Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 89 Flashback


__ADS_3

Flashback on


Seminggu sebelum acara lamaran sekaligus pernikahan ulang Davin dengan Diandra. Sevia dan Rani mengikuti kajian yang mulai rutin mereka ikuti. Saat Sevia mendengarkan apa yang disampaikan oleh seorang ustadz sepuh tentang pernikahan, hatinya merasa terkoyak. Dia teringat dengan Davin dan pernikahan diam-diamnya.


Sebagai seorang ibu, tentu dia tidak ingin putranya jatuh dalam lumpur dosa terus menerus. Sehingga, dengan menguatkan hati, Sevia berbicara pada Rani tentang anak-anak mereka.


"Rani, ada hal yang ingin aku bicarakan." Dengan perasaan yang dag dig dug, Sevia mengajak Rani untuk duduk di bangku taman. Dia sengaja tidak langsung pulang ke rumahnya. Khawatir para pekerja di rumah dia malah bergosip tentang anak dan menantunya.


"Ada apa, Via? Sepertinya kamu serius sekali," tanya Rani.


"Rani, sebelumnya aku minta maaf karena tidak bisa mendidik anak-anak aku dengan baik." Sevia menghela napas dalam lalu menghembuskan-nya perlahan.


"Sebenarnya, Davin dan Diandra sudah menikah diam-diam di belakang kita. Aku baru tahu saat Ijah mengadu tentang kedekatan mereka yang melebihi hubungan sebagai seorang pacar. Ternyata Dave dan anak-anak aku yang lain pun sudah tahu, tapi mereka bungkam semua."


Rani hanya diam mendengar apa yang Sevia katakan. Dia merasa syok sehingga tidak mampu untuk berkata-kata. Setelah dia menguasai dirinya, barulah dia mengeluarkan suaranya.


"Via, sebenarnya aku ingin marah pada putramu. Aku merasa telah dirampok oleh putramu. Kenapa Davin ataupun Diandra tidak ada yang mau jujur sama aku? Bahkan semua orang bungkam menutupi pernikahan mereka. Kamu tahu,Via, hatiku sakit sekali."


Mendengar penuturan sahabatnya, Sevia langsung bersimpuh dipangkuan Rani. Dia merasa sangat bersalah karena sampai kecolongan oleh putranya.


"Rani, kumohon maafkan Davin! Dia terlalu mencintai Dian sehingga melakukan hal bodoh itu. Tapi percayalah, cinta Davin pada Dian bukan main-main ataupun cinta monyet yang mudah dilupakan."


"Via, meskipun sekarang mereka sudah menikah tapi pernikahannya belum sah karena wali nasabnya Dian masih hidup. Kalau kamu memang ingin kita berbesanan, kita temui kakeknya Dian. Yang aku dengar, mereka tinggal di rumahku yang dulu bersama dengan Mas Diwan."


"Ayo kita ke sana sekarang! Lebih cepat lebih baik meresmikan pernikahan mereka." Sevia langsung bersemangat saat mendapat angin segar di Rani. Dia merasa bahagia karena Rani bisa menerima pernikahan Davin dan Diandra.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua puluh menit, akhirnya kedua sahabat itu tiba di rumah Rani yang dulu dia tempati bersama dengan almarhum suami pertamanya. Ada sesak di hati Rani saat mengenang kebahagiannya bersama dengan ayahnya Dian di rumah itu. Namun, semua itu hanya menjadi kenangan terindah dalam hidupnya.


"Assalamu'alaikum," ucap Sevia dan Rani kompak.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam," jawab suara pria tua di dalam rumah.


Nampak mantan ayah mertua Rani yang kini sudah berumur lebih dari enam puluh tahun. Terlihat mata laki-laki tua itu yang berkaca-kaca saat melihat Rani berdiri di depannya. Ada rasa sesal dihatinya karena dulu membiarkan Rani pergi dari rumahnya sendiri.


"Rani, apa kabar Nduk?" tanya Husen, ayahnya Diwan.


"Alhamdulillah baik, Pak. Apa aku boleh masuk?"


"Masuklah! Ibu masih di pasar, mungkin sebentar lagi pulang."


Kedua sahabat itu masuk ke dalam rumah yang penuh kenangan itu. Sevia berkali-kali mengelus punggung sahabatnya. Dia yakin, hati Rani pasti sedih saat mengenang almarhum suaminya.


