Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 127 Sevia Hamil


__ADS_3

Pagi ini, suara adzan subuh berkumandang dari kejauhan. Sevia pun terbangun dari tidurnya yang terasa sangat pulas di dalam dekapan Dave. Dia tersenyum saat melihat wajah tenang Dave yang masih tertidur pulas. Perlahan dia melepaskan diri dan bergegas menuju ke kamar mandi. Dave yang ikut terbangun karena pergerakan dari Sevia, dia pun langsung mengecek e-mail di ponselnya.


"Sepertinya, Tuan Hamish tertarik dengan proyek baru. Dia ingin berinvestasi kembali," gumam Dave.


Saat Dave sedang asyik membalas e-mail, tanpa sengaja ia mendengar suara orang yang sedang muntah di kamar mandi. Dave pun langsung menyimpan ponselnya dan bergegas menuju kamar mandi. Dia yakin kalau istrinya yang sedang muntah.


"Via, kamu kenapa?" tanya Dave cemas seraya mengetuk pintu yang terkunci.


"Gak apa, Dave. Aku hanya merasa mual, mungkin masuk angin," teriak Sevia dari dalam.


Namun, jawaban Sevia tidak membuatnya tenang. Apalagi, kembali terdengar suara muntahan dari dalam kamar mandi. Dave pun kembali berteriak seraya menggedor pintu kamar mandi.


"Via, buka pintunya! Jangan membuat aku semakin cemas!" teriak Dave.


Ceklek


Sevia pun langsung membuka pintu kamar mandi. Nampak dia hanya memakai handuk dengan wajah yang pucat. Dave langsung menangkap Sevia yang berjalan sempoyongan akan keluar dari kamar mandi.


"Via, kamu gak apa-apa?" tanya Dave dengan memapah istrinya menuju tempat tidur.


"Aku hanya mual sama pusing. Apalagi saat ... hoek ... hoek ...." Sevia kembali ke kamar mandi. Dia kembali muntah meskipun tidak ada yang dia muntahkan.


Dave pun langsung memijat tengkuk Sevia agar istrinya merasa lebih baik. Namun, ternyata keberadaannya membuat Sevia semakin bertambah mual.


"Dave, jangan dekat aku dulu. Asam lambungku langsung naik saat mencium aroma kamu," pinta Sevia.


"Kenapa aku tidak boleh membantu kamu?" tanya Dave heran.


"Entahlah, Dave. Aku mual berdekatan dengan kamu," jelas Sevia dengan berjalan menuju ke tempat tidur seraya menutup hidungnya.


"Apa karena aku belum mandi? Baiklah, aku akan mandi dulu. Kamu tiduran saja!" Dave menyiapkan bantal yang akan istrinya tiduri. Setelah melihat Sevia merasa nyaman, dia pun langsung bergegas untuk membersihkan dirinya.


Sevia hanya melihat punggung suaminya itu menghilang di balik pintu kamar mandi. Dia pun merasa heran, kenapa dia bertambah mual saat berdekatan dengan Dave? Padahal semalam mereka sudah menghabiskan malam bersama dalam percintaan yang memabukkan.


Tak berapa lama kemudian, Dave keluar dari kamar mandi. Dia terlihat sangat fresh. Setelah Dave, memakai bajunya, dia pun kembali mendekati istrinya.

__ADS_1


"Via, apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Dave.


"Aku merasa lemas dan pusing. Kamu tolong panggilkan Rani, sepertinya aku masuk angin. Biar dia kerokin punggung aku!" pinta Sevia.


"Ya sudah, aku panggil Rani dulu." Dave mengecup kening Sevia sekilas sebelum dia pergi untuk memanggil Rani.


Namun, hal itu justru membuat Sevia kembali merasa mual dan ingin memuntahkan sesuatu. Dia pun segera kembali ke kamar mandi. Sampai akhirnya, Dave dan Rani datang ke kamar.


"Via, kamu gak apa-apa?" tanya Rani segera menghampiri sahabatnya.


"Aku hanya masuk angin. Kepalaku pusing, mual tambah lemas," jelas Sevia yang dipapah oleh Rani menuju ke tempat tidur.


"Apa kamu tidak telat datang bulan? Biasanya kan kalau orang muntah pagi-pagi itu, berarti dia sedang ngidam," ucap Rani.


"Apa, ngidam? Berarti Sevia hamil?" pekik Dave yang mendadak heboh saat mendengar ucapan sahabat istrinya.


"Mana mungkin, aku hanya masuk angin Dave. Semalam kan tidur gak pake baju," elak Sevia.


