
Ruang perawatan Devanya kini dipenuhi oleh keluarga besar Wiratama dan Sky. Mereka berbahagia menyambut anggota keluarga baru yang menggemaskan. Apalagi, Andrea begitu bangga karena akhirnya dia memiliki cicit kembar yang cantik dan tampan.
"Lihat, Dave! Cicit Om gagah sekali, dia pangeran Keluarga Wiratama. Yang cantik ini adalah putrinya. Kamu kalah El, lihat Lana sudah punya cucu, tapi putra kamu masih saja bermain-main dengan para gadis," sindir Andrea.
Dia merasa kesal pada Elgar yang masih suka bermain-main dengan para gadis. Meskipun dia sadar, kalau masa mudanya juga tidak jauh beda. Tetapi kenakalannya tidak berlarut-larut seperti Elgar sekarang.
"Opa, aku bukan bermain-main tapi sedang mencari gadis yang mampu menggetarkan hatiku seperti Devanya dulu," jawab Elgar dengan cueknya.
"ELGAR!!!"
Semua orang terdiam saat mendengar suara Keano penuh penekanan dengan aura dingin yang menyeruak. Devanya yang berada di dekat suaminya, langsung mengelus tangan Keano.
"Jangan marah! Bang Elgar hanya bercanda. Lihat putriku jadi ketakutan!" tunjuk Devanya.
"Sayang, sudah punya nama belum?" tanya Sevia mengalihkan pembicaraan.
"Sudah, Mah! Arasha dan Arshaka."
"Nama yang bagus Princess Arasha Wiratama Putra sama Prince Arshaka Wiratama Putra. Dave, apa namamu ingin dimasukkan juga?" tawar Andrea.
"Tidak usah Om! Kasian kepanjangan. Seperti itu juga sudah bagus," tolak Dave.
"Opa tidak usah pakai prince dan princess. Kita bukan dari keluarga kerajaan," sanggah Keano merasa keberatan.
"Siapa bilang? Kakek Opa masih keturunan bangsawan dari negeri ginseng. Begitupun dengan keluarga Mahardika, tapi memang Opa tidak suka mengakuinya di depan orang-orang." Andrea berbicara seperti tanpa beban.
"Aku tidak ingin mereka membedakan diri karena merasa memiliki latar belakang keluarga yang lebih unggul dari teman-temannya. Biarkan mereka bergaul dengan siapapun dan dari kalangan manapun," ucap Keano.
"Kamu memang selalu jadi kebanggaan Opa. Kalian dengar dengan apa yang dikatakan oleh Ano? Opa sependapat dengan dia," Andrea berkali-kali menepuk pundak cucu kesayangannya.
Mereka pun kembali bercengkerama saling melempar candaan satu sama lain. Hingga terdengar suara orang yang memberi salam di luar ruangan. Aigner, yang sedari tadi diam mendengarkan pembicaraan opany dan yang lain, langsung membukakan pintu. Terlihat Devan dan Tasya datang dengan sekeranjang buah di tangannya.
"Masuk!" suruh Aigner dingin. Dia masih ingat kalau Tasya, gadis yang ditemuinya waktu itu di klub malam.
__ADS_1
"Hai, Bang Iger. Gak kerja?" tanya Devan dengan tersenyum.
"Sebentar lagi mau berangkat kerja," jawab Aigner.
"Wah, Devan sudah bawa calon saja. Kedua cucu Opa kalah sama kamu," celetuk Andrea saat melihat Devan datang bersama dengan Tasya.
"Om, dia itu ...." Dave tidak bisa melanjutkan ucapannya saat Andrea langsung memotongnya.
"Cantik kho Dave, imut-imut menggemaskan. Sudah restui saja," suruh Andrea. "Tenang Devan, Opa pasti mendukung kamu."
"Makasih Opa! Kalau aku nikah nanti, pinjamkan jet pribadi ya Opa buat aku bulan madu." Devan tersenyum senang dengan apa yang dikatakan.
Apa Devan dan Tasya menjalin hubungan diam-diam seperti Davin dulu. Sepertinya aku harus memisahkan mereka sementara sampai umur Devan cukup untuk menikah, batin Dave.
"Gampang itu, Van. Lebih baik pacaran setelah nikah, pasti lebih seru. Jangan ikuti Abang kamu yang sudah tua tapi masih menjomblo." Lagi-lagi Andrea menyindir Elgar.
