Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 127 Wanita Yang Hebat


__ADS_3

Malam semakin larut pesta semakin meriah. Zee dan para sahabatnya begitu asyik bercengkrama. Melepaskan kerinduan yang selama ini tersimpan di hati. Memang semenjak Zee memutuskan untuk ikut tinggal bersama suaminya di luar negeri. Sahabatnya yang masih ada di negeri ini jadi jarang berkumpul. Mereka larut dalam kesibukannya masing-masing.


"Aku gak nyangka Ion bisa move secepat itu dari Devanya. Padahal setahuku, dia begitu tergila-gila pada gadis bermata biru itu," celetuk Arfaaz.


"Apa?" tanya Kejora dan Edelweiss.


"Sudahlah, Ar! Mereka memang gak berjodoh. Aku juga awalnya berpikir kalau Deva akan jadi menantuku tapi ternyata mertua aku punya calon yang lain," ucap Zee getir. Dia teringat saat dulu Orion tiba-tiba dibawa ke rumah oleh mertuanya.


Mereka berdebat sengit karena perihal Orion yang dekat dengan Devanya dan membawa gadis itu ke penthouse. Hingga akhirnya, dia hanya bisa mengalah karena keputusan Tuan Zidan untuk mempercepat perjodohannya Orion tidak terbantahkan.


"Mungkin kalian memang diharuskan untuk jadi saudara. Seperti Dave sama kamu," ucap Kejora.


"Sudah jangan bahas yang sudah lalu, nanti ada yang salah paham. Lebih baik kita bernyanyi bersama yuk! Buat kenang-kenangan kalau persahabatan kita tidak lekang oleh waktu," ajak Zee.


"Ajak Dave juga, kita nostalgia saat-saat kita masih kecil hingga SMA, kita selalu bersama," timpal Barra


Akhirnya ke-enam sahabat itu bersuka cita dia atas panggung kecil. Mereka bernostalgia mengenang masa mudanya dulu. Tanpa berpikir kalau pasangan mereka yang tidak mengerti dengan hubungan persahabatan yang mereka jalin akan menyimpan rasa cemburu.


Seperti yang dirasakan oleh Sevia. Meskipun dia tahu Dave dan Zee hanya bersaudara. Tetapi saat melihat mereka terlihat begitu dekat, sudut hatinya seperti ada yang tercubit.


"Tenang Via, mereka hanya sahabat. Lebih baik aku ambil minum saja." Sevia langsung berlalu pergi untuk mengambil minuman. Hingga dia bertemu dengan seorang pelayan yang akan membawa minuman untuk pengantin, dia asal mengambilnya begitu saja.


"Maaf Mas, saya haus sekali," ucap Sevia seraya menyimpan kembali gelas di atas nampan.


Pelayan itu hanya meringis, karena minuman yang baru saja diminum oleh Sevia itu pesanan khusus dari mempelai wanita. Apa boleh buat, dia tidak bisa mencegahnya. Saat Sevia langsung mengambil gelas itu dan meminumnya.


Pelayan itu langsung berlalu pergi menuju ke tujuannya semula. Meninggalkan Sevia yang mulai merasakan pening di kepalanya. Hawa panas mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dave yang baru datang.


"Dave, tanganmu dingin sekali. Aku suka," ucap Sevia.


Dave mengerutkan keningnya. Dia menangkap gelagat yang tidak biasa dari istrinya. Satu tangannya kembali terulur ke untuk mengecek suhu badan Sevia dengan menempelkannya di kening wanita itu.


"Normal," gumam Dave.

__ADS_1


"Nyaman sekali, Dave." Sevia tersenyum nakal pada suaminya.


Astaga, apa Sevia salah minum? Lebih baik aku booking kamar saja. Aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan, batin Dave.


Dave pun langsung mem-booking kamar. Dia bergegas membawa Sevia ke kamar hotel. Baru saja dia menutup pinta kamar, Sevia sudah berusaha untuk membuka bajunya.


"Panas sekali, Dave. Aku gak kuat! Hanya tangan kamu yang terasa nyaman," keluh Sevia dengan terus membuka bajunya satu persatu.


Dave hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya melihat apa yang istrinya lakukan. Dia pun segera membuka semua baju yang dipakai. terlihat jelas badan kekarnya dengan roti sobek yang menghiasi perut dan dadanya.


Melihat semua itu, Sevia langsung melemparkan tubuhnya ke pelukan Dave. Dia terus meraba semua bagian yang ingin disentuhnya. Dengan bibir yang terus menyusuri badan kekar suaminya. Semakin bawah, semakin bawah sampai pada sebuah jalur keturunannya, Dave menahan tangan Sevia yang memaksa ingin mengeluarkan pusakanya.


"Tunggu dulu sayang! Tadi kamu minum apa?" tanya Dave.


"Aku tidak tahu, Dave. Sudah kamu diam saja, aku sudah gak kuat," Sevia langsung mendorong tubuh Dave pada kasur empuk.


