Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 107 Kembali Mesra


__ADS_3

Musim semi di pulau Jeju sungguh menawarkan pemandangan yang memanjakan mata. Banyak bunga bermekaran berwarna-warni di sepanjang jalan. Apalagi, jalanan di kawasan Jeonnong-ro, Jeju adalah tempat populer di kala musim semi berlangsung. Pepohonan cantik bunga Sakura dan kelopak yang berjatuhan, mewarnai jalanan yang akan mengiringi setiap langkah pejalan kaki.


Keano sengaja mengajak Devanya ke sana. Mereka berjalan beriringan dengan saling bergenggaman tangan. Melihat Devanya yang terkesima dengan pemandangan yang disuguhkan, dengan kedua sudut bibirnya yang terangkat membentuk bulan sabit, Keano pun mengajak istrinya berfoto untuk mengabadikan moments kebersamaan mereka di pulau Jeju.


"Ayo, Sayang kita berfoto!" ajak Keano.


"Boleh, Bang!" sahut Devanya.


Keano langsung ber-selfie ria dengan istrinya. Banyak pose yang dia ambil dengan latar bunga sakura. Dari mereka selfie berdua, sampai meminta tolong pengawalnya untuk memfoto keduanya.


Devanya terus tersenyum melihat apa yang Keano lakukan saat mereka sedang berpose. Tidak biasanya, Keano bertingkah ajaib seperti itu. Yang biasanya Keano selalu kaku saat berfoto, mendadak hari ini dia bertingkah konyol. Mulai menjulurkan lidah, pasang wajah cemberut, pasang muka jelek bersama hingga tatapan menggoda. Bahkan menggendong Devanya dengan berbagai gaya.


"Sekarang Abang yang kamu gendong ya!" pinta Keano


"Bang, malu!" sanggah Devanya.


"Tidak apa, Om Jack sudah biasa melihat keromantisan Papi Mommy ataupun Oma dan Opa. Dulu Om Jack, pengawal bayangan Mommy."


Meskipun, Devanya masih terlihat malu-malu. Namun akhirnya dia mengikuti keinginan suaminya. Keano bersiap seperti akan digendong oleh Devanya, tetapi kenyataannya, pria tampan itu hanya memeluk istrinya dari belakang dengan erat.


"Terima kasih sudah kembali tersenyum. Kamu tahu, Ay. Senyummu adalah kebahagiaan Abang." Perlahan Keano membalikkan tubuh istrinya. Dia tatap manik biru yang indah se-biru samudera itu. Hingga akhirnya dia terhanyut di dalamnya.


Perlahan Keano mendekatkan wajahnya. Semakin dekat, semakin dekat hingga bibir keduanya saling menempel. Para pengawal yang sedari mengikuti mereka, langsung membalikkan badan. Karena mereka tahu adegan selanjutnya akan seperti apa.


Sementara Keano begitu terhanyut dalam ciuman panjangnya. Dia terus menyesap dan mengeksplor seluruh isi rongga mulut Devanya. Hingga saat stok oksigen keduanya sudah menipis, barulah Keano melepaskan pagutannya.


"Ay, ayo kita awali kisah kita lagi. Anggap saja, ini kencan pertama kita meskipun sebenarnya bukan. Kita lupakan semua hal yang menyesakkan," ucap Keano.


Devanya tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya menganggukkan kepalanya. Devanya sangat terharu dengan usaha suaminya agar dia bisa melupakan apa yang telah terjadi kemarin.


"Terima kasih ...," lirih Devanya.


"Jangan berterima kasih pada Abang! Tapi berterima kasihlah pada dirimu, karena kamu mau bangkit dari keterpurukan. Abang hanya memberi jalan untuk kamu bisa bangkit," ujar Keano.


"Iya, Bang." Devanya langsung memeluk suaminya erat.


Kebahagian mulai menyelimuti hati Keano. Dia merasa sedikit tenang karena Devanya sedikit demi sedikit melupakan kejadian naas itu. Meskipun sebenarnya dia juga sangat terpukul, tetapi Keano menekan sebisa mungkin luka hati karena kehilangan calon bayinya.


"Mau langsung pulang apa masih mau jalan?" tanya Keano setelah dia mengurai pelukannya.


"Pulang saja, Bang. Aku ingin melihat taman bunga yang ada di belakang villa," ucap Devanya.

__ADS_1


"Kamu pasti suka melihat hamparan bunga Juliet Rose yang ada di sana. Kamu tahu, Ay. Hanya dengan merawat bunga itu, Abang tidak perlu mengeluarkan uang untuk biaya perawatan villa." Keano tersenyum lebar mengingat bunga indah yang langka itu.


...***...


Seminggu sudah Devanya berada di pulau Jeju. Setiap hari Keano mengajak istrinya berkeliling pulau itu. Memperkenalkan satu tempat ke tempat lainnya.


Namun, hari ini mereka memutuskan untuk tinggal di villa, mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Apalagi, semalam mereka habis memadu kasih hingga pagi. Sehingga Devanya masih bergelung selimut karena kelelahan menghadapi suaminya yang buka puasa.


"Sayang, sarapan dulu!" suruh Keano seraya menyimpan nampan di atas nakas.


