Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 80 Pagi Yang Indah


__ADS_3

Sebuah villa yang Keano bangun di pulau pribadi yang dia jadikan maskawin. Kini menjadi saksi bisu penyatuan dua insan yang baru saja resmi menyandang suami-istri. Menjadi awal perjalanan cinta dua anak manusia dalam mengarungi mahligai rumah tangga.


Keesokan harinya, saat sang surya mulai menampakkan sinarnya. Sepasang pengantin baru masih bergelung dalam selimut. Meskipun terdengar riuh suara kicau burung yang bersahutan.


Perlahan Keano membuka matanya dan menatap lekat gadis yang masih tertidur pulas di sampingnya. Pemuda tampan itu menopang dagu dengan kedua tangannya. Kedua sudut bibirnya terus terangkat membayangkan apa yang telah terjadi tadi malam. Dia terus merutuki diri karena kebodohannya yang hampir saja gagal menjebol gawang istrinya.


Tuhan begitu baik padaku, karena menganugerahi istri yang cantik sepertimu. Ay, seandainya aku harus memilih, aku akan terus memilih untuk tetap berada di sisimu. Selamanya aku ingin memilikimu, batin Keano.


Saat Keano sedang larut dalam lamunannya. Devanya menggeliatkan tubuhnya. Gadis cantik itu, rupanya merasa silau saat sinar mentari menelusup masuk lewat celah jendela kamarnya. Perlahan Devanya pun membuka matanya. Dia disuguhkan dengan senyum manis suaminya yang terus menatap lekat.


"Bang, sudah bangun?" tanya Devanya.


"Belum, Ay! Abang masih tenggelam dalam pesona kamu," goda Keano.


"Apaan sih, Bang?" Pipi gadis itu langsung bersemu mendengar apa yang suaminya katakan.


"Ay, apa masih sakit?" tanya Keano dengan menatap lekat istrinya.


Devanya menggeleng lemah. Dia takut jika bilang masih sakit, maka suaminya itu akan memanggil dokter ke sana. Gadis itu merasa tidak rela jika barang berharga miliknya dilihat oleh orang lain selain suaminya sendiri.


"Syukurlah, ayo kita mandi bersama!" ajak Keano.


"Aku mandi sendiri saja, Bang."


"Baiklah, nanti Abang siapkan air hangatnya dulu. Biar badannya enakan," ucap Keano seraya beranjak dari tempat tidur.


Devanya hanya memalingkan muka saat suaminya berjalan menuju ke kamar mandi tanpa sehelai benang pun. Apalagi, nampak benda pusaka-nya yang seperti menegang. Dia malu benar-benar malu melihat sesuatu yang baru dilihatnya itu.


Sementara Keano nampak cuek. Pemuda tampan itu seperti lupa kalau dia tidak berpakaian. Setelah mengisi bathtub dengan air hangat, dia pun kembali menghampiri Devanya.


"Ayo, Ay!" ajak Keano dengan mengulurkan tangannya.


"Bang, kenapa gak pakai handuk atau celana gitu?" tanya Devanya. Dia tidak berani melihat ke arah Keano.


Keano hanya tersenyum saat menyadari kalau istrinya masih malu-malu melihat dia. "Ay, lihat Abang dulu!" pinta Keano.


"Abang pakai celana dulu sana!" suruh Devanya.

__ADS_1


"Ay, lihat Abang! Apa Abang yang harus mendekat?" Keano semakin mencondongkan badannya ke arah Devanya. Dia ingin tahu reaksi dari istrinya.


"Abang ih jangan dekat-dekat! Pakai baju dulu sana," usir Devanya seraya mengibaskan tangannya hingga tanpa sengaja menghantam benda pusaka Keano.


"Uh ... Ay sakit," keluh Keano dengan memegang benda pusaka-nya..


"Apa Bang? Sakit apa?" tanya Devanya panik seraya melihat ke arah Keano.


Ternyata Bang Ano sudah pakai handuk. Aku kira dia tidak pakai apa-apa. Aku kan malu jika melihatnya di siang hari," batin Devanya.


Melihat Keano yang sedang memegang benda pusaka dengan meringis, Devanya pun dengan refleks ikut meringis. Dia tidak menyangka kibasan tangannya akan menyakiti pusaka suaminya.


