
Melihat Sevia yang terus memegang perutnya, Dave pun langsung mengajak istrinya untuk pergi ke restoran bersama dengan Harry. Perut yang lapar, membuatnya tidak bisa berpikir sehingga dia pasrah saja dengan apa yang akan terjadi.
Biarlah, jika memang aku harus jujur pada om dan tante. Lagipula, aku tidak mungkin selamanya menyembunyikan Sevia dari mereka. Semoga saja om dan tante tidak kecewa dengan pilihanku.
Seraya berjalan, Dave terus bergelut dengan pikirannya. Ada kekhawatiran di hatinya, dia takut kalau nanti om dan tantenya menyuruh dia untuk meninggalkan Sevia. Meski dia belum bisa menyimpulkan tentang perasaannya, tetapi Dave merasa berat jika dia harus meninggalkan istrinya.
Berbeda dengan Sevia yang tidak tahu menahu dengan apa yang terjadi. Dia justru berpikir, mungkin Dave kehabisan uang karena membawanya jauh dari kota industri tempatnya mengais rejeki. Dengan sedikit berbisik, dia pun bicara pada suaminya.
"Dave, pilih makanannya jangan yang mahal-mahal kalau uangmu sedikit lagi. Aku gak papa hanya makan dengan tahu tempe juga," bisik Sevia.
Pletak!
Dave langsung menyentil dahi Sevia karena merasa dia sudah mengganggu konsentrasi untuk mencari alasan pada keluarganya. "Uang gak akan habis kalau hanya membawamu ke sini," ketus Dave
"Kamu KDRT Dave, awas aku laporin sama Kak Seto!" ancam Sevia dengan mata yang sedikit melotot pada suaminya.
Bukannya takut, Dave malah tertawa kecil mendengar ancaman Sevia. Apalagi melihat ekspresi istrinya yang menurut dia sangat menggemaskan. 'Umur saja lebih tua dari aku, tapi terkadang kelakuan kayak anak kecil,' pikir Dave.
"Gak sekalian laporin aku ke UNESCO?" tanya Dave meledek Sevia.
"Kamu pikir aku anak kecil ngadu ke UNESCO?" Sewot Sevia.
"Lah tadi katanya mau ngadu ke Kak Seto. Keduanya kan untuk melindungi anak-anak dari kekerasan bukan untuk melindungi Istri yang sedang ngawur," sanggah Dave.
"Emang iya, Dave?" Terlihat Sevia seperti sedang berpikir dengan apa yang suaminya katakan hingga akhirnya mereka sampai di restoran yang di tuju.
Harry hanya tersenyum tipis melihat perdebatan Dave dan Sevia. Biasanya dia hanya melihat Dave yang selalu mengalah pada perempuan. Apalagi pada gadis yang disukainya, Dave pasti menuruti apapun yang diinginkan oleh gadis itu.
Apa seperti ini kamu yang sebenarnya, Dave? Terlihat bebas seperti tanpa memikul beban, batin Harry.
__ADS_1
Setelah mendapatkan kursi yang kosong dan tempat yang nyaman, ketiga anak muda itu langsung memesan makanan sesuai keinginannya. Seraya menunggu pesanan makanan datang, pria bermata biru itu membuka ponselnya yang dari apartemen sudah dia silent. Begitu banyak pesan dan panggilan yang masuk ke ponselnya, termasuk salah satunya dari Aldrich omnya dan juga tantenya. Mereka berdua memberitahukan tentang acara liburan ke pulau Cinta dan menyuruh Dave untuk menyusulnya.
Dave memasukkan kembali ponselnya saat pesanan makanannya sudah datang. Tanpa menunggu lama, Sevia langsung melahap habis makanan yang ada di depannya. Dave dan Harry hanya melongo melihat cara Sevia makan yang seperti orang tidak menemukan makanan selama satu minggu.
"Via, makannya pelan-pelan!" ucap Dave.
"Dave, sudah berapa hari kamu tidak memberinya makan?" tanya Harry dengan mata yang tidak lepas dari Sevia.
Dave langsung menutup mata Harry yang sedari tadi terus melihat ke arah istrinya. "Makan saja! Gak usah melihatnya seperti itu!"
"Sorry, Dave!" ucap Harry.
