Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 64 Pusing


__ADS_3

Setelah memastikan kondisi Malvin stabil, akhirnya Dave memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Kepalanya sudah terasa berdenyut ingin segera diistirahatkan. Sudah dua malam dia kurang istirahat karena pikirannya kacau dengan apa yang terjadi. Mungkin mulai nanti malam, dia sudah bisa tertidur nyenyak bersama dengan kekasih hatinya.


"Dave, kamu baik-baik saja?" tanya Harry saat menyadari sahabatnya terus mengurut keningnya.


"Kepalaku pusing sekali, Harry! Bisakah bawa mobilnya lebih cepat lagi?" pinta Dave.


"Oke! Apa semalam kamu tidak tidur?" tanya Harry dengan pandangan lurus ke depan melihat jalan raya.


"Sudah tiga hari aku tidak bisa tidur nyenyak. Apalagi semalam mengawasi gerakan Barra, aku tidak tidur sama sekali." Dave memejamkan matanya berharap rasa pusingnya akan berkurang.


Tak berapa lama kemudian, mobil sudah terparkir di basemen apartemen. Harry segera membantu Dave yang terlihat berjalan sempoyongan. Setelah menempelkan jari Dave ke scanner yang ada di samping pintu, otomatis pintu apartemen Dave langsung terbuka.


Harry mendudukan Dave di sofa yang ada di ruang tamu. Tercium wangi masakan yang menyeruak masuk ke indera penciumannya. Harry pun langsung bergegas menuju ke dapur. Dia yakin Sevia pasti sedang berada di dapur sedang memasak.


"Via, Dave sakit. Mungkin dia butuh kamu," ucap Harry di ambang pintu dapur yang menghubungkan dengan ruang makan.


"Oh! Kalian sudah pulang. Mbak Nadine, aku tinggal dulu ya!" Sevia pun bergegas untuk menemui suaminya yang kata Harry sedang sakit.


Saat sampai di ruang tamu, terlihat Dave yang akan tertidur dengan posisi duduk dan kepala menyender di kepala sofa. Sevia pun langsung duduk di samping suaminya. Dirabanya kening Dave untuk memastikan panas atau tidaknya.


"Dave pindah ke kamar yuk!" ajak Sevia lembut.


Dave langsung membuka matanya saat mendengar suara lembut istrinya. Dia langsung menarik Sevia hingga tidak ada jarak di antara keduanya.


"Via, kepalaku pusing!" Dave mendusel mencari tempat yang nyaman di atas belahan dada istrinya.


"Makan dulu, nanti minum obat!" sahut Sevia dengan mengelus lembut rambut Dave yang kecoklatan.

__ADS_1


"Nanti dulu, aku masih ingin seperti ini. Via, Devanya sedang apa?" tanya Dave.


"Deva sedang tidur. Ayo tidur di kamar, biar kamu bisa beristirahat. Pasti semalam kamu tidak tidur kan?" tebak Sevia.


"Aku tidak bisa tidur sebelum bisa memastikan semuanya baik-baik saja. Via, apa kamu merindukan aku sehingga terus mengajak ke kamar? Kamu sabar ya, aku juga sangat merindukan kamu." Dave terus mencari kenyamanan di dada istrinya sampai akhirnya terdengar suara deheman dari ambang pintu penghubung ruang makan dan ruang tamu.


"Ehm ehm, Dave lebih baik istirahat di kamar saja," saran Harry.


"Kamu menggangguku, Harry!" ketus Dave.


"Baiklah, aku minta maaf! Aku pamit pulang dulu, sepertinya Nadine tergiur ingin bermesra-mesraan seperti kalian," seloroh Harry yang memang berencana utuk pulang karena Nadine pun sudah selesai memasak.


"Harry, ikh! Aku malu, jangan bilang gitu! Tapi memang aku ingin kamu," bisik Nadine.


Entah harus senang atau merasa aneh. Semenjak Nadine hamil, dia sering sekali meminta duluan. Padahal saat awal-awal menikah dia sering kali menolak saat aku mengajaknya bercintah, batin Harry.


Dave manja sekali sama Sevia, sedangkan pada gadis lain dia selalu terlihat cuek. Sevia punya sihir apa sehingga bisa memikat brondong berpotensi seperti Dave? Sayang yang dipilih Sevia, batin Nadine.


