Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 126 Masakan Spesial


__ADS_3

Dahsyatnya perkembangan teknologi, membuat penyebaran informasi semakin cepat sampai ke penjuru dunia. Bukan hanya di dalam negeri video Vita yang sedang marah-marah dan mengancam selingkuhan Adjie, tetapi sampai ke negeri tetangga.


Meskipun keesokan harinya video itu seperti lenyap tertelan bumi, tetapi trending topik tentang seorang putri penguasa yang arrogant melekat pada kedua putri Bambang Winata. Begitupun trending topik suami takut istri langsung melekat pada sutradara muda itu.


Dave hanya tersenyum puas saat melihat banyak wartawan yang memburu ke kediaman Winata. Dia pun berencana untuk membeberkan tentang penculikan yang dilakukan oleh putri bungsu Keluarga Winata. Namun, Harry yang mengetahui rencana Dave, langsung mengingatkan sahabatnya.


"Dave, sudahlah! Kamu sudah cukup membuat Keluarga Winata kelimpungan. Jangan bermain-main dengan mereka. Ingat, sekarang kamu sudah memiliki anak dan istri. Pikirkan mereka, sebelum kamu bertindak lebih jauh," pesan Harry.


Dave hanya diam, dia sedang mencerna apa yang dikatakan oleh sahabatnya. Sampai pada akhirnya, diapun angkat bicara. "Kamu benar Harry, Aku tidak boleh ceroboh dan terlalu mengikuti napsu. Ada Sevia dan Devanya yang selalu menunggu kepulangan aku di rumah."


"Ayo kita pulang, sudah jam empat! Aku kangen dengan anak dan istriku," ajak Harry.


"Harry, apa sekarang kamu sudah mencintai Rani?" tanya Dave dengan dengan menatap lekat sahabatnya.


"Entahlah, Dave. Aku bingung mengungkapkan perasaanku. Aku hanya merasa nyaman bersama Rani. Selain ini, aku mendapatkan apa yang aku inginkan dari diri Rani," ungkap Harry.


"Tanya hatimu, seberapa besar kamu menginginkan Rani berada di sisimu. Meskipun benar kalau cinta tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata, tetapi seorang perempuan butuh sebuah ungkapan untuk meyakinkan hatinya kalau dia berharga untuk pasangannya." Dave berbicara panjang lebar seperti seorang guru yang sedang menasehati muridnya.


"Aku masih belum yakin dengan perasaanku," elak Harry.


"Ck! Giliran di tempat tidur saja, kamu sangat yakin untuk membuka semua baju Rani," seloroh Dave.


"Pasti, Dave. Kalau tidak aku buka, bagaimana aku bisa menikmati keindahan dunia yang hanya aku sendiri pemiliknya." Harry pun ikut menimpali candaan Dave.


"Sudahlah, ayo kita pulang! Kita berlomba, siapa yang bisa lebih dulu menghamili istri kita," ajak Dave dengan berdiri dari duduknya.


"Rani memakai alat kontrasepsi. Tidak mungkin dia hamil dalam waktu dekat. Lagipula, kasihan jika dia harus mengurus tiga bayi," ungkap Harry.


"Bukan tiga, Bro! Tapi empat, Bukannya kamu bayi besarnya Rani yag harus dinina bobokan kalau malam?" tanya Dave.


"Benar juga kamu, Dave. Aku tidak bisa tidur kalau Rani masih sibuk dengan kedua anakku."


Kedua sahabat itu terus saja berbincang sampai tanpa terasa, mobil mereka sudah sampai di depan rumahnya. Dave yang melihat ada sebuah mobil di halaman rumahnya, dia sedikit mengeryitkan dahinya.


"Harry, siapa yang bertamu? Sepertinya itu mobil keluaran terbaru," tanya Dave.


"Mana aku tahu, aku kan dari tadi bersamamu," jawab Harry.


Dave yang merasa penasaran dengan si pemilik mobil tersebut, dia pun segera bergegas turun saat Harry sudah mematikan mesin mobilnya. Dave meebarkan langkahnya agar segera sampai ke ruang tamunya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," ucap Dave.


"Wa'alaikumsalam," sahut Elzio yang sedang duduk di ruang tamu dengan memainkan ponselnya.


"Zio, kamu bawa mobil sendiri ke sini?" tanya Dave kaget. " Apa, Tante mengijinkan?" lanjutnya.


"Tentu saja! Lihat Bang, sekarang aku sudah punya SIM, jadi bebas mau main ke mana saja." Elzio memperlihatkan kunci mobil dan kartu SIM yang dia miliki.


"Wah, adik Abang sudah besar rupanya. Kamu, memang sudah tujuh belas tahun?" tanya Dave.


"Abang, aku ke sini sengaja mau minta kado ulang tahun aku. Bang Dave selalu tidak ingat kalau tidak aku ingatkan," gerutu Elzio.


"Iya maaf! Kamu mau hadiah apa dari Abang?" tanya Dave.


"Aku ingin tahu rahasia agar bisa mendapatkan wanita dewasa," jawab Elzio dengan mata berbinar.


"Maksud kamu?"


