Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 5 Pancingan Dave


__ADS_3

Setibanya di rumah, nampak Dave sedang duduk di teras menunggu kedatangan putrinya. Dave yang semalam baru saja tiba di tanah air bersama istrinya setelah perjalanan dinas, malah tidak mendapati Devanya di rumah. Ditambah lagi laporan dari Bi Lina kalau Devanya memotong rambutnya sampai pendek.


Meskipun dia yakin, Orion tidak mungkin melakukan hal yang di luar batas pada Devanya, tetapi hatinya was-was. Walau bagaimanapun, dia bisa melihat tatapan berbeda dari Orion pada Devanya. Meskipun putra sahabatnya itu sering mengerjai putrinya.


"Pah, maaf! Semalam aku ketiduran di apartemen Orion," ucap Devanya dengan kepala yang menunduk. Dia sangat takut jika Dave marah padanya.


"Masuklah dulu! Mama sudah menunggumu," suruh Dave.


"Baik, Pah!" Devanya pun langsung berlalu pergi masuk ke dalam.


Setelah kepergian Devanya, Dave melihat ke arah Orion yang masih berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk. Dave pun menepuk kursi di sampingnya agar Orion ikut duduk bersamanya.


"Sini Ion duduk!" ajak Dave.


"Iya, Om!" sahut Orion.


"Coba katakan pada Om, apa yang kamu lakukan semalam pada Devanya? Om, hanya ingin mendengar penjelasan dari kamu." Dave menyeruput kopinya seraya menunggu Orion berbicara.


"Aku hanya mengerjai Deva agar dia berpikir, kalau dia dan aku sudah ...."

__ADS_1


"Jangan ulangi lagi! Om, tidak suka candaan kamu yang berlebihan seperti itu. Kamu tahu, Bagi seorang perempuan, kehormatannya sangat penting bagi mereka," tegur Dave. "Kalau kmu melakukan hal keterlaluan lagi sama Deva, Om minta maaf kalau tidak akan mengijinkan kamu berteman dengan putri Om lagi," lanjutnya.


"Om, sungguh, aku tidak melihat tubuh Vanya sedikit pun. Aku pun tidak menyentuhnya, hanya membuka bajunya. Setelah itu, membungkusnya dengan selimut. Aku ... aku tidak memakai selimut yang sama dengannya," jelas Orion panik.


Dia tidak menyangka kenapa Dave bisa mengetahui apa yang dilakukannya pada Devanya. Tapi kenapa juga, Dave juga tidak datang ke apartemennya. Entahlah, Orion tdak mengerti dengan jalan pikiran om-nya itu.


"Kamu bertanya kenapa Om bisa tahu? Selama ada sinyal internet, televisi ataupun radio, Om bisa melihat apa yang terjadi di sana. Kamu juga bertanya, kenapa Om tidak datang ke apartemen kamu? Karena Om ingin tahu apa yang akan kamu lakukan pada putri Om. Jika memang kamu melakukan hal yang di luar batas lagi, maka Om tidak akan segan lagi."


"Baik, Om!"


Ternyata pancinganku berhasil, padahal aku hanya melihat apa yang terjadi di ruang tengah karena ada CCTV yang bisa aku hack. Selebihnya aku hanya menduga-duga. Aku juga tidak datang ke sana karena semalam mendadak terkena diare, batin Dave.


"Om, aku mau ke perusahaan dulu. Ada meeting jam sepuluh," pamit Orion seraya mencium punggung tangan Dave.


Setelah kepergian Orion, Dave pun langsung masuk ke dalam rumahnya. Dia menuju ke kamar Devanya yang ada di lantai atas. Setalah Devanya menyuruhnya masuk saat dia mengetuk pintu, Dave pun langsung masuk ke kamar putrinya yang bernuansa biru langit.


"Pah, boleh Deva minta sesuatu gak?" tanya Devanya saat Dave sudah duduk di tepi tempat tidurnya.


"Minta apa? Tumben minta ijin dulu," tanya Dave dengan mengelus rambut pendek putrinya

__ADS_1


"Aku mau lanjut kuliah di luar aja, Pah. Gak apa-apa apartemennya sebelahan dengan Devan dan Davin," pinta Devanya.


"Kamu yakin? Boleh Papa tahu apa alasannya?" tanya Dave.


"Deva udah gak kuat menghadapi sikap Ion. Deva capek terus dikerjai sama dia. Deva ingin hidup tenang, menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang akan selalu menjaga Deva." Devanya menundukkan kepalanya, sampai tak terasa cairan bening keluar dari sudut matanya.


Melihat putrinya yang nampak rapuh, Dave pun segera merekuh tubuh Devanya dan membawanya ke dalam pelukan. Dave sungguh tidak tega melihat Devanya seperti sekarang.


"Maafkan Papa tidak bisa menjagamu dengan baik, jika itu memang sudah keputusan kamu, Papa secepatnya akan mengurus kepindahanmu."


Saat Devanya sedang mencurahkan isi hatinya pada Dave, tanpa mereka sadari Orion mendengar semaunya. Entah kenapa, hatinya merasa sakit saat tahu Devanya begitu tersiksa dengan ulahnya. Selama ini, dia hanya berpikir Devanya tidak mungkin akan serapuh itu karena kelakuannya.


Orion pun langsung pergi dari sana. Dia tidak jadi menemui Dave. Saat tadi dia sudah keluar dari gerbang rumah Devanya, dia baru teringat ada hal yang perlu dia diskusikan dengan Dave masalah perusahaannya.


Apa aku sangat keterlaluan mengerjai Vanya? Aku hanya ingin mengikat dia agar terus bersama aku tapi ternyata aku salah. Dia malah berniat untuk pergi jauh dariku. Padahal aku menolak ikut bersama dengan mama dan papa, karena aku takut tidak bisa melihatnya lagi. Melihat wajah kesalnya yang menggemaskan, batin Orion.


"Loh, Ion kenapa tidak masuk?" tanya Sevia yang baru saja naik ke lantai atas.


"Urusanku sudah selesai, Tan! Aku pamit, pulang dulu," ucap Orion. Dia pun langsung beranjak pergi begitu saja meninggalkan Sevia yang menggelengkan kepalanya merasa aneh pada Orion.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan!...


__ADS_2