Nadine langsung menarik tangan Harry agar segera pergi dari apartemen Dave. Hasratnya sudah meninggi saat dia melihat kemesraan Dave dan istrinya. Dia pun segera melepaskan gelora yang sudah membumbung tinggi di kepalanya, sesampainya di apartemen Harry yang memang bersebelahan dengan milik Dave. Membuat Harry menjadi kewalahan dengan apa yang dilakukan istrinya.


Sementara Dave langsung melepaskan Sevia setelah kepergian Harry dan istrinya. Dia sengaja tidak melepaskan pelukannya saat ada Harry dan istrinya. Entah kenapa Dave merasa terganggu dengan cara Nadine memandangnya.


"Via, pertuku lapar! Tapi aku malas makan, bisa tidak kamu menyuapi aku?" tanya Dave dengan wajah melas.


"Sebentar, aku ambilkan nasi dan lauknya dulu.Apa kamu menyimpan obat sakit kepalanya? Biar sekalian aku ambilkan." Sevia langsung beranjak menuju ke dapur untuk mengambil makanan dan minuman.


"Obatnya ada di laci nakas, Via." Dave kembali menyenderkan kepalanya menunggu Sevia mengambilkan makanan dan obat untuknya.

__ADS_1


Sevia langsung menyuapi Dave dengan telaten, saat dia sudah mendapatkan apa yang dibutuhkan oleh suaminya. Tak ada yang bersuara saat Dave sedang makan. Hanya suara detingan sendok yang beradu dengan piring. Sampai akhirnya, suara Dave memecah kesunyian di antara keduanya.


"Via, setelah urusan Zee selesai. Kita langsung daftarkan pernikahan kita ke KUA. Kamu ingin pesta pernikahan yang seperti apa? Biar nanti Tante Dewi yang urus," tanya Dave.


"Dave, dulu aku ingin sekali menikah seperti teman-temanku di kampung. Lamaran dulu, tunangan, lalu menikah dengan hiburan jaipong dangdut. Tapi sekarang, aku tidak menginginkannya. Aku khawatir pada Devanya kalau kita menikah mengadakan pesta yang meriah. Nanti Devanya dengan siapa? Sementara aku harus menyambut tamu yang datang." Sevia terus mengaduk nasi yang akan dia suapi pada suaminya.


"Kamu ingin pesta di kampung? Devanya nanti sama suster. Kamu jangan khawatir," Dave mengelus sayang rambut istrinya. "Aku sudah kenyang, sini biar kamu aku suapi!"


Pada akhirnya, nasi yang masih setengahnya itu habis dimakan oleh Sevia yang memang selalu lapar karena dia harus memberikan ASI pada putrinya. Setelah Dave meminum obatnya, papa muda itu memutuskan untuk tidur menemani putrinya. Sementara Sevia membereskan apartemen suaminya yang tadi ada sedikit kekacauan saat memasak bersama dengan Nadine.


Setelah semuanya beres, Sevia pun langsung membersihkan dirinya karena hari sudah beranjak sore. Dia begitu menikmati mandi berendam air hangat dengan wangi aromatherapy yang mampu merilekskan pikiran dan badannya. Sevia terhanyut dengan suasana mandi yang menenangkan sampai tanpa terasa matanya terpejam. Dave yang ingin buang air kecil merasa kaget saat melihat Sevia yang tertidur di dalam bathtub.


"Via, Via bangun! Jangan tidur di sini!" Dave menepuk pipi Sevia pelan dan sukses membangunkan istrinya yang sedang tertidur.


"Dave, apa aku ketiduran?" tanya Sevia gelagapan.


"Ayo bersihkan badannya! Tidurnya pindah di kasur," suruh Dave yang memang masih mengantuk sehingga dia pun kembali tertidur menemani Devanya.


Sementara Sevia hanya bengong melihat Dave yang langsung berlalu pergi setelah membangunkan dia. Dia langsung membilas tubuhnya hingga bersih dan segera berpakaian dengan rapi.


Pantas saja tadi Dave tidak menyerang aku di kamar mandi ternyata dia masih ngantuk, batin Sevia.


...~Bersambung~...


...Jangan bosan dukung Author ya kawan! Yuk klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...

__ADS_1


__ADS_2