Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 121 Keisengan Dave


__ADS_3

Davin langsung menuju ke pintu kamarnya. Saat dia membukanya, nampak di sana Dave sedang berdiri menunggu putranya membukakan pintu. Ayah tiga orang anak itu, menelisik penampilan putranya yang terlihat berantakan dengan bibir yang tampak basah.


"Kenapa, Pah? Kho liatinnya gitu banget?" tanya Davin heran. Dia pun langsung melihat kearah pandang papanya.


"Gak ada. Papa hanya mau bilang, Mama nunggu di bawah. Vin, lain kali, kalau kalian habis beradu lidah, bersihkan dulu sisa liur kamu sebelum menemui orang. Paling tidak, rapihkan penampilan kamu dulu," ucap Dave datar.


"Papa!!!" pekik Davin.


"Hahaha ...." Tawa Dave menggema memenuhi rumah megahnya. Jarang-jarang dia bisa menggoda putranya yang satu ini.


Sevia dan Rani saling berpandangan saat mendengar tawa Dave. Mereka merasa heran dengan apa yang didengarnya. Namun akhirnya, keduanya sama-sama menggendikkan bahu.


"Hai Sayang!" sapa Dave saat dia tiba di dapur.


"Tadi kenapa tertawa? Senang banget kayaknya?" Sevia melirik sekilas ke arah suaminya.


"Tentu saja senang. Tahu gak, Mah? Tadi Papa ...."


"Papa, jangan ember apa!" potong Davin.


Dia masih malu terciduk oleh papanya. Meskipun iya, apa yang dia lakukan tidak menyalahi aturan. Tetap saja memalukan jika jadi bahan pembicaraan orang.


"Hahaha ...." Lagi-lagi Dave tertawa senang. membuat semua orang yang ada di rumah itu menjadi penasaran dengan apa yang telah terjadi.


Namun, tawa renyahnya mendadak terhenti saat dia melihat Devanya masuk ke dapur bersama dengan Keano. Dave langsung menghampiri Devanya dan memeluk putri kesayangannya. Tak lupa dia mencium pucuk kepala Devanya.


"Bagaimana, dedek bayinya? Baik-baik saja?" tanya Dave.


"Baik, Pah. Tadi ada apa? Kayaknya Papa seneng banget," tanya Devanya.


"Papa jadi kakek iseng, Kak. Jangan sampai cucunya juga ikutan suka iseng." Davin langsung menjawab pertanyaan Devanya.


"Oh. Aku mau makan rujak kedondong dulu, Pah. Tadi udah pesan sama Dian," ucap Devanya.


Astaga! Kenapa aku sampai lupa? Gara-gara Davin nih, batin Diandra.


"Rujaknya belum dibikin, Sayang. Mungkin Dian lupa," ucap Sevia. Dia sedikit mengerti dengan apa yang terjadi, sehingga berinisiatif untuk menutupi kelalaian Dian.


"Iya, Deva. Sorry aku lupa," ucap Dian cengengesan.

__ADS_1


"Ayo semuanya ke meja makan. Makanan segera di hidangkan," ajak Sevia.


Kini semuanya sudah duduk di kursi masing-masing. Dengan begitu banyak hidangan yang tersedia. Sampai akhirnya Dave membuka acara makan malam sebelum mereka menyantap hidangan.


"Papa senang hari ini bisa berkumpul dengan anak dan menantu Papa. Mama dan Tante Rani sengaja membuat acara makan malam ini untuk menyambut kehadiran anggota baru di keluarga Sky, Pattinson maupun Wiratama. Semoga Deva dan Dian sehat selalu selama kehamilannya dan diberi kelancaran saat melahirkan nanti," ucap Dave panjang lembar.


"Sebentar, Pah. Tadi Papa bilang Dian??? Apa Dian juga hamil?" tanya Devanya kaget.


"Iya, Sayang. Dia udah memasuki minggu ke enam," ucap Sevia.


"Apa??!! Berarti hanya beda dua minggu sama aku?" pekik Devanya.


"Iya, Deva. Akhirnya aku bisa nyusul kamu," ucap Diandra dengan tersenyum senang.


"Alhamdulillah kita hamil bareng. Nanti ikut kelas ibu hamil juga barengan ya!" seru Devanya dengan wajah berbinar.


"Siap, Kakak Ipar!" sahut Diandra.


"Nanti Abang yang akan suruh instrukturnya untuk datang ke rumah. Jadi kalian tidak usah ke tempatnya," pungkas Keano.


