Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 91 Kasian Harry


__ADS_3

"Cari istri baru saja, kalau dia tidak mau mendengarkan kata-kata kamu."


"Yang benar saja, Dave. Nadine sedang mengandung anakku. Mana mungkin aku menikah lagi sementara dia berjuang sendiri menghadapi kehamilannya," sanggah Harry.


"Terserah kamu! Aku hanya menyarankan saja, lagipula, kamu hanya mencintainya sendiri. Sementara dia tidak membalas perasaan kamu. Awalnya aku berpikir kalau Nadine bisa menerima kamu seutuhnya, tapi semakin ke sini aku merasa hubungan kalian semakin tidak sehat. Sudah berapa hari kamu tidak mendapatkan hak kamu sebagai suami?" tanya Dave.


"Aku? Aku lupa menghitungnya. Hanya saja, semenjak kecelakaan itu, aku belum pernah bermain sama dia lagi." Akhirnya Harry pun bicara jujur tentang pernikahannya.


"Awas saja, jangan karena kamu tidak mendapatkannya dari Nadine, lalu kamu mendekati sahabat istriku," ancam Dave dengan melihat sekilas ke arah Harry.


"Nggak lah Dave! Aku tidak mungkin mempermainkan Rani. Dia sudah cukup menderita dengan kehilangan suaminya. Aku hanya ingin melindungi dan menjaganya," ucap Harry.


"Syukurlah kalau pikiran kamu seperti itu. Aku akan menyetujui kamu berhubungan dekat dengan Rani kalau kamu sudah melepaskan Nadine." Dave segera menghentikan mobilnya saat sudah sampai di parkiran khusus untuk tamu yang ada depan gedung.


Kedua pria tampan itu langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam karena Andrea sudah menunggunya di ruang meeting bersama dengan petinggi perusahaan lainnya. Kedatangan mereka disambut dengan suka cita oleh jajaran penting perusahaan.


"Om, Bangga sama kamu, Dave! Kamu mampu melobi Tuan Hamish yang terkenal susah untuk mengucurkan dananya," puji Andrea.


"Om, bisa saja! Ini semua berkat bantuan Harry dan dukungan dari, Om." Dave langsung mendudukkan bokongnya di kursi kosong yang tak jauh dari Andrea. Begitupun dengan Harry yang mengikutinya.


...***...


Sementara di tempat yang berbeda, nampak Nadine berjalan dengan anggunnya menuju sutradara film untuk menanyakan sesuatu. Sutradara yang terlihat masih muda itu, tersenyum menyambut kedatangan artis barunya.


"Cantik sekali kamu hari ini," puji Adjie.


"Bisa saja, Mas! Oh iya, apa nanti pas break shooting boleh keluar sebentar? Aku akan mencari hotel terdekat dan menumpang mandi. Badanku terasa lengket," ucap Nadine.


"Kenapa harus mencari hotel? Bagaimana kalau tidur di kamarku saja. Tidak jauh dari sini. Kalau kamu bersedia, nanti aku tambah adegan kamu biar kamu lebih cepat dikenal publik dan bayarannya pun semakin besar. Aku juga pasti memberikan kamu uang tips." Adjie mengerlingkan matanya nakal pada Nadine membuat wanita muda itu terhanyut dengan godaan sutradara tampan yang menjadi idola banyak artis.

__ADS_1


"Apa tidak merepotkan, Mas?" tanya Nadine dengan malu-malu.


"Mana mungkin merepotkan untuk perempuan secantik kamu, aku malah senang bisa tidur bersama kamu," bisik Adjie.


Bagaimana ini? Aku belum pernah bermain dengan lelaki lain sampai ke tempat tidur. Tapi pesona sutradara ini tidak bisa aku tolak. Pantas saja banyak artis yang menyukainya. Selain dari ketampanannya, dia juga putra pengusaha sukses. Mungkin kalau aku jadi istrinya, uangku pasti lebih banyak dari yang Harry berikan selama ini, batin Nadine.


"Baiklah, Mas! Aku setuju," ucap Nadine dengan tersenyum malu-malu tapi mau.


"Kalau begitu nanti pas break kita langsung ke sana," ucap Adjie dengan menaik turunkan alisnya.


"Iya, Mas! Nanti aku tunggu di parkiran." Nadine pun kembali ke tempatnya karena sebentar lagi bagian dia yang tampil.


