Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 121 Surat Kuasa


__ADS_3

Elisa terus merenungi hidupnya. Dia yang sedari kecil dimanjakan dengan uang, selalu menganggap kalau uang sumber kebahagiaannya. Namun ternyata, kini dia merasa uang tidak artinya lagi dibandingkan dengan ketenangan hidup.


"Semakin hari, umurku semakin tua. Mungkin sebentar lagi, Tuhan akan segera memanggil aku. Tapi, aku malah pusing memikirkan kehidupan di dunia. Sudahlah, tinggal di rutan atau di panti jompo mungkin lebih baik. Cucuku sendiri tidak mengharapkan kehadiran aku," gumam Elisa.


Dia yang dulu selalu mengejar dunia, kini harus merasakan sakitnya ditinggalkan oleh orang yang dia harapkan akan menjadi teman di usia senjanya. Elisa pun akhirnya memutuskan untuk menyerahkan diri ke polisi. Setidaknya di sana akan banyak wanita yang memiliki nasib tidak beruntung sepertinya sehingga dia tidak akan merasa sendiri.


Elisa yang sedang asyik dengan lamunannya, mulai tersadar saat ada yang mengetuk pintu kamarnya. Dia pun langsung menyuruh masuk karena memang pintunya tidak dikunci. Sevia pun langsung membuka pintu setelah disuruh masuk oleh penghuni kamar.


"Maaf, Nek. Makan malam sudah siap, Dave dan yang lain menunggu Nenek di meja makan," ucap Sevia.


"Kamu istri Dave kan?" bukannya menjawab, Elisa malah bertanya pada Sevia.


"Iya, Nek! Apa nenek lupa kalau kita pernah bertemu?" tanya Sevia.


"Waktu itu kamu dandan jadi terlihat berbeda dengan keseharian," ucap Elisa. "Nak, nenek titip Dave. Dia hanya sendiri di dunia ini. Kamu tahu kan kalau orang tuanya sudah tidak ada. Tolong jaga dan sayangi dia!"


"Iya, Nek! Aku pasti akan menjaga dan menyayanginya tanpa nenek minta," sahut Sevia.


"Terima kasih!"


Dave yang tidak sengaja mendengar pembicaraan dua wanita beda generasi itu, hatinya menjadi bergetar. Dia tidak menyangka neneknya akan mengkhawatirkan dia.


"Nenek ayo makan! Yang lain sudah menunggu," ajak Dave setelah menetralkan perasaannya.


"Ayo, Nek!" ajak Sevia seraya memapah Elisa menuju ke meja makan.


Sesampainya di meja makan, nampak Harry dan Rani yang sedang saling menggoda. Namun mereka langsung berhenti saat melihat kedatangan Dave, Sevia dan neneknya. Mereka pun makan dengan tenang sampai makanan habis di piring barulah ada orang yang berbicara.


"Dave, terima kasih sudah menampung nenek di sini. Sepertinya, Nenek akan kembali ke rutan. Nenek hanya minta, jangan memberi uang dari perusahaan Nenek pada Dion. Selain itu, bikinkan nenek surat kuasa. Nenek akan memberi kuasa padamu untuk menjalankan atau membuat perusahaan itu gulung tikar. Setelah Nenek bisa memastikan Dion turun dari posisinya sekarang, Nenek akan kembali ke rutan dan menjalani sisa hukuman." Elisa bicara panjang lebar membuat Dave dan Harry hanya diam tak bergeming.


Mereka tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Bukankah Elisa kabur agar terbebas dari hukuman? Tapi apa yang mereka dengar sekarang sungguh jauh dari prasangka mereka.

__ADS_1


"Apa Nenek yakin dengan apa yang Nenek katakan?" tanya Dave.


"Iya, aku yakin! Lakukanlah apa yang aku katakan sebelum baku berubah pikiran," sahut Elisa.


"Baiklah, Nek!"


Setelah perbincangannya dengan Elisa, Dave segera mengabulkan apa yang Elisa inginkan. Dia pun segera ke perusahaan K'Lisa cosmetics dan meminta semua pemegang saham untuk mengadakan rapat darurat perihal pergantian CEO. Mereka yang tidak setuju dengan pergantian CEO yang mendadak, tidak bisa berbuat apa-apa karena persentase saham mereka masih kalah dengan yang Elisa miliki meskipun digabungkan.


