Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 53 Pindah


__ADS_3

Malam yang biasanya selalu terasa hangat karena pelukan seseorang, kini terasa sangat menusuk kulit. Setelah tadi Sevia membereskan barang-barangnya, dia berkeliling kamar menyentuh tiap barang yang pernah menjadi saksi tentang kisahnya dengan Dave. Sevia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Tidak, dia tidak pernah menyesal dengan semua yang telah terjadi. Kebersamaannya dengan Dave memberikan banyak kenangan indah dan pengalaman baru dalam hidupnya.


"Terima kasih Dave atas semuanya, aku akan menjaga bayi kita dengan baik," ucap Sevia seeblum dia terlelap dalam tidurnya.


Keesokan harinya, Sevia sudah bersiap dengan travel bag dan tas ransel yang dia simpan di ruang tamu. Rencananya hari ini dia akan mengajukan surat resign pada perusahaan tempatnya bekerja. Dia tidak ingin menjadi buah bibir karena kehamilannya. Setelah dari perusahaan, dia akan mengajukan surat pindah ke kampusnya.


Kemarin saat Sevia sedang membuat surat pengunduran dirinya di laptop seraya bermain sosmed, Rani menghubunginya lewat sosmed dan mengabarkan kalau sekarang dia sudah tidak tinggal di Cikarang lagi karena suaminya dipindah ke Sunter, setelah diangkat menjadi pegawai. Makanya Rani memutuskan untuk mengambil perumahan di daerah yang tidak terlalu jauh dari tempat suaminya bekerja.


Setelah kedua sahabat itu saling bercerita, akhirnya Rani menawarkan untuk tinggal di dekat rumahnya karena kebetulan ada rumah yang dikontrakkan di samping dia.


"Rei, aku minta maaf! Sepertinya, aku tidak jadi tinggal di rumahmu. Aku sudah memutuskan untuk pindah kampus ke Jakarta dan tinggal di sana," ucap Sevia saat keduanya sedang menungggu kelas dimulai.


"Kenapa harus jauh, Via? Padahal aku dan keluargaku menerima kamu dengan tangan terbuka," sesal Reina.


"Aku butuh suasana baru. Tadi juga, aku sudah mengundurkan diri dari perusahaan tempatku bekerja. Aku hanya ingin fokus dengan kehamilanku. Mungkin nanti juga aku akan buka usaha saja yang sekiranya bisa dikerjakan di rumah," terang Sevia.


"Baiklah, Via! Aku hanya bisa mendukungmu, apapun itu keputusan kamu. Apa kamu sudah membeli ponsel baru? Agar aku bisa dengan mudah menghubungimu," tanya Reina.


"Belum, aku belum sempat membeli ponsel baru," jawab Sevia.


"Ya sudah, ayo aku antar! Gak apa-apa bolos sehari, kan kuisnya sudah selesai." Reina langsung berdiri dan mengajak Sevia untuk membeli ponsel baru.


"Ayo, tapi aku harus mengambil uang dulu!" sahut Sevia.


Kini kedua gadis itu sudah berada di gerai ATM yang ada di mall tempat mereka akan membeli ponsel. Namun, Sevia sangat terkejut dengan nominal yang ada di kartu saktinya. Sevia sampai menghitung berkali-kali jumlah angka dam saldonya yang kini ada sepuluh digit, karena seingatnya uang bulanan yang biasa Dave berikan jumlah angkanya hanya delapan digit.


Apa ini yang dulu Dave katakan sebagai kompensasi jika hubungan kami berakhir. Rasanya ini sangat besar untukku. Tapi syukurlah, setidaknya uang ini bisa aku pakai untuk kebutuhan bayi yang sedang aku kandung, batin Sevia.

__ADS_1


...***...


Sementara di lain tempat, nampak seorang pria dewasa seakan setengah berlari menuju ke ruang operasi. Dia baru mendapatkan kabar kalau putra angkatnya mengalami kecelakan. Karena sudah seminggu ini, dia berada di negeri Ratu Elizabeth untuk mengurus perusahaannya yang ada di sana.


Sampai di depan ruang operasi, nampak Harry, Barra, Edelweiss, Zee dan mamanya Icha yang sedang menunggu di sana. Terlihat jelas wajah-wajah khawatir dari kelima orang itu. Al yang mendapat kabar dari Barra, langsung menghampirinya.


"Sayang, kamu sudah datang?" tanya Icha langsung menghampiri suaminya.


