
Meeting kerjasama berjalan dengan baik. Perusahaan dari timur tengah itu begitu tertarik untuk berinvestasi dalam proyek terbaru AP Technology, sehingga Tuan Hamish mengajak makan malam bersama bersama dengan keluarganya. Sebagai rasa penghormatan atas undangan Tuan Hamish, Dave pun menyetujui dan akan membawa Istri juga anaknya.
"Harry, sebaiknya kita langsung mencari butik saja. Sevia pasti tidak punya gaun malam. Kamu juga Carikan buat Rani, biar kita ajak sekalian. Kasian kalau ditinggal sendirian di villa," ucap Dave saat dia menuju parkiran bersama dengan Harry.
"Boleh, tidak jauh dari sini sepertinya ada Er's Boutique. Coba aku cari dulu di map," Harry pun langsung mengotak-atik ponselnya mencari keberadaan boutique milik keluarga Wiratama. Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, dia langsung mengajak Dave untuk bergegas agar tidak terlambat saat harus kembali untuk makan malam.
Sesampainya di boutique, Dave langsung mencari gaun yang tertutup untuk istrinya. Dia tidak rela jika orang lain melihat keindahan yang selalu dia kagumi. Sementara Harry memilihkan gaun yang berwarna hitam untuk Rani agar menyamarkan perutnya yang sudah mulai kelihatan membuncit.
"Harry, lihat gaun ini cocok kan untuk Sevia?" tanya Dave dengan memperlihatkan gaun malam pilihannya.
"Dave kenapa gak kamu pilihkan saja gamis. Ini model untuk ibu-ibu, sedangkan Sevia masih muda meskipun lebih tua dari kamu. Cari yang lebih fresh model dan warnanya," suruh Harry.
"Ya sudah aku tanyakan saja pada mbak-mbak pelayan itu." Dave pun langsung meminta rekomedasi gaun malam yang cocok untuk wanita muda.
Setelah keduanya mendapatkan apa yang mereka inginkan, akhirnya dua pria tampan itu langsung pulang menuju ke villa. Saat sampai di sana, terdengar suara tertawa cekikikan dari arah kolam renang yang ternyata Sevia dan Rani sedang bermain air bersama dengan Devanya.
"Harry jangan masuk ke sana! Istriku pasti memakan baju yang terbuka. Aku akan menyuruhnya untuk memakai kimono dulu," ucap Dave saat Harry akan membuka pintu.
"Kenapa kita gak ikutan saja pasti seru. Lagian pasti mereka pake kaos oblong dan celana selutut. Sevia dan Rani kan gak punya baju renang," sanggah Harry.
"Coba aku lihat dulu!" Dave langsung mengintip sedikit apa yang istrinya lakukan.
Benar saja, Sevia dan Rani memakai kaos oblong dan celana legging panjang. Membuat Dave mengulas senyum karena tidak seperti bayangannya. "Ya sudah yuk ikutan! Tapi kamu jangan hanya pakai boxxer. Harus pakai kolor!"
Kedua pria tampan itu langsung bergegas menuju ke kamarnya untuk berganti baju. Seperti yang sudah disepakati, keduanya memakai kolor dengan tidak memakai baju. Memperlihatkan dengan jelas otot-otot yang terbentuk. Layaknya seorang model susu khusus untuk pria, Dave dan Harry berjalan beringin memasuki ruangan tempat kolam renang itu berada.
Sevia hanya melongo melihat suaminya sudah berganti pakaian dan siap untuk berenang. Meski sudah sering melihat tubuh polos Dave, tetap saja Sevia terpukau melihat ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna menurutnya. Sementara Rani langsung mengalihkan pandangannya. Dia tidak ingin menodai matanya, meskipun sebenarnya dia juga penasaran ingin melihat langsung tampilan bentuk otot perut sixpack seperti yang dia lihat di televisi.
__ADS_1
"Masih terpesona melihatku? Padahal setiap malam kamu sering melihatnya dan memberi tanda di dadaku," bisik Dave dengan membungkukkan badannya.
"Apaan sih, Dave?" Sevia menyiram air ke arah Dave membuat pemuda tampan itu menjadi kaget.
"Sayang, kamu menggodaku?" Dave langsung masuk ke dalam kolam renang dan ikut-ikutan menyiram air ke arah Sevia. Sampai akhirnya, Dave memeluk Sevia dan mengajaknya menyelam ke dalam kolam.
Dave selalu punya cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan candunya selama pasangan suami istri berada di dalam air. Membuat Rani naik ke permukaan karena merasa tidak nyaman jika harus melihat kemesraan sahabatnya.
"Rani, mau ke mana?" tanya Harry.
"Devanya sudah terlalu lama bermain air. Aku mau membersihkan badannya dulu dan menidurkannya," jawab Rani.