"Baiklah, dengan ini saya tutup meeting hari ini dengan menunjuk Tuan Danuarta sebagai CEO sementara K'Lisa cosmetics dan menurunkan posisi Tuan Dion Kuncoro dari posisinya sebagai CEO. Semoga semua peserta peserta meeting hari ini bisa bekerja sama dengan CEO baru." Dave menutup meeting daruratnya.


Dia tidak peduli dengan suara bisik-bisik dari para pemegang saham. Yang penting baginya, dia sudah menjalankan amanah seperti yang Elisa inginkan.


...***...


Sementara itu, jauh dari kota tempat di mana Sevia tinggal, nampak Nadine terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Dia baru saja menjalani operasi pengangkatan ginjal, karena tusukan dari Elisa menembus ginjalnya. Sehingga mengakibatkan kerusakan yang sangat parah. Sementara Dion yang tidak tahu dengan apa yang telah dilakukan Elisa setelah kepergiannya, nampak begitu santai menjaga Nadine di rumah sakit.


"Nadine, besok aku harus ke kantor. Sudah beberapa hari ini aku tidak kerja karena menjagamu," ucap Dion.


"Kamu memang gadis yang pengertian," puji Dion.


Nadine hanya tersenyum menanggapi apa yang ATM berjalannya katakan. Dia selalu mengiyakan selama Dion memberinya uang dalam jumlah yang banyak. Namun, Nadine dibuat terkejut dengan apa yang di dengarnya saat Dion menerima telepon dari asistennya.


"Hallo, Pram! Ada apa menghubungi aku? Bukankah sudah aku bilang jangan mengganggu selama beberapa hari ini?" tanya Dion saat dia menerima panggilan telepon dari asistennya.


"Ini gawat, Bos! Bos harus cepat kembali ke perusahaan. Cucunya Nyonya Elisa mengadakan meeting darurat. Dia mengangkat Tuan Danuarta untuk menjadi CEO sementara menggantikan bos." Pram bicara tanpa jeda saat memberitahu bosnya tentang pengangkatan CEO sementara di perusahaan.


"Apa kamu bilang???!!! Jangan gila Elisa! Aku yang memegang kendali perusahaan. Dia tidak bisa seenaknya berbuat seperti itu," geram Dion.


"Lebih baik, bos cepat pulang! Aku tunggu di sini." Pram langsung menutup panggilan teleponnya. dia tidak mau mendengarkan Omelan dari Dion sehingga dia pun segera menghindarinya.


"Kurang ajar!!! Kamu bermain-main denganku Elisa. Bukannya membusuk di penjara, malah menyusahkan hidupku," gerutu Dion dengan tangan terkepal.

__ADS_1


Nadine yang samar-samar mendengar pembicaraan Dion dan asistennya, dia pun langsung menanyakan kebenarannya. "Mas, ada masalah apa?"


"Nadine, aku harus kembali sekarang. Ada hal penting yang harus aku urus. Kamu tidak apa-apa kan, aku tinggal dulu?"


"Iya gak apa-apa, Mas. Selesaikan saja urusannya, di sini ada perawat yang menjagaku."


Ditinggal sebentar tidak masalah bagiku, asal aku menjadi istri seorang CEO, batin Nadine.


Dion pun segera menuju ke perusahaan tempatnya bekerja. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, akhirnya dia sampai di K'Lisa cosmetics. Dion segera menuju ke ruangannya untuk memastikan apa yang dia dengar dari assisten-nya.


Brak!


Dion langsung membuka pintu ruangannya dengan kasar. Nampak di sana, Dave dan Danuarta sedang membicarakan sesuatu. Dengan dada yang naik turun, Dion pun langsung bicara pada Dave.


"Mr. Dave, apa yang Anda lakukan? Kenapa Anda ikut campur dengan urusan internal perusahaan saya?" tanya Dion dengan nada yang lumayan tinggi.


"Maaf, Tuan Dion. Saya hanya menuruti amanah dari Nyonya Elisa. Kalau Anda tidak percaya, Anda boleh melihat surat kuasa yang dibuat oleh Nyonya Elisa dengan kesadarannya."


Dave langsung memberikan surat kuasa yang sudah ditandatangani oleh Elisa dan distempel. Dion pun langsung menerima dan membacanya.


"Tidak mungkin, Elisa tidak mungkin membuatnya. Dia begitu tergila-gila padaku."


"Itu dulu, sebelum dia sadar dengan kesalahannya. Maaf Tuan Dion, silakan bereskan barang-barang Anda!"


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Biar othor tambah semangat update....


Sambil nunggu othor Update, baca juga karya Bestie Author yang keren ini


__ADS_1


__ADS_2