Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 70 Tekad Davin


__ADS_3

Hati-hari pun terus berlalu, hari pernikahan Keano dan Devanya tinggal menghitung jari. Rani pun semakin giat berlatih jalan ditemani oleh Sevia. Sementara Davin dan Diandra, masih belum ada kemajuan. Diandra yang belum bisa menerima Davin sepenuhnya, sedangkan Davin yang merasa tidak dihargai sebagai suami, membuat hubungan mereka seringkali terjadi keributan. Meskipun akhirnya berdamai saat berada di atas tempat tidur.


Namun, sampai saat ini Diandra belum tahu siapa sebenarnya pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Karena selama ini, perusahaan itu dijalankan oleh seorang general manager yang bernama Satria Wibisana. Sampai akhirnya Diandra dibuat tercengang oeh suami brondongnya.


"Diandra, kamu dipanggil Pak Satria ke ruangannya," ucap manager pemasaran.


"Memang ada masalah apa, Pak?" tanya Diandra bingung.


"Kamu ke sana saja dulu biar tahu. Cepat Dian, sudah ditunggu!"


"Baik, Pak!"


Diandra pun bergegas menuju ke ruangan general manager. Di sana ternyata sudah ada HRD dan orang yang sangat dikenalnya. Diandra sempat terkejut saat melihat Davin sedang berbicara serius dengan Satria.


"Permisi, Pak! Ada yang bisa saya bantu?" tanya Diandra dengan membungkukkan setengah badannya.


"Duduklah dulu!" suruh Satria.


Diandra pun menurut apa yang dikatakan oleh general managernya. Dengan malu-malu, dia duduk di sofa bersama dengan Irna, yang menjabat sebagai manager HRD. Diandra duduk berhadapan dengan Davin yang duduk tepat berada di seberang meja.


"Dian, karena CEO kita mulai aktif bekerja di perusahaan, untuk itu beliau membutuhkan seorang sekretaris untuk membantunya," ucap Manager HRD.


"Maaf, Bu! Tapi saya tidak punya pengalaman sebagai seorang sekretaris," kilah Diandra.


"Kamu tenang saja, Mr. Davin orangnya baik. Beliau salah satu pemuda yang sukses membangun perusahaan start-up di usianya yang masih belia. Lagipula nanti ada SOP-nya yang bisa kamu jadikan panduan dalam bekerja," ucap Satria.


"Iya benar. Kamu hanya perlu Menerima tamu CEO. Mengatur agenda rapat atau pertemuan lainnya. Mengurus perjalanan dinas. Melaksanakan kegiatan administratif, mulai dari mengetik berbagai jenis surat, mengarsipkan surat, data, dan dokumen lainnya," timpal Manager HRD.


"Selain itu juga kamu harus menyampaikan informasi yang berhubungan dengan tugas ke CEO. Menyiapkan dokumen yang dibutuhkan saat rapat. Menjadi penghubung bagi pihak yang ingin berkomunikasi dengan CEO. Ikut memberi ide atau masukan sebagai alternatif pemikiran CEO dan yang terakhir sebagai penghubung antara CEO dan bawahan," lanjut Manager HRD.


Dia bilang hanya, padahal begitu banyak tugas yang harus dikerjakan. Ah ... Kenapa harus aku? Udah gitu Davin yang jadi CEO-nya. Apa dia tidak akan mengerjai aku?


Bukannya menyanggupi, Diandra malah dibuat melongo dengan apa yang dikatakan oleh manager HRD. Tentu saja hal itu tidak lepas dari pengamatan Davin yang sedari tadi terus menatap istrinya. Pemuda itu ingin tertawa saat melihat Diandra hanya diam melongo mendengar apa yang dikatakan oleh manager HRD.

__ADS_1


"Bagaimana Diandra, apa kamu mengerti?" tanya Satria.


"I-iya Pak!" sahut Diandra gugup.


"Bagus, mulai hari ini, kamu menjadi sekretaris Mr. Davin. Sekarang kamu kembali ke ruangan kamu dan bereskan barang-barang kamu. Nanti akan ada orang yang menjemput ke sana. Kamu harus sudah siap," ucap Satria.


"Baik, Pak! Kalau begitu saya permisi!" Diandra langsung pergi menuju ke ruangannya. Meskipun hatinya dongkol, tak urung dia pun mengikuti apa yang dikatakan oleh bos-nya.


