Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 114 Ngidam Delima


__ADS_3

Hentakan musik DJ yang terdengar keras dalam ruangan yang ramai dan temaram. Hilir mudik pengunjung dengan pakaian yang bermacam-macam gaya, mulai dari yang biasa hingga punggung terbuka, dari yang mengenakan jeans panjang hingga rok mini, semua terlihat begitu menikmati suasana yang ada. Tidak peduli dengan aroma parfum dan rokok yang menyengat memenuhi ruang nafas.


Nampak di sebuah ruangan VIP, Orion dan Devan bersama dengan empat orang gadis sedang menghabiskan malam Minggu bersama. Mereka sudah ada janji dengan Elgar dan Aigner untuk bermain bersama. Namun sepertinya Elgar dan Aigner belum tiba di sana.


"Van, beneran gak Bang El mau datang ke sini?" tanya Orion.


"Bener, dia sendiri yang ngajak ketemuan di sini. Makanya aku ngajak kamu," ucap Devan.


"Van, siapa Bang El?" tanya Celia, teman kencan Devan.


"Nanti kamu juga tahu," jawab Devan cuek.


"Udah deh Celia, gak usah kepo. Ingat ya kita kencan hanya sebagai teman di saat kesepian. Tidak ada komitmen," tegur Orion mengingatkan gadis yang pernah jadi teman kuliahnya.


"Iya, Ion. Aku tahu, tapi kalau mau serius juga, aku gak keberatan. Iya gak guys?" tanya Celia pada temannya.


"Bener banget. Aku juga gak keberatan," timpal Delisa.


"Kalian gak keberatan, tapi aku yang keberatan." Baru saja Orion selesai bicara, terlihat pintu ruangan ada yang membuka dari luar. Nampak Elgar bersama dengan Aigner masuk ke dalam ruangan, sehingga Devan dan Orion segera menyambut kedatangan mereka.


"Duduk, Bang. Kenalin ini teman-teman aku. Celia, Delisa, Adeline dan yang ujung yang imut-imut itu Tasya."


"Hai!" sapa Elgar. Sedangkan Aigner hanya melihat sekilas ke arah gadis-gadis itu.


Dia memang sering ikut ke klub malam saat sedang jenuh. Namun, dia tidak suka berdekatan dengan gadis-gadis yang datang menggodanya. Seperti patung es, Aigner akan bersikap tidak peduli pada mereka.


"Jaga jarak," ucap Aigner saat ada seorang gadis yang ingin duduk di dekatnya.


"Kenapa seperti truk saja harus jaga jarak. Kita kan mahluk Tuhan yang diciptakan berpasang-pasangan," elak Tasya


"Aku tidak suka denganmu," ucap Aigner datar.


Jleb!


Kata-kata Aigner yang singkat padat dan jelas membuat gadis itu mengurungkan niatnya untuk mendekati pemuda tampan itu. Sampai akhirnya Elgar berbicara. "Jangan mengganggunya! Dia misophobia."


"Baik, Kak!" sahut Tasya dengan wajah yang cemberut.


Orion hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Elgar tentang Aigner. Pantas saja, laki-laki itu tidak pernah terlihat menggandeng perempuan. Ternyata dia memiliki penyakit seperti itu.


"Kalian sering datang ke mari?" tanya Elgar.


"Kadang-kadang sih, Bang. Kalau lagi punya duit," seloroh Orion.


"Ck! Memang uang jatah dari opa kamu kurang?"

__ADS_1


"Jangan percaya, Bang. Ion uangnya banyak, aku saja sering dibayarin," sanggah Devan.


"Tapi kenapa sama kita dia pelit," celetuk Delisa.


"Hahaha ... Ion. Kamu dikatain pelit. Memangnya Ion kasih kamu berapa untuk sekali kencan?"


"Hanya satu juta," jawab Delisa.


Masih mending aku kasih. Kamu cuma nemenin aku minum gak aku apa-apakan. Lagipula, kamu sendiri yang selalu mengajak aku buat jalan, batin Orion.


"Nanti aku kasih dua juta, tapi kamu harus mau memijat badanku," ucap Elgar.


"Hehehe ... Aku gak bisa pijat," ucap Delisa cengengesan.


Mereka pun larut dalam obrolan saling bersenda gurau. Meskipun awalnya terasa kaku, tetap lama kelamaan semuanya berbincang layaknya teman lama. Bukan seperti teman kencan yang tangannya menjalar ke mana-mana.


Merasa ponsel di kantong bajunya terus bergetar, Devan yang sedang asyik bercanda pun akhirnya sedikit menjauh untuk menerima panggilan telepon dari kakaknya. Dia khawatir terjadi sesuatu pada kakak perempuannya itu. Karena tidak biasanya Devanya menelpon dia di saat hari sudah larut.


