Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 9 Senang dan Sedih


__ADS_3

Pagi ini langit terlihat sangat cerah, secerah hati Orion yang sedang berbunga-bunga. Dia terus teringat dengan kejadian semalam saat pulang dari taman hiburan. Ah ... entahlah Orion merasa seperti menang omset sebulan tembus tiga belas digit.


Flashback On


Saat mobil Orion sudah sampai di depan rumah Devanya, pemuda tampan itu tidak segera membukakan pintu mobil. Akan tetapi, dia duduk menghadap Devanya setelah dia membuka selt belt. Devanya yang sudah siap akan turun ari mobil, akhirnya meminta Orion membukakan kunci mobil dulu.


"Ion, ayo buka kuncinya! Pasti papa udah nungguin," pinta Devanya.


"Vanya, memang kamu gak ada niat untuk berterima kasih sama aku?" tanya Orion.


"Makasih Ion udah nganter aku," ucap Devanya.


"Bukan seperti itu. Memang kamu tidak punya cara lain untuk berterima kasih padaku?" tanya Orion.


"Mau aku traktir? Kalau mau besok aku traktir makan Bakso di kedai Mas Paijo," tawar Devanya.


"Aku gak mau bakso yang harganya cukup dua puluh ribu. Energi yang aku keluarkan tidak sebanding dengan semangkuk bakso," tolak Orion.


"Lalu kamu mau apa? Mau siomay atau cilok?"


"Bukan itu yang kau mau. Kamu cukup pejamkan mata. Setelah itu, aku anggap kamu sudah berterima kasih padaku," ucap Orion.


"Baiklah kalau cuma tutup mata," ucap Devanya.

__ADS_1


Cuma tutup mata aja dipake syarat terima kasih. Dasar Orion, batin Devanya.


Gadis bermata biru itupun langsung menutup matanya. Dia mau mengalah agar Orion cepat-cepat membuka pintu mobilnya. Sampai akhirnya dia merasakan sapuan lembut di bibirnya. Devanya akan bicara, tetapi Indra pengecap Orion sudah terlebih dahulu menerobos masuk ke dalam rongga mulutnya. Meskipun dia berusaha untuk melepaskan diri tetapi Orion sudah menahan tengkuknya dan memperdalam ciumannya. Sampai akhirnya suara ketukan di kaca jendela mobil Orion mengagetkan keduanya. Orion dan Devanya pun saling melepaskan diri.


Nampak satpam di rumah Devanya berdiri di samping mobil Orion. Sedari tadi Pak Kumis memperhatikan mobil Orion yang terparkir di luar gerbang. Namun setelah menunggu lumayan lama, tidak ada orang yang kunjung turun dari dalam mobil. Orion pun segera turun dari mobilnya dan menemui Pak Kumis.


"Mas Ion, gak dibawa masuk aja mobilnya?" tanya Pak kumis.


"Aku mau langsung pulang aja, Pak. Sudah malam banget," ucap Orion.


Sementara Devanya langsung berlari masuk ke dalam rumahnya tanpa berkata apapun pada Pak Kumis. Sementara satpam itu hanya tersenyum melihat anak majikannya yang nampak malu karena kepergok.


Flashback off


"Kak Ion, tampan sekali hari ini. Pulang dari kampus kita jalan yuk, Kak! Udah lama loh kita gak jalan bareng," ajak Felisa dengan merangkul tangan Orion.


"Sorry! Aku udah ada acara. Next time aja ya!" sahut Orion dengan melepaskan tangan Felisa.


"Kak Ion gak asyik! Sekarang mah sering menolak kalau aku ajak jalan," sungut Felisa.


"Aku sibuk kerja sambil kuliah, Fellisa. Sebentar lagi harus nyusun skripsi, jadi gak ada waktu untuk main-main lagi," kilah Orion. "Aku duluan! Bentar lagi bel," pamitnya.


Orion pun segera berlalu pergi tanpa menunggu Fellisa berbicara. Dia semakin mempercepat langkahnya, saat melihat Diandra yang berjalan sendirian dari arah kantin tanpa Devanya.

__ADS_1


"Dian, tumben Vanya gak ikut?" tanya Orion celingukan.


"Dia gak masuk kuliah. Tadi malam pergi ke luar negeri bersama kedua orang tuanya," jawab Diandra.


"Apa katamu, ke luar negeri? Tadi malam aku pulang nganterin dia," tanya Orion kaget.


"Iya! Malah papa yang nganterin mereka ke Bandara," sahut Rani.


Apa Om Dave tahu, kalau semalam aku mencium putrinya, sehingga dia segera mengirim Devanya ke luar negeri? Kenapa tidak menegur aku dulu? Tapi malah langsung menghukum aku, ratap hati Orion.


"Dian, kamu tahu alamat Vanya di sana?" tanya Orion.


"Aku tidak tahu. Aku hanya tahu kalau mereka berangkat ke luar negeri semalam," jelas Diandra.


Ah sial! Om Dave ternyata tidak main-main dengan apa yang dia katakan. Aku harus bagaimana? Pokoknya, aku harus bisa merayu Om Dave agar memberikan alamat Vanya di sana, tekad hati Orion.


Diandra melirik Orion yang seperti sedang melamun. Dalam hati dia ingin tertawa melihat ekspresi bocah tengil itu yang terlihat merana. Namun, sebisa mungkin Diandra menyembunyikannya agar Orion tidak merasa tersinggung.


Kasian juga melihat wajah Ion yang frustrasi seperti ini. Tapi biarlah, sekali-kali ngerjain tukang iseng, batin Diandra.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih!...


__ADS_2