Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 131 Jodoh Tidak Bisa Ditebak (End)


__ADS_3

Semenjak kepergian Devan, Tasya tidak seceria dulu lagi. Hari-harinya dia sibukkan dengan pekerjaan. Apalagi sekarang dia menggantikan Diandra menjadi sekretaris Davin. Meskipun awalnya Diandra merasa keberatan, tetapi akhirnya dia mengerti kalau hubungan Davin dan Tasya murni sebagai atasan dan bawahan.


Bayi-bayi kecil yang menggemaskan kini sudah berubah menjadi anak balita yang lucu-lucu. Arasha tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik jelita seperti namanya yang berarti bidadari dari surga. Sementara Arshaka tumbuh menjadi seorang anak yang tampan dan gagah. Namun dia tidak banyak bicara seperti kakak perempuannya yang bawel. Karena sifat Arsakha lebih mengikuti dari sifat Keano.


Tidak jauh berbeda dengan kakak sepupunya, Alkana putra pertama Davin dan Diandra pun tumbuh menjadi anak yang tidak banyak bicara tetapi lebih banyak aksi. Diusianya yang belum genap lima tahun, dia sudah mulai ikut-ikutan papa dan opanya belajar membuat sebuah program game online.


Seperti hari ini, saat semua anak dan cucu Dave berkumpul di rumahnya. Rumah megah itu dipenuhi oleh canda dan tawa. Apalagi Arasha selalu menjadi korban keisengan adiknya yang pandai sekali menyangkal. Membuat para orang tua yang melihatnya menjadi gemas.


"Mommy, ayo bikin adik baru lagi. Asa gak mau punya adik Shaka," Cebik Arasha.


"No Mommy! Aku tidak mau punya adik cewek kayak Asa. Bawel!" tolak Shaka.


"Iya bener, Bang! Asa bawel, mending kita main sama Starla aja," timpal Alkana ikut jadi kompor meleduk.


Dasar bocah, padahal Starla lebih bawel dan manja dari Asa. Tapi mereka malah suka sama gadis manja, batin Devanya.


"Wah, kayaknya kita siap-siap nih Deva. Alka sama Shaka suka sama anaknya Ion. Aduh, nanti keturunan aku kayak gimana kalau jadi besanan sama dia," celetuk Diandra.


"Kamu tuh mikirnya kejauhan. Mereka masih kecil gitu udah dianggap. Mending kita rujakan yuk! Kayaknya aku ingin makan yang pedas-pedas asem," ajak Devanya.


"Kamu lagi isi lagi?" tanya Diandra.


"Hehehe ... Iya, aku udah dua bulan." Devanya langsung cengengesan.


"Hebat nih Bang Ano. Gempur tiap malam sih," sindir Diandra.


"Iya dong! Abang kesayangan aku gitu loh!"


"Kenapa, Ay?" tanya Keano yang baru datang dari kantor. Dia langsung mencium bibir istrinya sekilas.


"Kata Dian, Abang hebat bisa bikin aku hamil lagi." Devanya langsung tersenyum manja pada suaminya.


"Tentu saja, Abang akan jadi suami yang hebat untuk istri Abang. Apa anak-anak rewel hari ini?"


"Nggak, dong! Kalau main di sini ada Alka sama mama yang jagain," jawab Devanya.


"Hari ini Aigner pulang, apa Devan ikut pulang juga?" tanya Keano lagi.


"Apa Tuan, Devan pulang?" Tasya yang sedari hanya memperhatikan pembicaraan Devanya akhirnya ikut menimpali.


"Wah bau-baunya ada yang kangen nih," goda Diandra.

__ADS_1


"Sabar ya Tasya. Cinta itu selalu ada ujiannya," ucap Devanya. "Tapi aku gak nyangka loh, adik ipar aku ternyata teman kampusku sendiri."


"Namanya juga jodoh, mana ada aku punya rencana buat nikah sama adik kamu."


"Dian benar. Jodoh itu tidak bisa ditebak," timpal Sevia yang baru datang dengan membawa cemilan di tangannya.


Saat mereka sedang asyik bercengkrama, terdengar suara orang yang memberi salam dari luar. Tasya pun langsung menuju ke pintu depan. Jantungnya langsung berdegup lebih kencang dari biasanya saat melihat laki-laki yang dia rindukan berdiri dengan gagah di depan pintu.


Devan yang melihat Tasya berdiri mematung, dia langsung membungkukkan badannya mensejajarkan dengan badan Tasya. "Apa kabar, wife? Apa tidak ada pelukan penyambutan kedatanganku?"


"Devan ...." lirih Tasya langsung memeluk Devan erat.


"Ternyata benar kata Dilan, kalau rindu itu berat. Aku sengaja mempercepat study aku agar bisa cepat-cepat ketemu kamu lagi," ucap Devan dengan sesekali mencium pucuk kepala Tasya.


"Makasih, kamu udah menepati janji."


"Tentu saja, karena aku laki-laki sejati yang bisa dipegang ucapannya. Ayo kita nagih janji Papa!" ajak Devan.


"Janji apa? Tapi Om Dave belum datang. Di rumah hanya ada Tante, Kak Deva, Bang Ano juga Diandra." Tasya mengurai pelukannya dan melihat wajah Devan yang terlihat semakin tampan.


"Tidak apa. Mereka tidak ada yang tahu kalau aku pulang sekarang. Mama pasti kaget anak gantengnya sudah pulang," ucap Devan.


Devan langsung merangkul pinggang Tasya dan mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah. Dengan wajah yang berseri, dia menghampiri mamanya yang membelakangi arah kedatangannya. Diandra yang melihat kedatangan Devan langsung mendapatkan kode agar dia diam.