Wajahnya terlihat berseri dan bugar. Sangat berbanding terbalik dengan istrinya yang terlihat lesu. Bagaimana tidak, Keano seperti singa kelaparan yang menggempur Devanya terus menerus. Entah berapa kali mereka mendapatkan pelepasannya. Namun, yang jelas, saat jarum jam menunjukkan angka tiga dini hari, barulah keduanya menghentikan olah raga malam yang memabukkan.


"Aku ngantuk, Bang!" keluh Devanya dengan mata yang terpejam.


"Maaf ya, Sayang. Semalam Abang kelepasan. Semoga saja benih yang Abang tanam, bisa tumbuh subur secepatnya." Keano menyingkap selimut dan mencium perut rata Devanya.


Dia lupa kalau istrinya belum berpakaian, sehingga buah yang begitu menggoda itu terpampang jelas di depan matanya. Berkali-kali Keano meneguk ludahnya kasar. Ingin sekali dia mengulang percintaannya yang semalam. Akan tetapi, dia merasa tidak tega melihat istrinya yang kelelahan.


"Bang, kenapa?" tanya Devanya bingung saat dia membuka mata, melihat suaminya yang sedang bengong.


"Hehehe ... Ay! Sarapan dulu ya, habis itu kita olah raga pagi. Boleh, kan?" Keano langsung membenarkan selimut Devanya yang tadi dia singkap.


"Boleh! Olah raga kan biar sehat." Devanya menjawab asal karena dia tidak mengerti arah pembicaraan Keano.


"Aku mau mandi dulu, setelah itu baru sarapan."


"Jangan, Ay!"


"Kenapa?"


"Kamu cuci muka aja, mandinya nanti sekalian habis olah raga." Gugup Keano.


"Gak apa, Bang! Nanti malu ketemu orang kalau belum mandi," ucap Devanya bergegas ke kamar mandi.


Ya Tuhan, kenapa libidoku menjadi bertambah tinggi setiap kali melihat tubuh istriku yang polos.


Keano yang sudah tidak bisa menahan hasratnya, dia langsung menyusul ke kamar mandi. Tanpa bicara lagi, dia membuka bajunya satu persatu. Kemudian ikut angsung menyerang Devanya yang sedang berendam air hangat. Dia tidak memberikan kesempatan istrinya kaget terlalu lama. Karena bibirnya langsung membungkam bibir Devanya.


Ritual mandi yang seharusnya hanya membutuhkan waktu paling lama tiga puluh menit, kini mereka lalui lebih dari satu jam. Meskipun awalnya Devanya merasa kesal karena tiba-tiba Keano menerkamnya, tetapi akhirnya dia pun ikut menikmati permainan suaminya.


Setelah acara mandi plus-plus ala Keano dan Devanya selesai, kini keduanya sedang menikmati sarapan pagi seraya menikmati hamparan bunga canola di belakang villa.

__ADS_1


"Bang, nanti jadi olah raganya? Kenapa Abang gak pakai baju olahraga sekalian?" tanya Devanya sebelum menyuapkan makanan ke mulutnya.


Uhuk uhuk


Keano langsung tersedak mendengar pertanyaan dari istrinya. Karena olah raga yang dia maksud baru saja mereka lakukan di kamar mandi. Sementara Devanya langsung mengambil air minum dan memberikannya pada Keano.


"Makasih," ucap Keano setelah meminum habis air yang diberikan Devanya.


"Bang, kapan kita pulang? Aku kangen sama Mama," tanya Devanya.


"Besok aja ya, nanti sore kita main ke pantai dulu."


"Iya!" sahut Devanya.


Saat keduanya sedang asyik sarapan, terdengar suara pintu kamar ada yang mengetuk. Keano pun bergegas untuk membukakan pintu kamarnya. Namun, betapa kagetnya dia saat melihat adik ipar dan sepupunya tersenyum manis di depan pintu kepadanya.


"Kalian, kapan datang?" tanya Keano bengong.


"Barusan, kami kangen dengan Deva. Bagaimana acara bulan madunya?" Diandra langsung menjawab pertanyaan Keano.


"Abang, kita suruh masuk dulu napa? Aku kangen dengan Vanya," timpal Orion.


"Kenapa kalian menggangguku?" tanya Keano ketus.


Mendengar suara yang sangat dikenalnya, Devanya pun langsung menghampiri. Wajahnya langsung berbinar saat melihat Diandra berdiri di depan pintu bersama dengan Davin, Devan dan Orion.


"Dian, ayo masuk!" ajak Devanya seraya menarik tangan Diandra.


"Permisi, Bang. Aku diajak masuk," ucap Diandra.


Mau tidak mau Keano pun memberi jalan pada Diandra dan yang lainnya. Sementara Orion hanya tersenyum remeh. Dia merasa menang karena akan mengganggu acara liburan Keano.


Kenapa mereka datang di saat yang tidak tepat. Padahal aku baru saja bisa bermesraan dengan istriku. Sepertinya aku harus bisa menahan diri di saat mereka ada bersamaku, batin Keano.


"Bang, kenapa bengong di pintu? Kebetulan mereka datang, kita bisa main di pantai bersama, pasti seru kalau rame-rame," tanya Devanya.


"Iya, boleh. Atur saja waktunya. Abang mau cek e-mail dulu ya!" pamit Keano.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa sawerannya ya kak! Bisa dengan klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2