Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 106 Tak Ada Yang Sempurna


__ADS_3

Terkadang hidup tidak sesuai dengan rencana yang telah kita susun. Seperti itulah yang Keano rasakan saat ini. Dulu dia pernah berencana untuk membawa anak-anaknya ke tempat Devdev setiap akhir pekan, seperti yang biasa orang tuanya lakukan padanya. Namun ternyata, semua itu hanya angan belaka.


Dengan hati yang sedih, langkah yang lunglai, Keano menapaki anak tangga satu demi satu. Berkali-kali dia menghela napas dalam untuk menetralkan perasaannya. Dia tidak ingin istrinya sampai tahu tentang kesedihan yang dia rasakan karena telah melepaskan orca kesayangannya.


Perlahan Keano membuka pintu kamarnya. Dia tidak ingin kalau sampai mengganggu ketenangan sang istri. Yang kata mertuanya sedang tertidur pulas. Dilihatnya Devanya yang sedang bergelung dengan selimut. Keano merasa heran saat melihat bahu istrinya bergerak naik turun. Tanpa berpikir dua kali, Keano langsung menyingkap selimut itu.


"Ay, kamu kenapa? Apa mimpi buruk?" tanya Keano saat menyadari kalau Devanya sedang menangis dalam diam.


"Bang, maafkan aku! Karena aku, Abang harus berpisah dengan Devdev." Devanya langsung memeluk suaminya dengan mata yang terlihat sembab.


"Tidak, Ay! Abang mohon, jangan terus meminta maaf. Semua yang terjadi bukan salah kamu. Ingat, Ay! Hidup dan mati seseorang sudah ditentukan, begitupun dengan rejeki dan kesusahan." Keano menghentikan ucapannya sejenak seraya mengelus lembut rambut istrinya.


"Please! Abang minta sekali lagi, jangan menyalahkan diri sendiri. Abang melepaskan Devdev demi kebaikan dia juga, agar kembali ke habitatnya dan berkumpul kembali dengan spesiesnya." Keano yang jarang berbicara banyak, akhirnya berbicara panjang kali lebar pada istrinya.


"Kasian Devdev, bagaimana nanti dia makan? Bagaimana jika nanti ada yang memangsanya?" cemas Devanya.


"Ay, Devdev bukan lumba-lumba biasa. Dia orca, paus pembunuh. Bahkan Hiu pun kalah sama dia. Sudah ya, sayang! Jangan menangis lagi! Bagaimana kalau besok kita berangkat liburan. Mumpung di pulau Jeju sedang musim semi, pasti banyak bunga sakura dan canolla bermekaran." rayu Keano.


"Dian diajak?"


"Kamu boleh mengajak siapa pun. Kita akan tinggal di villa selama liburan di sana," ucap Keano.


"Aku mau ajak Dian. Dia ingin sekali pergi ke sana," lirih Devanya.


"Iya, sayang. Davin juga diajak sekalian. Biar kita bisa honeymoon bareng." Keano terus saja mengelus lembut rambut Devanya.


Hatinya sedikit tenang saat Devanya setuju diajak berlibur. Dia berharap, saat pulang liburan nanti, Devanya bisa melupakan kejadian naas itu dan kembali ceria seperti semula.


Apapun akan Abang lakukan untuk kamu, Ay. Karena buat Abang, kamu sangat berarti.


...***...


Keesokan harinya, Keano sudah bersiap dengan jas dan sepatu pentofelnya. Dia akan ke kantor dulu sebelum berangkat liburan. Bagaimanapun, tanggung jawab dia sebagai seorang pimpinan perusahaan sangatlah besar. Sehingga tidak mungkin dia pergi begitu saja tanpa menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai.


"Ay, Abang ke kantor dulu ya! Kamu bersiap-siap saja di rumah. Kita berangkat nanti malam," ucap Keano.


"Iya!" sahut Devanya yang masih bergelung dengan selimut.