"Turun dari pesawat, aku langsung ke sini. Mungkin Pak Komar sedang menuju ke rumah untuk menyimpan barang aku," jawab Al. "Bagaimana keadaan Dave?" tanya Al kemudian.


"Kata dokter ada pembekuan darah di otaknya setelah kecelakan itu, sehingga dia harus dioperasi dua kali," jawab Icha lesu.


"Barra, bisa kamu ceritakan kronologi kejadiannya? Katanya waktu itu waktu itu kamu yang ada di sana?" tanya Al.


"Waktu itu aku diminta tolong untuk menjemput Edel karena dia tidak bisa mengantarkanya. Dave seperti terburu-buru karena dia ada urusan, sehingga saat dia akan putar balik, Dave tidak menyadari ada bis yang sedang melaju kencang. Kecelakann itu terjadi karena Dave memotong jalan, sehingga terdorong oleh Bis dan akhirnya terhimpit antara bis dan mobil tronton yang ada di depannya," jelas Barra.


"Ya Tuhan, kenapa dia seceroboh itu?" Al menjambak rambutnya kasar. Ada ketakutan di hatinya dengan apa yang terjadi pada putra angkatnya. Dia tidak ingin apa yang dialami putranya harus menimpa putra angkatnya juga.


Tak lama kemudian, lampu ruang operasi padam. Pertanda operasi sudah selesai. Al dan yang lainnya langsung berdiri menuju ke pintu, menunggu dokter untuk memberikan penjelasan tentang bagaimana keadaan Dave.


"Dokter, bagaimana keadaan putraku?"


"Dokter, apa operasinya berjalan lancar?"


"Dokter, apa kami sudah bisa melihat Dave?"


"Dokter, apa Dave baik-baik saja?"

__ADS_1


Dokter yang baru keluar dari ruang operasi itu langsung mengangkat kedua tangannya, meminta keluarga pasien untuk tenang. Dia merasa pusing diberondong pertanyaan oleh keluarga pasien.


"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar. Untuk sementara pasien akan dipindah ke ruang ICU. Semoga dalam waktu dekat, pasien secepatnya sadar dari komanya," jelas Dokter Rio yang menangani operasi Dave.


...***...


Delapan bulan sudah berlalu. Namun Dave tidak menunjukkan adanya tanda-tanda akan segera tersadar dari komanya. Harry dengan setia menjaga sahabatnya yang sudah seperti adiknya itu. Beruntung dia memiliki istri yang pengertian seperti Nadine. Meskipun setiap hari dia pulang terlambat karena menjenguk Dave dulu setelah pulang kerja, Nadine bisa memakluminya.


Sementara itu, usia kandungan Sevia sudah memasuki sembilan bulan. Setelah kepindahannya ke ibu kota, dia mulai membuka usaha kecil-kecilan di rumahnya. Bersama dengan sahabatnya, Sevia membuka usaha sembako dan berjualan baju secara online.


"Via, hari ini aku mau menjenguk istri managernya Mas Diwan. Dia melahirkan di rumah sakit internasional yang mehong itu. Aku penasaran dengan fasilitas rumah sakit yang katanya saham terbesar rumah sakit itu pemilik AP Technology," ucap Rani saat kedua sahabat iu sedang menyiapkan pesanan barang pelanggannya.


"Apa aku boleh ikut? Aku penasaran dengan cerita kamu," tanya Sevia.


"Tentu saja boleh! Biar aku ada temannya. Pasti Mas Diwan asyik ngobrol dengan rekan kerjanya. Sekalian nyobain mobil baru," ucap Rani dengan terkekeh. Dia bersyukur sekali, usahanya dengan Sevia membuahkan hasil yang lumayan sehingga dia bisa membeli mobil idamannya.


"Berangkat jam berapa, Ran?" tanya Sevia.


"Nanti siang saja, kamu tahu sendiri suamiku suka bangun siang kalau libur. Katanya mau istirahat total." Rani mencebikkan bibirnya. Kadang dia kesal karena suaminya susah sekali untuk diajak pergi ke car free day. Untung saja ada Sevia jadi dia sering bersama sahabatnya untuk mengisi acara pagi di hari libur.


Aku jadi teringat dengan Dave. Saat terakhir bertemu, dia susah sekali untuk bangun karena kelelahan sepulang dari kampung. Apa kabarnya dia sekarang? Apa Dave sudah menikah dengan gadis itu?


...~Bersambung~...


...Dukung terus Auhtor ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...

__ADS_1


sambil nunggu up..yuk kepoin juga karya Bestie Author



__ADS_2