
Sore ini, langit senja nampak begitu indah. Semilir angin menerpa kulit dengan lembutnya. Sevia dan Dave yang sekarang sedang menikmati indahnya langit senja, nampak begitu bahagia duduk di sebuah bangku taman tempat pertama kali mereka bertemu. Dave sengaja mengajak Sevia untuk jalan berdua sepulang dari rumah sakit. Ingin menikmati masa-masa pacaran sebelum mereka disibukkan dengan bayi kembar yang ada di rahim Sevia.
Ya memang, tadi saat mereka memeriksakan kandungan Sevia, dokter mengatakan kalau ada dua kantung janin di dalam rahim Sevia. Meskipun, awalnya Sevia suka mual saat mencium aroma badan suaminya, tetapi setelah memakai masker dia pun tidak merasakan mual lagi.
"Via, aku tidak mengerti kenapa anakku yang sekarang tidak ingin dekat denganku," keluh Dave dengan raut wajah yang sedih
Mendengar pertanyaan suaminya, Sevia pun langsung menggenggam tangan suami brondongnya. Dia berusaha meyakinkan, kalau semua itu hanya sementara saja.
"Dave, sabar ya! Nanti kalau mereka sudah lahir,mungkin mereka yang akan menemani kamu membuat game online, atau mereka yang akan meneruskan apa yang kamu kerjakan sekarang," Hibur Sevia.
"Benarkah, Via? Aku tidak ingin dibenci oleh anak-anak aku. Pasti rasanya sangat menyakitkan, jika dibenci oleh orang yang kita sayangi." Dave mengelus pelan perut Sevia yang masih rata. Dia bertekad untuk bisa lebih dekat dengan anak-anaknya.
"Tidak sayang, selama kita sebagai orang tua bisa berbuat adil pada anak-anak kita, mereka pasti menyayangi kita."
"Via, kamu tahu, kenapa aku bisa sampai ada di sini saat kamu sedang menangis?" tanya Dave mengalihkan pembicaraan.
"Mungkin kamu punya janji dengan cewek," tebak Sevia.
"Tidak! Sebenarnya, aku ingin meminta ganti rugi sama kamu, karena sudah menjatuhkan motorku. Apa kamu lupa, kalau kamu sudah menyenggol motor yang sedang terparkir sampai motor itu jatuh saling bertubrukan dengan motor yang lainnya? Kamu menyenggol motor yang ada disebelah motorku, sehingga motor itu menimpa motorku."
Dave menerawang jauh, mengingat ke masa-masa saat awal dia bertemu dengan Sevia. Tetapi Sevia justru tidak mengingat kejadian itu karena saat itu, fokus dia hanya pada Andika.
__ADS_1
"Maaf, Dave! Aku tidak ingat sudah menjatuhkan motor kamu." Sevia cengengesan dengan apa yang dia katakan.
"Sudah aku duga, pasti kamu akan memungkirinya," tuduh Dave.
"Bukan begitu, Dave! Aku memang tidak ingat, karena mungkin aku tidak sengaja melakukannya," kilah Sevia.
"Waktu itu, aku mengingat nomor motor kamu saat aku tahu kalau motor aku jatuh olehmu. Akhirnya aku pun mengikuti kamu sampai di sini. Tapi saat aku akan menghampiri kamu, aku melihat kamu bersama dengan dia dan aku pun mendengar apa yang kalian bicarakan."
"Berarti kamu menguping aku, Dave."
"Aku tidak menguping, aku hanya mendengarkan pembicaraan kalian. Salah kamu sendiri, bicaranya terlalu kencang."
Punya suami pinter banget bikin alasan. Sudah jelas-jelas dia nguping masih saja ngeles, batin Sevia.
"Itu karena kamu jorok! Masa bekas ingus kamu kasih ke aku."
Saat Sevia akan bicara, tiba-tiba ada orang yang memotong ucapannya sehingga Sevia pun mengurungkan niatnya untuk bicara. Dia pun menoleh ke arah asal suara dan memastikan siapa pemilik suara yang rasanya sudah tidak asing di telinganya.
"Sevia, kamu Sevia kan? Apa kabar? Kemana saja, Via?" Nampak mata Andika berbinar saat melihat wanita yang dia rindukan.
"Aku, aku ikut suamiku." Sevia masih saja dengan wajah kagetnya. "Kamu ke sini dengan siapa? Apa dia putrimu?" tanya Sevia kemudian.
__ADS_1
"Iya Via, ini anaknya Ines. Anne ayo Salim dengan Tante Sevia," suruh Andika pada putrinya yang sudah berusia tiga tahun lebih. Anak kecil itu pun langsung mengikuti apa yang ayahnya suruh.
"Hallo Anne, apa kabar?" tanya Sevia saat bocah kecil itu mengulurkan tangannya mengajak Sevia bersalaman.
"Baik, Tante!" jawab Anne.
"Apa kamu hanya berdua, Ines gak ikut?" tanya Sevia.
"Ines sudah meninggal, dia terkena kanker serviks. Ines meminta aku untuk merawat putrinya," jelas Andika.
"Aku turut belasungkawa, Di." Sevia menundukkan kepalanya sendu. Meskipun Ines jahat padanya, tetapi dia pernah menjadi sahabatnya.
Tak berapa lama kemudian, datang seorang wanita dengan perut yang sudah membuncit. Dia segera menghampiri Andika dan merangkul tangannnya. Seorang wanita cantik dengan salah satu matanya juling yang takut kehilangan suami itu pun akhirnya berbicara.
"Ayah, kenapa Ayah di sini. Katanya mau menunggu di sana," tanya wanita itu pada Andika.
"Ayah bertemu teman lama, apa sudah dapat es krimnya?" tanya Andika pada istrinya.
"Sudah ayah, ayo kita makan!" Istrinya Andika langsung menarik tangan suaminya agar menjauh dari sana.
Ya ampun! Posesif sekali wanita itu. Dia sampai menarik tangan Andika agar menjauh dari aku.
__ADS_1
...~Bersambung~<...