Keano pun mengecup kening istrinya sebelum dia berangkat kerja. Lalu dia berkata, "Baik-baik di rumah ya! Nanti Abang suruh Dian untuk menemani di sini."

__ADS_1


Devanya hanya menganggukkan kepalanya lalu mencium punggung tangan suaminya. Kepalanya masih terasa berat. Hingga dia merasa enggan untuk bangun dari peraduannya.


Setelah Keano berlalu pergi meninggalkannya sendiri di kamar, Devanya pun memilih untuk kembali memejamkan matanya. Sampai tidak berapa lama kemudian Diandra datang atas suruhan Keano untuk menemani Devanya.


"Deva, masih ngantuk?" tanya Diandra seraya menyimpan sarapan di atas nakas.


"Kepalaku berat sekali," keluh Devanya.


"Sarapan dulu ya! Aku temani, nanti kamu minum obat." Diandra menempelkan punggung tangannya di kening Devanya. "Gak panas kho!" gumam Diandra.


Kasian Deva, dia pasti sangat terpukul dengan apa yang telah terjadi. Padahal aku selalu berpikir hidupnya itu sangat sempurna. Dia lahir dari keluarga yang harmonis. Disayangi semua orang, bahkan jadi rebutan lelaki tampan dan tajir. Tapi ternyata, Tuhan mengujinya dengan hal yang membuat semua orang pasti syok jika berada di posisinya. Yang kuat ya, Deva. Semoga Tuhan segera memberi kamu momongan lagi, batin Diandra.


"Dian, kamu kenapa?" tanya Devanya saat melihat sahabatnya melamun.


"Tidak apa, tadi Bang Ano mengajak liburan bareng ke Pulau Jeju. Tapi kayaknya aku gak bisa ikut sekarang, soalnya Davin lagi banyak pekerjaan. Kamu berangkat duluan aja ya, nanti aku nyusul." Diandra tersenyum pada sahabatnya, tidak mungkin dia mengatakan apa yang sedang dipikirkannya. Beruntung saja Diandra teringat dengan ajakan Keano tadi saat di meja makan.


"Oh, padahal di sana sedang musim semi, pasti sangat indah melihat bunga sakura bermekaran."


"Aku pasti menyusul, kamu berangkat nanti malam, kan?"


"Iya, ayo kita sarapan dulu! Aku juga belum sarapan. Tadi langsung ke sini," ajak Diandra seraya memberikan sarapan pada Devanya.


Akhirnya mereka pun sarapan bersama dengan Diandra yang terus berceloteh. Tidak biasanya gadis itu bicara banyak seperti rel kereta api, sedangkan Devanya hanya jadi pendengar dengan sesekali tersenyum tipis mendengar cerita sahabatnya.


"Mama dan Daddy masih liburan. Sepertinya Daddy sedang berusaha keras mengambil hati mama kembali," jawab Diandra.


"Syukurlah kalau semuanya membaik. Dian, bagaimana kamu dengan Davin? Apa kamu sudah bisa menerimanya?" tanya Devanya lagi.


"Iya, saat kita ikhlas dengan semua yang terjadi, hatiku merasa plong tanpa beban. Sepertinya, aku mulai jatuh cinta dengan adikmu dan melupakan pangeran impianku. Karena sebenarnya, laki-laki yang telah menghalalkan kitalah pangeran impian yang sesungguhnya." Pipi Diandra tiba-tiba saja merona saat mengingat Davin dan percintaan mereka.


Mungkin benar apa yang Dian katakan. Aku harus bisa ikhlas, bayiku diambil lagi sama Pemiliknya. Tuhan, apakah aku belum pantas untuk menjadi seorang ibu?


Diandra menghela napas pelan saat melihat sahabatnya melamun kembali. Dia pun mencoba untuk menghiburnya. "Deva, jangan sedih lagi. Mungkin Tuhan mengambilnya sekarang, karena dia ingin memberikan bayi pada kamu di waktu yang tepat. Bisa saja agar kita bisa hamil bersamaan. Pasti seru pas mereka udah besar, punya saudara seumuran."


