
Hari-hari pun terus berlalu, seperti yang direncanakan oleh Keluarga Putra, mereka akan melaksanakan resepsi pernikahan putrinya. Pesta megah yang dilaksanakan di hotel milik keluarga Malik Pratama kini persiapan sudah mencapai 99%.
Zee nampak cantik dengan gaun pengantin yang berwarna pastel. Mahkota yang bertabur berlian menghiasi kepalanya. Dia dan para sahabatnya sudah siap dengan pasangannya masing-masing. Sevia datang ke kamar pengantin bersama dengan Dave. Sementara Rani tidak ikut ke pesta karena Gavin sedang demam.
"Selamat ya Zee, akhirnya go publik juga." Dave mengulurkan tangannya memberi selamat pada saudara angkatnya.
"Makasih, Dave! Kata Mama, Kak Via sedang hamil anak kembar ya," sahut Zee. "Wah hebat kamu Dave, udah mau punya anak tiga aja."
"Kamu jadi hot Daddy, Dave!" timpal Kejora.
"Iya bener hot di kamar hot di perusahaan," celetuk Edelweiss.
"Sudah pasti, Dave gitu. Benar kan sayang?" Dave langsung merangkul pundak Sevia dan mendekatkan padanya.
"Bisa aja kamu, Dave." Pipi Sevia langsung bersemu merah.
"Kak Via, jangan sungkan gabung sama kita-kita. Kita seneng loh bisa kenal dengan kakak. Apalagi,
sekarang ada baby yang gemesin. Oh iya, Devanya sama siapa?" tanya Zee.
"Tadi sama Tante Icha. Katanya mu dikenalin dengan anak-anak rekan bisnisnya om," jelas Sevia.
"Untung saja Orion masih bayi, coba kalau sudah sebesar Devanya, pasti mama yang mendominasi." Zee menerawang jauh ke depan.
"Tenang sayang, nanti kita bikin adik buat Orion secepatnya," ucap Malvin.
"Hey, Malvin! Aku aja belum nikah, kamu sudah rencana mau nambah anak. Kalian keluarga Putra nyebelin. Nikah duluan, punya anak duluan. Gak solid sama saudara yang masih jomblo," semprot Edelweiss.
"Kamu aja gak gercep, makanya jangan jual mahal kalau Barra ngajak nikah." Cibir Kejora.
Edelweiss hanya tersenyum kecut mendengar apa yang Kejora katakan. Meskipun mereka bersahabat dekat, tetapi Edelweiss tidak pernah mengatakan isi hati yang sesungguhnya.
Bukan aku yang jual mahal, tapi Barra yang tidak ada niatan untuk cepat-cepat melamar aku. Mungkin dia belum yakin sama aku dan mengira aku masih mengharapkan Dave. Meskipun benar aku menyukai Dave, tapi aku tidak pernah berpikir untuk mendapatkan dia setelah dia menikah dan punya anak, batin Edelweiss.
"Aku pasti akan melamar kamu, tapi tidak dalam waktu dekat. Bersabar ya!" Barra mengelus lembut rambut kekasih hatinya.
__ADS_1
Dia akui kalau dia belum yakin dengan perasaan Edelweiss karena dia sangat tahu kalau gadis yang sekarang jadi kekasihnya itu, dulu sangat mencintai Dave.
"Gak apa, Barra. Tidak perlu grasak grusuk buat nentuin gadis yang akan kamu nikahi, karena menikah itu bukan buat untuk sehari dua hari tapi untuk jangka waktu yang lama." Edelweiss pun tersenyum samar menanggapi ucapan kekasihnya.
"Sudahlah, kita di sini untuk berbahagia merayakan pernikahan Zee. Jangan melow gitu dong! smile-smile," ucap Dave untuk mencairkan suasana.
Tak lama kemudian datang utusan yang menyuruh mereka semua untuk memasuki ruangan pesta, karena tamu sudah menunggu dan acara resepsi pernikahan akan segera dimulai.
Zee dan Malvin berjalan paling depan, disusul Dave dan Sevia di belakangnya, kemudian Kejora dan kekasihnya dan terakhir Edelweiss dengan Barra. Sedangkan Arfaaz sudah duduk bersama dengan kedua orang tuanya. Karena tidak mungkin dia ikut jadi pengiring kalau dia tidak punya pasangan.
Banyak tamu yang berdecak kagum dengan kecantikan dan ketampanan pasangan pengantin. Apalagi para pengiringnya yang tak kalah cantik dan tampan. Namun, ada seorang gadis di pojokan sana yang mengepalkan tangannya dengan sorot mata yang membunuh.