Masa sih aku hamil? Aku kan masih suka diam-diam minum pil penunda kehamilan. Apa karena beberapa kali aku kelupaan meminumnya sehingga aku jadi hamil, batin Sevia.


"Udah, sini aku pijitin. Tapi gak aku kerokin ya, takut beneran kamu hamil," ucap Rani.


"Via, aku rasa kamu beneran hamil deh. Ingat waktu dulu kamu mabuk karena ngidam, hanya wangi baju Dave yang membuat rasa mual kamu itu hilang," ucap Rani disela-sela pijitannya.


"Tapi sekarang, aku malah tambah mual kalau dekat Dave. Apa benar aku hamil, Rani? Aku kan masih minum pil itu. Tapi kahir-akhir ini aku tidak teratur meminumnya karena sering kelupaan saat Dave mendadak mengajak main kuda-kudaan," tutur Sevia.


"Via, apa semua bule seperti itu ya? Harry juga kadang suka gak sabaran, untung saja aku pake suntik jadi aman-aman saja kalau mendadak," bisik Rani pelan.


Tidak mungkin dia membiarkan suami-suami mereka dengar apa yang sedang mereka bicarakan. Sevia pun akhirnya memelankan suaranya.


"Sepertinya iya, Rani. Mereka napsunya gede, Dave saja gak pernah puas jika hanya sekali melakukannya. Tapi aku suka semua yang dia lakukan." Sevia tersenyum saat teringat setiap percintaannya dengan Dave.


"Syukurlah kalau kamu menyukainya. Aku jadi merasa lega, takut istriku tidak merasa puas dengan pelayanan yang aku berikan," timpal Dave yang baru saja datang bersama dengan Harry setelah tadi dia menelpon dokter.


Degh!

__ADS_1


Pipi Sevia langsung merona, wajahnya terasa panas terbakar. Dia merasa malu saat suaminya mendengar pembicaraan dia dengan Rani. Sevia pun langsung cengengesan untuk mengusir rasa malunya.


"Dave, bukannya tadi keluar?" tanya Sevia dengan cengengesan.


"Iya, aku habis menelpon dokter karena penasaran dengan apa yang Rani ucapkan. Ternyata istriku malah membicarakan aku saat aku tinggalkan sebentar," sindir Dave.


"Sedikit, Dave. Jangan marah ya!" pinta Sevia.


"Baiklah, aku tidak marah karena kamus sedang sakit, tapi lain kali aku pasti akan memberi kamu hukuman." Ancam Dave.


Tak berapa lama kemudian, dokter yang dipanggil oleh Dave sudah datang. Dokter Dara pun segera memeriksa keadaan Sevia. Setelah dia dapat menyimpulkan diagnosanya, dia pun bertanya pada Sevia.


"Terakhir datang bulan kapan, Mbak?" tanya Dokter Dara.


"Aku lupa, Dok! Tapi sudah lama aku tidak datang bulan," jawab Sevia.


"Kalau menurut pemeriksaan aku, sepertinya Mbak Sevia sedang hamil muda. Coba nanti beli alat tes kehamilan di apotek, soalnya aku tidak membawanya. Setelah melihat hasilnya dua garis merah, langsung ke dokter kandungan saja, agar dapat memastikan berapa usia kehamilannya," jelas Dokter Dara panjang lebar.


"Berarti benar istriku hamil, Dok?" tanya Dave dengan wajah yang sumringah.


"Dugaan awal saya seperti itu, Mr. Dave. Semoga saja tidak melesat. Nanti aku buat resep vitamin dan obat untuk mual pusingnya," ucap Dokter Dara.


"Baiklah, tapi kenapa Sevia mual jika dekat aku?Padahal semalam tidak, kita malah tidur bersama." Dave kembali bertanya untuk meminta penjelasan dari dokter itu.


"Sepertinya Mbak Sevia memang hamil. Bisa jadi itu karena bawaan bayi, Mister. Anda jangan khawatir, mual ngidam itu hanya di trimester pertama. Saat sudah memasuki trimester kedua biasanya sudah kembali seperti biasa," jelas Dokter Dara.


"Memang berapa lama itu, Dok?" tanya Dave.


"Sekitar tiga bulan per trimesternya."


"Apa??? Tiga bulan aku tidak bisa dekat-dekat dengan Sevia??!! Aku tidak bisa!!!" Dave langsung menolak dengan keras apa yang jadi dugaan Dokter Dara.


"Mister tenang saja, nanti juga akan diberi resep untuk mual muntahnya."


...~Bersambung~...

__ADS_1


Sambil nunggu Dave dan Sevia up, yuk kepoin juga karya Author keren yang satu ini



__ADS_2