...***...


Perjalanan yang lumayan jauh karena harus ke pinggiran kota Jakarta, tidak membuat Devanya merasa lelah. Dia justru terlihat sangat bersemangat saat tahu akan pergi ke panti asuhan. Hatinya sedikit terobati saat melihat begitu banyak anak kecil bahkan bayi dan balita yang membutuhkan uluran tangannya.


Dia yang tadinya hanya diam dan malas tersenyum, menjadi lebih menyunggingkan senyuman di kedua sudut bibirnya. Saat anak-anak panti menyuguhkan permainan yang dapat menghibur semua orang.

__ADS_1


"Kakak cantik, mata Kakak indah sekali. Aku juga ingin punya bola mata seperti punya Kakak," celetuk salah satu anak perempuan.


"Iya, aku juga ingin." timpal temannya.


"Jangan ganggu Kakak cantik! Dia Kakak kesayangan aku," ketus seorang anak laki-laki.


"Kakak, milik kalian semua. Sekarang kalian semua adik-adik Kakak," ucap Devanya dengan tersenyum.


"Gak ada yang mau jadi adik Kakak kah?" tanya Diandra berpura-pura sedih.


"Aku mau Kak ... Aku mau ...," teriak semua anak panti yang duduk bersama dengan Devanya dan Diandra.


"Oke, mulai sekarang kalian semua adik Kak Deva sama Kak Dian. Bagaimana, setuju?" tanya Diandra dengan bersemangat.


"Setuju ...." Kompak semua anak panti.


"Ayo kita menyanyi lagi! Musik mainkan," suruh Diandra.


Devanya dan Diandra pun ikut bergoyang bersama dengan anak-anak panti. Mereka semua tersenyum senang. Apalagi saat melihat salah satu anak panti yang goyangannya heboh, membuat Devanya ikut tertawa melihat kelucuan anak itu.


Allana tersenyum senang melihat menantunya terlihat bersemangat lagi. Dia sengaja mengatur semuanya agar bisa mengembalikan keceriaan Devanya. Begitupun dengan Sevia yang tanpa terasa menitikkan air matanya, saat melihat putrinya bercengkerama dengan bahagia bersama anak-anak panti.


"Makasih, Mbak! Sudah merencanakan semua ini," ucap Sevia.


"Sama-sama, biasanya hanya Pak Mun yang datang ke sini. Aku selalu sedih saat melihat anak-anak itu yang tidak mengetahui orang tuanya," ucap Allana pelan.


"Mungkin ini sebabnya kita tidak boleh terus mengeluh, karena ternyata masih banyak orang yang hidupnya kurang beruntung dari kita. Dulu aku juga pernah merasakan bagaimana hidup tanpa seorang ibu. Meskipun masih ada Bapak, tetapi ...." Sevia tidak melanjutkan ucapannya.


Dia tidak mungkin menceritakan kejelekan Bapaknya pada orang lain. Walau bagaimanapun, tanpa ada bapaknya tidak mungkin dia ada di dunia ini. Sehingga dia pun langsung mengalir pembicaraan.


"Lihat, Mbak! Anak itu lucu sekali, dia dance seperti sudah ahli saja," tunjuk Sevia pada anak panti yang sedang memperlihatkan break dance.


"Iya, dia harus lebih diasah lagi agar bisa mengembangkan bakatnya. Nanti aku akan bilang Keano untuk mengadopsi anak itu dan dimasukan ke pusat pelatihan dance," ucap Allana.


"Memang ada, Mbak?"


"Ada, tapi tidak di sini melainkan di negeri Ginseng."


...~Bersambung~...

__ADS_1


Sambil nunggu Brondong Tajir update, yuk kepoin karya Author keren yang satu ini.



__ADS_2