Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 45 Belanja oleh-oleh


__ADS_3

Mobil melaju dengan kecepatan tinggi membelah kota Cikarang. Dave sedari tadi diam seraya mengemudi. Bibirnya seakan terkunci. Hanya tangan dan kakinya saja yang sedari tadi terus mengendalikan laju mobil.


"Dave, aku minta maaf! Tadi aku hany mengucapkan selamat pada kakaknya Reina karena sekarang dia sudah mendapat pekerjaan di sini," jelas Sevia.


Bukannya menjawab, Dave malah langsung menancap gas menambah kecepatannya. Sevia langsung terdiam dengan mata terpejam dan mulut komat-kamit. Dia terus berdo'a semoga selamat sampai tujuan. Sampai akhirnya, mobil memasuki sebuah mall pertama dan terkenal di kota itu, barulah Dave menurunkan laju kecepatannya.


"Turun!" suruh Dave yang melihat Sevia masih memejamkan matanya.


"Sevia turun!" suruh Dave dengan sedikit meninggikan suaranya.


Mendengar suara Dave yang sedikit meninggi, Sevia pun langsung membuka matanya. Dia celingukan melihat keadaan sekitar yang ramai dengan orang yang berlalu lalang. Sampai akhirnya, dia tersadar kalau sudah berada di parkiran Mall.


"Dave, kita ke mall?" tanya Sevia memastikan.


"Menurutmu? Cepat turun! Sebentar lagi mall-nya tutup," Dave langsung keluar dari mobilnya yang langsung diikuti oleh Sevia dari belakang.


Tanpa membuang waktu lama, Dave langsung menuju ke supermarket. Dia sengaja membawa istrinya ke sini untuk membeli oleh-oleh buat mertuanya di kampung. Memang sedari dalam perjalanan dari Jakarta, Dave sudah menyusun rencana untuk mengajak Sevia membeli oleh-oleh untuk neneknya di kampung. Namun, saat dia menjemput istrinya di kampus, hatinya serasa terbakar melihat tangan Sevia sedang digenggam oleh lelaki lain.


"Dave, untuk apa kita ke supermarket?" tanya Sevia yang masih bingung. Seingatnya kebutuhan bulanan mereka masih banyak di apartemen.


"Menurutmu? Aku ke supermarket untuk dekat-dekat dengan cowok lain?" tanya Dave menyindir Sevia.


Sevia langsung bergelayut manja di tangan kekar suaminya. Dia tidak peduli dengan pandangan sinis orang-orang yang melihatnya. Yang terpenting sekarang, brondongnya tidak marah lagi.


"Dave, aku minta maaf! Janji deh gak salaman sama cowok lagi kalau gak ada kamu," rayu Sevia.


Dave masih diam tidak merespon Sevia. Dia langsung mengambil troli dan masuk ke dalam supermarket. Mata birunya menangkap jejeran ponsel yang terpajang rapi di etalase saat pertama kali dia masuk ke dalam supermarket. Setelah melihat-lihat dan bertanya pada SPG, akhirnya dia membeli satu ponsel keluaran terbaru. Sementara Sevia hanya melihat saja tidak ada niat untuk bertanya buat siapa Dave membeli ponsel.


Setelah mendapatkan ponsel, Dave langsung menuju ke area makanan dan minuman kemasan. Tangannya langsung memilih makanan apa saja yang menurutnya cocok untuk dijadikan oleh-oleh dan bekalnya selama perjalanan menuju ke kampung istrinya. Melihat Sevia yang hanya mengikutinya tanpa mengambil makanan apapun, Dave langsung menghentikan kegiatannya dan langsung berbalik menghadap Sevia.

__ADS_1


"Pilihlah apapun yang kamu mau! Pilihkan juga makanan kesukaan nenekmu!" suruh Dave.


"Seriusan Dave? Kamu udah gak marah kan? Aku gak mau pulang kalau kamu bawa mobilnya seperti tadi." Kini bergantian Sevia yang merajuk.


"Iya, udah cepat pilih! Sekalian buat saudara kamu juga," suruh Dave.


"Makasih, ganteng!" ucap Sevia sedikit menjijitkan kakinya lalu mencolek dagu Dave.


Aku pikir dia mau mencium pipiku atau gak bibirku karena senang. Ternyata hanya mencolek pipiku, batin Dave.