Dia langsung membereskan barang-barangnya setibanya di kubik tempat dia bekeja. Hingga beberapa rekan kerjanya merasa aneh karena tiba-tiba gadis itu dipanggil General Manager dan pulangnya langsung membereskan barang-barang.


"Dian, kamu dipecat?" tanya Melani teman kerja Diandra yang tempat kerjanya bersebelahan dengannya.


"Tidak, Mel! Aku dipindah jadi sekretaris," jelas Diandra.


"Wah, beruntung sekali! Kenapa bukan aku yang dipilih ya? Padahal aku pengen banget jadi sekretaris," cerocos Melani.


Aku malah gak mau jadi sekretaris. Aku yakin, ini pasti akal-akalan Davin. Apalagi saat tadi melihat wajahnya yang merasa sangat puas, sudah pasti dia merasa menang karena sukes menjadikan aku sebagai bawahannya, batin Diandra.


"Hebat sekali kamu, Dian! Baru masuk beberapa hari sudah ditarik jadi sekretaris. Apa kamu akan menggantikan Mbak Sella? Menjadi sekretaris Pak Satria?" tanya Iva.


"Ooo ...." kompak teman kerja Diandra.


"Siapa Mr. Davin?" celetuk.Melani.


"Itu Mel, dia ...."


"Maaf Nona, jika sudah beres semua silakan ikut dengan saya." potong seorang lelaki dewasa yang baru datang ke ruangan Diandra. "Mr. Davin sudah menunggu di ruangannya," lanjutnya.


"Sebentar, Pak! Teman-teman aku pergi dulu ya, do'akan semoga beruntung!" pinta Diandra sebelum dia pergi mengikuti lelaki yang diutus Davin untuk menjemputnya.


Tiba di ruangan Davin, pemuda itu sudah duduk di kursi kebesarannya. Dia terlihat berwibawa meskipun umurnya baru tujuh belas tahun. Diandra tidak bisa memungkiri kalau suami brondongnya itu nampak begitu mempesona, sehingga untuk beberapa saat dia sempat terkesiap melihat Davin yang bekerja dengan serius.


Apa benar itu Davin? Kenapa dia sangat berbeda sekali? Aku tidak pernah menyangka, kalau dia bisa menjadi seorang CEO di usianya yang masih sangat muda, batin Diandra.

__ADS_1


"Kenapa bengong di situ? Duduklah!" tegur Davin


Tanpa menjawabnya, Diandra langsung duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Davin. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Sungguh Diandra merasa semuanya seperti mimpi.


"Dian, meja kamu ada di depan ruangan ini. Nanti Om Nino yang akan membantu kamu jika ada hal yang tidak kamu mengerti. Bekerjalah dengan profesional, jangan mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan," ucap Davin menghentikan sejenak ucapannya seraya mengambil sebuah berkas yang ada di mejanya.


"Tolong kamu bikin rangkap dua berkas ini dan siapkan hadiah yang pantas untuk artis yang akan menjadi bintang iklan perusahaan kita," pinta Davin.


"Baik, Pak!" sahut Diandra refleks.


"Permisi, tadi bilang apa? Apa aku setua itu harus dibilang bapak?" protes Davin.


"Maaf Tuan!"


"Kalau minta maaf berguna, semua tahanan yang berada di penjara bisa bebas tanpa syarat."


"Vin, aku kan udah minta maaf."


"Maaf Nona Diandra, ini di kantor. Tolong bersikaplah profesional!" tegur Davin.


"Maaf Mr. Davin! Saya permisi," ucap Diandra. Dia merasa kesal karena tiba-tiba suaminya bersikap seperti itu padanya.


Dian, setiap orang memiliki batas kesabarannya. Selama ini aku selalu bersabar dengan semua sikap kamu. Tapi sedikit pun kamu tidak bisa mengerti kalau aku pun ingin sedikit dihargai layaknya seorang suami. Tapi kamu, selalu menganggap aku masih kecil, batin Davin.


Davin terus menatap punggung ringkih Diandra hingga hilang di balik pintu ruangannya. Dia ingin sekali mengubah pandangan Diandra kalau kedewasaan seseorang itu tidak bisa diukur dari umur. Dia pun ingin membuktikan pada istrinya itu, meskipun dia masih muda tapi bisa melakukan hal yang orang dewasa lakukan.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....


Sambil nunggu Brondong Tajir update, yuk kepoin karya teman Author yang satu ini. Ceritanya sudah pasti seru.

__ADS_1



__ADS_2