Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 66 Belajar Gombal


__ADS_3

Kata orang cinta itu gila. Seperti apapun seorang manusia yang terlihat nyaris sempurna, saat dia hadapkan dengan sebuah nama keramat yang bernama cinta, terkadang orang itu bisa saja berbuat konyol.


Seperti yang dilakukan oleh Keano saat ini. Dia begitu tergesa menuju ke ruangannya. Sampai pemuda tampan itu melupakan hal penting yang harus dia lakukan saat akan masuk ke ruangannya.


Keano terus menerus mencoba membuka handle pintu. Namun, sedikit pun pintu ruangannya tidak mau terbuka. Hingga Hayden datang menyusulnya setelah mengantarkan Tuan Zyan. Asisten pribadinya itu hanya diam memperhatikan apa yang Keano lakukan.


"Kenapa ruangannya tidak mau terbuka? Apa pintunya rusak?" gumam Keano.


"Bukan pintunya yang rusak, tapi otak kamu yang sedang tidak biak-baik saja. Kenapa kamu melupakan hal ini?" Hayden langsung menyimpan telapak tangannya dan melakukan pemindai retina sebagai akses agar bisa masuk ke ruangan sahabatnya.


Tanpa bicara lagi, pemuda tampan itu langsung masuk ke ruangannya. Namun, saat baru sampai di ambang pintu, dia kembali menghentikan langkahnya. "Den, kamu tidak perlu masuk!"


"Ck! Giliran ada gadis itu, aku dilupakan! Sahabat macam apa kamu?" sungut Hayden seraya kembali ke ruangannya.


Pintu ruangan Keano kini kembali tertutup rapat dengan mengaktifkan akses darurat yang berarti tidak ada yang boleh masuk selain dirinya. Keano pun langsung menghampiri Devanya yang sepertinya tertidur di kursi kebesaran miliknya.


"Damai sekali tidurnya, tapi aku harus membangunkannya," gumam Keano.


Keano mendekat berniat untuk membangunkan Devanya. Namun, baru saja dia membungkukkan badannya, Devanya sudah bangun terlebih dahulu.


"Bang Ano," panggil Devanya.


Keano yang terkejut dengan apa yang Devanya katakan, dia pun langsung menetralkan perasaannya dan bicara. "Ayo kita keluar! Abang sudah menyiapkan tempat makan siang untuk kita."


...***...


Kini pasangan calon pengantin itu sedang berada di sebuah butik dengan cafetaria yang berada di lantai atasnya. Keano sengaja mengajak Devanya ke sana karena dia akan menyuruh calon istrinya untuk memilih model baju pengantin yang diinginkan oleh Devanya.


"Bang, kita ke sini mau makan apa mau beli baju?" tanya Devanya heran


"Dua-duanya. Kita makan dulu habis itu fitting baju. Tante Ara masih ada tamu," jelas Keano.


"Bang, kenapa Abang suka sekali siomay dan batagor. Bukannya orang kaya lebih suka makanan yang berkelas?" tanya Devanya heran saat melihat piring di depan Keano.


"Kata siapa? Abang lebih suka masakan rumahan. Apalagi siomay, mommy dan papi juga sangat menyukainya."


"Padahal Abang sepuluh tahun belajar di negeri Paman Sam tapi tidak melupakan makanan dari sini."


Keano hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Devanya. Dia tidak langsung menjawab karena mulutnya sudah penuh dengan makanan.

__ADS_1


Tentu saja tidak lupa, karena oma membuka restoran khas negeri ini di sana. Agar semua keluarganya yang mengelola perusahaan Ji-Sung dan JS Group yang ada di sana bisa melepaskan kerinduannya pada tanah air, batin Keano.


"Jangankan makanan, seorang gadis yang selalu marah-marah karena dikerjai oleh temannya pun tidak bisa Abang lupakan," gombal Keano.


"Idih Abang gombalnya gak ketulungan," ledek Devanya.


"Cocok gak?" tanya Keano.


"Cocok apaan?" Bukannya menjawab, Devanya justru balik bertanya.


"Abang lagi belajar biar pintar gombalin kamu," ucap Keano.


"Ya ampun, Bang. Ngapain belajar segala hal yang gituan?" Devanya memutar bola matanya malas.


