
Perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu singkat, menjadi lebih lama karena Aileen memaksa Devan untuk mengantar ke rumah sakit. Saat dia ditelpon oleh pihak rumah sakit karena ada pasien darurat. Terpaksa Devan pun mengantar gadis itu. Sementara Tasya masih setia mengikuti pemuda itu ke mana membawanya.
"Winda, kalau besok dia datang ke sini lagi, segera antar ke ruangan aku saja. Dia sekretaris baruku," pesan Devan pada resepsionis.
"Baik, Mas!" sahut resepsionis itu.
Devan pun berlalu pergi menuju ke lift. Namun, saat pintu lift itu terbuka, ternyata Al keluar dari sana bersama dengan Oryza. Kedua paruh baya itu langsung melongo saat melihat Tasya bersama dengan Devan.
"Yura ...," lirih Al
"Kakek, bukannya mau meeting?" tanya Devan bingung.
"Devan, siapa gadis yang bersama denganmu?" tanya Oryza.
"Dia Tasya, Kek. Calon sekretaris aku," jawab Devan.
Kenapa wajahnya persis sekali dengan Yura. Apa gadis ini cucunya Yura? Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan dia. Karena kesibukanku, aku sampai tidak tahu kalau Yura sudah sembuh dan keluar dari rumah sakit jiwa, batin Oryza.
Merasa kedua pria paruh baya itu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, Tasya pun langsung sembunyi di belakang tubuh Devan. Dia merasa tidak nyaman dengan apa yan dilakukan oleh kedua paruh baya itu.
"Kakek jangan menakutinya!" tegur Devan saat menyadari kalau Tasya menyembunyikan diri di belakangnya.
"Van, boleh kakek berbicara sebentar dengan gadis itu? Ada hal yang ingin kakek tanyakan." idak ingin larut dalam rasa penasaran, Al pun langsung meminta ijin pada Devan.
"Boleh Kek, di ruangan aku saja. Memangnya kakek mau pergi ke mana?"
"Mau pulang, tadi meeting-nya di majukan karena ada acara,"jawab Al. "Ayo, Ryza kita naik lagi!"
Akhirnya mereka pun kembali ke atas. Al terpaksa menunda acara karena ingin tahu siapa gadis yang sedang bersama dengan Devan. Dia khawatir Devan menjalin hubungan dengan gadis itu. Karena jika benar gadis cucunya Yura, berarti masih memiliki hubungan darah dengan Devan.
Di sinilah sekarang, Tasya bersama dengan Devan dan dua orang kakek yang terus menatapnya dengan tatapan yang menyelidik. Membuat gadis itu terus menundukkan kepala tidak berani melihat ke arah Al dan Oryza.
"Namamu Tasya, Nak? Jangan takut sama kami, karena kami hanya ingin memastikan sesuatu." Al memulai percakapan saat mereka sudah duduk di sofa ruangan Devan.
"Benar, Tuan."
"Apa nenekmu bernama Yura?" tanya Oryza to the points.
__ADS_1
"Nenek dari Ibu, namanya Sarah. Tapi nenek dari ayah, aku kurang tahu, karena setahu aku ayah tidak punya ibu dari kecil." Tasya berusaha memberanikan diri untuk bicara.
"Sebentar! Kakek punya foto Yura saat dia seusia denganmu," ucap Oryza. Dia langsung mengotak-atik ponselnya. Mencari foto yang sengaja dia simpan di sosial media miliknya. Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, Oryza pun langsung memberikan ponselnya pada Tasya.
"Kamu lihat gadis yang ada di foto ini! Dia Yura, dulu kami bertetangga. Tapi aku sudah menganggap dia seperti adikku sendiri," terang Oryza.
Memang benar mirip sekali denganku, tapi aku tidak tahu siapa itu Yura. Karena ayah tidak pernah bercerita tentang ibunya, batin Tasya.
"Kakek, memang Yura siapa?" tanya Devan bingung dengan kedua kakek itu.
"Yura, putri kedua dari kakek buyut kamu."
"Apa??? Berarti aku dan Tasya ...." Devan tidak melanjutkan ucapannya. Pikirannya tiba-tiba ng-blank. Dia hanya melihat ke arah Tasya yang sedang menundukkan kepalanya.
Sungguh, serasa dipermainkan oleh takdir. Gadis yang baru saja menawarkan keperawanan padanya, ternyata masih memiliki hubungan saudara. Jika benar Tasya cucunya Yura seperti yang dikatakan oleh kakeknya.
"Belum bisa dipastikan, sebelum kakek bertemu dengan ayahnya. Apa bisa kami bertemu dengan ayahmu, Nak?" Oryza menatap lembut pada Tasya.