"Maaf Pak, saya menyela. Sebenarnya kedatangan kami ke sini untuk meminta Bapak agar menjadi wali putrinya Rani dan Diwan. Karena kebetulan, cucu Bapak berjodoh dengan putra saya," tutur Sevia.


"Bukankah kamu sahabatnya Rani itu. Bapak pernah mendengar cerita tentang persahabatan kalian dari Diwan. Ternyata benar, kalian selalu kompak dan saling mendukung satu sama lain." Bukannya menanggapi maksud dan tujuan Sevia datang ke sana. Pak Husen justru menelisik penampilan Sevia yang menurutnya sangat jauh berbeda dengan dulu.


"Bapak benar, saya Sevia. Pernah beberapa kali kita bertemu saat Diwan masih hidup."


"Begini Pak, aku dan Mas Diwan memliki seorang putri yang aku beri nama Diandra. Dia sudah bertemu dengan jodohnya yaitu putranya Sevia. Aku ke sini untuk meminta restu dan meminta Bapak untuk menjadi wali nikahnya. Kalau Bapak bersedia, nanti semua biaya akomodasi biar aku yang tanggung," jelas Rani.


"A-apa? Cucu dari Diwan?"


"Iya, Pak! Saat mas Diwan meninggal, sebenarnya aku sedang hamil tiga bulan. Tapi karena waktu itu ibu langsung mengusirku, aku tidak berani untuk mengatakan tentang kehamilanku." Rani menundukkan kepalanya, dia kembali teringat saat-saat setelah kematian Diwan.


"Maafkan, Bapak. Bapak tidak bisa mendidik istri Bapak sehingga dia selalu bersikap sesuka hatinya. Bapak pasti datang menjadi wali putrimu. Apa Bapak boleh melihatnya?"


Rani langsung mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan wajah cantik Diandra yang memiliki raut wajah mirip dengan Diwan. Setetes air mata tanpa terasa keluar dari pelupuk mata Husen. Dia tidak pernah menyangka kalau almarhum putranya meninggalkan seorang putri yang sangat cantik.


"Bapak seperti melihat Diwan dalam sosok perempuan," lirih Husen.

__ADS_1


Saat rumah itu dipenuhi dengan keharuan, tiba-tiba seorang ibu-ibu yang sudah tidak muda lagi datang menerobos masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam sedikit pun. Mantan ibu mertua Rani menelisik siapa orang yang telah bertamu ke rumahnya. Karena tadi tetangganya memberitahu dia kalau pemilik mobil mewah yang ada di depan sedang bertamu ke rumahnya.


"Oh, jadi kamu yang datang ke rumahku. Untuk apalagi kamu datang ke sini perempuan pembawa sial. Tidak cukup kamu membuat aku kehilangan anakku," sentak Encas, ibunya Diwan.


"Ibu sudah, mereka hanya bersilaturahmi. Kamu tahu, ternyata Diwan memiliki seorang putri yang cantik. Dia akan menikah makanya meminta Bapak untuk jadi walinya," ucap Pak Husen mencoba menenangkan istrinya.


"Jangan mau, Pak! Kalau tidak ada uang walinya. Lagipula, belum tentu itu anak putra kita. Bukankah dia perempuan mandul," hina encas.


"Ibu jangan khawatir, pasti ada uang wali untuk Bapak. Bapak tinggal bilang saja ingin berapa, in-sya Allah saya bisa menyanggupinya." Sevia langsung buka suara mendengar Encas berbicara seperti itu.


"Bagus,kamu pasti bisa menyanggupi jika aku minta seratus juta." Dengan tidak tahu malunya Encas meminta uang yang lumayan banyak.


"Bu, jangan begitu! Bagaimana pun Dian cucu kita, wajahnya saja sangat mirip dengan Diwan. Sudah pasti kalau dia cucu kita," protes Husen.


"Aku tidak percaya sebelum melihatnya langsung. Meskipun Dian cucu kita, tapi tetap saja aku minta uang wali seratus juta. Lagipula mereka sudah kaya raya. Lihat saja mobil yang dibawanya, bukan mobil seharga seratus dua ratus juta tapi lebih dari itu."


"Ibu jangan khawatir, asalkan Ibu dan Bapak datang di waktu dan tempat yang kami tentukan untuk acara akad nikahnya, aku pasti akan memberikan uang seperti yang Ibu minta."


"Baiklah, kami pasti datang. Tapi aku minta DP untuk ongkosnya."


Flashback off


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....


Sambil nunggu Brondong Tajir update, yuk mampir juga ke karya othor keren yang satu ini!

__ADS_1



__ADS_2