
Malam harinya, dua pasangan itu bersantai bersama di balkon rumahnya. Setelah memastikan anak-anak mereka tertidur lelap. Dave dan Sevia yang sudah biasa bermesraan di depan Rani dan Harry, membuat pasangan baru itu merasa tertantang untuk memperlihatkan kemesraan mereka.
Harry memeluk Rani dengan posesif membuat ibu muda itu menjadi kikuk di depan sahabatnya. Sementara lelaki itu tersenyum bangga pada sahabatnya. Dalam hatinya dia merasa senang karena kini dia pun bisa membanggakan pasangannya.
"Harry, seandainya semua masalah di perusahaan sudah teratasi semua, sebaiknya kita ambil cuti. Ayo kita bulan madu bersama!" ajak Dave.
"Ide bagus! Sekarang, kita tidak perlu lagi menjadi pengawal mereka ya Rani. Kita juga bisa melakukan apa yang biasa mereka lakukan," ucap Harry.
"Wah wah wah ... Sepertinya sahabatku sudah melepaskan titel duda akut. Ya, selamat Bro!sekarang kamu bisa mereguk manisnya madu sepuasnya, hahaha ...." Dave tertawa kencang, membuat Sevia yang duduk di sampingnya langsung mencubit perut brondongnya.
"Sayang, jangan menggodaku! Nanti saja kita bikin dedek bayinya, aku belum puas buat meledek Harry," ucap Dave yang sukses mendapat serangan kulit kacang mendadak dari Harry.
"Punya Bos gini amat, apa salah hamba Ya Allah?" Mendadak lebay dengan berpura-pura menjadi orang yang tersakiti.
"Gak cocok, Bro!" ledek Dave.
"Sudah Dave, jangan mengganggu Harry terus. Lebih baik kita kuliner. Aku ingin makan sate Pak Min," ucap Sevia dengan menjilat bibirnya sendiri.
"Gak ada makanan lain yang kamu inginkan?" tanya Dave.
"Nggak, kita naik motor yuk! Aku kangen saat-saat dulu kita awal menikah," ucap Sevia.
"Ya sudah ayo! Aku titipkan dulu anak-anak pada Mbak Lina. Harry, Mau ikut tidak?" tanya Dave.
"Boleh, bukankah motor masih di simpan di basemen apartemen?" tanya Harry.
"Ah iya kau lupa. Ya sudah, kita ke sana dulu bawa motor," ucap Dave yang langsung beranjak pergi menuju kamar Mbak Lina.
Dave memang kurang mempercayai dua perawat itu, sehingga dia selalu meminta tolong pengasuhnya saat dia masih kecil untuk menjaga Devanya ketika dia ingin keluar bersama dengan Sevia. Dengan senang hati, Mbak Lina pun menjaga balita yang sudah dia anggap sebagai cucunya.
Setelah menitipkan anak-anak pada Mbak Lina, Dave dan yang lainnya pun langsung berangkat menuju ke apartemen untuk mengambil motor dan menyimpan mobil yang dipakainya di sana. Sevia begitu senang karena dia akan naik motor sport Dave lagi yang menyimpan banyak kenangan tentang perjalanan kisah Dave dan Sevia sebelum mereka memiliki Devanya.
__ADS_1
"Dave, masih ingat tidak. Kita sering nyari makan malam-malam dengan motor ini," tanya Sevia dengan melingkarkan tangannya di perut sixpack suaminya.
"Tentu saja masih ingat! Pegangan yang erat, aku mau ngebut!" Dave langsung menancap gas, membuat Sevia semakin menempel pada punggung kokoh suaminya.
Melihat Sevia yang menempel pada punggung Dave seperti cicak, membuat Harry pun langsung menancap gas yang sukses membuat Rani kejengkang ke belakang. Untung saja dia berpegangan pada besi yang ada di belakang sehingga dia tidak sampai terjatuh.