Mona yang tahu tentang pesta pernikahan Zee, dia pun sengaja menghadirinya dengan membawa undangan milik teman sekolahnya. Dia benar-benar marah saat tahu kalau Zee dan Malvin sudah menikah.
Tunggu saja Zee! Aku akan segera mengirim kamu ke neraka. Kamu tidak pantas menjadi pendamping Malvin. Karena dia milikku hanya milikku, geram hati Mona.
Sementara Zee, yang tidak tahu kalau ada orang yang mengincarnya, dia nampak bahagia berada di pelaminan. Senyum manis terus menghiasai bibirnya saat menyambut tamu yang memberinya ucapan selamat. Begitupun dengan Malvin, yang biasanya selalu bersikap dingin pada oang kini menjadi begitu ramah menyambut tamu.
"Sayang, kalau kamu pegal duduk saja. Biar aku yang menyambut mereka," bisik Malvin.
Sementara, Dave dan Sevia langsung bergabung dengan Icha dan Al yang sedang berkumpul bersama Keluarga Wiratama. Mereka begitu ayik menggoda Devanya dan Keano. Dasar para orang tua, senang sekali mengerjai anak-anak yang menggemaskan
"Wah Dave, nanti kalau putri kamu sudah besar, Om mau jadikan dia cucu menantu. Biar nanti keturunan Om ada yang bermata biru seperti kamu," ucap Andrea. "Mau kan Ano, nikah sama Deva? Lihat dia cantik sekali!"
Keano menuruti apa yang kakeknya katakan. Dia pun melihat ke arah Devanya sekilas. "Cantikan mama," ucapnya.
"Om, putriku ditolak. Dia tidak menyukai Deva," keluh Dave dengan memasang muka melas.
"Kamu tenang saja, dulu mamanya juga seperti itu. Tapi buktinya dia punya Keano," bisik Andrea.
Aku lupa, kalau dulu Kak Allana suka judes sama Bang Dika, tapi akhirnya dia cinta mati dan ditinggal saat lagi sayang-sayangnya sama Bang Dika, batin Dave.
Pesta pun berjalan dengan lancar. Nampak pasangan pengantin itu begitu menikmati pesta untuk merayakan pernikahannya. Apalagi, para sahabatnya menyumbangkan lagu dan bergoyang bersama untuk memeriahkan pesta. Sampai terdengar ada seseorang yang menyumbangkan sebuah lagu sedih di tengah-tengah acara pesta.
"Ku tak bahagia, melihat kau bahagia dengannya.
__ADS_1
Aku terluka, tak bisa dapatkan kau sepenuhnya."
Nampak Mona berjalan dengan anggun ke atas panggung kecil yang sudah disediakan untuk pengisi acara. Dia begitu menghayati menyanyikan lagu milik Armada itu. Sampai saat Mona menyanyikan lagu bagian reff, dia berjalan mendekat ke arah Zee dan Malvin.
Mona terus bernyanyi membuat tamu undangan terhanyut dengan lagu yang dia bawakan. Sampai saat dia sudah berada di depan Zee dan Malvin, dengan cepat Mona mengambil pistol yang disimpannya di dalam tas tangan miliknya.
Dave yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Mona, langsung berlari dan melompat menuju ke arah pelaminan. Namun, sepertinya dia datang di waktu yang kurang tepat karena Mona sudah melepaskan pelatuknya.
Dor!
Timah panas yang seharusnya mengarah pada Zee, kini bersarang di perut Dave. Pria bermata biru itu ambruk seraya memegang perutnya yang berlumuran darah.
"Dave!!!" pekik semua orang yang kenal dekat dengan pria bermata biru itu.
Sevia, Icha dan Al segera berlari memburu tubuh Dave yang tertidur di pangkuan Zee. Semua yang hadir merasa kaget dengan apa yang terjadi. Mereka tidak ada yang menyangka, Mona seorang putri dari keluarga terhormat bisa melakukan hal jahat seperti itu.
"Cepat bawa tandu ke mari!!" teriak Al
"Cepat tangkap gadis itu! Jangan biarkan dia lolos!" suruh Andrea pada anak buahnya.
"Bertahanlah, Dave!" Sevia hanya bisa menangis di samping Dave saat melihat suaminya yang sedang mendapatkan pertolongan pertama dari Kejora.
"Aku, baik-baik saja. Jangan menangis!" pinta Dave.
Tak lama kemudian, beberapa pegawai hotel membawa tandu dan segera membawa Dave ke mobil untuk segera dilarikan ke rumah sakit. Sevia yang ikut mendampingi Dave terus terisak melihat suaminya yang sudah pucat pasi.
"Dave, bertahanlah untukku dan anak-anak kita. Aku yakin kamu pasti kuat," lirih Sevia.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...
Mampir juga ke novel keren satu ini yuk!
__ADS_1