Saat ketiganya sudah selesai makan, tiba-tiba datang Zee dari arah pintu masuk bersama dengan Barra dan Kejora, disusul oleh Edelweiss dan Arfaaz di belakangnya. Melihat Dave dan Harry yang sedang makan bersama dengan seorang gadis, Zee pun langsung menghampiri saudara angkatnya.
"Aku telponin gak diangkat, aku kirim pesan gak dibalas, tahunya sudah ada di sini." Zee melipat tangan di dadanya. Dia merasa kesal karena Dave tidak menghiraukan panggilan teleponnya.
"Eh Zee, kapan datang?" tanya Dave kikuk, sudah seperti suami yang tertangkap basah sedang selingkuh.
"Betul tuh, Dave!" sahut teman-temannya
Dave berdiri dan langsung merangkul Zee untuk ikut duduk di kursi yang kosong. Lalu dia pun menggenggam tangan Zee dan menatap gadis yang sedang marah itu dengan lekat.
"Maaf, Zee! Ponselku aku silent, jadi aku gak tahu kalau kalian datang ke sini. Rencananya aku mau menemui kalian setelah makan. Eh, malah ketemu di sini," ucap Dave dengan lembut.
"Beneran?" tanya Zee menyelidik Dave.
"Iya, Baby!" jawab Dave dengan lembut.
Degh!
__ADS_1
Jantung Sevia terasa berhenti berdetak saat mendengar Dave memanggil gadis yang dia temui di bioskop waktu itu dengan panggilan baby. Dia langsung teringat dengan ucapan Dave yang tidak boleh berharap banyak padanya karena dia sudah mencintai gadis lain. Tidak ingin melihat lagi kemesraan Dave dengan gadis itu, Sevia pun memutuskan untuk segera pergi.
"Terima kasih, Tuan! Atas tumpangan mejanya, saya jadi tidak makan sendiri. Permisi, saya duluan kembali ke kamar karena sudah selesai makan!" Sevia langsung pergi setelah berpamitan.
Dave hanya melihat punggung Sevia yang semakin menjauh tanpa berniat untuk mengejarnya. Begitu pula dengan Harry yang masih ada di tempatnya. Dia bingung harus berbuat apa karena Dave tidak menyuruhnya untuk mengejar Sevia.
Sementara Sevia, setelah dia keluar dari restoran, gadis itu memutuskan untuk jalan-jalan sendiri menyusuri pantai. Langkah kecilnya membawa dia pada mess karyawan resort yang tidak jauh dari restoran tempatnya tadi makan. Sevia terus saja melangkahkan kakinya menyusuri pantai, melewati mess karyawan resort. Sampai ada suara berat yang menahannya untuk terus melangkah.
"Kamu mau ke mana? Kalau kamu terus melangkah ke arah sana, kamu hanya akan melihat hutan dengan binatang buas di dalamnya," ucap seorang pemuda yang sedang duduk di bawah pohon kelapa seraya melihat jauh ke lautan lepas.
"Kamu jangan berbohong!" tuduh Sevia.
"Untuk apa aku berbohong, aku sudah lama bekerja di sini. Jadi aku sudah hapal betul dengan daerah ini," sanggah pemuda itu.
"Aku ingin pulang, apa kamu tahu arah jalan pulang?"
Bukannya menjawab, pemuda itu malah tertawa kecil dengan apa yang Sevia katakan. "Kalau mau pulang ke dermaga bukan menyusuri pantai. Ayo kemari! Kamu seperti orang linglung yang berjalan sendirian."
Meskipun ragu, tak urung Sevia pun menghampiri pemuda itu, yang dia lihat seperti orang baik. Sevia langsung mendudukkan bokongnya di atas pasir, bersisian dengan pemuda yang tidak dikenalnya.
"Kalau kamu bekerja di sini, kenapa kamu malah ada di sini bukannya kerja?"
"Jam kerjaku baru selesai, jadi aku punya waktu untuk menikmati sunset. Siapa namamu? Aku Adam." Adam melirik ke arah Sevia yang sedang membuat gambar abstrak di atas pasir.
"Aku Sevia."
"Kenapa aku jadi teringat dengan lagu jadul yang judulnya Sephia. Apa kamu juga kekasih gelap?"
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...