
Hari yang terik ini, terasa sangat indah, bagi seorang gadis yang baru saja keluar dari sebuah gedung bertingkat di tengah pusat kota metropolitan. Diandra sangat bahagia karena lamaran kerjanya langsung diterima di perusahaan start-up yang baru di datanginya. Dia pun dengan tergesa membawa sepeda motor maticnya agar cepat sampai di rumah.
Dengan bersenandung kecil, dia memasuki rumah Devanya. Namun, keningnya mengerut saat melihat mobil Keano masih ada di halaman rumah Devanya. Diandra pun tidak ingin ambil pusing, sehingga gadis manis itu mempercepat langkahnya agar segera bertemu dengan mamanya.
"Mama, Dian diterima Mah. Mulai besok, Dian sudah mulai kerja." Diandra begitu heboh saat memberitahu Rani.
"Syukurlah, Mama sangat senang mendengarnya."
"Mah, Kalau Dian sudah dapat gaji, bagaimana kalau kita tinggal terpisah dengan Tante Via. Dian merasa tidak enak kita terlalu lama tinggal di sini," ucap Diandra langsung berubah sendu.
"Mama juga ingin kita pisah rumah, tapi Dian lihat sendiri bagaimana kondisi Mama. Sabar ya, lihat Mama sudah bisa berdiri sendiri!" Rani pun perlahan berdiri dari kursi rodanya.
Dia sangat bersyukur, obat yang diberikan oleh Keano mempercepat kesembuhannya. Ditambah lagi, Harry sengaja mendatangkan seorang dokter spesialis syaraf yang handal. Meskipun Rani sebenarnya ingin berpisah dari suaminya, tapi dia menahannya karena mengingat Diandra yang belum lulus kuliah ditambah lagi kondisi yang masih dalam tahap penyembuhan.
"Mah, apa Mama akan baikan dengan Daddy?" tanya Diandra hati-hati.
"Sayang, sekarang kita mengalah dulu dengan keadaan. Tunggu sampai kamu lulus dan keadaan Mama membaik, kita keluar dari rumah Tante Via dengan baik-baik."
"Iya, Mah. Mungkin sebulanan lagi," ucap Diandra.
Kedua ibu dan anak itu saling bercerita seperti seorang sahabat. Sampai tidak menyadari ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka. Orang itu pun kemudian pergi setelah cukup lama berdiri di depan pintu kamar Rani.
Dian, kamu ingin pergi dari rumah ini? Maka aku akan mengikuti kamu ke mana pun kamu pergi. Jangan harap, aku akan melepaskan kamu begitu saja, tekad hati Davin.
...***...
Sementara di sebuah kamar dengan nuansa pastel, nampak sepasang muda-mudi yang sedang tertidur lelap. Keano yang memutuskan untuk tidak pergi ke kantor, akhirnya tertidur di kursi dengan kepala yang menelungkup di atas tempat tidur.
Namun, kelelapannya terganggu saat sinar mentari sore menerobos masuk lewat celah jendela. Keano pun membuka matanya dan terbangun dari posisi tidurnya. Dia tersenyum saat melihat Devanya yang masih tertidur lelap.
Berapa lama aku tidur, bisa-bisanya aku tidur pulas di sini. Untung saja Om dan Tante tidak ada. Aku bisa malu jika mereka melihatku tertidur di kamar putrinya, batin Keano.
Saat Keano sedang asyik menikmati kecantikan wanita yang dicintainya. Tiba-tiba pintu kamar Devanya ada yang membukanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Orang itu sepertinya sangat bersemangat untuk bertemu dengan gadis bermata biru itu.
"DEVA AKU DITERI ... Ma kerja," teriak Diandra yang masuk tanpa permisi. "Eh, Bang Ano masih di sini. Gak kerja, Bang?" lanjutnya.
__ADS_1
Mendengar teriakan sahabatnya, Devanya pun langsung membuka matanya. Dia seperti orang linglung, hanya melongo melihat Keano dan Diandra ada di kamarnya.
"Abang jagain Deva. Bagaimana wawancaranya?" tanya Keano.
"Alhamdulillah diterima," jawab Diandra dengan wajah yang berbinar.
"Bang Ano belum pulang?" tanya Devanya.
"Belum, Abang gak tega tinggalin kamu sendiri. Apa sekarang sudah baikan?" tanya Keano.
