
Harry sangat terkejut mendengar apa yang ayahnya Rani katakan. Dia tidak pernah mengira gara-gara mengantar Rani pulang kampung malah ditodong nikah oleh Pak Iwan. Harry pun menghela napas dalam sebelum dia menjawab apa yang Pak Iwan tanyakan.
"Sebelumnya aku minta maaf, Pak. Sebenarnya aku dan Rani tidak memiliki hubungan apapun. Aku hanya disuruh oleh Sevia untuk mengantar Rani pulang kampung. Lagipula, perceraian aku belum beres," tolak Harry.
"Kalau Nak Harry masih mengurus perceraian, Bapak rasa tidak jadi masalah. Kalian bisa menikah dulu secara agama. Asalkan orang-orang tidak menilai yang tidak-tidak dengan kedekatan kalian. Masalahnya seluruh kampung sudah geger kalau Rani sedang dekat dengan teman suami Sevia. Ditambah lagi, sekarang Nak Harry datang mengantarkan Rani. Bapak tidak ingin citra Rani sebagai janda buruk di mata masyarakat," ucap Pak Iwan panjang lebar.
Apa yang harus aku lakukan? Aku dan Rani tidak saling mencintai. Aku takut pernikahanku bernasib sama seperti dengan Nadine. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan citra Rani buruk di mata masyarakat, batin Harry.
Melihat Harry yang diam saja tidak mengatakan apapun, Pak Iwan pun menepuk pundak Harry lumayan kencang seraya berkata, "Bagaimana Nak Harry? Apa bersedia?"
"I-iya Pak Iya," jawab Harry gagap karena terkejut.
"Syukurlah, nanti saat Rani pulang dari rumah sakit kita adakan pernikahannya," Pak Iwan menarik napas lega. Sangat berbeda dengan Harry yang bertambah bengong dengan apa yang dikatakan oleh Pak Iwan.
...***...
Dua hari sudah berlalu, kini Rani sudah diperbolehkan pulang. Sementara bayinya masih di rumah sakit. Pak Iwan dan istrinya sengaja menahan Harry untuk tidak pulang. Dia pun tidak memberitahukan Rani tentang pernikahan dadakannya dengan Harry. Rani hanya diminta untuk memakai gamis berwarna putih. dan menyuruhnya untuk beristirahat di kamar.
"Rani, sebelumnya Ibu dan bapak minta maaf kalau tidak memberitahu kamu terlebih dahulu. Tapi Ibu harap kamu bisa menerimanya. Nak Harry akan menikahimu secara agama hari ini," ucap Bu Asti.
"Maksud ibu apa? Aku menikah dengan Harry? Bagaimana bisa, Bu? Harry sudah punya anak istri meskipun sekarang hubungan mereka sedang tidak baik," tanya Rani heran.
"Nak Harry sudah bersedia menikahi kamu. Katanya dia sedang mengurus perceraiannya," jawab Bu Asti. "Ibu harap, kamu jangan mempermalukan keluarga kita dengan tiba-tiba menolak menikah dengan Nak Harry."
Astaga! Kenapa aku merasa menyesal mengambil keputusan untuk melahirkan di kampung. Jika akhirnya dipaksa untuk menikah dengan dia. Meskipun dia baik, tapi aku tidak memiliki perasaan apapun. Aku masih mencintai Mas Diwan. Maafkan aku, Mas! Bukan maksud aku untuk secepatnya melupakanmu, batin Rani.
Rani yang sedang asyik dengan pikirannya, dikejutkan dengan suara yang berasal dari ruang tamu. Sebelumnya dia berpikir, banyak orang di rumahnya karena ingin menengoknya yang baru pulang dari rumah sakit. Namun ternyata, untuk menyaksikan ijab kabul pernikahannya.
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawinnya Rani Karenina dengan mas kawin uang tunai sepuluh juta rupiah dibayar tunai." Harry dengan lantang mengucapkan ijab kabul karena dia membaca dari contekan sehingga hanya dengan satu tarikan napas, kini Rani sah menjadi istrinya.
"Bagaimana saksi? Apakah sah?"
"Sah" kompak yang hadir menyaksikan acara ijab kabul.
"Alhamdulillah." Pak Kyai yang menikahkan Harry dan Rani pun langsung membimbing do'a untuk pasangan pengantin baru agar rumah tangga yang dibangun sakinah mawadah warahmah.
