Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 57 Bertemu kembali


__ADS_3

Icha mengerutkan keningnya saat dia kembali ke ruang tamu, melihat Sevia dan Rani bengong menatap foto keluarganya. Dia pun akhirnya bertanya untuk mengusir rasa penasarannya dengan apa yang telah terjadi.


"Via, kenapa seperti kaget melihat foto keluarga Tante?" tanya Icha.


"Ng-ng-nggak kho Tan, aku seperti melihat direktur di tempat kerjaku dulu," jawab Sevia.


"Memang kamu pernah kerja di mana?" tanya Icha.


"AP Technology yang di Cikarang," jawab Sevia.


"Oh, pantas saja! Dia memang satu tahun di sana, sebelum kecelakaan itu terjadi." Icha pun duduk di samping Sevia seraya ikut melihat ke arah foto Dave.


Apa? Kecelakaan? Apa karena itu dia tidak datang menemui aku? Jadi, selama ini aku sudah berprasangka buruk padanya, batin Sevia.


"Apa Tante? Kecelakaan?" tanya Rani ikut menimpali.


"Iya, setahun yang lalu. Sekarang Alhamdulillah sudah mulai kerja lagi. Dia anak yang baik dan penurut. Dave tidak pernah membantah apapun yang Tante dan om katakan. Begitupun pada adik-adiknya, dia begitu sayang," tutur Icha. "Oh iya, nanti datang ke acara pertunangan Dave dan putri Tante ya!"


"Pe-per-pertunangan?" tanya Sevia gagap.


"Iya, akhir pekan ini. Oh, iya ini KTP kamu. Ternyata kita masih satu rumpun ya, Tante juga aslinya dari kota Tahu. Tante merasa bertemu dengan keluarga jauh loh kalau bertemu dengan orang yang satu rumput dengan Tante. Jadi, kamu gak boleh sungkan lagi sama Tante. Ayo kita bertukar nomor ponsel," cerocos Icha.


Sevia hanya tersenyum samar menanggapi ucapan Icha. Hatinya benar-benar sedang tidak baik-baik saja. Meskipun dari awal dia sudah tahu tidak boleh berharap banyak pada Dave, tetapi tetap saja ada rasa tidak rela saat harus menerima kenyataan kalau kini Dave tidak mungkin bersamanya lagi.


"Oh iya, ini nomor aku Tan, 0838xxxxxx." Sevia pun memberikan nomor ponselnya pada Icha. Begitupun dengan Icha yang meminta Sevia untuk mencatat nomor ponselnya.


"Nomor kamu juga Rani, kita saling bertukar nomor!" seru Icha pada Rani yang hanya diam saja dengan pikiran terus bercabang memikirkan sahabatnya.


Ketiganya pun kini larut dalam obrolan. Melupakan sejenak kegelisahan hati yang sedang menyergap Sevia. Sampai akhirnya terdengar suara tangisan Devanya, bersamaan dengan suara mobil yang berhenti di depan rumah megah itu. Sevia segera berlari menuju ke kamar tamu untuk menemui putrinya yang terbangun. Sementara Icha dan Rani masih berada di ruang tamu.


"Assalamu'alaikum," salam Dave yang baru datang.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam. Loh, Dave kho sudah pulang?" tanya Icha heran, sedangkan Rani hanya melongo melihat penampilan suami sahabatnya yang sangat berbeda dengan apa yang dilihatnya waktu pertama kali mereka bertemu.


"Ada berkas yang tertinggal, Tan. Aku ke kamar dulu mau mengambilnya. Harry menungguku di mobil," pamit Dave.


Dave hanya mengangguk sekilas ke arah Rani dan tersenyum tipis sebagai penghormatan pada tamu tantenya, lalu dia pun langsung beranjak pergi menuju ke kamarnya. Namun, dia merasa heran saat mendengar suara tangis bayi yang tidak mau berhenti. Dave yang sedang terburu-buru karena ada meeting penting dengan klien langsung melangkahkan kakinya menuju ke kamar yang berada di lantai atas.


Sementara Sevia dibuat bingung dengan putrinya. Dia tidak mau menyusu tetapi tangisannya semakin menjadi. Rani dan Icha pun akhirnya ikut menenangkan. Namun, usaha mereka tak berhasil. Sampai akhirnya ada sebuah suara berat yang bertanya di belakang Sevia.


"Tante, bayinya kenapa? Sepertinya dia nangis dari tadi," tanya Dave saat kembali dari lantai atas dengan berkas di tangannya.


Degh!


Jantung Sevia langsung berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia masih ingat dengan pemilik suara itu. seseorang yang dia cari keberadaannya kini ada di belakangnya. Namun, dia menjadi bingung karena kini orang itu akan bertunangan dengan putri seorang ibu yang telah berjasa padanya.


