
Pagi harinya, semua anak dan menantu Dave sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Devanya dan Keano terlihat cerah ceria. Begitupun dengan Davin dan Diandra. Tapi tidak dengan Devan. Pemuda itu terus saja cemberut. Dia merasa kesal dengan saudara kembarnya. Pagi-pagi sudah bersuara yang menegangkan.
"Pah, nanti pasang peredam suara di tiap kamar. Biar gak ganggu orang lain," cetus Devan.
"Memang ganggu kenapa? Bukankah gak ada yang nyalain musik rock and roll malam-malam." Dave mengeryitkan keningnya.
"Bukan suara musik yang ganggu, tapi suara-suara lucknat!" ketus Devan.
"Hahaha ... Kasian anak Papa, yang lain udah punya pasangan, ini masih jones," ledek Dave.
"Tahulah, Papa sama aja."
"Tenang, Pah. Dia sedang dekat dengan seorang gadis. Asal Papa dan Mama merestui nanti aku bawa ke sini," timpal Davin enteng.
"Sialan, punya kembaran gak bisa dipercaya." Devan melempar sepotong ayam ke arah kembarannya.
"Devan, makanan gak boleh dilempar-lempar!" tegur Sevia.
"Iya, Mah. Maaf!"
"Mama tidak akan melarang kamu dekat dengan gadis manapun. Yang penting gadis itu bisa membuat kamu merasa nyaman," ungkap Sevia.
"Aku hanya kasian sama dia, Mah. Ayahnya baru saja meninggal. Lagipula aku gak ada hubungan apa-apa sama dia," ucap Devan.
"Kalian tuh, kuliah belum kelar udah main cinta-cintaan. Papa gak mau tahu, tahun ini harus wisuda. Kamu juga Davin, udah bisa hamilin anak orang tapi belum punya ijasah yang bisa dibanggakan di depan anak kamu. Papa gak larang kalian memiliki pasangan tapi pendidikan utamakan," tukas Dave.
Semua orang diam tidak ada yang berani membantah ucapan papanya. Memang ada benarnya juga, bukannya menyelesaikan dulu kuliahnya tapi malah pulang dan mendirikan perusahaan start-up. Tentu saja itu hanya cara agar Davin bisa memiliki Diandra.
"Papa tenang saja! Tahun ini aku lulus," sahut Devan.
"Davin, kamu bagaimana? Apa bisa?" tanya Dave dengan menatap lekat putranya.
"Bisa, Pah!"
"Bagus, jangan kecewakan Papa."
...***...
Suasana kantor sudah mulai ramai. Satu persatu karyawan berdatangan. Tak ketinggalan pula dengan seorang gadis yang matanya terlihat sembab. Tasya datang dengan tergesa-gesa menuju ke mejanya. Sampai dia tidak menyadari ada yang sedang memperhatikannya dari rekaman CCTV.
"Ternyata benar, dia berangkat kerja. Kamu gadis yang tegar Tasya. Apa mungkin yang dikatakan oleh Kakek Oryza benar, kalau dia masih ada ikatan saudara denganku? Bagaimana cara aku membuktikannya, sementara ayahnya sudah tiada," gumam Devan.
Saat Devan sedang termenung sendiri, terdengar suara pintu ada yang mengetuk dari luar. Dia pun segera menyuruhnya untuk masuk. Terlihat Tasya membukakan pintu dan masuk ke dalam. Gadis itu terlihat kikuk saat Devan menatapnya dalam.
__ADS_1
"Permisi, Bos! Ini laporan yang kemarin belum selesai saya kerjakan," ujar Tasya. Dia berusaha bersikap formal saat berada di kantor.
"Tasya, apa kamu baik-baik saja?"
"Aku baik, tolong jangan mengingatkan aku akan hal itu," mohon Tasya.
"Baik!" sahut Devan.
"Tolong agendakan pertemuan dengan presiden direktur PT Putra Group pas jam makan siang."
"Apa perlu booking restoran?"
"Tidak usah, biasanya beliau pulang ke rumahnya. Kamu siapkan saja buah tangan."
"Baik, Bos! Ada lagi?"
"Bagaimana tawaranku? Apa kamu sudah mempertimbangkannya?"
"Saya menolak tinggal bersama di apartemen."
"Oh, kamu bisa kembali kerja."
Tasya pun undur diri dan kembali ke mejanya. Dia mulai melakukan pekerjaannya. Meskipun dia masih dalam suasana duka, sebisa mungkin dia bersikap profesional.
"Tasya, apa kamu akan terus seperti teman-teman kamu itu? Orion menghubungi aku dan mengajak ketemu di tempat biasa."
"Tidak, aku mau berhenti. Sekarang Ayah sudah tiada. Aku tidak butuh uang banyak untuk biaya hidupku. Mungkin dari gaji sebagai sekretaris, cukup untuk kebutuhan aku."