Devanya dan Diandra hanya saling pandang. harapannya bisa ngerumpi dengan ibu-ibu hamil pupus sudah. Suaminya malah akan mendatangkan instrukturnya.


"Sudah dulu ngobrolnya, ayo kita makan dulu!" ajak Dave.


Saat mereka sedang menikmati makan malamnya. Devan datang dengan wajah lesu. Dia seperti orang linglung yang melihat semua anggota keluarganya sedang makan malam bersama.


"Devan, kenapa baru datang?" tanya Sevia yang pertama kali melihat kedatangan putranya.


"Aku ada urusan, Mah."


"Ayo makan malam bersama!" ajak Sevia kemudian.


"Aku sudah makan di luar. Kenapa gak ada yang kasih tahu aku kalian mau makan malam bersama?" tanya Devan.


"Tadi aku menghubungi kamu tapi ponselnya gak aktif," jawab Diandra.


"Oh ... Mungkin lowbat. Aku ke atas dulu, gerah mau mandi." Devan langsung menuju ke lantai atas tanpa menunggu yang lain berbicara.


Sementara semua orang yang ada di meja makan merasa aneh dengan sikap Devan. Tak ingin jadi pikiran, mereka pun segera menghabiskan makanannya. Semuanya kembali diam menikmati rasa nikmat yang memanjakan lidah.

__ADS_1


Setelah semuanya menghabiskan makan malamnya, Sevia dan yang lainya memilih duduk santai di ruang keluarga. Mereka saling bercerita tentang semua hal yang mereka alami dan mereka lihat. Hingga saat jam sudah menunjukkan angka sepuluh, Rani dan Harry berpamitan pulang. Sementara yang lainnya masuk ke kamar masing-masing.


Devanya yang sedang kumat manjanya, dia meminta Keano untuk menggendongnya hingga sampai ke kamar. Entahlah, kehamilannya yang sekarang membuat dia begitu manja pada suaminya. Beruntung Keano begitu mencintainya, sehingga laki-laki tampan itu dengan suka rela menuruti keinginan istrinya.


"Bang, kita mandi bareng yuk! Rasanya geram kalau gak mandi dulu," ajak Devanya.


"Bukannya kita sudah mandi di kantor sebelum datang ke sini?" tanya Keano.


"Gerah lagi. Ayo, Bang temani!" rengek Devanya.


"Boleh, Sayang. Tapi harus sambil main ya!" sahut Keano.


"Ikh, Abang. Tadi kan udah," ucap Devanya malu-malu kucing.


"Gemesin banget, Sayang." Keano langsung mencium pipi istrinya yang mulai terlihat chuby.


Keano langsung menggendong Devanya ala kanguru. Bibir mereka saling berpagutan satu sama lain. Dengan langkah perlahan, Keano membawa Devanya menuju ke kamar mandi.


Kakinya dengan lincah menutup pintu kamar mandi. Perlahan, dia mendudukkan Devanya di atas wastafel untuk memperdalam pagutannya. Napas kedua saling memburu dengan hasrat yang semakin memuncak. Saat Keano sudah benar-benar on fire. Dia pun melepaskan pagutannya.


"Sayang, mau di bathtub atau di bawah shower?" tanya Keano dengan napas yang masih tersengal.


"Shower aja, Bang!"


Tidak ingin menunda waktu lebih lama lagi, Keano langsung melucuti baju yang melekat di tubuh indah istrinya. Setelah semuanya terlepas, dia pun segera membuka semua yang menempel di tubuhnya.


Devanya tersenyum malu-malu dengan tangan yang melingkar ke leher suaminya. "Ayo, Bang kita ulangi!"


Dengan senyum yang merekah di bibirnya, Keano pun memulai kembali permainan yang tadi belum tuntas mereka mainkan. Hingga akhirnya, apa yang mereka harapkan pun terjadi dengan kepuasan yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata.


Berbeda dengan Diandra yang sedari tadi terus cemberut. Karena Devan datang ke kamarnya dan curhat masalah Tasya pada suaminya. Mereka berbincang di balkon kamar Davin. Hingga kedua saudara kembar itu larut dalam obrolan. Saat jarum jam menunjukkan angka dua belas, barulah Devan kembali ke kamarnya.


"Yah, malah tidur. Padahal yang tadi sore belum kelar," keluh Davin saat melihat Diandra sudah tertidur pulas. "Biarlah, masih bisa besok pagi aku memintanya."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


Sambil nunggu Brondong Tajir updated di bab-bab terakhir. Yuk kepoin juga karya penggantinya.



__ADS_2