"Sudah, Bang. Makasih udah jagain!" jawab Devanya.
"Sudah jadi kewajiban Abang menjaga kamu. Kalau begitu Abang pamit mau ke kantor dulu," ucap Keano dengan melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangan kirinya.
"Udah sore, masih mau ke kantor, Bang?" tanya Diandra.
"Iya, Abang berangkat sekarang ya! Kalau ada apa-apa hubungi Abang saja," pesan Keano sebelum akhirnya dia pergi.
"Makasih, Bang!" teriak Devanya saat Keano sudah berada di ambang pintu.
"Ya ampun Dev, jantungku copot."
"Iya, jantungku juga terasa mau copot. Gila senyum Bang Ano manis banget! Lebih manis dari madu. Opa-opa koreak mah lewat," seru Devanya histeris.
Dia lupa kalau sekarang kalau sekarang pangeran berkuda putihnya itu sudah menjadi tunangannya. Dia dan Diandra memang selalu bereaksi berlebihan jika berkaitan dengan Keano. Apalagi, senyum Keano yang mahal itu mendadak diobral pada mereka.
"Dian, kalau si bunga kampus lihat senyum Bang Ano, sudah pasti dia pingsan di tempat," seloroh Devanya.
"Apalagi, kalau dosen genit itu. Pasti dia langsung klepek-klepek," timpal Diandra.
"Berarti kita gadis yang beruntung dari sekian banyak gadis yang ingin dekat dengan Bang Ano," ucap Devanya.
"Kamu yang beruntung, Deva. Kamu kan calon istrinya," cebik Diandra.
"Iya, yah. Apa keputusan aku sudah benar ya, dengan menerima pertunangan itu dan melepaskan Ion? Aku jadi inget sama Ion, sudah lama kita gak ketemu lagi semenjak pergi ke karaoke." Devanya mendadak sendu saat teringat dengan Orion
__ADS_1
Kesibukannya membuat laporan magang dan coba-coba menulis novel di platform online, membuat dia sedikit melupakan lelaki yang selalu menghantuinya.
"Sudahlah, Deva. Lebih baik kamu ikuti kata mama papamu. Lagipula, mereka memilihkan calon suami yang baik dan perhatian. Lihat saja! Kamu sakit sedikit saja, dia sampai tidak masuk kerja," uca Diandra.
"Bang Ano memang perhatian tapi Orion membuat hidupku seperti rollercoaster. Kadang dia baik, bikin baper tapi seringnya nyebelin dan bikin kangen,"ucap Devanya.
"Sudahlah! Sekarang kamu ucapkan selamat sama aku, mulai besok aku sudah mulai kerja." Wajah Diandra begitu berseri-seri. Dia sangat bahagia karena akhirnya bisa mendapatkan uang dari hasil kerjanya.
"Selamat Dian, aku bahagia mendengarnya. Semoga kamu segera mendapatkan jodoh di tempat kerjamu," ucap Devanya.
"Aamiin. Semoga CEO-nya masih muda dan jomblo biar bisa aku pacari," ucap Diandra dengan terkekeh.
"Jangan hanya dipacari Dian, tapi langsung dikawinin aja. Ha-ha-ha ...." Kedua gadis itu tertawa bersama sampai seorang pemuda tampan yang lewat di depan kamarnya langsung ikutan nimbrung.
"Ketawain apaan sih Kak? Seneng banget kayaknya," tanya Devan yang akan muju ke kamarnya.
"Anak kecil mau tahu aja. Ini urusan orang dewasa," tukas Devanya.
"Yey, umurku saja yang masih kecil tapi aku sudah bisa membuat anak kecil. Tanya saja sama Kak Dian, apa setiap malam Davin membuat anak kecil bersamanya?"
Diandra langsung merona mendengar apa yang Devan katakan. Meskipun dia dan Davin tidak melakukan apa-apa, tapi bocah itu selalu menyelinap masuk ke kamarnya dan tidur bersama dia sampai pagi.
"Maksud kamu apa?" sentak Devanya.
"Gak maksud apa-apa. Sudahlah aku mau mandi, sebentar lagi cewekku datang," tukas Devan.
"Dian, bisa jelaskan?" selidik Devanya.
Diandra menghela napas dalam sebelum dia menjawab pertanyaan sahabatnya. "Davin sering menyelinap masuk ke kamar aku."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1