
Sinar mentari yang terik tidak menjadi halangan, bagi seorang gadis untuk bertemu dengan seorang pria tampan yang belum lama dikenalnya. Tasya yang sudah memiliki janji dengan Devan untuk bertemu, dia langsung membawa jaket pemuda itu. Meskipun sebenarnya dia sedang berkeliling mencari lowongan pekerjaan, tetapi Tasya memilih untuk sekalian membawanya agar tidak pulang pergi ke rumah.
"Ke mana tuh orang. Janji jam makan siang, tapi belum nongol juga," gerutu Tasya dengan berkali-kali melihat ke arah pergelangan tangannya
Dia harap-harap cemas, khawatir Devan tiba-tiba membatalkan pertemuan mereka. Mana perut sudah lapar, uang sisa berobat ayahnya tinggal dua lembar yang berwarna biru. Sementara pekerjaan yang dia cari, belum membuahkan hasil. Meskipun dia memiliki IPK yang cukup tinggi, tetapi hal itu tidak menjamin dia secepatnya mendapatkan pekerjaan.
"Udah lama?" tanya Devan saat baru sampai di sana.
"Lumayan. Kirain kamu gak datang," jawab Tasya.
"Tadi aku ada meeting dengan klien. Kamu belum pesan makanan?" tanya Devan saat melihat meja masih kosong. Hanya ada segelas lemon tea yang menemani Tasya.
Tanpa menunggu jawaban dari gadis yang ada di depannya, Devan pun segera memanggil pelayan dan memesan makanan untuknya. "Tasya, kamu pesan aja. Aku yang traktir," ucap Devan.
"Baik, Van. Makasih." Tasya pun segera memesan makanan yang ada di menu. Dia tidak peduli jika harganya nanti mahal. Yang jelas Tasya ingin mencoba makanan yang belum pernah dia makan sebelumnya.
"Yakin habis?" tanya Devan sedikit meringis mendengar pesanan makanan Tasya.
"Aku lapar banget. Dari pagi melamar kerja dari satu perusahaan ke perusahaan yang lainnya. Mereka tidak ada yang mau menerima aku kerja," ungkap Tasya.
Setelah Tasya dan Devan memesan makanannya, Pelayan pun langsung pergi dari meja Devan. Sementara Tasya langsung mengambil paper bag yang dia simpan di sampingnya.
"Ini Van jaketnya. Makasih ya udah kasih pinjam," ucap Tasya.
"Kalau kamu mau, ambil saja! Di rumahku masih banyak jaket yang lain," sahut Devan.
"Di badanku kegedean. Kalau pas di badanku, gak aku balikin." Tasya pun menggeser paper bag ke arah Devan.
"Tasya, kamu nyari kerja memang kamu sudah lulus kuliah?" tanya Devan seraya menelisik wajah Tasya yang baby face.
Selama ini, Devan berpikir kalau Tasya adik tingkat Orion. Meskipun sering bersama dengan Celia dan Delisa. Ternyata umurnya lebih tua darinya.
"Aku baru lulus, barengan dengan Orion. Hanya saja beda jurusan," jelas Tasya. "Ehm ... Devan, apa kamu mau beli ... beli ...."
Susah sekali bilangnya. Kalau aku menjualnya sama dia, seenggaknya orang pertama yang menyentuhku laki-laki tampan meskipun playboy, batin Tasya.
"Beli apaan? Kenapa kamu jadi mendadak gugup?" tanya Devan heran.
__ADS_1
Tasya tidak langsung menjawab pertanyaan Devan. Dia memejamkan matanya sejenak seraya menundukkan kepala. Dia sudah berpikir berulang kali dari semenjak pulang berobat ayahnya beberapa hari yang lalu. Tidak ada jalan yang paling cepat untuk mendapatkan uang banyak selain melepaskan barang berharganya.
"Van, apa kamu ... Apa kamu mau membeli virgin?" tanya Tasya pelan.
"Apa, Sya? Apa aku gak salah dengar kalau kamu mau jual virgin?" Devan merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Iya. Aku butuh uang banyak untuk biaya operasi ayah. Kamu cukup memberiku dua ratus juta untuk mendapatkannya," ucap Tasya dengan menatap lekat Devan.
"Aku punya uang sebanyak itu, tapi aku gak butuh virgin kamu. Lagipula aku sangsi kalau kamu masih virgin. Bukankan selama ini kamu sering menemani pria-pria kesepian," tuduh Devan.
"Aku memang sering menemani mereka yang butuh teman, tapi aku gak pernah melakukan hal yang lebih dari itu. Kalau kamu memang tidak mau, seenggaknya jangan menghinaku." Tasya langsung cemberut mendengar apa yang Devan katakan tentangnya.
