Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 116 Bakso Boom


__ADS_3

Seperti seorang cenayang, Dave bisa menebak apa yang istrinya inginkan. Dia segera memarkirkan mobilnya di pinggir jalan saat melihat sebuah kedai bakso yang bertuliskan bakso boom di depan kedainya.


"Dave, kamu kho tahu aku ingin makan bakso di sini? tanya Sevia dengan mata yang berbinar saat Dave sudah selesai memarkirkan mobilnya.


"Tentu saja aku tahu, aku kan sudah tahu kamu luar dan dalam." Dave langsung membuka sabuk pengamannya.


"Bisa aja ayang Dave," goda Sevia.


"Ulangi!" suruh Dave


"Apaan?" Sevia nampak bingung dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.


"Ayo katakan sekali lagi yang tadi kamu katakan!"


"Bisa aja ayang Dave?" tebak Sevia.


"Yah yang itu, kamu tahu aku merasa seperti anak sekolah yang sedang pacaran. Tunggu sebentar, biar aku bukakan pintu dulu." Dave segera keluar dari mobil dan membuka pintu untuk Sevia serta mengambil alih putrinya.


Entahlah, Dave selalu merasa bangga saat menggendong Devanya di tempat umum. Dia selalu ingin menunjukkan pada dunia kalau dirinya tidak sendiri lagi di dunia ini. Melainkan sudah memiliki anak dan istri.


"Makasih ayang," ucap Sevia cekikikan menggoda suaminya.


"Jangan menggodaku, Via! Kalau kamu tidak ingin aku makan sekarang juga," bisik Dave.


"Ampun, Dave! Aku mau makan bakso saja, kamu mau tidak?" tanya Sevia.


"Tidak, aku bantu menjaga Deva saja. Jangan makan pedas-pedas, ingat Devanya masih minum ASI kamu!" Dave langsung memperingati istrinya.

__ADS_1


"Siap komandan!"


Sevia pun langsung memesan satu mangkuk mie ayam bakso dan satu mangkuk bakso boom. Sementara Dave hanya memesan sop buah. Seraya menunggu pesanan datang, Sevia menyempatkan diri untuk mengambil foto dirinya bersama denan Dave dan Devanya.


"Papa tambah ganteng aja," puji Sevia seraya melihat-lihat hasil gambarnya.


"Tentu saja, memang kamu baru sadar sekarang?" tanya Dave.


"Dari awal kita bertemu di taman, aku sudah tahu kalau kamu ganteng. Tapi semakin dewasa, kamu semakin bertambah ganteng." Sevia tersenyum seraya menatap lekat suaminya.


"Via, jangan melihat aku seperti itu! Aku tidak bisa mengontrol diri saat melihat tatapan mesumm kamu," ucap Dave dengan menutup mata Sevia dengan telapak tangannya.


Tak lama kemudian, pelayan pun mengantar pesanan mereka. Sevia langsung saja menghabiskan mie ayam baksonya. Sementara Dave menghabiskan SOP buahnya berdua dengan Devanya.


"Dave, temani aku makan bakso boom-nya. Gede banget, aku ngeri liatnya." Sevia hanya membolak-balik bakso yang memenuhi satu mangkuk penuh.


"Tadi pengen banget tapi pas sampai sini aku ingin makan mie ayam," jawab Sevia.


"Sudah sini aku suapi! Deva sama mama dulu ya, Papa mau suapi mama makan dulu." Dave pun memberikan putrinya pada Sevia.


Setelah Devanya berada di pangkuan istrinya, Dave segera membelah bakso yang besar itu menjadi potongan-potongan kecil. Kemudian dia pun mencicipinya. Merasa enak di lidah, akhirnya pasangan suami istri itu makan bakso boom satu mangkuk berdua.


...***...


Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Dave dan Sevia tiba di villa peninggalan Tuan Satya saat hari sudah menjelang sore. Sevia yang baru pertama kali melihat hamparan perkebunan teh yang hijau, membuat dia tidak berhenti berdecak kagum. Apalagi, sinar jingga menghiasi angkasa membuat ibu muda itu begitu terpana dengan pemandangan yang dilihatnya.


"Sayang, ayo masuk, sebentar lagi gelap!" ajak Dave. "Devanya sudah dibawa masuk oleh Bu Lina. Mungkin sekarang sedang mandi," lanjutnya.

__ADS_1


"Dave, indah sekali pemandangannya. Aku suka sekali melihat perkebunan teh itu," ucap Sevia.


"Syukurlah! Kamu tahu, sejauh mata memandang, perkebunan teh ini milik kita. Tapi untuk saat ini, masih dalam pengawasan Putra group," ucap Dave.


"Dave aku tidak pernah menyangka akan menikah dengan brondong tajir sepertimu. Aku pikir hanya akan jadi simpanan kamu saja." Sevia melihat ke arah suaminya yang berdiri tepat di belakangnya.


"Aku juga tidak pernah menyangka akan tergila-gila dengan Tante mesumku. Makasih Via, sudah memberi warna dalam hidupku." Dave langsung memeluk istrinya erat. Dia merasa beruntung karena sudah memiliki istri yang dicintainya.


"Aku yang harusnya berterima kasih padamu, Dave. Kamu yang telah membawa aku keluar dari keterpurukan karena dia. Andai kita tidak bertemu waktu itu, mungkin setiap hari aku terus meratapi nasibku." Sevia membalikkan badannya lalu kakinya sedikit menjijit seraya menarik kerah Dave.


Cup


Satu kecupan mendapat sukses di bibir merah yang sedikit tebal itu. Mendapat kecupan dari istrinya, Dave pun tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan menahan tengkuk Sevia. Indra pengecap Dave menerobos masuk mengabsen isi rongga mulut istrinya. Kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu saling bertukar saliva bersamaan dengan sang Surya yang kembali ke peraduan. Menyadari langit sudah mulai gelap, Dave dan Sevia pun saling melepaskan pagutannya.


"Ayo masuk, nanti kita lanjut di kamar," ajak Dave dengan napas yang masih memburu.


Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada seorang gadis muda yang terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh pemilik villa. Sebenarnya dia akan mengantarkan makanan untuk makan malam majikannya. Namun, siapa sangka, dia malah melihat pemandangan yang membuatnya terus menelan ludah berkali-kali.


"Beruntung sekali wanita itu, aku ingin sekali merasakan ciumannya yang bergairah."


...~Bersambung~...


Sambil nunggu up, baca juga karya Bestie othor. Ceritanya keren abis



...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih!...


__ADS_2