
Hari-hari terus berganti waktu pun terus berlalu. Kini Devanya sudah bisa beraktivitas seperti biasa lagi. Dia pun akhirnya memilih untuk menjadi sekretaris Keano untuk mengusir kejenuhan agar bisa melupakan kesedihannya.
Tidak jauh beda dengan Devanya, Diandra pun bekerja bersama dengan suaminya. Hubungan dia yang semakin membaik dengan Davin, membuat Diandra menjadi pawang Davin saat mereka berada di kantor. Karena begitu banyak gadis yang selalu mencari perhatian bos mudanya.
Sementara Devan dan Orion, mereka memilih untuk berpetualang cinta. Meskipun tidak sampai melakukan one night stand dengan gadis yang mereka kencani. Tetapi setiap hari, kedua sahabat itu selalu mengajak bersenang-senang pada gadis yang berusaha mendekatinya.
Sangat berbeda dengan Gavin, yang setiap harinya disibukkan dengan pekerjaan dan mengunjungi Nadine di rumah sakit. Apalagi, saat harus memenuhi keinginan mamanya yang sedang hamil tua, membuat pemuda itu mau tidak mau memenuhi keinginan mama sambungnya itu.
Seperti saat ini, ketika Gavin dan Dave sedang meeting bersama dengan Klien penting, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Awalnya dia mengabaikan panggilan telepon dari Rani, tetapi ponselnya terus-menerus bergetar. Membuat dia menjadi tidak konsentrasi. Dave yang menyadari semua itu, akhirnya menyuruh Gavin dengan kode mata agar mengangkat panggilan teleponnya terlebih dahulu.
"Permisi, Tuan! Saya menerima panggilan telepon dulu. Sepertinya ada hal penting," pamit Gavin pada klien.
"Silakan Tuan Gavin! Tidak perlu sungkan jika memang ada hal yang penting," suruh Klien.
"Terima kasih!" sahut Gavin seraya menjauh dari tempat mereka meeting.
Saat sudah menemukan tempat yang aman, Gavin pun segera menggeser tombol hijau di layar ponselnya. Hingga terpampang jelas wajah Rani di layar ponsel.
"Hallo, Mah. Ada apa?" tanya Gavin.
"Gavin, pulang jam berapa?" tanya Rani di seberang sana.
"Seperti biasa. Kenapa memangnya, Mah?"
"Nanti pulang beli sop janda dulu ya yang di Kalimalang sama bebek sambal ijo. Mamah ingin sekali makan itu."
"Iya, Mah. Gavin usahakan. Memang Daddy lagi kemana?"
"Ada, Daddy kamu sedang tidur. Dia baru pulang dari showroom."
"Oh! Gavin tutup telpon dulu ya, Mah. Lagi meeting dengan klien."
"Astaga! Kamu sedang meeting? Mama pasti ganggu. Maaf ya, Vin." Rani langsung memasang muka melas. Entah kenapa, kehamilannya yang sekarang membuat dia menjadi manja.
"Iya, gak apa Mah. Gavin tutup ya!"
Klik
Setelah mengakhiri sambungan teleponnya, Gavin langsung memasukkan kembali ponselnya. Dia hanya menghela napas saat teringat mamanya yang sedang hamil besar.
"Padahal ada papa, tapi mama senang sekali pesan makanan yang ada di sini. Kenapa tidak tinggal di sini saja? Biar aku pun tidak usah bolak-balik Cikarang-Jakarta," gumam Gavin
Setelah selesai urusannya dengan Rani, Gavin pun kembali ke meja tempat dia meeting. Namun, sepertinya Dave sudah berhasil meyakinkan klien yang ingin berinvestasi di Perusahaan AP Technology. Sehingga saat dia kembali, klien-nya sudah bersiap untuk pergi.
"Semoga kerjasama kita berjalan dengan baik," ucap Dave.
__ADS_1
'Iya, Mr. Dave. Saya sangat senang bisa bekerjasama dengan perusahaan Anda. Kalau begitu saya permisi." Setelah mereka saling berjabat tangan, klien Dave pun akhirnya pergi.
Kini tinggallah Dave dan Gavin yang baru datang ke sana. Dave melirik sekilas ke arah Gavin yang terlihat gusar. Dia pun hanya mengulas senyum pada putra sahabatnya itu.
"Kenapa, Vin? Apa ada yang penting?" tanya Dave.
"Itu, Om. Mama pesan untuk dibelikan makanan," jawab Gavin dengan menundukkan kepala. Dia merasa tidak enak hati saat harus meninggalkan meeting di tengah jalan.
"Oh! Turuti saja keinginannya. Hitung-hitung kamu belajar, jadi pas nanti kamu sudah memiliki istri, tidak akan kaget jika harus menghadapi ibu hamil yang terkadang moodnya selalu berubah. Belum lagi keinginannya yang banyak," ucap Dave.
"Iya, Om. Untung yang diminta masih ada di daerah sini. Jadi aku tidak susah mencarinya," ucap Gavin.
"Yuk, kita langsung pulang saja! Tidak usah pergi ke perusahaan dulu. Sebentar lagi sudah masuk jam pulang kerja," ajak Dave.
"Iya, Om. Kalau begitu, aku mau mencari pesanan mama dulu." Wajah Gavin langsung bersinar mendengar ajakan dari Dave. Dia sangat senang karena akhirnya bisa pulang cepat.
