Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 144 Sahabat Rasa Saudara


__ADS_3

Pesta yang awalnya meriah, kini berubah menjadi kacau. Banyak kaum hawa yang berteriak histeris saat melihat penembakan yang dilakukan Mona. Apalagi gadis itu selalu mengarahkan senjata api pada orang yang menghalangi jalannya saat dia berusaha kabur dari pesta.


Mona yang sebelumnya sudah memikirkan dengan matang rencananya, dia bisa mengecoh pengawal Andrea dan orang-orang yang mengejarnya. Namun, langkah kakinya terhenti saat dia dihadang oleh Barra di lorong hotel, sedangkan untuk kembali sudah pasti tidak mungkin karena pengawal Andrea mengejarnya di belakang.


"Minggir kamu!!! Kalau tidak ingin aku jadikan sasaran senjataku," hardik Mona seraya mengarahkan senjatanya pada Barra


"Kamu lupa, kalau aku juga memilikinya." Barra pun langsung mengarahkan senjatanya pada Mona.


"Hahaha ... Senjata bohongan saja kamu bangga. Aku tahu, itu isinya hanya peluru karet bukan seperti milikku,"


Baru saja Mona selesai bicara, Barra merasakan ada hembusan angin yang lewat di samping telinga nya. Sampai akhirnya dia mendengar suara Mona yang histeris.


"Awww ...," pekik Mona kaget saat tiba-tiba ada yang menghantam tangannnya, sehingga senjata yang sedang dia pegang jatuh seketika.


Bukan hanya Mona yang kaget saat tangannya tertembus timah panas, tetapi Barra pun sangat kaget melihat Mona menjatuhkan senjatanya dengan tangan yang sudah mengeluarkan darah.


Apa yang tadi lewat di telingaku itu peluru? Hebat sekali dia menembak langsung tepat sasaran, batin Barra.


"Cepat tangkap dia!!!" sentak Andrea tepat berada di belakang Barra.


Tadi dia sengaja memotong jalan Mona saat pengawalnya tidak bisa menangkap gadis itu. Sampai ketika tiba di sana, Andrea melihat Mona dan Barra saling menodongkan senjata. Andrea pun segera mengambil senjata api yang selalu dia simpan di balik jas mahalnya.


Tanpa kompromi lagi, Andrea langsung menarik pelatuk dan melepaskannya. Mona yang tidak melihat pergerakan Andrea, akhirnya harus merasakan timah panas bersarang di tangannya.


Barra yang cepat tersadar dari keterkejutannya, dia pun langsung berlari ke arah Mona dan memborgol tangan Mona. Tak lupa, dia pun mengucapkan terima kasih pada Andrea.


"Terima kasih, Om. Om benar-benar hebat bisa membidik Mona dari jarak jauh," puji Barra dengan membawa Mona agar mengikutinya ke kantor polisi.


"Om Andrea lihat saja, ayah pasti akan mencabut ijin usahanya Om, karena berbuat tidak baik padaku," ancam Mona.

__ADS_1


"Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Paling juga, bukan aku yang rugi, tapi bapak kamu sendiri," suruh Andrea dengan tersenyum remeh.


Berani sekali gadis itu mengancam aku. Sebelum kamu bisa melakukan ancaman itu, maka aku akan menghentikannya terlebih dahulu. Lihat saja, siapa yang akan meminta pengampunan terlebih dahulu, Winata atau Wiratama, batin Andrea.


Hebat sekali Mona mengancam Om Andrea. Apa dia tidak tahu kalau Om Andrea seperti memiliki negara di dalam negara. Bahkan perlengkapan senjatanyanya lebih canggih dari yang dimiliki oleh militer di negeri ini, batin Barra.


Barra langsung membawa Mona ke rumah sakit Bhayangkara untuk mengeluarkan timah panas di tangannya, sebelum akhirnya memasukkan gadis itu ke dalam penjara.


Sementara itu, berita tentang penembakan yang dilakukan oleh putri seorang penguasa langsung tersebar ke penjuru negeri. Video yang berdurasi sepuluh menit itu menjadi trending topik di dunia Maya.


Bambang Winata yang diberi tahu oleh ajudannya, langsung uring-uringan dengan apa yang putrinya lakukan. Dia sangat khawatir, video itu akan berpengaruh pada karir politiknya.