Pada akhirnya, Dave hanya membiarkan apapun yang Sevia lakukan di atas tubuhnya. Dari goyang patah-patah, goyang ngebor sampai goyang dombret. Hot Daddy itu hanya menikmati dengan melenguh keenakan. Bersahutan dengan suara lenguhan, erangan Sevia yang begitu bersemangat bergoyang. Entah berapa kali mereka mendapatkan pelepasan, hingga akhirnya sepasang suami istri itu sama-sama ambruk dan tertidur pulas.


Di saat yang sama, Keano terlihat begitu panik saat melihat ada darah yang keluar dari jalan lahir bayinya. Dia pun segera menggendong Devanya dan membawanya ke mobil. Dia bergegas membawa istrinya ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, dia hanya diam melihat keadaan istrinya yang terus merintih kesakitan.


"Sabar, Sayang. Abang udah menghubungi Mommy agar mempersiapkan segala sesuatunya." Tangannya terus mengelus lembut perut istrinya.


Setibanya di rumah sakit, Dokter Daniela sudah menunggu kedatangan mereka. Devanya pun langsung di bawa ke ruang bersalin yang khusus disiapkan untuk Devanya. Ruangan itu sengaja disiapkan jauh-jauh hari saat mengetahui Devanya tengah berbadan dua. Bahkan alat-alat medis pun serba baru.


"Tuan, silakan tunggu dulu di luar. Kami akan memberikan tindakan pada Nyonya," ucap salah seorang perawat.


"Aku tidak ingin jauh dari istriku!" sahut Keano dingin.


Pria tampan itu tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh perawat. Dia terus menggenggam tangan Devanya yang berbaring di atas brangkar. Kepanikan dan kecemasan hatinya dia balut dengan aura dingin yang keluar dari tatapan matanya. Membuat semua tenaga medis yang akan membantu proses persalinan Devanya bersikap sangat hati-hati.


Ya Tuhan, jangan sampai aku melakukan kesalahan. Pasti akibatnya akan fatal, doa perawat dan dokter yang membantu Devanya


Setelah salah seorang perawat memasang infus serta transfusi darah di tangan kiri Devanya. Dokter Daniela pun memeriksa jalan lahir bayi. Dia berusaha untuk agar tidak terjadi pendarahan.


"Sudah pembukaan tujuh. Mungkin sebentar pagi," ucap Dokter Daniela seraya membantu memperlebar jalan lahir bayi.

__ADS_1


"Bang sakit," keluh Devanya saat kembali kontraksi. Di mencengkeram kuat tangan suaminya.


Keringat dingin membasahi seluruh wajahnya. Sebisa mungkin Devanya menahan sakit yang tak terkira. Namun, tetap saja pada akhirnya dia hanya bisa meneteskan air mata saat kontraksi sudah sering terjadi.


Kembali Dokter Daniela memeriksa jalan lahirnya. Dia mendapati kalau Devanya sudah pembukaan lengkap. Dengan mengarahkan Devanya untuk bersikap tenang dan mengatur napasnya, Dokter Daniela mulai memandu Devanya untuk mengejan.


"Ayo, Nyonya! Rambut bayinya sudah kelihatan," ucap Dokter Daniela.


Devanya pun kembali mencoba mengeluarkan bayinya dengan sekuat tenaga. Keano yang berada di sisinya hanya menangis dalam diam melihat perjuangan istrinya. Dengan hati yang terus berdo'a meminta kelancaran dan keselamatan istri anaknya.


Saat Devanya sudah terlihat kelelahan karena sudah empat kali berusaha mendorong bayinya. Namun, sepertinya masih belum bisa mengeluarkan bayinya, dokter pun menyarankan untuk Caesar. Selain dia khawatir pada pasien, dokter pun khawatir karier nya terancam jika memaksa persalinan normal.


"Tidak dokter! Beri aku kesempatan sekali lagi," pinta Devanya dengan napas yang tidak teratur.


"Sayang, kita ikuti saja apa yang dokter katakan. Aku tidak tega melihat kamu kesakitan," lirih Keano.


"Tidak, Bang! Kasih aku kesempatan sekali," kekeh Devanya.


"Bagaimana, Tuan?" tanya Dokter Daniela.


Keano hanya menganggukkan kepalanya. Dia tidak ingin mengecewakan istrinya. Meskipun berat, akhirnya Keano menyetujui keinginan Devanya.


Dengan memberi kode pada perawat, Dokter Daniela mulai memandu kembali Devanya untuk mendorong bayinya sekuat tenaga. Kali ini, perawat pun ikut membantu dengan mendorong di bagian perut atas Devanya. Hingga akhirnya, saat Devanya mengejan panjang. Seorang bayi perempuan terlahir dengan membawa adiknya yang kedua kakinya sama-sama terlilit oleh ari-ari.


Oek ... Oek ... Oek ...


Terdengar suara tangis bayi yang saling bersahutan. Kelahiran bayi kembar dengan selisih satu menit, membuat semua orang terus mengucapkan rasa syukur. Keano yang begitu bahagia dengan kelahiran anak-anaknya, langsung menciumi wajah istri dengan air mata yang tidak bisa dia bendung lagi.


"Terima kasih, Sayang! Kamu wanita yang hebat."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2