Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 36 Romeo dan Juliet


__ADS_3

Mendengar apa yang dikatakan oleh Opa Zidan, Devanya pun langsung bungkam. Dia tidak berani buka suara lagi. Hanya menjadi pendengar setia perdebatan cucu dan kakek.


"Opa, aku tahu aku salah karena tidak meminta ijin Opa dulu sebagai pemiliknya. Kalau Opa tidak mengijinkan Vanya hanya sekedar berkunjung ke sini, aku akan membawa barang-barang aku dari sini." Orion tidak terima dengan Opanya katakan, sehingga dia pun menjadi terpancing.


"Kamu berani melawan Opa? Apa seperti ini didikan nenek dan kakek kamu. Dari awal Opa sudah tidak suka Malvin menikah dengan ibumu yang berasal dari Keluarga Putra. Karena mereka memiliki anak di luar nikah." ketus Opa Zidan.


"Opa, setiap orang memiliki masa lalu. Apa Opa tidak bisa memaafkan masa lalu seseorang? Hanya karena kehidupan Opa yang selalu terlihat sempurna. Apa Opa lupa kalau aku pun anak yang lahir dari luar nikah?" tanya Orion.


"Maka dari itu, aku tidak suka dengan ibumu. Karena papi kamu bergaul dengan ibumu, jadinya dia terbawa dalam pergaulan." Zidan terus saja mengungkit masa lalu yang seharusnya tidak dibongkar di depan orang lain.


"Maaf, Tuan! Saya permisi pulang," ucap Devanya seraya bangun dari duduknya.


Dia sudah tidak tahan mendengar Opa Zidan yang terus saja menjelek-jelekkan keluarganya. Meskipun memang benar hanya keluarga angkat tetapi bagi Devanya, Keluarga Putra adalah keluarganya.


Melihat Devanya yang bangun dari duduknya, Orion pun langsung ikut bangun dan berpamitan pada Zidan, "Opa, aku juga mau pulang. Besok aku akan bawa barang-barang aku," ucap Orion.


"Kalau kamu membawa barang-barang kamu dari penthouse ini, maka sekalian kamu bawa semua karyawan kamu dari gedung ini. Opa hanya tidak suka kamu membawa orang asing ke sini, bukan menyuruh kamu keluar dari sini." tegas Zidan.


Orion hanya berlalu pergi meninggalkan Zidan sendiri. Dia tidak peduli dengan apa yang akan orang tua itu katakan pada papinya. Paling juga nanti dia ditegur sama papinya dan suruh minta maaf, lalu mommy-nya pun akan ikut-ikutan menasehatinya.


Saat keduanya baru mendudukkan bokongnya di kursi mobil, Orion pun menghela napas panjang. Dia tidak menyangka cintanya pada gadis bermata biru itu akan mendapatkan batu sandungan yang besar. Begitupun dengan Devanya yang serasa baru bisa bernapas setelah tadi saat berhadapan dengan Zidan, dadanya terasa sesak.


"Vanya, maafkan opa! Dia terlalu perfeksionis. Semua hal yang berhubungan dengan Keluarga Pratama, harus sesuai dengan keinginannya." Orion melirik sekilas pada Devanya lalu menatap lurus ke depan.


"Tidak apa, Ion. Opa kamu hanya bicara apa adanya. Semua orang tua pasti menginginkan hal yang baik untuk anak-anaknya. Beliau pun pasti menginginkan kamu mendapatkan jodoh yang terbaik. Mungkin aku tidak termasuk kriteria opa kamu," ucap Devanya dengan tersenyum getir.


"Vanya ...."


"Tidak apa, Ion. Bukankah aku hanya simpanan kamu," potong Devanya dengan memalingkan wajah melihat ke arah luar jendela.

__ADS_1


"Maaf!"


Orion tidak bisa berkata lagi. Dia langsung melajukan mobilnya membelah kota Jakarta. Kini keduanya saling membungkam tidak ada yang mengeluarkan suara sedikit pun. Sampai akhirnya mereka sampai di rumah Devanya, barulah ada yang bersuara.


"Ion, aku turun dulu. Kamu langsung pulang saja, tidak boleh mampir ke tempat lain," pesan Devanya.


"Iya Sayang, kita lupain yang tadi ya. Anggap saja kita sedang tidak beruntung ketemu opa," ucap Orion.