Dia kesal sama cucu yang satu itu karena senang sekali memberi harapan pada para gadis, sehingga banyak gadis yang datang ke rumahnya mencari keberadaan Elgar. Sementara dia sangat tidak suka kalau kediamannya banyak dikunjungi oleh orang-orang yang tidak dikenalnya. Apalagi mereka berniat untuk mencari muka padanya.
"Berasa jadi cucu tiri, Pah. Dari tadi aku terus yang salah," adu Elgar.
"Elgar, kalau kamu berniat mencari jodoh, jangan pergi ke klub malam tapi ke tempat ibadah, biar mendapatkan istri yang sholeha," timpal Allana.
...***...
Setelah pembicaraan mereka di ruang perawatan Devanya, Dave pun meminta Devan agar menemuinya di ruang kerja. Tanpa basa-basi lagi, Dave langsung menanyakan kebenaran praduganya.
"Devan, apa kamu menjalin hubungan dengan Tasya?" tanya Dave dengan menatap dalam putranya.
"I-iya, Pah!" sahut Devan dengan menundukkan kepalanya
"Apa kamu mencintainya?" tanya Dave lagi.
"Iya, Pah!"
__ADS_1
Dave menghela napas berat mendengar pengakuan putranya. Dia pun terdiam sesaat untuk menimang keputusan apa yang akan dia ambil. Setelah cukup keras berpikir, akhirnya Dave berbicara.
"Devan, apa kamu pikir, Papa akan merestui hubungan kalian?"
"Aku inginnya begitu. Seperti Papa merestui Davin dan Diandra," jawab Devan.
"Tidak semudah itu. Kamu ingat kan bagaimana hubungan kamu dengan Tasya yang sebenarnya. Tasya sekarang dalam perlindungan Papa. Jadi tidak semudah itu kamu mendapatkan Tasya sebelum kamu bisa memantaskan diri untuk jadi suami Tasya."
"Maksud, Papa?"
"Papa kasih kamu waktu sampai umur kamu dua puluh dua tahun untuk menyelesaikan pendidikan hingga mendapat gelar S3. Jika kamu berhasil, maka Papa akan merestui hubungan kalian. Tapi jika gagal dan kamu menolak tawaran Papa, maka Papa akan mencarikan jodoh yang pantas untuk Tasya."
"Baik, Pah. Aku yakin pasti bisa," tegas Devan.
"Kalau kamu setuju, hari ini langsung berangkat ke sana. Buktikan pada Papa, kalau kamu mampu."
"Iya, Pah!" sahut Devan dengan tidak bersemangat.
Ya ampun malas banget aku harus bela-belain belajar di negeri orang. Kalau aku nolak, kasian Tasya nanti merasa dipermainkan. Kalau aku terima, kasian aku di sana tinggal sendiri. Mana Davin gak mungkin balik ke sana lagi. Ahhay ... sepertinya aku harus ajak Bang Iger dan Bang Elgar. Pasti mau, batin Devan.
Davin pun langsung menghubungkan Elgar dan Aigner agar mereka mau kembali ke negeri Paman Syam. Untung saja keduanya tidak ada yang keberatan. Apalagi ucapan Andrea membuatnya kesal dan tidak betah berlama-lama di rumah opa-nya.
Tasya yang diberitahu tentang keberangkatan Devan ke luar negeri, hanya bisa menangis dalam diam. Sebenarnya dia tidak ingin ditinggalkan oleh lelaki muda yang bisa membuatnya nyaman. Akan tetapi, Tasya tidak bisa menolak keputusan Devan untuk pergi jauh dari sisinya.
Hanya Tasya yang mengantarkan dia ke bandara. Karena Sevia maupun Dave hanya mengantar putranya sampai depan rumah. Bukan hal yang aneh buat orang tuanya jika dia sering pulang pergi ke luar negeri.
"Devan, jangan lupakan aku! Aku akan menunggu kamu kembali," ucap Tasya saat mereka sudah ada di bandara.
"Tentu saja, aku pergi untuk kembali. Kamu baik-baik ya bersama mama dan papaku," ucap Devan dengan mengusap kepala Tasya. "I love you, " bisik-nya.
"I love you more," lirih Tasya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya Kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....