Shooting pun berjalan dengan lancar. Meskipun Nadine artis pendatang baru, tapi dia sudah sering tampil dalam drama kolosal di kotanya, sehingga bukan hal yang sulit untuk dia bermain peran. Saat break shooting selama dua jam, Nadine dan Adjie pun segera bergegas menuju ke hotel tempat sutradara itu menginap. Meskipun awalnya Nadine terlihat malu. Namun pada akhirnya, dia merasa terbiasa berada di kamar bersama dengan lelaki yang bukan muhrimnya.


"Mas, aku pinjam kamar mandinya ya! Aku merasa gerah kalau siang hari tidak mandi," ucap Nadine saat mereka sudah berada di dalam kamar hotel.


Nadine pun segera menuju ke kamar mandi dan menanggalkan semua pakaiannya. Dia mengisi bathtub dengan air hangat. Nadine begitu menikmati sapuan air hangat ke kulitnya. Sampai akhirnya dia memejamkan mata menikmati wangi relaksasi yang menenangkan.


Melihat Nadine yang terpejam dengan menyenderkan kepalanya, Adjie langsung menyapu lembut bibir yang menggodanya sedari. Awalnya Nadine terkaget saat merasa ada benda kenyal yang menempel di bibirnya. Namun, saat dia tersadar Nadine pun ikut menikmati permainan lidah Adjie. Hingga akhirnya, dua anak manusia itu terhanyut dalam dosa besar yang disengaja.


...***...


Prang


Tanpa sengaja Harry menjatuhkan cangkir kopi yang akan dia minum. Pikirannya begitu kalut terus memikirkan Nadine yang bersikeras ingin menjadi seorang artis. Hatinya benar-benar merasa tidak rela, istrinya menjadi seorang artis.


"Harry, kamu kenapa?" tanya Dave yang merasa kaget dengan suara pecahan gelas yang terdengar begitu nyaring di ruangannya.


"Sorry, Dave! Aku tidak sengaja menjatuhkan gelas dan pecah," jawab Harry.

__ADS_1


"Apa tangan kamu tidak apa-apa?" tanya Dave khawatir. Dia pun langsung bangkit dari duduknya untuk melihat keadaan sahabatnya.


"Aku tidak apa-apa. Sebentar aku panggilkan office boy untuk membersihkan pecahan kacanya," jawab Harry.


Tidak lama kemudian, office boy pun datang untuk membersihkan bekas tumpahan kopi dan pecahan kaca. Sementara Dave melanjutkan pekerjaannya karena dia ingin segera pulang ke rumah dan beristirahat. Begitupun Harry yang teringat punya janji dengan Rani untuk mengantarnya ke dokter.


Saat jam menunjukkan angka tiga, kedua pria tampan itu sudah menyelesaikan pekerjaannya. Mereka pun sepakat untuk langsung pulang. Harry yang sudah bisa mengalihkan pikiran karena teringat dengan Rani, dia pun yang mengambil kemudi saat pulang ke rumah.


"Assalamu'alaikum," ucap Dave saat akan masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumsalam," jawab Sevia yang sedang menggendong putrinya. "Papa sudah datang," sambutnya seraya mencium punggung tangan suaminya.


Dave pun langsung mencium kening istrinya dan kemudian mencium pipi putrinya bergantian. Harry yang melihatnya hanya tersenyum kecut karena Nadine jarang menyambutnya saat pulang kerja. Dia bahkan sering mendapati istrinya tidak ada di rumah.


"Via, Rani sudah siap belum? Katanya dia mau kontrol ke dokter," tanya Harry.


"Tadi masih bikin kue sama Bu Lina. Sebentar aku panggilkan!" jawab Sevia.


"Sini Deva sama Papa aja!" ajak Dave.


"Papanya cuci tangan ganti baju dulu!" suruh Sevia.


Dave pun hanya menurut apa yang istrinya katakan. Dia tidak mau berdebat untuk hal yang sepele, sehingga terkadang dia mengalah mengikuti apa yang istrinya katakan. Setelah dia mencuci tangan dan menyimpan jasnya di sandaran kursi, Dave pun langsung mengambil Devanya dari gendongan Sevia.


"Anak Papa cantik sekali! Deva mau tidak punya adik? Nanti Papa bikinkan yang banyak biar Deva punya banyak saudara, gak kayak Papa yang hanya sendirian. Tapi kalau nanti Deva sudah besar, jangan seperti Om Harry ya! Mencintai orang yang tidak mencintainya. Kasian ya, Sayang!"


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya! Yang punya vote boleh dilempar buat Harry biar gak galau terus....

__ADS_1


__ADS_2