
Kebahagiaan terpancar jelas di wajah Davin. Sangat berbanding terbalik dengan Diandra yang terlihat murung. Gadis itu masih belum bisa menerima kenyataan kalau pernikahannya karena rajia.
"Dian, kenapa murung? Bukankah harusnya kamu bahagia dengan pernikahan ini? Sebentar lagi kamu bisa bebas dari Om Harry," ucap Davin saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Aku masih syok bisa nikah sama kamu secepat ini. Meskipun memang kita sudah sepakat, tapi aku ingin menikahnya setelah aku wisuda."
"Sama saja, kita memang menikah sekarang. Tapi keluar dari rumah aku nanti setelah kamu wisuda. Sebelum waktu itu tiba, kita bersikap seperti biasa agar mama dan papaku tidak curiga."
"Maksud kamu, kita nikah sembunyi-sembunyi dari mereka?"
"Tentu saja, aku tidak mau mengambil resiko pernikahan kita ditentang oleh mama dan papa. Apalagi kalau sampai papa tidak menyetujui dan malah memisahkan kita. Tentu saja aku tidak mau hal itu sampai terjadi," ungkap Davin.
Ternyata Davin licik juga , batin Diandra.
Sementara Devanya diantar oleh Keano sampai ke rumah. Mereka begitu kaget saat melihat Dave sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Setelah menghela napas dalam, barulah Devanya keluar dari mobil Keano.
"Papa sudah sampai, katanya mau dijemput di bandara," sapa Devanya dengan tersenyum kikuk.
"Dari mana kamu?" tanya Dave sinis. "Jawab jujur, dari mana kalian?"
"Anu, Pah. Semalam, aku kena rajia saat pake motor. Nah mereka gak mau bebaskan aku karena dikira balapan liar. Tapi pas Bang Ano datang, mereka baru mau bebaskan aku." Bohong Devanya.
"Gak usah berbohong sama Papa! Papa tunggu kamu dan kedua adikmu di ruang kerja," ucap Dave seraya pergi masuk ke dalam rumah.
Lagi-lagi Devanya menghela napas dalam. Dia sudah punya firasat kalau papanya pasti sudah mencium tentang Davin yang menikah karena kena rajia. Keano yang baru turun dari mobil, dia langsung menghampiri Devanya yang termangu di tempatnya.
"Lebih baik jujur, Abang yakin Om Dave pasti sudah tahu semuanya. Kamu jangan lupa, kalau papa kamu hacker handal. Dia pasti selalu memantau kalian dari jauh," ucap Keano.
Devanya melihat ke arah Keano. Ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh tunangannya itu. Mungkin papanya menyimpan penyadap di tubuh mereka, sehingga selalu tahu apa yang dilakukan oleh anak-anaknya.
"Bang, kalau nanti papa marahin aku, Abang tolongin ya! Kalau perlu, Abang bawa aku kabur saja. Biar papa kelimpungan kalau aku hilang," melas Devanya.
Keano langsung mengacak-acak rambut Devanya gemas. Bisa-bisanya gadis itu kepikiran untuk dibawa kabur sama dia. Tanpa harus kabur pun pasti papanya mengijinkan kalau Keano mau membawa Devanya pergi.
"Iya, Abang bantu. Tapi kita kabur ke penghulu saja. Bagaimana, setuju?" tanya Keano dengan tersenyum.
"Abang kebelet kawin ya?" ledek Devanya.
"Abang gak perlu jawab karena kamu sudah tahu jawabannya."
__ADS_1
Baru saja Keano selesai bicara, mobil Davin dan motor Devanya yang dipakai oleh Devan, terlihat memasuki gerbang rumahnya. Mereka pun langsung menghampiri Devanya dengan tersenyum cerah.
"Davin, Devan, ayo cepetan! Papa nunggu di ruang kerja," seru Devanya,
"Apa???!!!" pekik Davin Devan kaget.
Kebahagiaan yang tadi terpancar nyata kini berubah menjadi kecemasan. Dua anak kembar itu saling berpandangan dan bersiap akan kembali ke mobil mereka. Namun, Devanya dengan sigap menjewer telinga adiknya.
"Gak usah ngadi-ngadi. Kalian harus tanggung jawab dengan apa yang kalian lakukan," sewot Devanya.