"Sorry! Apa kamu butuh banget uangnya? Memang ayah kamu sakit apa?" tanya Devan. Dia merasa tidak enak hati karena sudah menuduh gadis itu yang tidak-tidak.
"Gagal ginjal," jawab Tasya pelan.
Saat Devan akan bicara lagi, pelayan datang membawa pesanan mereka. Devan pun mengurungkan niatnya untuk bicara. Dia memilih diam seraya, melihat tangan pelayan itu yang gesit menyimpan pesanan makanannya di meja.
"Silakan, Mas, Mbak!" ujar pelayan itu sebelum dia pergi.
"Terima kasih, Mas!" sahut Devan. "Makan saja dulu, Sya. Nanti kita bahas lagi setelah makan."
Mereka pun makan dalam diam. Pikiran kedua melayang-layang memikirkan apa yang tadi mereka bahas. Sampai saat Devan sudah selesai makannya, barulah dia bicara.
"Tasya, aku akan kasih kamu dua ratus juta tapi kamu tidak usah menjual virgin kamu pada siapapun. Anggap saja kamu menggadaikannya padaku. Setelah kamu membayar semuanya, terserah mau kamu berikan pada siapa virgin kamu itu," ucap Devan dengan panjang lebar.
Tasya yang masih mengunyah makanannya, langsung menghentikannya dan meminum air putih. "Tapi Van, kalau aku gadaikan, aku gak punya uang untuk membayarnya. Kamu tahu sendiri, pekerjaan tetap saja belum punya. Kemarin aku kerja di cafe dikeluarkan, karena ijin lama saat harus menjaga ayah di rumah sakit."
"Besok kamu datang ke perusahan Sky D. Bilang saja ingin menemui aku. Kebetulan aku lagi butuh sekretaris. Kamu bisa kan, ngurus administrasi?"
"Bisa, Van. Aku pasti datang besok. Sekarang pun tidak masalah," ucap Tasya dengan mata yang berbinar.
Dia merasa sangat bersyukur, karena akhirnya tidak usah menjual diri untuk mendapatkan uang sebanyak itu. Dia juga senang karena akhirnya bisa operasi transplantasi ginjal ayahnya.
Kamu dewa penolongku, Van. Aku janji tidak akan memberikan virgin aku pada siapapun tanpa seijin kamu. Aku akan menganggap, kalau kamulah pemiliknya, batin Tasya.
"Tasya, kamu mau langsung pulang atau mau mampir ke tempat lain dulu? Aku harus kembali ke perusahaan, Davin menungguku di sana," tanya Devan.
__ADS_1
"Kalau ke perusahaan kamu sekarang, boleh gak?" tanya Tasya.
"Boleh aja kalau mau lihat-lihat. Tapi aku gak bisa temani kamu, soalnya mau ketemu dengan klien jam dua nanti."
"Aku hanya ingin melihat tempatnya di mana, biar besok pagi tidak salah alamat."
"Ya sudah, ayo!" Devan langsung bangun dari duduknya.
Begitupun dengan Tasya yang mengikuti ke mana laki-laki muda itu pergi. Dia baru tahu kalau Devan sudah bekerja. Selama ini dia mengira kalau Devan dan Orion hanya anak orang kaya yang suka menghambur-hamburkan uang.
"Tasya, kamu tunggu saja di mobil, aku mau ke kasir dulu," suruh Devan.
Tanpa ingin membantah, Tasya pun mengikuti apa yang Devan katakan. Dia berlalu menuju ke parkiran dan menunggu Devan di samping mobil. Tidak berapa lama kemudian Devan datang menghampirinya.
"Ayo masuk!" ajak Devan.
"Makasih ya, Van!
Devan hanya menganggukkan kepalanya seraya masuk ke dalam mobil. Namun, saat dia kan menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba saja ada yang mengetuk kaca mobilnya. Dia pun langsung menengok ke arah ketukan itu.
"Aileen, ada apalagi dia menemui aku? Bukankah urusan dengan mantan pacarnya sudah selesai?" gumam Devan.
"Ada apa Ai?" tanya Devan seraya membuka kaca mobilnya.
"Van, aku nebeng dong! Gerald terus mengikuti aku, dia tidak percaya kalau kamu pacar aku."
"Aku mau kembali ke kantor Ai."
"Gak apa, nanti aku naik taksi saja dari kantor kamu."
"Ya udah terserah! Tapi aku gak bisa antar kamu sampai rumah sakit."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan!...
...Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....