"Dave ...," lirih Sevia.


"Mama salah, ini aku Devan!"


"Astaga! Kapan kamu datang? Kenapa gak kasih kabar kalau mau pulang?" tanya Sevia kaget.


"Kejutan! Sebentar Mah, aku pulang tidak dengan tangan kosong. Tapi bawa apa yang Papa minta sama aku." Devan langsung mengeluarkan sebuah bingkisan yang berbentuk tabung, dari dalam ransel yang masih bertengger di punggungnya.


"Ini hadiah untuk Mama dan Papa. Sekaligus sebagai syarat Papa agar merestui aku dengan Tasya," ucap Devan dengan wajah yang berbinar.


"Kamu serius sama Tasya?" tanya Sevia yang masih merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Tentu saja aku serius, masa iya harus main-main."


"Van, memang tidak ingin peluk Mama?" tanya Sevia dengan merentangkan tangannya.


Tanpa bicara lagi, Devan langsung menghambur ke pelukan Sevia. Tentu saja dia sangat merindukan mamanya, masakan mamanya meskipun tidak seenak masakan restoran, tetapi Devan sangat merindukan rasa masakan mamanya.

__ADS_1


Satu persatu Devan memeluk keluarga yang ada di sana. Tak terkecuali ketiga bocah yang sedang bermain puzzle. Sampai seorang pria bermata biru datang memecah keharuan yang ada.


"Devan, kenapa kamu sudah pulang? Bukankah belum genap lima tahun?" tanya Dave heran.


"Untuk apa aku lama-lama di sana kalau kuliah aku sudah selesai. Kalau Papa gak percaya, lihat saja buktinya ada di mama," ucap Devan santai.


"Coba, sini Papa lihat!" pinta Dave dengan mengambil bingkisan.


Dibukanya bingkisan itu, lalu Dave mengeluarkan isinya. Kedua sudut bibirnya langsung terangkat sempurna saat melihat ijazah S3 Devan dengan nilai cum laude. Dave langsung memeluk putranya bangga, karena Devan bisa menyelesaikan pendidikannya lebih cepat dari waktu yang dia berikan.


"Papa, sekarang aku minta hadiahku. Aku tidak mau hasil kerja kerasku sia-sia." Devan mengurai pelukan papanya.


"Kamu tidak usah khawatir, Papa akan merestui hubungan kalian."


"Makasih, Pah!" Kini Devan yang balik memeluk Dave.


Bukan tanpa alasan aku memisahkan kalian berdua. Aku hanya ingin melihat kesungguhan cinta kalian. Meskipun benar Tasya masih terikat saudara denganku, tetapi aku tidak ingin gegabah dengan asal merestui. Aku ingin melihat seperti apa gadis itu yang sebenarnya. Agar Devan tidak salah memilih seorang gadis untuk dicintainya, batin Dave.


...***...


Satu bulan setelah kepulangan Devan, Dave pun memenuhi janjinya untuk menikahkan putranya dengan Tasya. Kini semua keluarga ikut berbahagia dengan pernikahan putra bungsu Dave.


Ballroom hotel JS Group yang menjadi pilihan sebagai tempat acara pernikahan Devan dan Tasya, kini sudah dihias dengan begitu indah. Dengan begitu banyak rangkaian bunga yang disusun rapi dan mempesona.


Devan dan Tasya yang menjadi raja dan ratu sehari, terlihat begitu gagah dan cantik duduk di pelaminan. Setelah tadi pagi mereka melakukan ijab kabul, siang dan malam harinya langsung melakukan resepsi pernikahan.


"Sayang, aku sangat bahagia karena putra putri kita sudah memiliki pasangan. Semoga mereka bahagia dengan pasangannya masing-masing," ucap Sevia dengan mata yang mengembun.


"Aku juga sangat bahagia, kita sebagai orang tua, bisa mengantarkan mereka hingga sampai ke pelaminan. Semoga pernikahan anak-anak kita sakinah mawadah warahmah," timpal Dave.


Saat pasangan suami istri itu larut dalam keharuan, terdengar suara ketiga anaknya sedang menyanyi di panggung. Mereka semakin terharu saat Devanya dan Keano menyanyikan lagu 'Bunda' dari Melly Goeslaw. Disusul kemudian oleh Davin dan Devan yang menyanyikan lagu 'Ayah' milik Seventeen.


Saat lagu sudah berakhir, terdengar Devanya, Davin dan Devan berbicara dengan bergantian. Mereka mengucapkan kata-kata yang membuat semua orang meneteskan air mata haru. Tidak terkecuali Sevia yang menangis haru dengan apa yang anak-anaknya katakan.


"Mama, Papa, terima kasih untuk semua cinta dan kasih yang tercurah selama ini. Terima kasih atas kesabaran Mama dan Papa dalam menghadapi kemanjaan kami. Terima kasih Mama dan Papa tidak pernah lelah menopang hidup kami. Dengan kasih sayang Mama dan Papa, kami mendapatkan semua yang hal terindah. Dimana pun kami berada, Mama dan Papa akan selalu ada di dalam hati kami, anak-anakmu yang selalu membutuhkan kasih sayang kalian."


...~Tamat~...


Terima kasih untuk semua readers yang mengikuti Simpanan Brondong Tajir dari S1 & S2 Hingga mereka menemukan kebahagian bersama pasangannya masing-masing.


Mohon maaf atas semua kekurangannya, semoga ada hikmah yang bisa diambil dan dapat menghibur Kakak readers semua.

__ADS_1


Sebagai gantinya, yuk lanjut ke novel terbaru Othor tentang kegilaan seorang playboy yang ingin memiliki sahabatnya sendiri.



__ADS_2