"Hallo Kak, ada apa?" tanya Devan.


"Kamu lagi di mana, Van? Bising banget," tanya Devanya di seberang sana.


"Aku lagi main. Biasalah Kak, anak muda."


"Van, Kakak ingin buah Delima. Bisa kamu carikan?"


"Ya usaha dong, Van. Kamu gak mau kan punya keponakan ileran. Nanti gimana kata orang?"


"Tapi aku harus nyari ke mana kakak aku yang cantik?"


"Kamu ke pasar induk saja. Kalau supermarket pasti sudah tutup."


"Apa??!! Jangan gila dong, Kak!"


"Devan, jaga bicaramu!" terdengar suara Keano dingin dia seberang sana. Rupanya kakak iparnya itu mendengarkan percakapan mereka.


"I-i-iya Bang! Sorry! Aku akan carikan delima pesanan Kak Vanya."


Gila Bang Ano, nusuk banget nadanya.


"Ya sudah, Van. Kakak tutup teleponnya. Pokoknya Kakak tunggu buah delimanya."


"Iya Kakakku yang cantik, aku pergi sekarang."


Klik

__ADS_1


Devan langsung memutuskan sambungan teleponnya. Dengan wajah masam, dia kembali menghampiri teman-temannya. "Aku pulang sekarang. Kak Vanya ingin buah Delima dan aku harus segera mendapatkannya."


"Perlu berapa biji buah delimanya?" tanya Celia.


"Satu juga cukup. Memang kamu punya pohonnya?" tanya Devan.


"Nggak sih, tapi tetangga aku punya pohon Delima."


"Colong aja, Van!" celetuk Orion.


"Sembarangan kamu. Nanti ponakan aku nakal kalau dikasih makan dari hasil yang gak bener. Enggak enggak, aku gak mau kasih hasil nyolong buat Kak Vanya. Mending kamu temani aku ke pasar induk saja. Siapa tahu sudah banyak pedagang yang datang," ajak Devan.


"Ayo , Van sama aku. Sekalian aku pulang saja," Tasya yang masih kesal dengan ucapan Aigner, akhirnya memutuskan untuk segera pulang.


"Ya sudah, ayo! Kalian lanjutkan saja," suruh Devan.


Dengan terpaksa Devan pun menuju ke pasar induk buah dan sayur, yang buka selama dua puluh empat jam. Meskipun jauh dari arah rumahnya dan rumah Devanya, tetapi tidak menjadi halangan buat Devan mencari pesanan kakaknya.


"Van, boleh aku pinjam jaket kamu?" tanya Tasya. "Aku tidak mungkin masuk ke dalam pasar dengan berpakaian seperti ini," lanjutnya.


Devan melihat ke arah Tasya sebelum dia memberikan jaket miliknya pada gadis itu. Dia menelisik penampilan Tasya yang memakai mini dress tanpa lengan. Kalau Tasya masuk ke dalam pasar dengan pakaian yang seperti ini, sudah pasti akan mengundang para preman nakal untuk menggoda gadis itu.


"Nih pakai!" suruh Devan.


"Makasih ya!" sahut Tasya dengan memakai jaket Devan yang kebesaran di tubuhnya.


Setelah semuanya siap, Devan dan Tasya pun berkeliling pasar untuk mencari buah Delima. Setelah kurang lebih lima belas menit mereka mencari buah pesanan kakaknya, akhirnya mereka menemukannya juga. Tak tanggung-tanggung, Devan membeli berbagai jenis Delima yang dipasarkan. Selain buah Delima, Dia juga memborong buah lain yang nampak segar di penglihatannya.


"Tasya, kamu pilih saja mau buah apa! Biar sekalian bayarnya," suruh Devan.


"Tidak usah, Van. Aku hanya meminta kamu menambah bayaran untuk uang kencan. Soalnya aku lagi butuh untuk mengobati ayah yang sedang sakit," ucap Tasya jujur.


"Berapa yang kamu butuhkan?" tanya Devan.


"Lima juta."


"Sebentar! Nanti kamu tuliskan nomor rekening kamu di sini," ucap Devan seraya mengotak-atik ponselnya sebelum memberikan pada Tasya untuk menuliskan nomor rekeningnya.


Setelah mendapatkan nomor rekening Tasya, Devan pun langsung mengirim sejumlah uang ke rekening milik Tasya. Membuat wajah gadis itu menjadi berbinar. Dia senang akhirnya bisa membawa berobat ayahnya yang sedang sakit.


"Makasih, Van." Saking bahagianya, Tasya dengan refleks mencium pipi Devan. Membuat pemuda tampan itu diam melongo kaget mendapatkan ciuman yang mendadak.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan masukin....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2