Dia seperti flashback ke masa lalunya. Saat Yura sering bermanja-manja padanya. Sebelum kejadian di rumah Al, yang membuat Yura harus mendekam di balik jeruji besi.
"Boleh, Tuan. Tapi ayah sedang sakit," ucap Tasya pelan.
...***...
Keesokan harinya, seperti yang telah disepakati, Tasya mulai bekerja sebagai sekretaris Devan. Dia dengan tekun mempelajari hal apa saja yang harus dilakukan oleh seorang sekretaris. Saat dia tidak mengerti, Tasya pun tidak sungkan bertanya pada Diandra yang memang teman satu kampusnya.
"Dian, aku kho baru tahu hari ini kalau pemilik Sky D itu adiknya Devanya. Apa Tuan Davin pacarmu?" tanya Tasya saat menjelang jam makan siang.
"Davin suami aku. Kamu jangan pernah berpikir untuk menggoda dia," ketus Diandra. Entahlah, dia merasa sensi saat ada gadis yang mencari tahu tentang suaminya.
"Wah, kamu ternyata Nyonya Bos. Sorry ... sorry ... Aku gak ada niatan untuk jadi pelakor."
"Bukankah kamu sering ...." Diandra tidak melanjutkan ucapannya karena dia mendadak tidak enak hati untuk bertanya hal yang sensitif pada Tasya.
"Aku hanya menemani mereka yang ingin aku temani. Bukan merebut milik orang lain. So, kamu jangan khawatir aku akan menggoda suami orang karena itu tidak akan aku lakukan," ucap Tasya.
Dia sedikit tersinggung dengan apa yang Diandra katakan. Meskipun benar dia dikenal sebagai ayam kampus semasa kuliah dulu. Tapi kencan seharinya tidak pernah berlanjut pada hubungan yang serius.
__ADS_1
Keduanya saling terdiam, sampai akhirnya Davin dan Devan datang untuk mengajak mereka makan siang bersama. Diandra tersenyum manja pada Davin. Dia masih khawatir, Tasya akan merebut miliknya.
"Ayo, Sayang!" ajak Davin seraya merangkul Diandra.
Tasya yang melihat kemesraan itu hanya melongo saja. Dia tidak menyangka kalau Diandra bisa begitu mesra dengan adik sahabatnya sendiri.
"Awas tuh ilernya netes! Lihat orang lain mesra sampe melongo gitu." Devan menepuk pundak Tasya. Membuat gadis itu dengan refleks mengusap bibirnya sendiri. Saat dia tersadar sedang dikerjai, Tasya langsung memukul tangan Devan pelan.
"Iseng banget sih, Van!" dengus Tasya.
"Hahaha ... Baru tahu ya! Udah yuk nyusul mereka!" ajak Devan.
Keduanya berjalan beriringan menuju ke lift. Di sana Davin dan Diandra sudah menunggunya. Namun, Devan merasa heran dengan sikap waspada Diandra pada Tasya. Seolah-olah Tasya akan merebut miliknya.
Kenapa Dian? Aneh banget! Memangnya Tasya merayu Davin atau Dian tahu kalau Davin pernah jalan dengan Tasya? Perasaan mereka berdua tidak saling mengenal sebelum hari ini, batin Devan.
Saat tiba di cafetaria, mereka pun langsung mencari meja kosong yang nyaman. Diandra langsung menutup hidungnya saat mencium wangi kopi yang dibawa oleh pelayan. Entah kenapa, perutnya terasa diaduk-aduk seperti ada sesuatu yang ingin dikeluarkan. Dengan menahan rasa mual, dia pun berlalu pergi ke toilet.
Hoek ... hoek ....
Diandra terus saja mengeluarkan isi perutnya yang berupa cairan. Dia tidak menyadari kalau Tasya tadi mengikutinya karena khawatir. Hingga ada sebuah tangan yang memijat tengkuknya, barulah dia menyadarinya.
"Oles pakai kayu putih dulu lehernya, biar gak terlalu mual," ucap Tasya seraya mengoleskan minyak kayu putih ke leher Diandra
"Makasih," ucap Diandra saat dia merasa lebih baik setelah Tasya mengolesinya dengan minyak kayu putih.
"Sama-sama. Dian, apa kamu sedang hamil?"
"Apa? Hamil? Aku baru saja ...." Diandra tidak melanjutkan ucapannya saat dia teringat dari bulan kemarin belum datang bulan.
Apa benar aku hamil? Tapi aku tidak merasakan gejala morning sick seperti mama, batin Diandra.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1
Sambil nunggu Brondong Tajir update, yuk kepoin karya teman Author yang satu ini