"Harry, yang benar saja. Kamu ingin aku jatuh dari motor?" sentak Rani karena kaget akan terjatuh dari motor.
Kenapa Rani memarahi aku? Padahal kan aku ingin dia memeluk aku, batin Harry.
"Maaf, Rani! Kenapa kamu tidak memeluk aku biar gak jatuh?" tanya Harry yang tidak ingin terus penasaran dengan istrinya.
"Aku kan ... Aku kan malu," ucap Rani dengan suara pelan.
Harry langsung mengerem mendadak motornya membuat Rani langsung menempel ke punggung kokoh suaminya. Harry langsung mengambil tangan Rani dan melingkarkan di perutnya. Tanpa Rani ketahui, Harry tersenyum tipis karena merasa senang dipeluk oleh istrinya.
"Jangan dilepas! Aku mau ngebut," seru Harry.
"Rani, bangun! Sudah sampai." Sevia yang sudah turun dari motor langsung menepuk pundak Rani saat Harry memarkirkan motornya di samping motor Dave.
"Eh, sorry sorry!" Rani langsung terkaget mendapat tepukan di bahunya.
"Tidak apa, ayo turun! Kita makan besar hati ini. Ayo kita palak suami-suami kita," bisik Sevia.
"Bisa aja kamu, Via." Rani tersenyum malu-malu mendengar apa yang Sevia katakan.
Sungguh, sedikit pun dia tidak pernah berpikir akan menikah dengan sahabat suami Sevia. Entah suatu keberuntungan atau bukan, tetapi kini kehidupan ekonominya lebih baik dari sebelumnya. Bahkan Rani bisa memberi uang bulanan pada orang tuanya.
Saat kedua pasangan suami istri itu sedang menikmati hidangannya. Tiba-tiba datang pengamen dengan gitar akustik di tangannya. Dia menyanyikan sebuah lagu milik d'masiv yang judulnya jangan menyerah.
Tak ada manusia yang terlahir sempurna.
__ADS_1
Jangan kau sesali segala yang telah terjadi.
Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat.
Seakan hidup ini tak ada artinya lagi.
Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah.
Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik.
Tanpa terasa air mata Rani menetes dari pelupuk matanya. Dia pun sesegera mungkin menghapusnya. Lalu memberikan uang pada pengamen itu
"Rani, kenapa cepat-cepat kasih uang? Padahal suaranya bagus, wajah pengamen itu juga lumayan," ucap Sevia tanpa sadar
Uhuk uhuk
Dave langsung tersedak saat mendengar Sevia memuji lelaki lain di depannya. Sevia pun langsung memberi minum pada suaminya. Setelah dia merasa baikan, Dave langsung berbisik pada Sevia. "Bagusnya, sudah berani memuji lelaki lain di depanku. Kamu tinggal pilih hukuman apa yang kamu sukai, mau di bathtub dua ronde, di balkon dua ronde atau di tempat tidur lima ronde?"
"Yang benar saja, Dave!" pekik Sevia yang sukses membuat para pengunjung melihat ke arahnya.
"Via, jangan teriak! Semua orang melihat ke arah kita," tegur Rani.
"Maaf! Dave, sebaiknya kita nego dulu. Jangan segitu hukumannya." Sevia menggoyangkan tangan suaminya.
Dave kembali asyik makan, pura-pura tidak peduli dengan rayuan Sevia. Dia hanya melihat sekilas ke arah Sevia kemudian melanjutkan kembali makannya. Sevia terus saja merayu Dave. Meskipun Dave terlihat cuek bebek pada istrinya.
Lucu sekali kamu, Via. Membuat aku menjadi gemas sendiri. Aku ingin sekali membawamu ke atas tempat tidurku. Kita saling bertukar saliva, berbagi kehangatan dan peluh. Ah Via kenapa kamu membuatku travelling ke mana-mana.
...~Bersambung~...
...SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI...
__ADS_1
...MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN...