
Hanya satu malam Sevia menginap di rumah sakit. Keesokan harinya dia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter yang merawatnya. Tidak jauh berbeda dengan Keano yang kini sudah bisa pulang karena memang keadaannya yang baik-baik saja.
Sesampainya di mansion, semua orang menyambut suka cita kedatangan Sevia. Mereka benar-benar merasa bersalah karena telah meninggalkan Sevia di taman hiburan, sehingga untuk menebus rasa bersalahnya, pada malam harinya Mitha dan Icha menggelar pesta barbeque di taman belakang mansion. Sekalian juga sebagai acara penutupan mereka berada di kota Shanghai karena keesokan harinya akan kembali pulang ke rumah meninggalkan Zee dan Malvin yang akan tinggal di apartemen tidak jauh dari rumah sakit tempat Malvin bekerja.
"Via, istirahat saja! Biar semuanya kita yang kerjakan. Lagipula ada maid di sini yang membantu," ucap Mitha saat Sevia ingin ikut membereskan peralatan makan.
"Tapi Tante, aku ...."
"Sudah, jangan sungkan begitu. Kamu istirahat saja," potong Mitha.
Sevia pun akhirnya kembali duduk di sofa yang ada di depan kolam ikan. Tak berapa lama kemudian Zee menghampirinya dan mengajak istri saudara angkatnya itu berbicara.
"Kak Via, duduk di sini saja sama aku. Biar para emak itu yang bekerja. Mereka selalu begitu tiap ada acara seperti ini," ucap Zee setelah dia mendudukan bokongnya di sofa. "Devanya dengan siapa?" tanyanya kemudian.
"Tadi Deva dengan papanya," jawab Sevia, "Bagaimana keadaan kandungannya setelah dibawa terbang jauh? Apa tidak ada keluhan?"
"Alhamdulillah tidak, hanya sedikit kram saja pas sampai di sini tapi Malvin langsung bisa mengatasinya."
Keduanya pun terlibat obrolan sekitar kehamilan. Rasa canggung yang selalu Sevia rasakan saat berdekatan dengan Zee, kini sedikit demi sedikit mulai terkikis. Awalnya Sevia mengira kalau Zee tidak suka padanya tapi ternyata kini pandangannya mulai berubah.
"Wah, mama muda sedang asyik curhat nih. Tapi jangan ceritakan gaya kita berpetualang mendaki bukit dan menuruni lembah padanya. Nanti Zee suka ikut-ikutan," timpal Dave yang baru datang dengan membawa Devanya.
"Apaan sih, Dave? Nimbrung aja, ini urusan cewek tahu." Cebik Zee.
"Kamu tuh, yang kamu ajak bicara itu istri aku. Jadi aku harus pastikan apa yang sedang kalian bicarakan." Dave mengacak rambut Zee gemas yang sukses membuat Sevia tersenyum kecut.
"Oh iya, Via. Nanti sepulang dari sini, kita lihat baru yang akan kita tempati. Tadi Harry menelpon, katanya dia sudah mendapatkan rumah untuk kita tempati sekaligus untuk dia juga. Lokasinya tidak jauh dari kantor," ucap Dave.
__ADS_1
"Jangan rumah dulu yang kamu pikirkan, Dave. Rumah papaku gede masih muat untuk anak-anak kalian tinggal di sana. Lagipula kalau kamu pergi, nanti mama kesepian. Lebih baik kamu pikirkan kapan akan mendaftarkan pernikahan kalian ke kantor urusan agama. Lihat Devanya, sudah semakin besar! Dia butuh pengakuan dari negara kalau dia putri kandungmu," ucap Zee panjang kali lebar.
"Kamu benar juga Zee. Ya sudah nanti kita langsung daftarkan pernikahan kita sepulang dari sini, Via. Biar aku suruh orang untuk menjemput ayah dan nenekmu." Dave tersenyum senang karena tidak harus berpura-pura lagi di depan orang lain. Dia sudah yakin akan menjadikan Sevia sebagai istri sahnya.
"Makasih, Dave!" lirih Sevia.
Dave langsung merangkul istrinya, dia tidak peduli kalau orang melihat kemesraannya bersama dengan Sevia. Hanya sayu hal yang dia inginkan sekarang, Dave ingin Sevia selalu nyaman berada di sisinya.
"Woy, bule! Ayo bantu panggang steak-nya," teriak Elvano yang sedang asyik memanggang bersama dengan Joen.
"Tuh, Dave! Dipanggil Abang rese kamu," tunjuk Zee.
Sudah jadi rahasia umum kalau Elvano memang sering iseng dan suka bicara ceplos saat mereka sedang berkumpul. Namun, meski begitu sebenarnya dia peduli dengan orang-orang di sekelilingnya. Apalagi sama Dave yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.
"Sayang, papa ke sana dulu ya!" Dave mencium kedua pipi anaknya dan yang terakhir mencium bibir Sevia sekilas membuat Zee langsung membulatkan mata dengan kelakuan saudara angkatnya. Sementara Sevia hanya menunduk malu.
"Rasanya nano-nano, tidak bisa diucapkan dengan kata-kata," jawab Sevia dengan tersenyum malu-malu.
Tidak berapa lama kemudian, semua hasil panggangan para pria tampan pun sudah tersaji di meja. Kini tinggal para wanita cantik yang siap menghabiskannya. Dave langsung mengambilkan makanan untuk Sevia dan dirinya. Tanpa malu, dia makan sepiring berdua dengan sesekali menyuapi Sevia. Tak berbeda dengan Dave semua lelaki di sana pun saling berlomba kemesraan dengan pasangannya. Membuat Joen yang masih betah melajang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Gak yang tua gak yang muda, mereka sama saja kalau sudah urusan asmara. Tapi kenapa mereka yang selalu terlihat berwibawa di depan bawahannya, bisa bertekuk lutut di depan para wanitanya, batin Joen.
...***...
Hari telah berganti, acara liburan pun telah usai. Kini Dave kembali ke rutinitas biasanya. Begitupun dengan Sevia yang akan pergi pada siang hari ke rumah Rani dan kembali sore hari bersama dengan Dave. Rumah kontrakan Sevia dulu, kini dia jadikan sebagai gudang barang dagangannya karena Dave sudah membelinya untuk tempat usaha online Sevia. Dia sengaja tidak mencari tempat lain, agar putrinya lebih bisa terurus jika dekat dengan rumah sahabat istrinya.
Sementara untuk rencana pernikahannya, sudah ditetapkan sebulan kemudian karena Dave masih mengurus interior rumah barunya. Namun, sepertinya pernikahan Dave diketahui oleh neneknya. Yang selama bertahun-tahun lamanya seperti ditelan bumi setelah kematian kakeknya Dave. Entah ada angin dari mana seorang wanita tua berusia enam puluh tahun lebih namun terlihat masih segar datang ke rumah keluarga Putra. Sevia yang tidak tahu siapa tamu yang datang, hanya mempersilakan tamu itu masuk dan duduk di ruang tamu sebelum akhirnya dia memanggil Icha.
__ADS_1
"Tante, ada tamu yang mencari Om Al," ucap Sevia pada Icha.
"Siapa Via? Apa kamu tahu namanya?" tanya Icha.
"Kalau tidak salah dia menyebutnya Nyonya Elisa," jawab Sevia.
"Apa dia masih muda? Terus bawa anak kecil?" tanya Icha yang mendadak panik. Dia kepikiran dengan novel yang dibacanya yang tiba-tiba ada perempuan datang ke rumah dengan mengaku istri kedua suami si istri.
"Sudah nenek-nenek tapi penampilannya masih terlihat cantik. Sepertinya dia pandai mengurus diri," tutur Sevia.
"Ya sudah Tante panggilkan Om kamu dulu. Via tolong siapkan minuman untuk dia," pinta Icha.
"Baik Tante!" Sevia pun langsung membuatkan minuman untuk tamu yang ada di depan, sedangkan Icha memanggil suaminya.
Saat Sevia sudah siap dengan minuman dan cemilan yang dibawanya, sayup-sayup dia mendengar pembicaraan orang yang ada di ruang tamu.
"Maaf Tante, ada apa Tante datang ke sini?" tanya Al
"Aku hanya ingin bertemu dengan cucuku. Aku dengar dia akan menikah, apa benar begitu?"
"Maaf, maksud Tante cucu yang mana? Memang Tante pernah menitipkan cucu di rumahku?" tanya Al dengan nada datar. Dia tidak suka dengan kedatangan Elisa ke rumahnya. Apalagi mengingat apa yang telah dia dan suaminya lakukan padanya dulu. Membuat Al selalu menyembunyikan identitas Dave yang sebenarnya.
"Kamu jangan berpura-pura di depanku. Kamu pikir aku tidak tahu kalau Dave anaknya Kalisa dan Tuan Satya memberikan seluruh hartanya pada dia."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Dave dan Sevia ya! Jangan lupa untuk klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...