Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 54 Kejujuran Devanya


__ADS_3

Suasana pesta begitu meriah. Tamu-tamu penting terus berdatangan. Devanya memilih bersama dengan nenek dan kakeknya. Sementara Diandra bersama si kembar.


Terlihat Orion dan Luna naik ke atas panggung kecil untuk memberikan kata sambutan dan ucapan terima kasih pada semua pihak yang ikut membantu dalam kesuksesan perusahaannya. Sampai akhirnya, Tuan Zidan ikut serta naik ke atas panggung untuk memberikan kata sambutannya.


"Terima kasih Tuan dan Nyonya yang sudah berkenan hadir dalam anniversary perusahaan cucu saya Orion. Hari ini juga, saya dan Tuan Narendra akan memperberat hubungan persahabatan kami yang sudah berjalan puluhan tahun lamanya dengan menyatukan kedua cucu kami Orion dan Luna dalam hubungan yang lebih serius. Ayo Ion pasangkan cincin pada jari Luna!"


Nampak Orion membuka sebuah kotak kecil yang indah dengan dua cincin pasangan di dalamnya. Orion menghela napas pelan sebelum dia memasangkan cincin di jari manis Luna. Meskipun rasanya enggan tapi Orion tidak punya pilihan selain menuruti keinginan opa-nya.


Sementara Devanya hanya menunduk untuk menyembunyikan kesedihannya. Meskipun hatinya sudah memilih untuk melepaskan Orion, tetap saja dia merasakan sesak di dada.


"Apa kamu sedih?" tanya seseorang yang baru datang menghampiri Devanya.


Devanya mengangkat kepalanya saat melihat Keano sudah duduk di sampingnya. Dia langsung menghapus dengan kasar air mata yang memaksa keluar tanpa permisi. Namun, dengan cepat Keano memegang tangan Devanya. Perlahan dia menghapus air mata Devanya dengan ibu jarinya.


"Bang Ano ...," lirih Devanya.


"Maaf Abang terlambat! Penerbangan dari Shanghai delay satu jam karena cuaca buruk," jelas Keano. "Mau ikut dengan Abang?"


Devanya hanya menganggukkan kepalanya. Setelah Keano menyapa nenek dan kakeknya, dia pun langsung membawa Devanya keluar dari pesta. Dia melajukan mobilnya menuju sebuah tebing yang kini sudah disulap menjadi bungalow yang indah.


Saat tiba sana, Devanya begitu terpukau dengan pemandangan di tepi laut. Dia pun hanya mengikuti Keano yang membawanya menuju bungalow dan duduk di teras yang luas menghadap ke laut lepas.


"Abang, ini rumah siapa?" tanya Devanya dengan mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling bungalow.


"Papi, ini tempat yang berkesan untuk mommy dan papi," jelas Keano.


Tumben Bang Ano mau cerita, batin Devanya.


"Kenapa bengong?" tanya Keano. "Apa masih sedih?" tanyanya lagi.


"Sedikit. Maaf Bang, kalau sikapku menyinggung Abang," ucap Devanya sendu.


"Tidak. Abang bisa mengerti perasaan kamu. Ayo kita duduk!"


Keduanya kini duduk di kursi santai dengan pandangan jauh ke laut lepas. Mereka saling membisu. Sampai akhirnya Devanya membuka suaranya.


"Bang, ada yang harus aku katakan. Agar Abang tidak merasa menyesal di kemudian hari. Tapi sebelumnya, aku minta maaf jika mengecewakan Abang."


Devanya menundukkan kepalanya. Tangannya saling bertautan. Meskipun rasanya berat dan sudah pasti akan membuatnya malu, tetapi dia tidak ingin membohongi Keano dengan keadaan yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Soal apa?" tanya Keano dengan menatap lekat gadis yang kini duduk di sampingnya.


"Aku ... Aku ... Aku sudah ... Tidak virgin," lirih Devanya.


"Serius?" tanya Keano dengan menahan sesak di dadanya. Dia tidak menyangka, ternyata sudah kecolongan dalam menjaga gadisnya.


Devanya hanya menganggukkan kepalanya. Dia hanya diam karena ucapannya seakan tercekat di tenggorokan. Gadis itu pasrah dengan keadaan jika nanti Keano membatalkan pertunangannya, sedangkan Orion sudah bertunangan dengan gadis lain.


"Apa Ion yang melakukannya?" tanya Keano.


Lagi-lagi Devanya hanya menganggukkan kepala. Dengan mata yang terus melihat ke bawah. Seperti seorang murid yang sedang dimarahi oleh gurunya.


"Deva, lihat Abang!" suruh Keano.