"Iya, aku turun ya!" Devanya pun segera membuka pintu mobil sport berwarna hitam metalik itu. Namun tangannya langsung ditahan oleh Orion.


"Vanya, sebentar! Kamu belum sun selamat malam padaku."


"Ion, apaan sih?"


"Aku hanya menikmati kebersamaan kita sebelum semuanya harus berakhir," lirih Orion pelan.


"Ngomong apaan sih?" tanya Devanya yang tidak mendengar semuanya, apa yang Orion katakan.


"Love you too, Ion." Devanya pun tersenyum manis sebelum akhirnya dia benar-benar pergi masuk ke dalam rumahnya.


Orion hanya menatap punggung gadis yang dicintainya sampai menghilang di balik pintu rumah megah itu. Setelah Devanya benar-benar tidak terlihat, barulah dia melajukan mobilnya menuju ke apartemen.


Berasa jadi Romeo dan Juliet. Vanya akan dijodohkan dengan Bang Ano, sedangkan aku tidak mengantongi restu dari keluarga papi. Sampai waktunya tiba, aku tidak akan menyia-nyiakan kebersamaan aku dengan gadis yang aku cintai. Apa aku akan ikhlas melepaskan nya atau harus aku perjuangkan?


...***...


Keesokan harinya, Devanya dan Diandra terlihat cantik dengan gaun malamnya. Kedua gadis itu begitu senang akan berkunjung ke mansion keluarga Wiratama yang hanya diketahui oleh segelintir orang keberadaannya. Dave dan Sevia pun sudah siap. Tinggal menunggu anak kembar mereka yang masih lama berdandan.


"Pah, kenapa Devan Davin lama sekali dandannya? Aku saja yang cewek sudah siap," tanya Devanya.

__ADS_1


"Paling Devan kena nervous. Anak itu suka over kalau kita mau bertemu dengan Opa Andrea. Katanya mau tampil paripurna di depan suhu," jawab Dave.


"Astaga! Masih saja seperti itu, padahal dia sudah besar," keluh Devanya.


"Devan sangat mengidolakan Opa Andrea setelah dia mendengar cerita tentang masa muda opa. Entah sisi mana yang menarik, tapi dia berkeyakinan untuk bisa sukses seperti Opa Andrea yang memiliki banyak perusahaan dengan kekayaan yang melimpah," tutur Dave.


"Padahal setahu Papa, Ji-Sung dan JS Internasional itu perusahaan warisan dari papanya opa Andrea yang berasal dari negeri ginseng," lanjut Dave.


"Berarti opa mah sultan dari lahir. Lah kita, hanya anak buah." Devanya mendadak sendu, dia langsung teringat dengan sikap Opa Zidan yang begitu mementingkan bibit bebet bobot.


"Jangan begitu, Sayang. Meskipun Opa Andrea memiliki banyak harta tapi dia tidak pernah melihat seseorang dari latar belakang keluarganya. Itulah kenapa Papa merasa nyaman bekerja bersamanya. Meskipun Papa bisa mendirikan perusahaan sendiri tapi Papa lebih memilih menanam saham di mana-mana dan tetap bekerja dengan Opa Andrea," jelas Dave.


"Andai semua orang sepemikiran dengan Opa Andrea, mungkin ...." Devanya tidak melanjutkan ucapannya saat melihat adiknya menuruni tangga.


Dia langsung tertawa saat melihat Devan yang tidak memakai celana panjang dengan tuksedo yang melekat di tubuhnya. Tak ketinggalan dasi kupu-kupu serta rambut yang sudah rapi dengan sentuhan Pomade.


Ha-ha-ha


Semua orang yang melihat ke arah anak tangga langsung tertawa melihat kelakuan si kembar yang satu ini. Sementara Devan yang jadi bahan tertawaan hanya celingukan karena tidak mengerti kenapa semua orang tertawa saat dia datang.


"Devan, kenapa tidak pakai celana?" tanya Sevia yang segera menghentikan tawanya saat melihat ekspresi bingung di wajah putranya.


"Apa Mah, celana?" Devan langsung melihat ke bawah dan benar saja, dia hanya memakai celana kolor


"DAVIN!!! KENAPA GAK BILANG?"


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate gift, dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih!...


__ADS_2