
Suasana pagi di kaki gunung Ciremai di penuhi oleh kabut putih. Hawa dingin yang menusuk ke kulit membuat Keano semakin mengeratkan pelukannya pada Devanya. Namun, panggilan alam memaksanya untuk bangun dan beranjak pergi ke dalam toilet.
Dengan mata yang tidak sepenuhnya terbuka, Keano pun kembali ke tempat tidur dan berencana untuk kembali merangkai mimpi indah bersama dengan istrinya. Akan tetapi, tanpa sengaja kakinya menginjak sesuatu, sehingga dia pun langsung berjongkok dan melihat benda apa yang sudah diinjaknya.
"Siapa yang nyimpan ini di kamar? Kenapa seperti pelacak?" gumam Keano.
Setelah kesadarannya penuh, Keano pun langsung melotot tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia terus meneliti benda kecil yang ada di tangannya.
"Sepertinya ada yang ingin bermain-main denganku. Pasti ini ulah duo oleng itu," gumam Keano.
Keano langsung membuka jendela dan melemparkan sejauh yang dia bisa. Hingga penyadap itu sampai di kandang kambing milik tetangga Sevia. Laki-laki tampan itu tersenyum senang karena berhasil mengerjai balik saudaranya.
Grep
Sebuah tangan tiba-tiba melingkar di perutnya yang berbentuk roti sobek. Lagi-lagi dia tersenyum saat menyadari kalau Devanya sudah bersandar di punggungnya. Sepertinya, wanita muda itu masih mencari kenyamanan untuk kembali merangkai mimpi.
"Sayang, masih ngantuk?" tanya Keano dengan mengelus lembut tangan Devanya.
"Iya, kenapa Abang melamun di sini?" tanya Devanya dengan mata yang terpejam.
"Abang sedang menghirup udara pagi. Jarang-jarang kita ada di sini," ucap Keano.
"Dingin, Bang!" keluh Devanya.
Keano membalikkan badannya hingga dada mereka saling bersentuhan. Diciumnya kening Devanya lalu turun ke kedua mata gadis itu. Namun, saat dia akan mengecup bibir tipis itu, terdengar suara pintu kamar ada yang mengetuk.
"Sayang, Abang buka pintu dulu ya! Kamu tunggu di tempat tidur saja." Keano membawa Devanya ke tempat tidur lalu dia pun segera membuka pintu kamar.
Nampak di depan pintu Sevia sedang menunggu mereka. Ibu yang sudah tidak muda lagi tetapi masih terlihat segar itu tersenyum pada menantunya. Keano pun tersenyum tipis pada Ibu mertuanya .
"Ano, apa Deva masih tidur?" tanya Sevia.
"Tadi sih udah bangun. Ada apa, Mah?" tanya Keano.
"Kalian bersiap ya, kita ke rumah Diandra jam sembilan pagi. Kalau sudah siap, Mama tunggu di meja makan untuk sarapan bersama," ucap Sevia.
__ADS_1
"Iya, Mah!" sahut Keano.
"Ya udah, Ano. Mama mau bangunkan Devan sama Ion," pamit Sevia.
Setelah kepergian Sevia, Keano langsung menemui istrinya yang ternyata kembali tidur di bawah selimut. Pemuda itu hanya tersenyum lalu mencium pipi istrinya. "Sayang, kita makan bakso yuk!"
Seketika Devanya langsung bangun saat makanan kesukaannya disebut oleh Keano. Dia langsung celingukan dengan hidung yang bergerak-gerak mencari aroma bakso. Namun, ternyata usahanya sia-sia.
"Bang, baksonya mana?" tanya Devanya.
"Abang kan cuma ngajak makan bakso bukan bilang ada bakso. Ayo kita mandi, mama sudah menunggu di meja makan!" ajak Keano.
"Bang, aku males mandi. Di sini airnya dingin banget seperti air es."
"Tapi air yang dari gunung asli itu bikin seger, Ay. Ayo cepat naik! Biar Abang gendong sampai kamar mandi." Keano langsung memposisikan diri membelakangi Devanya.
Gadis bermata itu hanya menurut begitu saja karena dia merasa sangat malas untuk beranjak dari tempat tidur. Sementara sang suami dengan setia menggendong sang istri yang sedang kambuh manjanya. Dia tidak merasa risih dengan kemanjaan Devanya, karena jauh sebelum mereka menikah, Keano sudah tahu kalau Devanya begitu dimanja oleh papanya.
"Aje gile ... Gak sama papa, gak sama Bang Ano, gak sama aku pengennya digendong. Woy, Kak! Malu dong udah nikah masih minta gendong," cela Devan saat mereka berpapasan.