Setelah keduanya keluar dari restoran tempat mereka meeting. Dave dan Gavin pun mengendarai mobil yang berbeda. Karena tadi Dave menelpon supir kantor agar mengantarnya pulang ke rumah. Karena sudah pasti Gavin akan berkelana dulu mencari pesanan mama sambungnya.
...***...
Jalanan yang macet tidak menjadi penghalang untuk Gavin agar cepat sampai di rumah. Dia mendadak menjadi tidak sabaran, rasanya Gavin ingin cepat-cepat sampai dan memberikan makanan pesanan Rani.
Setibanya di rumah, pemuda tampan itu menjadi ikut panik saat melihat Daddynya keluar rumah dengan menggendong Rani. Dia melihat darah yang menetes membasahi tangan Harry.
"Vin, cepat masuk mobil lagi! Mama mau melahirkan," suruh Harry panik.
"Harry, sakit ...," rintih Rani saat mereka dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.
"Sabar, Sayang. Yang kuat Sayang demi anak kita," ucap Harry cemas. "Gavin, percepat mobilnya!"
"Iya, Dad. Sebentar lagi sampai," ucap Gavin.
Dia semakin mempercepat laju kendaraannya. Hingga saat di persimpangan jalan, dia mendadak menghentikan laju kendaraannya. Sampai suara gesekan ban dan aspal terdengar begitu nyaring di telinga.
Cekittt
"Gavin kenapa?" tanya Harry yang kaget.
"Maaf, Dad! Ada mobil yang memotong jalan," ucap Gavin.
"Harry, perutku sakit ... Ah ...." Rani terus saja merintih kesakitan.
Keringat dingin keluar membasahi wajahnya. Harry semakin panik saat istrinya terlihat begitu kesakitan. "Gavin, tolong telepon Tante Allana, agar disiapkan ruang bersalin untuk mama kamu. Tadi Daddy lupa belum menghubungi rumah sakit."
"Iya, Dad." Gavin langsung saja menghubungi Allana seraya menjalankan mobilnya kembali. Dia pun meminta tolong padanya untuk menyiapkan segala sesuatu untuk kelahiran adiknya.
__ADS_1
Tidak berapa lama kemudian, Gavin membelokkan mobilnya menuju ke lobby rumah sakit. Di sana dia disambut oleh Allana dan beberapa orang perawat yang menunggu kedatangannya. Harry merasa beruntung memiliki putri bos seperti Allana yang selalu sigap saat dimintai pertolongan.
Setelah Rani masuk ke ruang bersalin, Harry dan Gavin menunggu di luar. Ayah dan anak itu nampak gelisah menunggu Rani yang masih diperiksa oleh dokter. Hingga akhirnya datang pembantu rumahnya membawa tas keperluan Rani dan papper bag di tangannya.
"Maaf, Mister. Ini baju untuk Mister," ucap Mimin.
"Baju? Untuk baju ganti?" tanya Harry dengan mengerutkan keningnya.
"Anu Mister. Bukankah Mister hanya memakai kaos singlet dan celana kolor? Aku pikir, Mister butuh baju dan celana yang pantas." Mimin cengengesan khawatir tuannya akan marah.
"Ya Ampun, Dad! Kenapa aku baru sadar sekarang, kalau Daddy tidak berpakaian dengan benar," ucap Gavin dengan menepuk jidatnya.
Harry yang sedari tadi kurang koneks dengan apa yang dikatakan oleh pembantunya, dia pun langsung melihat ke seluruh tubuhnya. Benar saja apa yang dikatakan oleh Mimin dan Gavin. Dia pergi ke rumah sakit hanya memakai kaos singlet dan celana kolor. Dia pun langsung mengambil papper bag yang mimin berikan dan memakai baju yang dibawa pembantunya itu.
Flashback on
Harry yang sedang tidur begitu terkejut saat mendengar teriakan Rani. Sehingga dia langsung berlari menuju ke arah asal suara. Sampai di sana, dilihatnya Rani yang jatuh terduduk di depan kamar mandi. Harry pun langsung memburu tubuh istrinya. Apalagi, dia melihat darah dari pangkal paha Rani.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Harry cemas seraya mengangkat tubuh istrinya.
"Harry, sakit ...."
"Sabar, Sayang. Kita ke rumah sakit sekarang," panik Harry.
Dia pun tergesa-gesa turun ke lantai bawah. Harry yang panik, tidak memperdulikan dengan penampilannya. Yang ada di pikirannya, secepatnya harus sampai di rumah sakit.
Setibanya di bawah, Harry berteriak pada pembantu dan supirnya, "Mimin, Asmo, Nyonya mau melahirkan. Cepat siapkan mobil!!!"
Namun, saat tiba di luar, ternyata Gavin baru saja datang dari tempat kerjanya.
Flashback off
"Dad, gak di kamar mandi pakai bajunya?" tegur Gavin.
"Urgent, Vin. Daddy khawatir mama kamu segera melahirkan," ucap Harry dengan tidak menghentikan tangannya yang sedang memakai celana.
Baru saja Harry selesai memakai bajunya, pintu ruang bersalin ada yang membukanya dari dalam. Nampak seorang dokter keluar dari ruangan.
"Suami Nyonya Rani," panggil dokter itu.
"Iya, Dok. Saya sendiri," sahut Harry seraya menghampiri dokter itu.
"Maaf, Tuan. Kami butuh persetujuan Anda untuk tindakan operasi. Bayinya harus segera dikeluarkan untuk menghindari keracunan ketuban."
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....