"Bang, maaf! Aku tidak sengaja," ucap Devanya sendu.


"Ay, bagaimana ini? Sepertinya Abang juga harus ikut berendam agar hercules bisa bekerja dengan baik lagi," kilah Keano dengan melas.


"Ya sudah Abang duluan, biar aku belakangan."


"Tidak bisa, Ay! Lebih baik kita bersama-sama agar bisa menghilangkan rasa mulesnya," kilah Keano.


"Bang ih turunin! Aku malu," pinta Devanya dengan meronta.


Namun, Keano seolah menulikan pendengarannya. Dia tidak peduli saat mendengar Devanya memintanya untuk menurunkan. Setelah sampai di bathtub, barulah pemuda tampan itu mendudukkan istrinya di dalam bathtub. Tanpa bicara lagi, Keano pun ikut bergabung bersama dengan Devanya dalam bathtub yang sama.


"Ay, sudah gak sakit kan?" tanya Keano memastikan.


"Nggak, Bang. Setelah direndam menjadi enakan," ucap Devanya malu-malu.


Keano tersenyum mendengar apa yang Devanya katakan. Perlahan dia semakin mendekat ke arah istrinya. Hingga jarak di Antara keduanya semakin menipis. Ingin sekali Devanya berkata 'Jangan mendekat'. Tapi rupanya Keano sudah lebih dulu meraup bibir merah jambu itu.


Suasana kamar mandi yang sunyi. Kini dipenuhi oleh suara decapan dua insan yang saling berebut Saliva. Devanya hanya bis menerima apapun yang Keano lakukan. Apalagi tubuhnya pun menginginkan sesuatu yang lebih.


Perlahan Keano menarik Devanya agar berada di atasnya. Tangannya terus saja memainkan bukit kembar yang terlihat mangkel. Setelah puas saling berebut saliva. Keano mulai mencicipi buah mangkel yang kenyal itu. Desiran hebat yang membuat urat syaraf menegang membuat keduanya semakin berhasrat dan menginginkan hal yang lebih.


Perlahan Keano mengarahkan pusaka. Tanpa drama lagi, dengan satu hentakan dia bisa memasuki rumah yang rimbun dengan ilalang.


"Ah!!!" pekik Devanya kaget saat ada sesuatu yang memasukinya.

__ADS_1


Keano kembali meraup bibir merah jambu itu. Tangannya terus memaju mundurkan bamper istrinya. Hingga suara lenguhan dan erangan memenuhi seisi kamar mandi.


"Bang, ah ... aku ingin pipis ...."


"Ayo Ay keluarkan!"


"Bang, aku ... Ah ....."


"Ay ... Ah ....."


Lenguhan panjang Devanya bersamaan dengan Keano yang memuntahkan lava ke rahim istrinya. Keduanya berpelukan kepala Keano yang berada di dada Devanya. Setelah keduanya dapat menetralkan kembali perasaannya yang membuncah. Keano pun menengadahkan kepala melihat wajah cantik istrinya.


"Ay, jinsimeuro saranghae (Aku mencintaimu sepenuh hati)."


"Love you more, Bang Ano." Devanya tersenyum melihat wajah tampan suaminya yang berada di bawah wajahnya.


Dia kembali hanyut dalam tatapan dalam Keano. Hingga saat Keano mulai meraup kembali bibirnya. Devanya hanya bisa memejamkan mata menikmati sapuan lembut benda kenyal yang selalu terlihat seksih di matanya.


Sepertinya, kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu ingin mengulang pergulatan kenikmatan di pagi hari. Sampai kembali mendapatkan pelepasan, barulah mereka mengakhiri acara berendam plus plusnya.


Setelah selesai mandi, Keano pun membantu Devanya mengeringkan rambut dengan sesekali dia mengecup leher belakang istrinya. Membuat Devanya merinding disko.


"Bang, geli!" rengek Devanya.


"Geli kenapa, Ay?"


"Abang ih, berbuat gak bertanggung jawab."


"Abang pasti tanggung jawab sayang. Apa kita perlu melakukannya sekali lagi? Mumpung Abang ambil cuti panjang."


...~Bersambung~...


...Sawerannya dong kakak biar othor semangat update....


Sambil nunggu Keano dan Deva yang lagi kasmaran, yuk kepoin juga karya teman othor yang satu ini


__ADS_1


__ADS_2