
Setelah Diandra merasa puas berada di taman dan mulai bisa mengontrol perasaannya kembali, dia pun mengajak Gavin untuk pulang. Hari ini, Gavin bersikap seperti layaknya seorang kakak pada adiknya. Tidak seperti biasanya, yang selalu asyik dengan kehidupannya sendiri.
Saat sampai di rumah Dave, sepertinya tuan rumah sedang beristirahat. Sementara Harry, berada di kamar Rani. Dia hanya menunduk sedih menyesali kebodohannya.
"Harry, terima kasih sudah datang menjenguk aku. Bagaimana dengan pekerjaan kamu," tanya Rani dengan tersenyum manis.
"Pekerjaan aku baik. Hanya hatiku yang tidak baik. Maafkan atas semua kebodohan aku," ucap Harry sendu.
Saat keduanya sedang berbincang seperti orang asing, Diandra dan Gavin masuk ke kamar Rani setelah tadi mengetuk pintu terlebih dahulu. Mereka merasakan hawa dingin yang menusuk kulit saat melihat Rani dan Harry yang tidak seperti biasanya.
"Daddy, Om Dave ke mana?" tanya Diandra.
"Tadi pergi ke kamarnya, memang ada apa?" tanya Harry.
"Ada sedikit masalah. Aku mau minta tolong padanya," jawab Diandra. "Kalau begitu, aku menemui Om Dave dulu," pamitnya.
Diandra pun langsung pergi menuju kamar Dave. Saat dia naik ke lantai atas, Diandra berpapasan dengan Davin yang akan turun. Diandra pun menghentikan langkahnya dan menyapa Davin.
"Mau ke mana, Vin? Tumben terlihat rapi sekali," tanya Diandra.
"Aku mau menghukum orang yang ingkar janji," sarkas Davin. Dia merasa kesal pada Diandra, karena selama berada di rumahnya, Diandra seolah-olah menghindarinya.
Diandra hanya tersenyum samar saat mendengar jawaban dari Davin. Dia akui, dia memang salah karena telah menjanjikan sesuatu pada Davin. Sementara dia sendiri tidak bisa menepati janji itu.
"Aku ke atas dulu ya!" pamit Diandra.
Diandra langsung pergi meninggalkan Davin yang masih mematung di tempatnya. Sedangkan Davin hanya menatap kepergian gadis yang dia cintai. Tanpa berniat untuk menjawab ucapan gadis itu.
__ADS_1
Sementara Diandra langsung menuju ke kamar Dave. Dia kemudian mengetuk pintu. Setelah terdengar suara orang yang mempersilahkan masuk, dia pun langsung memutar handle pintu dan masuk ke dalam kamar Sevia.
"Ada apa, Dian?" tanya Sevia.
"Maaf Tante kalau aku mengganggu. Aku ada perlu dengan Om Dave," jawab Diandra.
"Duduklah dulu! Sebentar Tante panggilkan ya," suruh Sevia kemudian berlalu pergi menuju ke kamar mandi. Karena memang Dave sedang berada di kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Melihat istrinya yang menyusul ke dalam kamar mandi, Dave yang sudah tidak berpakaian langsung menarik Sevia agar bergabung dengannya mandi di bawah air shower. Namun Sevia langsung memberi isyarat kalau di luar ada orang yang sedang menunggunya. Dengan berat hati, Dave pun melepaskan Sevia dan melanjutkan mandinya.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Dave pun langsung bergabung bersama dengan Sevia dan Diandra. Entah apa yang mereka perbincangkan. Namun keduanya nampak sendu seperti sedang membahas sesuatu.
"Ada apa Dian mencari, Om?" tanya Dave seraya duduk di samping istrinya.
Diandra mengambil ponsel milik Anne di tas selempang yang dia bawa. Dia pun langsung memberikannya pada Dave. Dave yang tidak mengerti dengan maksud putri sahabatnya itu, hanya mengerutkan kening.
"Ini ponsel siapa?" tanya Dave dengan membolak-balikkan ponsel di Anne yang dia pegang.