"Jangan rese deh, Van. Bilang saja iri, karena semua orang sayang sama Kakak. Makanya jadi orang jangan nyebelin tapi harus menggemaskan kaya Kakak. Iya kan, Bang?"
"Iseng apaan, Bang? Kita berdua itu anak Sholeh, benar gak, Ion?" Devan mencari dukungan pada Orion yang tidak mengerti pangkal ujung pembicaraan Devan dan Keano.
"Benar, itu Bang. Kita anak Sholeh tapi bukan keturunan Pak Sholeh," ucap Orion dengan mata yang tidak lepas dari Devanya.
"Sudahlah! Abang mau mandi dulu. Kalian kenapa belum bersiap? Bukannya kita mau ke rumah Diandra?"
"Nanti Bang, kita mau cuci mata dulu. Cewek sini manis-manis gak bosenin lihatnya. Ayo, Ion!" Devan langsung merangkul pundak sahabatnya. Mereka mau menikmati udara pagi di teras rumah seraya melihat orang-orang yang berlalu lalang di depan rumah mendiang eyangnya.
...***...
Keluarga Sky nampak begitu serasi dengan motif batik yang seragam mereka pakai. Meskipun semua serba dadakan, tetapi kekuatan uang mampu menyulap semuanya menjadi mudah. Bahkan baju batik yang sekarang mereka pakai pun begitu mendadak Sevia pesan di toko batik terbesar yang ada di kota udang.
Mobil mewah berjajar beriringan menyusuri jalanan desa menuju ke rumah Rani. Begitu banyak decak kagum yang mereka dengar dari warga sekitar. Bahkan, banyak anak kecil yang berjejer di pinggir jalan.
__ADS_1
Sevia yang sudah menukar uang menjadi lembaran dua puluh ribuan, dia pun memberi uang pada anak-anak itu satu per satu. Meskipun nilainya tidak seberapa, tetapi mereka begitu bahagia mendapatkan uang dari orang kaya yang lewat di jalan desanya.
Sesampainya di rumah Rani, terlihat panggung yang megah di pekarangan rumah itu. Tenda biru dengan Mega mendung yang dihias begitu indah. Tidak ketinggalan pelaminan dengan bunga hidup yang menghiasi.
Davin sempat tertegun dengan apa yang dilihatnya. Bukankah semalam saat dia mengantar Rani, semua itu belum ada. Tetapi kenapa sekarang semuanya sudah siap?
"Mah, Dian mau dilamar sama siapa? Apa dia akan menikah lagi? Bukankah, sekarang dia sudah jadi istriku?" bisik Davin cemas.
"Kamu, maunya Dian dilamar sama siapa? Sama kamu atau sama laki-laki lain?" tanya Sevia.
"Tentu saja sama Aku," tukas Davin.
"Ya sudah, sana kamu lamar Dian sekarang!" suruh Sevia.
"Mah, kenapa acara lamarannya seperti acara nikahan?"
"Karena kamu akan menikah ulang dengan wali yang sah. Dian masih punya kakek yang bisa menjadi walinya, tapi kamu dengan gampang memakai wali hakim tanpa persetujuan wali sahnya Dian. Mama khawatir, pernikahan kamu dengan Dian tidak sah." Sevia menghela napas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"Saat ikut kajian kemarin, Mama pernah mendengar sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: Wanita mana saja yang menikah tanpa seizin walinya, maka nikahnya batal, nikahnya batal, nikahnya batal, apabila telah terjadi hubungan suami istri, maka laki-laki itu wajib membayar mahar atas sikapnya yang telah menghalalkan kehormatan wanita tersebut. Apabila para wali enggan menikahkan seorang wanita, maka pihak penguasa (hakim) bertindak sebagai wali bagi orang yang tidak mempunyai wali (HR. Ahmad)."
"Makanya, Mama dengan Tante Rani buru-buru membuat rencana ini. Kamu harus berterima kasih sama Tante Rani, karena dia berlapang dada mau memaafkan dan menerima kamu sebagai menantunya."
"Maafkan Davin, Mah. Davin janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama," ucap Davin sendu.
Tanpa bicara lagi, Sevia langsung mencubit tangan putranya gemas. Bagaimana tidak, kalau sampai Davin melakukan kesalahan yang sama, berarti dia berencana menikah diam-diam lagi dengan gadis yang lain.
"Dengar Davin! Mama merestui pernikahan kamu dengan Dian, tapi Mama melarang keras kamu menyakiti hati perempuan. Apalagi kalau sampai berpaling pada gadis yang lain," tegas Sevia.
"Iya, Mah. Davin janji akan mencintai Diandra sepenuh hati."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1
Sambung nunggu Brondong Tajir update, yuk kepoin cerita keren yang satu ini.