Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 62 Apa sedang bermimpi?


__ADS_3

Pesta pertunangan telah usai, Sevia menginap di kamar yang sudah dibooking oleh Keluarga Putra bersama dengan Dave. Begitupun dengan anggota keluarga yang lain, karena memang sudah direncanakan sebelumnya setelah acara pesta, mereka akan menginap di sana. Dave perlahan mendekat ke arah Sevia yang sudah tertidur bersama dengan putrinya. Hatinya menghangat melihat ibu dan anak itu tertidur pulas. Dia merasa sangat bahagia karena akhirnya tidak perlu lagi menyembunyikan pernikahannya di depan publik. Meskipun sekarang orang-orang mengira mereka hanya bertunangan, setidaknya dia akan terus bersama dengan Sevia dan putrinya.


Merasa ada yang mengganggu tidurnya, Sevia pun terbangun dan mendapati Dave yang sedang mengeratkan pelukannya. Papa muda itu sengaja memilih tidur di samping istrinya ketimbang di samping putri kecilnya yang menggemaskan. Dave sangat merindukan kebersamaannya bersama Sevia. Apalagi selama setahun ini, dia harus berpuasa.


"Dave," lirih Sevia.


"Aku ganggu ya?" tanya Dave yang tangan nakalnya sedang memegang apel Fuji kesayangannya.


"Pestanya sudah selesai?" tanya Sevia dengan mengucek matanya kemudian dia bangun dari tidurnya.


"Sudah," jawab Dave.


"Dave, aku lapar sekali! Dari tadi siang sepertinya belum makan," keluh Sevia.


"Ya Ampun! Zee tidak memberi kamu makan?" tanya Dave.


"Aku tidak tahu, yang aku tahu tadi siang ada tamu ke rumah saat aku akan menidurkan Deva. Lalu tahu-tahu sudah ada di pesta. Apa aku sedang bermimpi, Dave?" tanya Sevia.


"Tidak sayang, coba lihat jari manis kamu! Itu akan selalu ada di jarimu. Aku tidak tahu Zee dapat cincin ini dari mana, karena sebenarnya cincin pertunangan aku dengan Zee bukan yang ini," jelas Dave.


"Apa sebelumnya kamu tahu rencana Zee? Lalu bagaimana dengan anak yang dikandung Zee? Bukankah dia menginginkan status," tanya Sevia heran.


"Sayang, Zee pasti sudah memikirkannya dengan matang. Meski dia kelihatannya suka semaunya, tapi dia itu selalu peduli pada orang lain. Bahkan saat kami masih SMA, dia menjadi seorang makelar cinta, tanpa dibayar sekali pun. Namun profesinya berakhir saat dia jatuh cinta pada Malvin yang seharusnya menjadi targetnya atas permintaan Mona," jelas Dave.


"Zee kayak mak comblang dong!" tebak Sevia.


"Bentar Via, aku jadi teringat sesuatu. Bukankah keluarga Mona memiliki pulau pribadi di kawasan itu? Apa mungkin, Malvin bersama Mona di sana? Seingat aku Mona sangat terobsesi dengan Malvin sampai Zee bertengkar dengannya karena Malvin tidak mau menjadi pacar Mona." Dave terus mengingat tentang hubungan segitiga antara Zee, Malvin dan Mona hingga akhirnya dia mempunyai kecurigaan pada teman sekolahnya itu

__ADS_1


"Dave, mau ke mana?" tanya Sevia saat melihat suaminya segera bergegas pergi.


"Via, aku pulang dulu. Ada yang harus aku cek di kamarku. Apa kamu mau ikut ke apartemen?" tawar Dave.


"Aku ikut Dave, aku masih canggung berada di tengah-tengah keluargamu tanpa ada kamu," jawab Sevia.


"Ya sudah ayo! Kamu gendong Deva, biar kau yang bawa barang-barang kalian." Dave langsung membereskan barang-barang istrinya, lalu pergi menuju ke apartemennya yang tidak begitu jauh dari hotel.


Jalanan yang lengang karena sudah lewat tengah malam membuat Dave tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di apartemennya. Beruntung bayi kecilnya tidak terganggu meski mereka harus berpindah kamar. Hingga sampai di kamar apartemen, Devanya masih tertidur pulas.