"Kakak, besok kita ada ujian, jadi harus berangkat sekarang agar tidak telat," kilah Devan.
"Cepat ikut Kakak! Kalau tidak mau dapat bogem mentah," seru Devanya.
Devanya mendadak menjadi seperti ibu tiri pada kedua adiknya. Sementara Keano hanya tersenyum tipis melihat sandiwara kakak beradik itu, sedangkan Diandra berjalan seraya menunduk melewati mereka.
"Dian, nanti dulu. Kamu mau ke mana?" tanya Devanya.
"Ketemu Mama," jawab Diandra pelan.
"Kalian temui papa kalian dulu. Kalau ada apa-apa, boleh minta tolong Abang." Keano pun langsung menengahi.
"Iya, boleh Abang duduk di ruang tamu?"
"Boleh, Bang. Boleh Banget. Nanti aku suruh bibi untuk siapkan minuman dan cemilan buat Abang. Tapi Abang gak boleh pergi sebelum kami keluar dari ruang kerja papa," pinta Devan.
"Iya," jawab Keano singkat dengan tersenyum tipis.
Devanya langsung menggandeng tangan kedua adiknya dengan posisi dia berada di tengah. Meskipun Davin Devan memang lebih muda darinya, tetapi tinggi badannya melebihi Devanya bahkan papanya sendiri.
Setelah mengetuk pintu dan disuruh masuk oleh Dave. Ketiga kakak beradik itu membuka pintu ruang kerja Dave dengan perlahan. Mereka sudah ketar ketir saat melihat wajah papanya yang terlihat tegang. Devanya yang tidak pernah dimarahi oleh Dave, dia mencoba tersenyum manis pada papanya.
"Papa, Deva udah bawa Davin Devan ke sini. Apa Deva boleh beristirahat?" tanya Devanya.
"Tidak!" tegas Dave.
Devanya langsung menciut saat melihat raut yang tidak bersahabat dari Dave. Dia pun memilih diam tidak ingin memancing kemarahan papanya. Sementara Davin dan Devan tertunduk khusyuk, seakan-akan begitu banyak uang di bawah sana.
"Jelaskan pada Papa! Apa yang kalian lakukan tadi malam di luar?" tanya Dave dengan tatapan yang mengintimidasi.
__ADS_1
"Itu-itu-itu kita habis menghadiri acara anniversary perusahaan Ion, Pah." Devan memberanikan diri untuk membuka suaranya.
"Lalu, setelah itu?" tanya Dave lagi.
Tidak ada yang berani menjawab. Ketiganya diam membisu karena bingung harus bicara apa. Ingin jujur tapi takut. Tidak jujur pun pasti ketahuan kebohongannya.
"Jawab! Jangan diam saja! Deva jawab!" sentak Dave.
"A--a-anu Pah, Deva kena rajia." gagap Devanya.
"Serius? Kamu atau Davin?"
"Aku Pah," jawab Davin pelan.
"Jelaskan!" suruh Dave dengan menatap tajam Davin.
"Aku terkena rajia saat sedang berada di kamar hotel bersama dengan Diandra," jawab Davin.
Plak plak
Tanpa bicara lagi, Dave langsung menampar kedua putranya. Devanya langsung syok melihat apa yang dilakukan papanya. Karena tidak biasanya papanya bersikap kasar pada anak-anaknya.
"Papa!!!" pekik Devanya.
"Deva, kamu sebagai Kakak mau-maunya dibohongi oleh kedua adikmu itu. Apa kamu tahu, kalau dia dan dia sudah mempermainkan kehidupan seorang gadis," tunjuk Dave.
"Maksud Papa??!!" Devanya semakin tidak mengerti arah pembicaraan papanya.
"Rajia itu hanya rekayasa. Bukankah begitu Davin, Devan?"
Mendengar apa yang dikatakan oleh papanya, Devan langsung melihat ke arah Dave dengan tangan yang masih memegang pipinya yang memerah. Dia kaget Dave bisa mengetahuinya.
"Papa tahu dari mana? Bukankah Papa sedang liburan dengan mama? Apa polisi itu yang membocorkan rahasia? Padahal aku sudah membayar mahal untuk menyewa seluruh kantor polisi. Bahkan mereka ingin bonus voucher belanja," cerocos Devan.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1