"Syukurlah! Kamu mau berhenti. Lagian resikonya tinggi menjalani pekerjaan seperti itu."
Bukan hanya tinggi, tapi aku pernah hampir dilecehkan. Bukan salah laki-laki itu juga tapi aku juga salah dengan menjadi teman kencan pria-pria kesepian, batin Tasya.
Tidak lama kemudian, Devan membelokkan mobilnya pada sebuah rumah dengan pintu gerbang yang menjulang tinggi. Satpam yang sudah mengenal siapa yang datang, langsung membuka pintu gerbang tanpa bertanya lagi.
"Pak Leo, Kakek sudah pulang belum?" tanya Devan.
"Sudah, Den. Baru saja sampai. Ada Papa Aden juga dan Tuan Oryza," jelas Pak Leo, satpam rumah Keluarga Putra.
"Oh, aku masuk dulu ya!" Devan langsung melajukan mobilnya kembali dan memarkirkannya di halaman rumah yang lumayan luas.
Beruntungnya Devan menjadi cucu orang kaya. Pantas saja, masih muda sudah punya perusahaan sendiri, batin Tasya.
"Malah bengong, ayo turun!" ajak Devan.
__ADS_1
"Eh, iya. Rumahnya gede sekali," ucap Tasya kagum.
Keduanya pun langsung menuju ke pintu depan rumah yang bergaya Eropa itu. Tak lama setelah Devan menekan bel, ada seseorang yang membukakan pintu. Nampak Dave yang membukakan pintu. Devan pun langsung mencium punggung tangan laki-laki yang menjadi idolanya.
"Assalamu'alaikum," ucap Devan pada semua orang yang berkumpul di sana.
"Wa'alaikumsalam," ucap Al dan yang lainnya kompak.
Tasya yang terlihat kikuk hanya membungkukkan badannya. Gadis itu merasa canggung berada di tengah-tengah orang kaya itu. Entahlah, kepercayaan diri Tasya sedikit menurun saat teringat kalau dia hanya sebatang kara.
"Jangan takut, masuklah!" suruh Devan.
Dave terus saja menelisik penampilan Tasya. Dia teringat dengan apa yang Al katakan tentang sebuah rahasia keluarganya yang baru Al ungkapkan. Jika memang benar Tasya adalah kerabatnya, dia berniat untuk merawatnya.
Tak berselang lama, Icha datang dengan pembantunya membawa minuman dan cemilan. Dia sempat terperanjat kaget saat melihat Tasya yang duduk di samping Devan. Rasanya tidak percaya, dia melihat lagi orang yang berniat mencelakai keluarganya.
"Yura. Ka-ka-kamu Yura?"
"Bukan, Mah. Sini duduk dekat Papa," ajak Al. "Dia Tasya sekretaris Devan. Awalnya Papa juga mengira kalau dia Yura. Wajahnya mirip sekali meski ada sebagian kecil yang beda," jelasnya.
"Apa dia cucunya Yura?" tanya Icha lagi. Dia terus menelisik wajah Tasya. Memorinya kembali pada kejadian berpuluh-puluh tahun yang lalu. Saat Yura terobsesi pada suaminya. Hingga akhirnya gadis itu dibawa oleh polisi. Sejak itu, Icha tidak tahu kabar beritanya tentang Yura.
"Itulah yang menjadi pertanyaan Papa dan Ryza. Untuk membuktikan semua itu bagaimana kalau melakukan test DNA. Dave sudah setuju, apa Nak Yura tidak keberatan diambil sampel darahnya?" tanya Al langsung ke pokok permasalahan. Dia tidak mau terlalu banyak basa-basi yang akan menguras waktunya.
"Untuk apa Tuan? Kalau saya terbukti cucu Nyonya Yura, apa yang akan Tuan lakukan? Jika saya bukan cucunya, apa saya masih diberi kesempatan untuk jadi sekretaris Pak Devan?"
"Kamu terbukti atau tidak, tidak akan mempengaruhi pekerjaan kamu. Kami hanya ingin memastikan kalau masih ada keturunan Keluarga Pradipta selain Dave," jelas Al.
"Maksud Tuan?"
"Yura itu putri dari wanita lain dari eyangnya Devan. Karena sebuah hal yang terjadi di masa lalu, keberadaannya tiba-tiba saja menghilang. Aku sudah mencarinya tapi tiap detektif yang aku sewa tidak pernah menemukan jejaknya," terang Oryza.
"Kata Ayah, nenek meninggal saat melahirkan beliau."
Kalau benar Tasya cucunya nenek Yura, berarti dia sepupu aku dong. Apa boleh dinikahi ya? batin Devan.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan!...
...Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite...
...Terima kasih....
__ADS_1