"Iya, nih Dave! Dia terus menangis tidak mau dikasih mimi. Tante gendong juga dia gak mau, coba kamu yang gendong, siapa tahu dia sedang kangen dengan papanya." Icha langsung mengambil Devanya yang ada dalam gendongan Sevia dan memberikannya pada Dave.


"Aku tidak bisa menggendong bayi, Tan! Aku takut melukainya," tolak Dave.


Entah perasaan seperti apa yang Dave rasakan. Dia merasakan perasaan yang tidak perah dia rasakan sebelumnya saat menggendong bayi cantik itu. Apalagi saat dia melihat wajah cantik bayi itu, membuat dia tidak ingin melepaskan bayi cantik yang ada dalam gendongannya.


"Tuh kan, Dave. Saat kamu gendong dia jadi anteng, pasti dia merindukan papanya," tebak Icha.


Sevia masih tidak bergeming dari tempatnya. Dia masih menetralkan perasaannya. Tak berbeda dengan Sevia, Rani pun hanya diam melongo melihat interaksi Dave dan putrinya.


"Tante, sepertinya dia ngompol. Tanganku basah," ucap Dave.


Mendengar putrinya mengompol, Sevia pun langsung berbalik berniat untuk mengambil Devanya dan mengganti popok yang mungkin sudah kepenuhan sehingga tembus ke luar.


"Maaf, Tuan! Putriku mengotori Anda, biar aku mengganti popoknya dulu. Terima kasih sudah membantu menenangkan!" Sevia langsung mengambil Devanya dari tangan Dave.


Dave diam tak bergeming melihat wanita yang dia cari selama ini kini sudah ada di depan matanya. Namun, kini kebimbangan menyelimuti hatinya setelah dia menyetujui permintaan Al untuk menyelamatkan harga diri keluarga Putra. Sebisa mungkin dia menahan diri untuk tidak menunjukkan perasaannya di depan Icha.

__ADS_1


"Apa dia putrimu?" tanya Dave dengan suara yang bergetar.


"Iya, Tuan! Dia putri sahabatku Sevia dengan suaminya," sahut Rani yang sedari tadi diam


"Permisi, aku ke kamar dulu mau mengganti baju!" Dave langsung berbalik menuju ke kamarnya.


Dia tidak bisa mengendalikan debaran jantungnya yang menggila sehingga memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Dia terus menjambak rambutnya karena bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Di satu sisi, dia tidak mungkin mengecewakan orang yang telah banyak berjasa dalam hidupnya tapi di sisi lain, dia merasa tidak rela jika harus melepaskan wanita yang sudah menjadi istri sirinya bahkan sekarang mereka sudah memiliki seorang putri. Dave yakin, kalau bayi yang tadi digendongnya adalah putrinya dengan Sevia. Apalagi saat tadi dia melihat iris matanya yang sama persis dengan miliknya


Via, apa yang harus aku lakukan? Aku harap, kamu masih mau menyembunyikan pernikahan kita. Aku tidak ingin kehilanganmu tapi aku juga tidak bisa menolak permintaan Om Al, batin Dave.


Setelah Dave mengganti bajunya dan menetralkan perasaannya. Kini dia sudah merasa lebih tenang. Dave bertekad tidak akan melepaskan Sevia dan akan terus mencari keberadaan Malvin agar dia bertanggung jawab dengan apa yang telah dilakukannya pada Zee. Saat Dave sampai d ruang tamu, terlihat Sevia dan temannya yang berpamitan pulang pada Icha.


"Maaf, Tante! Ada mertuaku datang ke rumah, jadi kita harus cepat-cepat pulang." Bohong Rani.


"Sayang sekali, padahal Tante sudah masak makanan enak. Ya sudah, kalau kalian tidak bisa makan siang bersama. Lain kali harus jadi ya!" pinta Icha.


"Iya, Tan! Kapan-kapan kalau kita sama-sama ada waktu," ucap Sevia seraya mencium punggung tangan Icha yang diikuti oleh Rani.


"Sering-sering main ke sini ya, Via!" pesan Icha.


"Apa kalian mau pulang sekarang?" tanya Dave diambang pintu penghubung antara ruang tamu dan ruang keluarga.


"Iya, Dave! Padahal Tante sudah menyiapkan makan siang, tapi sayang mertua Rani sudah menunggunya di rumah."


"Biar aku yang mengantarkannya, Tan!" tawar Dave.


"Wah kebetulan, Dave! Kamu memang selalu bisa Tante andalkan."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya Kawan! Klik like, comment vote, rate, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih!...


__ADS_2