"Abang tidak mau kamu kecewa karena Abang tidak pandai merayu perempuan," jelas Keano. "Kata Om El perempuan itu akan mudah lulur jika dirayu," lanjutnya.


"Jangan dengerin Om kamu, Ano. Sebenarnya yang paling disukai perempuan itu, dimengerti oleh pasangannya. Dijadikan tempat untuk saling bertukar pikiran dan dimanja oleh pasangannya," serobot Arabella yang baru saja datang bergabung.


"Tante!" panggil Keano


"Lanjutkan saja makannya, Tante juga mau makan siang dulu. Lapar!" Arabella tersenyum manis saat matanya bertatapan dengan mata Devanya yang kaget dengan kedatangannya yang tiba-tiba.


"Siang, Vanya!" sahut Arabella. "Apa kedatangan Tante mengganggu kalian?" lanjutnya.


"Tidak kho, Tan. Kita kan sama-sama makan siang." ucap Devanya.


"Syukurlah! Tante khawatir mengganggu kencan calon pengantin," ucap Arabella. "Bukan begitu Ano?"


Tante memang menggangguku, tapi aku pun tidak bisa meminta tante untuk berpindah meja, batin Keano.


Mereka pun makan dalam diam sampai akhirnya Arabella berbicara. "Vanya, Tante senang kamu bisa menjadi bagian dari Keluarga Wiratama."


"Makasih, Tan."


"Sayang sekali putra Tante lamban merebut hati perempuan. Padahal dia sangat menyukai kamu," ungkap Arabella.


"Mungkin bukan jodohnya, Tan." Devanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Arabella.


"Tante, bisa dipercepat sedikit makannya? Aku masih ada meeting satu jam kemudian," tanya Keano.

__ADS_1


"Gak sabaran banget sih ponakan Tante."


Akhirnya mereka pun mempercepat makan siangnya. Keano sengaja pura-pura ada meeting karena takut Devanya terpengaruh dengan ucapan Arabella dan memutuskan untuk membatalkan pernikahan mereka yang tinggal satu bulan lagi.


Setelah memutuskan konsep apa yang akan dipilihnya, Keano pun langsung membawa Devanya pergi dari butik peninggalan eyangnya. Dia tidak kembali ke kantor tetapi membawa Devanya ke lokasi syuting pembuatan iklan untuk perusahaannya.


Namun saat sampai di sana, Devanya sangat terkejut melihat Luna yang menjadi bintang iklannya. Apalagi, Orion juga ada di sana menemani tunangannya. Devanya pun memilih diam dan berpura-pura tidak melihat mereka.


"Masih belum bisa move on," bisik Keano saat melihat raut wajah Devanya.


"Maksud Abang?" tanya Devanya.


"Abang tidak maksud apa-apa. Ayo kita ke sana! Hayden sudah menunggu," ajak Keano.


Benar saja apa yang Keano katakan, Hayden sedang melambaikan tangannya agar Keano mendekatinya. Tiba di sana, assisten-nya itu langsung membicarakan kendala di lokasi syuting.


"Bos, fotomodel cowoknya berhalangan hadir. Aku tidak bisa mengambil keputusan tanpa persetujuan bos," adu Hayden.


"Apa tidak ada pengganti yang pas untuk menggantikannya?" tanya Keano.


"Ada, Bos. Kalau gak Bos sendiri, aku rasa Orion bisa dipakai untuk pengganti model pria." Hayden melirik ke arah Orion yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Aku tidak bisa. Orion juga pasti tidak akan mau," ucap Keano.


"Kenapa gak bos aja dengan Deva. Biar gak usah bayar model iklan," usul Hayden.


"Jangan becanda, Den!" tukas Keano.


"Boleh tuh, Bang! Tapi aku minta bayaran yang mahal," celetuk Devanya yang sedari tadi diam memperhatikan pembicaraan dua pria tampan itu.


"Deva, Abang ...." Keano menghentikan ucapannya sejenak, lalu dia melirik ke arah Orion yang sedang bersama dengan Luna. "Baiklah! Tapi aku tidak mengijinkan Deva memakai baju yang terbuka."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like comment vote rate gift dan masukin favorite....


...Terima kasih....


Sambil nunggu Brondong update, yuk melipir ke karya teman othor yang luar biasa ini.

__ADS_1



__ADS_2