Tanpa sungkan lagi, Sevia langsung memilih makanan yang sekiranya disukai oleh neneknya. Tak lupa juga buah-buahan berkualitas premium menjadi incarannya. Merasa troli yang dibawa Dave sudah penuh, barulah Sevia menghentikan aksi berburu oleh-olehnya. Dave hanya menggelengkan kepala melihat apa yang istrinya lakukan. Bibirnya terangkat membentuk bulan sabit. Dia senang saat bisa membuat istrinya senang.


"Dave sudah yuk! Udah penuh tuh!" ucap Sevia.


Saat mereka sedang mengantri di kasir, tanpa sengaja Sevia melihat deretan es krim di dekat meja kasir, sehingga dia pun langsung pergi untuk mengambilnya.


Sevia hanya tersenyum menanggapi pertanyaan ibu tadi. Sedikit pun dia tidak berniat untuk menjawabnya. 'Untuk apa menjelaskan pada orang yang tidak kita kenal?' pikirnya.


"Kenapa ambil yang kecil?" tanya Dave saat Sevia kembali dengan es krim yang ada di cup kecil.


"Gak apa-apa, ayo giliran kita!" Sevia langsung menarik troli yang sedari tadi dijaga oleh Dave.


Dave hanya mengikuti apa yang istrinya lakukan. Sampai saat sudah di depan kasir, Sevia langsung memberikan es krim agar di scan terlebih dahulu. Kemudian dia pun membantu Dave untuk mengeluarkan barang belanjaannya di meja kasir. Setelah semua berada di meja kasir, Sevia pun pamit pada suaminya.


"Dave, aku tunggu di kursi ya! Es krimnya mau meleleh. Kakiku juga sangat pegal," keluh Sevia.


"Istirahatlah, biar belanjaan aku yang urus." Dave mengelus rambut Sevia lembut sebelum istrinya itu beranjak pergi.


Ibu-ibu yang tadi mengira Sevia pembantunya menjadi bengong melihat sikap Dave pada Sevia. Tak jauh beda dengan kasir dan orang-orang yang masih mengantri. Mereka tidak menyangka gadis yang penampilannya biasa saja ternyata mendapat perhatian lebih dari pria tampan di depannya. Untung saja Dave tidak membuka kacamata hitamnya, sehingga mereka tidak semakin terpukau dengan mata birunya yang sangat jarang di temui di negeri ini.

__ADS_1


Setelah membayar semua belanjaannya, Dave pun segera menghampiri Sevia yang sedang duduk seraya memakan es krimnya. Dave langsung membuka mulutnya meminta disuapi saat dia sudah duduk di samping Sevia.


"Udah habis, Dave!" Sevia langsung memasukkan es krim yang tinggal satu sendok lagi ke mulut suaminya.


"Tidak apa! Apapun dari tanganmu, makanannya akan terasa enak," ucap Dave.


"Dave aku lapar! Kita cari makan yuk!" ajak Sevia.


"Makan di luar aja ya! Sudah hampir jam sembilan, mall-nya akan segera tutup," ucap Dave.


"Boleh Dave! Aku mau makan pecel ayam sama nasi uduk. Kamu suka kan?" tanya Sevia.


"Aku suka makanan negeri ini Via. Kamu gak usah khawatir! Meskipun kata orang aku bule tapi sedari kecil aku tinggal di sini," jelas Dave.


"Bule lokal dong!" tebak Sevia.


"Tepatnya aku bule Menteng. Karena aku tinggal di sana bersama Om dan Tanteku," ucap Dave.


Sudah hampir setahun hidup bersamanya, tapi banyak yang tidak aku ketahui tentang dia. Bahkan siapa keluarganya saja, aku tidak tahu. Apa seperti ini resiko menjadi seorang istri simpanan? Batin Sevia.


"Malah bengong! Ayo, katanya mau makan!" ajak Dave seraya bangun dari duduknya dan langsung diikuti oleh Sevia.


Maafkan aku, Via! Untuk saat ini aku belum bisa membawamu untuk bertemu dengan om dan tanteku. Suatu saat nanti, aku yang akan mengakui sendiri tentang pernikahan kita di depan mereka.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Jangan lupa klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....


...Terima kasih!...

__ADS_1


__ADS_2