Sementara Rani hanya mampu memejamkan mata menghadapi kenyataan yang ada. Ada ketakutan di hatinya, kalau Harry tidak sebaik almarhum suaminya yang bisa menerima dia apa adanya dan selalu dengan sabar menghadapinya.
Mas, semoga suamiku yang sekarang bisa sebaik kamu dan sayang pada anak kita. Maafkan aku, karena tubuh ini sudah menjadi milik orang lain, batin Rani.
Rani pun diajak keluar oleh ibunya untuk sungkem kepada suaminya. Dengan perasaan gugup, dia pun mengikuti apa yang ibunya katakan. Tidak jauh berbeda dengan Rani, Harry pun terlihat gugup saat Rani mengambil tangannnya dan mencium punggung tangan Harry. Keduanya sama-sama terlihat canggung, membuat semua orang yang melihatnya tidak tahan untuk menggodanya.
"Kang Bule, sabar dulu ya! Malam pertamanya nanti setelah Rani selesai nifas," goda tetangga Rani.
"Asal jangan kebablasan,"
Mereka saling bersahutan menggoda pasangan baru itu sehingga Rani memutuskan untuk kembali ke kamarnya, sedangkan Harry meminta ijin untuk keluar sebentar karena ada panggilan telepon dari Dave.
"Halo Dave, ada apa?" tanya Harry setelah tersambung.
"Kamu bilang ada apa? Ini udah berapa hari, kenapa belum balik lagi ke sini? Aku pusing menghadapai istri dan mertuamu yang terus menanyakan keberadaan kamu dan bayimu," ketus Dave di seberang sana.
"Besok aku kembali, hari ini aku tidak mungkin balik ke sana."
"Aku tidak mau tahu, pokoknya besok pagi kamu harus sudah berada di Jakarta. Aku tidak mau dibantah. Secepatnya pulang!"
__ADS_1
Klik
Dave langsung memutuskan sepihak sambungan teleponnya, membuat pengantin baru itu hanya bisa menghela napas dalam. Harry pun langsung menuju ke kamar tempat di mana Rani berada.
"Rani, sepertinya aku harus segera kembali. Kamu tidak apa kan kalau aku tinggal?" tanya Harry.
"Tidak apa, Harry. Kamu sudah terlalu lama di sini, pasti pekerjaanmu sudah menumpuk. Aku minta maaf karena telah membuatmu terjebak dalam pernikahan ini," ucap Rani.
"Tidak apa, anggap saja aku sudah menepati janjiku pada almarhum suami kamu. Kalau kamu butuh apa-apa, jangan sungkan untuk memberitahuku. Oh iya, aku sudah mentransfer untuk uang bulanan kamu," ucap Harry.
"Terima kasih Harry," ucap Rani.
"Nanti aku akan menjemputmu setelah urusanku dengan Nadine selesai. Aku tidak mau kamu dicap sebagai pelakor jika mereka mengetahui tentang pernikahan kita." Harry menatap lekat wajah Rani yang masih terlihat pucat.
"Iya, gak apa-apa! Anakku kan masih di rumah sakit, belum bisa dibawa pulang," sahut Rani. "Harry, apa benar kamu akan bercerai dengan Mbak Nadine. Memangnya kenapa? Bukankah Mbak Nadine baru saja melahirkan?"
"Aku belum mengurus perceraian aku. Tapi aku akan mengakhiri pernikahanku. Dia berselingkuh," jawab Harry dengan menundukkan kepala.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk ...." Rani tidak melanjutkan ucapannya karena Harry sudah memotongnya.
"Tidak apa! Rani, kamu mau kan merawat anakku juga? Karena aku akan mengambil hak asuh putraku. Aku harap, kita tidak akan membedakan mereka berdua. Aku akan menyayangi putrimu dan aku minta, kamu pun menyayangi putraku. Nanti aku akan mencari perawat untuk membantu kamu mengurus mereka berdua." Harry masih tidak melepaskan pandangannya dari Rani yang sedang duduk menyender pada kepala ranjang.
"Aku pasti akan menyayangi Gavin. Terima kasih kamu mau menjadi sosok ayah untuk putriku," ucap Rani.
"Panggil Daddy, Rani. Bukan ayah," protes Harry.
"Baiklah, kita sama-sama belajar untuk saling menerima satu sama lain."
__ADS_1
...~Bersambung~...