"Sialann! Gadis bodoh!!! Sudah berulang kali aku katakan untuk menjaga sikap, tetapi dia tidak mendengarnya. Aku harus meminta tolong pada Tuan Andrea agar secepatnya meredam peredaran video itu."


...***...


Sementara di tempat yang berbeda, sudah hampir tiga jam Sevia terus terisak seraya berdoa dalam hati. Dia bersama dengan Icha dan Al menunggu Dave di depan ruang operasi. Begitupun dengan Harry yang sedari tadi menundukkan kepalanya. Dia sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya.


Semua ini salahku, aku yang menginginkan resepsi pernikahan Zee diadakan. Aku tidak menyangka akan seperti ini kejadian. Tuhan, sudah cukup aku kehilangan putra sulung-ku. Aku mohon, jangan Engkau ambil putra angkat-ku. Beri Dave kesempatan untuk hidup lebih lama lagi, batin Al.


Ya Allah, kumohon sembuhkan suamiku. Aku tidak siap jika harus kehilangannya. Aku ingin selalu bersamanya menghabiskan sisa hidupku, batin Sevia.


Sevia dan yang lainnya terus memanjatkan doa dalam hati masing-masing. Sampai akhirnya lampu operasi telah padam, pertanda operasinya sudah berjalan dengan baik. Nampak seorang dokter keluar dari dalam ruangan, berjalan menuju ke arah keluarga pasien.


"Permisi Tuan, Nyonya! Operasi pasien berjalan dengan baik. Mungkin sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang ICU untuk observasi pasca operasi," jelas dokter.


"Terima kasih, Dok!


Akhirnya, semuanya bisa bernapas dengan lega dengan apa yang dokter sampaikan. Tak henti Sevia bersyukur karena operasi suaminya berjalan dengan baik.

__ADS_1


"Apa aku bisa melihatnya, Dok?" tanya Sevia penuh harap.


"Pasien akan segera dipindah ruangan, mungkin nanti setelah dipindahkan baru bisa ditengok secara bergantian," jelas dokter.


Tak berapa lama kemudian, beberapa perawat mendorong brangkar akan memindahkan Dave ke ruang ICU. Sevia langsung berlari untuk melihat keadaan suaminya yang masih dalam pengaruh obat bius.


"Mas, sebentar!" panggil Sevia pada perawat laki-laki yang mendorong Dave.


"Nyonya, jangan terlalu lama!" Perawat itu langsung memperingati Sevia yang menghentikan langkahnya.


Sevia tidak memperdulikan apa yang perawat itu katakan. Dia langsung menciumi wajah Dave dengan hati yang tak henti bersyukur karena operasi suaminya berjalan lancar.


"Cepatlah pulih Papa! Aku dan anak-anak akan menjagamu," lirih Sevia. "Silakan Mas dilanjut!"


Perawat itu pun langsung membawa Dave ke tujuan semula. Begitupun dengan Sevia dan yang lainnya yang mengikuti mereka dari belakang. Saat ini sudah sampai di sana, Harry pamit karena ada sesuatu yang ingin dia kerjakan.


"Via, aku pulang dulu. Ada hal penting yang harus aku lakukan," pamit Harry.


"Iya Harry. Berhati-hatilah, jangan sampai membahayakan nyawa kamu. Tolong titip Devanya ya!" pesan Sevia.


"Kamu tenang saja, Via. Devanya dibawa ikut pulang bersama Mbak Mitha dan Allana. Tadi dia mengirimkan pesan sama Tante," timpal Icha.


"Om, Tante, aku pergi dulu sebentar. Tolong titip Dave," pamit Harry.


"Iya, Harry terima kasih sudah menjaga Dave selama ini. Kamu memang sahabat terbaiknya." Al menepuk pundak Harry pelan.


"Sudah kewajiban saya, Om. Karena selain sahabat dan atasan aku, dia juga sudah aku anggap seperti adik sendiri." Harry pun berlalu pergi setelah dia merasa cukup berpamitan.


Memang terkadang saudara seperti orang lain tapi orang lain yang tidak memiliki hubungan darah apapun justru sudah seperti saudara sendiri, batin Al.

__ADS_1


...~bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan, biar Author tambah semangat updatenya....


__ADS_2