanti kau dikira hanya mainin saja," bisik Devanya.


"Memang kita bisa memilih pada siapa cinta kita harus berlabuh? Buktinya kakak saja malah pacaran sama orang yang selalu kakak bilang nyebelin?" bisik Devan.


"Apa katamu?" tanya Devanya kaget yang sukses membuat dua orang yang saling memandang itu menoleh ke arahnya.


Karyawan butik yang sedari tadi hanya memperhatikan keempat anak muda itu akhirnya angkat bicara. "Bagaimana, Nona? Apakah gaunnya cocok? Ini rancangan Nyonya Ara."


"Iya, ini bagus banget. Aku ambil yang ini saja, Mbak!" sahut Devanya. "Dian, mau ambil yang itu saja?"


"Iya, aku yang ini saja," jawab Diandra.


Setelah semua gaun dan jas untuk si kembar di bayar, mereka pun memutuskan untuk pergi ke mall karena hari masih siang. Sekalian memberikan kesempatan pada Davin untuk jalan dengan Diandra sebelum dia kembali ke negeri A untuk melanjutkan pendidikannya.


Sesampainya di mall, mereka pun memutuskan untuk bermain di Timezone. Devanya dan Diandra memilih utuk bermain basket. Sementara si kembar memilih untuk bermain crazy tower. Namun, Davin tidak melanjutkan permainannya. Dia memilih untuk menghampiri Diandra.


"Masukin seperti ini Kak," ucap Davin dengan memeluk Diandra dari belakang. Dia langsung memegang kedua tangan Diandra yang akan melempar bola.


"Vin ...." Diandra tidak melanjutkan ucapannya. Tenggorokannya terasa tercekat dengan sikap Davin yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Kakak, ikuti saja! Biar aku yang mengarahkan," ujar Davin yang tidak melepaskan Diandra.

__ADS_1


Devanya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya dengan sikap adik lelakinya yang tidak banyak bicara itu. Karena dia tahu, Davin begitu menyukai Diandra sedari dia duduk di bangku SMP. Ibaratnya, saat banyak anak remaja yang menyukai artis atau aktor sebagai idolanya. Justru Davin sangat mengidolakan Diandra.


Bagaimana caranya agar Diandra mau menerima cinta Davin. Kasian juga adikku, mencintai tanpa dicintai, batin Devanya.


Saat Devanya sedang terbengong seraya tersenyum melihat adik dan sahabatnya. Tanpa dia tahu, seseorang sudah berdiri di belakangnya dengan mengikuti arah pandang Devanya. Orion yang baru datang dan melihat kekasihnya bengong, dia pun langsung mencium pipi Devanya tanpa ijin.


"Jangan bengong! Kita juga melakukannya, Ayo bermain basket denganku!" seru Orion.


"Ion, kapan datang?"


"Kapan-kapan kalau aku inget," jawab Orion dengan tangannya yang sudah memasukkan bola ke dalam ring."


"Ck! Ditanya bener juga," cebik Devanya.


"Barusan, saat kamu bengong melihat Davin dan Dian."


"Kamu kho tahu aku ada di sini?"


"GPS kamu aktif, kan? Meski aku tidak sepintar si kembar dalam hal retas meretas, tapi aku masih bisa kalau melacak jejak seseorang." Orion terus saja memasukkan bola ke keranjang.


Dia sengaja pulang lebih awal karena hatinya merasa tidak karuan saat tanpa sengaja mendengar pembicaraan Andrea dan Keano. Ingin dia marah tapi tidak tahu siapa yang harus dia marahi.


"Iya sih aktif. Sini gantian aku yang masukin bolanya!" pinta Devanya.


"Kita barengan saja. Masa kita kalah dengan Davin? Harusnya kan kita lebih mesra dari dia, iya gak?" tanya Orion dengan menaik turunkan alisnya.


"Bisa saja kamu!" sahut Devanya.


Orion pun langsung menarik Devanya dan memposisikan di depannya seperti apa yang Davin lakukan. Meskipun dia tahu kalau Devanya pintar bermain basket, tak urung dia memegang tangan Devanya dari belakang.


Seandainya memang, aku tidak bisa bersama dengan Vanya untuk selamanya. Setidaknya aku memiliki kenangan indah bersama dengan dia. Tuhan, bolehkan aku terus berharap, gadis yang sedang bersamaku sekarang menjadi pendamping hidupku.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote rate gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih!...


__ADS_2