Setelah menidurkan putrinya, Sevia langsung menuju ke dapur. Perutnya sedari tadi terus keroncongan. Apalagi dia harus memberikan ASI pada putrinya membuat Sevia cepat lapar. Untung saja tadi Dave sengaja mampir ke minimarket yang buka selama 24 jam sehingga ada makanan yang bisa dia makan.


"Lebih baik aku masak mie instan, makan roti dan cemilan tidak membuat perut aku kenyang," gumam Sevia.


Wangi mie instan menyeruak masuk ke dalam sebuah kamar yang di dalamnya berjejer beberapa monitor, CPU dan alat canggih lainnya. Dave memang biasa menggunakan kamar itu saat dia bekerja membuat sebuah game online ataupun meretas situs dan membuat virus. Namun, hanya beberapa orang saja yang mengetahuinya dan salah satunya Andrea yang menyadari kemampuan putra angkat besannya itu saat Dave masih duduk di bangku SMP.


Sevia yang sudah selesai membuat satu mangkuk mie akhirnya dia memasak lagi untuk suaminya. Kini keduanya sudah sama-sama duduk di meja makan dengan semangkuk mie instan di depannya.


"Via, aku jadi ingat saat dulu kamu masak istimewa untukku," ucap Dave di sela-sela makannya. "Apa sekarang kamu sudah bisa masak makanan yang enak?" lanjutnya.


"Aku udah bisa masak sekarang, kan kemarin belajar sama Rani," jawab Sevia.


"Baguslah! Oh, iya Via. Boleh aku tahu, kenapa ponselmu ada di dalam danau? Apa kamu membuangnya?" tanya Dave.


"Aku kehilangan ponselku saat aku pingsan di taman itu," ucap Sevia.


"Aneh! Kenapa saat aku lacak ada di tengah-tengah danau, seperti ada yang membuangnya ke sana." Dave mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, yang jelas aku tidak membuangnya. Sayang banget ponsel mahal kalau harus aku buang," gerutu Sevia.


"Lalu kalung yang pernah aku berikan padamu, apa hilang juga?" tanya Dave lagi.


"Ada kho, aku masih memakainya." Sevia memperlihatkan kalung yang pernah Dave berikan padanya.


"Boleh aku lihat?" tanya Dave


Sevia langsung memberikan kalungnya pada Dave. Namun, dahi Dave langsung berkerut saat menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada kalung yang dia berikan pada Sevia.


"Via, apa kamu tahu kalau dalam kalung itu ada chip pelacak?" tanya Dave.


"Aku tidak tahu menahu tentang chip. Memang kamu memasangnya?" tanya Sevia bingung dengan arah pembicaraan suaminya.


"Aku memasang alat pelacak di kalung dan ponsel kamu, agar bisa dengan mudah menemukan kamu. Tapi ternyata, yang aku pasang di kalung malah sudah hilang seperti ada yang mengambilnya. Sementara ponsel kamu juga ada di dalam danau," jelas Dave.


"Sudahlah Dave! Yang penting sekarang kita sudah bersama lagi," sahut Sevia.


Apa Adam yang melakukannya? Tapi kenapa dia malah membuang ponselku? Rasanya tidak mungkin Adam menyentuh kalungku yang selalu tersembunyi di balik baju, batin Sevia.


Seperti ada yang menginginkan aku dan Sevia berpisah, tapi siapa ya? Sudahlah, yang penting aku bisa bersama lagi, batin Dave.


Setelah keduanya menghabiskan semangkuk mie instan, Sevia kembali tertidur. Sementara Dave memantau penyergapan Barra dan anak buahnya ke pulau pribadi milik Keluarga Winata. Salah satu petinggi di negeri ini. Entah kenapa Dave merasa curiga pada teman sekolahnya itu sehingga dia langsung meretas CCTV yang ada di rumah keluarga Winata. Dia mendapati Mona mengendarai mobil yang sama dengan mobil yang menculik Malvin. Sehingga Dave terus mengikuti ke mana arah mobil itu pergi, yang ternyata menuju ke sebuah dermaga.


"Semoga benar dugaan aku, Malvin memang dikurung oleh Mona," gumam Dave.


...~Bersambung~...

__ADS_1


Jangan bosan dukung Author ya kawan! Biar tetap semangat update.


__ADS_2