"Ayolah Bang Dave, Bang Har, bagi rahasianya bisa dapetin Tante! Aku tiap hari telat agar dipanggil guru BK tapi ibu guru itu sama sekali gak respon perasaan aku. Aku harus gimana?"


Dave dan Harry saling berpandangan mendengar penuturan Elzio. Mereka tidak menyangka kalau adiknya itu benar-benar menyukai gurunya.


"Dia gagal dalam pernikahannya yang pertama, karena apa? Karena dia memaksakan perasaannya pada orang yang tidak mencintainya. Abang hanya mau bilang sama kamu, carilah orang yang mau menerima kita apa adanya." Dave menepuk pundak Elzio.


"Apa benar, Bang Har?" tanya Elzio.


"Iya, Zio. Sekarang Abang malah bahagia saat menikah denagn perempuan yang bisa menerima apapun keadaan Abang. Jangan ikuti jejak Abang!" Harry tersenyum getir saat mengingat pernikahannya dengan Nadine yang hanya menyisakan luka di hatinya. Untung saja, kehadiran Rani mampu menutup luka yang menganga itu.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu seorang gadis yang mampu menggetarkan hatiku dan bisa menerima aku apa adanya," ucap Elzio lesu.


"Semangat, Bro! Kamu masih muda, mending kita rayakan ulang tahunmu dengan makan-makan. Ayo pilih mau makan di mana, kita pasti turuti! Atau kamu mau masakan spesial dari kakak ipar?" Dave memberikan penawaran pada Elzio.


"Memang masakan spesial kakak ipar apa, Bang?" tanya Elzio.


"Mie rebus!" kompak Dave dan Harry sambil terkekeh


Pada akhirnya, perayaan ulang tahun Elzio dengan masakan spesial selera Nusantara. Elzio yang memang jarang sekali memakan mie instan, dia nampak bersemangat saat mencium aroma mie yang menusuk hidungnya. Dia pun terlihat tidak sabar untuk segera mencicipi masakan spesial kakak iparnya.


"Wah, Bang! Kalau di rumah, kita pasti gak dikasih ijin makan mie seperti ini. Apalagi kalau Papa yang melihat, pasti dia mendadak cerewet seperti emak-emak," cerocos Elzio saat sudah ada satu mangkuk mie rebus di depannya.

__ADS_1


"Makanya, mumpung gak ada papa kamu. Kamu nikmati sepuasnya," ucap Dave yang mulai memakan mie rebus di depannya.


Setelah selesai makan mie bersama, Elzio pun langsung pamit pulang karena Icha terus menelpon putra bungsunya. Ibu paruh baya itu selalu khawatir jika saat matahari sudah condong ke barat tetapi Elzio belum sampai di rumahnya.


Sementara Dave langsung menuju ke kamarnya bersama dengan Sevia. Papa muda itu langsung menuju ke balkon rumahnya untuk menikmati langit senja, sedangkan Sevia pergi untuk membersihkan dirinya. Dave yang merasa sangat lama menunggu kedatangan istrinya, akhirnya dia pun kembali masuk ke dalam kamar.


"Rupanya dia sedang mandi, kenapa tidak mengajak aku," gumam Dave.


Dave langsung masuk ke dalam kamar mandi yang tidak dikunci. Nampak jelas Sevia sedang membilas tubuhnya di bawah guyuran air shower. Dengan wajah yang menengadah ke atas dan kedua tangan yang terus mengusap lembut dari pipi sampai rambutnya.


Pria bermata biru itu mengulas senyum bahagia, dia pun segera membuka bajunya tanpa suara. Dia berjalan perlahan dan langsung memeluk Sevia dari belakang, yang sukses membuat istrinya terkaget dan membalikkan badannya menghadap suami brondongnya. Kini posisi mereka saling berhadapan tanpa penghalang sehelai benang pun.


"Ayo lanjutkan mandinya, jangan merasa terganggu dengan kehadiranku," bisik Dave yang langsung mengikis jarak di antara mereka.


"Dave, aku sudah mau selesai."


"Tidak apa, ayo kita selesaikan bersama-sama."


Dave pun langsung meraup candunya, tanpa menunggu persetujuan dari istrinya. Tangannya terus mengelus tiap titik sensitif Sevia sehingga wanita muda itu, mau tidak mau mengeluarkan suara merdu yang mampu membakar gairah Dave. Setelah sama-sama tidak bisa membendung hasratnya, permainan di bawah air shower pun mereka lakukan sampai tuntas.


"Via, kamu selalu bisa membuatku melayang seperti mabuk kecubung," goda Dave.


"Dave yang benar saja, masa kamu samain aku dengan kecubung." Bukannya senang, Sevia malah merengut tidak suka mendengar godaan dari suaminya.


"Memang kamu ingin aku samain dengan apa?" tanya Dave seraya membilas tubuhnya setelah selesai sesi percintaan dengan Sevia.


"Dengan wine ke atau Vodka mungkin."


Mana bisa aku mabuk minum minuman seperti itu, aku kan udah biasa meminumnya.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...


Sambil nunggu Dave, melipir ke cerita keren yang satu ini yuk!


__ADS_1


__ADS_2