"Ayo, aku temani!" Harry pun tidak jadi masuk ke kolam. Dia lebih memilih menemani Rani dan Devanya daripada melihat kemesraan sahabatnya.
Setelah Rani dan Devanya membersihkan diri, dia pun langsung meninabobokan putri sahabatnya. Saat dia baru saja ingin pergi ke dapur karena Devanya sudah pulas, tiba-tiba Harry masuk ke dalam kamarnya.
"Aku hanya ingin memberikan gaun untuk nanti malam. Kita diundang oleh Tuan Hamish untuk makan malam bersama sebagai perayaan kerjasama," jelas Harry.
"Apa aku harus ikut? Aku kan ...." Rani tidak melanjutkan kata-katanya karena jari telunjuk Harry sudah menempel di bibirnya.
"Jangan selalu merendah! Kadang kita terlihat rendah karena pikiran kita sendiri," Harry menatap lekat Rani. Begitupun dengan Rani yang kaget dengan sikap Harry.
Setelah Rani dapat menguasai dirinya, dia secepatnya menurunkan telunjuk Harry yang menempel di bibirnya. "Harry, jangan seperti ini! Terima kasih untuk gaunnya."
Rani segera pergi meninggalkan Harry yang masih diam mematung di tempatnya. Dia tidak ingin menyalahkan artikan setiap kebaikan Harry yang merasa iba pada nasibnya di karena ditinggal mati oleh suami saat dia sedang mengandung.
Sementara Harry pun langsung beranjak pergi dari kamar Rani dan menuju ke kamarnya. Dia terus menjambak rambutnya, entah kenapa dia ingin sekali merasakan bibir Rani yang sedikit bervolume. Apalagi, tadi tangannnya merasakan kelembutan bibir itu. Harry pun menempelkan telunjuknya ke bibir dia sendiri.
__ADS_1
Sial! Kenapa aku harus sampai kelepasan. Aku jadi ingin sekali merasakannya. Sadar Harry, dia bukan istrimu! Tapi kenapa boboy jadi menegang begini? Aku harus segera menidurkannya kembali, batin Harry.
...***...
Malam harinya, Sevia dan Rani nampak cantik dengan balutan gaun yang pas di badannya. Mereka tidak menyangka Dave dan Harry bisa memilih gaun yang pas dengan seleranya. Begitupun dengan Dave dan Harry yang memakai jas yang senada dengan gaun yang dipakai Sevia dan Rani.
Dave yang sudah datang terlebih dahulu, langsung menuju ke ruang VIP yang sudah dibooking-nya. Devanya yang sudah tertidur semenjak dari mobil, akhirnya tidur pulas di dalam stroller yang sengaja dibawa. Tidak lama kemudian, Tuan Hamish datang bersama dengan keluarganya. Nampak istri Tuan Hamish yang berasal dari negeri ini menggandeng mesra suaminya, sedangkan kedua anaknya berjalan di belakang.
"Selamat malam, Mr. Dave! Kenalkan istri saya, Kirana." Tuan Hamish tersenyum hangat pada Dave dan yang lainnya begitupun dengan istrinya.
"Saya Dave, Nyonya! Yang cantik ini, istri saya Sevia. Senang berkenalan dengan, Anda!" Dave langsung mengulurkan tangannya untuk mengajak bersalaman. Namun, Nyonya Kirana hanya menangkup kan tangan sebagai gantinya karena dia tidak suka bersentuhan dengan lelaki yang bukan muhrimnya, sehingga Dave kembali menarik tangannya.
"Senang berkenalan dengan, Anda! Saya bangga, anak muda di negeri ini begitu kreatif dan potensial," ucap Kirana dengan mata yang tak lepas dari Sevia.
"Saya Sevia, Nyonya! Dan ini sahabat saya, Rani." Sevia pun mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. Di luar dugaan semua orang, Nyonya Kirana tidak menyambut uluran tangan Sevia justru memeluk erat.
"Maaf, saya merasa bertemu dengan seseorang yang saya rindukan," ucap Kirana.
"Tidak Apa, Nyonya! Silakan duduk," ucap Sevia
Setelah Keluarga Tuan Hamish saling memperkenalkan diri dengan Dave dan yang lainnya. Mereka pun berbincang seraya menunggu hidangan yang tersaji. Sevia merasa kikuk, karena Nyonya Kirana terus menatap lekat ke arahnya.
Ada apa dengan Nyonya itu? Kenapa terus melihat ke arahku? Aku merasa tidak nyaman terus dilihat seperti itu, batin Sevia.
...~Bersambung~...
...Jangan kendor dukungannya ya kawan! Yuk klik like, comment, vote, rate gift dan favorite. Yang masih punya vote boleh kirim ke sini daripada hangus hehehe....
__ADS_1