Perlahan Devanya pun melihat mata Keano yang terlihat teduh saat menatapnya. Seperti sebuah hipnotis, yang tadinya terasa gamang, kini dia mulai merasakan ketenangan.


"Deva, apapun keadaan kamu saat ini. Abang menerimanya dengan lapang dada. Semua orang pasti memiliki masa lalu dan Abang tidak berhak untuk menghakimi masa lalu seseorang termasuk kamu. Tapi Abang minta agar kamu bisa lepas dari bayang masa lalu kamu. Apa kamu bisa?"


"Abang tidak jijik sama aku karena aku ...."


"Tidak, Abang yakin dengan hati Abang."


"Boleh Abang peluk?"


Devanya langsung merona dengan permintaan Keano seraya menganggukkan kepala. Tidak menunggu waktu lama, Keano pun langsung memeluk Devanya. Hingga akhirnya Keano mengurai pelukannya saat mendengar suara nyanyian orkestra dari perut Devanya.


"Lapar?" tanya Keano dengan menahan senyum.


"Dikit," jawab Devanya dengan tersipu.


"Ayo masuk! Kita cari makanan di dalam," ajak Keano.


Mereka pun langsung memburu dapur minimalis yang ada di dalam bungalow. Devanya hanya melongo saat melihat Keano begitu mahir dengan peralatan masak. Lagi-lagi dia baru menyadari kalau calon suaminya itu salah satu spesies orang yang serba bisa.


Saat semua makanan yang Keano makan sudah siap dihidangkan, mereka pun kembali ke luar. Keduanya memutuskan akan makan malam seraya melihat lampu mercusuar yang kelap kelip di lautan.


"Abang, sejak kapan bisa masak?" tanya Devanya kemudian menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Lupa sejak kapan Abang bisa masak. Tapi Abang sering menemani Oma saat dia memasak. Jadinya tahu bumbu apa saja yang diperlukan jika ingin memasak sesuatu," jelas Keano.

__ADS_1


"Beruntung sekali yang jadi Istri Abang," puji Devanya tanpa sadar.


"Apa kamu merasa beruntung?" tanya Keano dengan menatap Devanya.


"Hehehe ... Aku suka lupa kalau kita sudah bertunangan. Aku ingatnya, Abang itu orang yang susah didekati."


"Jadi begitu penilaian kamu. Sepertinya Abang harus membuat kamu ingat terus kalau kita sudah bertunangan," ucap Keano.


"Kan ini yang membuat aku ingat kalau sekarang aku sudah memiliki tunangan," tunjuk Devanya pada cincin yang melingkar di jari manisnya.


"Itu tidak cukup untuk kamu ingat sama Abang," ucap Keano.


"Lalu Abang mau bagaimana?"


"Habiskan saja makannya. Nanti Abang kasih tahu."


Keano dan Devanya melanjutkan makannya dalam diam. Sampai semua makanan habis di piring barulah Keano bersuara, "Abang simpan piring dulu ya," pamitnya


Keano langsung beranjak pergi masuk ke dalam bungalow. Yang kemudian diikuti oleh Devanya. Setelah keduanya membersihkan peralatan bekas masak dan makan, mereka kembali ke depan.


Keano langsung memeluk Devanya dari belakang saat gadis itu berada di tepi tebing dengan menumpu pada pagar pembatas. Membuat jantung keduanya berdegup lebih kencang dari biasanya. Entah setan mana yang menempel pada Keano. Pria tampan itu terus saja mengendus tengkuk Devanya seperti seorang vampir yang sedang mencium wangi darah mangsanya.


"Abang ...," lirih Devanya.


"Deva, maafkan Abang jika Abang tidak bisa romantis seperti lelaki lain. Tapi perasaan Abang sama kamu, tulus dari hati Abang yang terdalam. Abang tidak bisa terus menerus membohongi hati Abang. Kalau sebenarnya, Abang mencintai kamu sudah sejak lama."


"Abang, mungkin untuk saat ini hatiku tidak utuh untuk Abang. Aku hanya butuh waktu untuk menjadikan Abang satu-satunya lelaki yang bertahta di hatiku," ucap Devanya dengan membalikkan tubuhnya hingga kini mereka saling berhadapan.


"Terima kasih." Perlahan Keano mendekatkan wajahnya pada wajah Devanya dengan sedikit menundukkan kepala.


Devanya pun langsung memejamkan mata saat bibir Keano menyapu lembut bibirnya. Awalnya mereka saling terdiam dengan bibir yang saling menempel. Sampai akhirnya Keano menjauhkan wajahnya.


"Maaf, Abang tidak tahu kalau berciuman harus bagaimana."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2