"Kamu pintar, Dian. Kita akan lebih mudah menghabisinya kalau kita tahu akarnya siapa. Makanya, Anne masih dibiarkan bebas. Karena tiba saatnya nanti, dia harus mempertanggungjawabkan semuanya."
"Iya, Om. Dian berharap, Om bisa mengusut semuanya. Dian tidak bisa mengandalkan papa saat kondisi papa seperti itu," ucap Diandra sendu.
Sevia langsung mengelus punggung Diandra lembut. Dia bisa merasakan bagaimana hancurnya perasaan gadis itu, karena dia pun pernah berada di posisi sebagai anak korban broken home.
Setelah Diandra menceritakan apa yang terjadi di rumahnya, dia pun berpamitan pada Dave dan Sevia karena merasa tubuhnya perlu istirahat setelah ketegangan tadi di rumah dengan Anne. Namun, saat dia baru masuk ke dalam kamarnya, Diandra sangat terkejut karena melihat Davin yang sudah tertidur di tempat tidurnya.
"Vin, kenapa tidur di sini?" tanya Diandra.
__ADS_1
"Kenapa? Ini kan kamar aku. Aku berhak dong tidur di sini," ujar Davin.
"Oh begitu, baiklah aku yang keluar."
Diandra langsung berbalik akan kembali ke luar dari kamarnya. Namun dengan gerakan cepat Davin segera mencekal tangan Diandra dan menarik ke arahnya. Hingga tubrukan itu tidak dapat dihindarkan lagi.
"Dian, kamu tidak bisa terus-terusan mempermainkan perasaan aku. Aku akan menagih janji kamu sekarang," ucap Davin.
"Please, Vin! Jangan menambah beban aku! Kamu tahu kan kalau mama aku sedang sakit. Aku tidak bisa berpikir yang lain, selain kesembuhan mama."
"Jadi buat kamu, aku hanya beban. Oke, aku mengerti sekarang. Sorry kalau aku sudah membebani kamu!" Davin langsung ke luar dari kamarnya yang ditempati oleh Diandra dengan hati yang hancur. Dia langsung membereskan barang-barangnya dan berencana akan mempercepat liburannya.
Sementara di ruang kerja Dave, pria bermata biru itu sedang fokus membuka tiap percakapan yang ada di ponsel Anne. Sampai akhirnya menemukan percakapan yang menyuruh Anne untuk mencampurkan obat yang bisa melumpuhkan syaraf pada obat oles Rani dan mencampurnya dengan minuman Rani.
"Kurang ajar! Kamu mau bermain-main denganku. Lihat saja, aku pasti bisa membalikkan keadaan. Untung saja semuanya cepat terungkap. Kalau tidak, nyawa Rani bisa-bisa terancam."
Saat Dave sedang fokus mendengarkan percakapan Anne dengan orang itu, terdengar ponsel Anne berbunyi. Dave pun segera melihat siapa yang sudah menelpon Anne. Tertera di layar ponsel nama 'Nyonya Nadine' yang muncul sehingga Dave pun langsung menerima panggilan telepon itu. tapi dia hanya diam saja tidak bicara apapun.
"Anne, kenapa lambat sekali kerja kamu?Seharusnya aku sudah menerima kabar kalau Rani meninggal,"
"Sayangnya itu tidak akan terjadi, Nadine."
"Benarkah? Oh sepertinya aku kenal dengan suara ini. Suara seorang lelaki yang pernah aku sukai tapi sayangnya, aku hanya dijadikan angin lalu."
"Nadine, hentikan kegilaan kamu! Sebelum aku bertindak lebih jauh."
"Lakukan saja, Kamu pikir Nadine yang sekarang, sama dengan Nadine yang dulu? Big no! Aku tidak akan berhenti sebelum membalas apa yang Harry lakukan padaku. Kamu tahu, Harry membuat aku tidak akan punya anak lagi.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...Sawerannya dong Kakak, biar Othornya semangat update. Boleh kasih like, comment, vote, rate gift dan favorite....