Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 141 Cinta Tak Bersyarat


__ADS_3

Senyum mengembang di kedua sudut bibir Dave. Dia sangat senang karena bisa mendapatkan apa yang istrinya inginkan. Dengan semangat empat lima, Dave pun menuju ke ruang perawatan Sevia bersama dengan Harry.


Namun, senyuman yang cerah secerah sinar mentari mendadak redup saat Dave membuka pintu kamar inap istrinya. Tangannya langsung terkepal tatkala dia melihat Andika ada di sana sedang duduk di kursi pinggir bed Sevia.


"Sedang Apa kamu di sini???" Suara Dave menggelegar memenuhi ruangan. Dia tidak suka mantan kekasih istrinya itu dekat-dekatan dengan Sevia.


"Mr. Dave, Anda apa kabar???" Andika langsung berdiri untuk menyambut kedatangan mantan bosnya itu. Namun, saat dia mengulurkan tangannya, Dave tidak menggubrisnya.


Mata Dave nyalang seperti ingin mencabik-cabik mantan kekasih istrinya. Dia tidak terima, saat dirinya tidak ada, Andika malah menemui Sevia.


"Terima kasih sudah menjaga istriku, kamu sudah boleh pergi," ketus Dave mengusir Andika.


Mendapatkan pengusiran dari Dave, Andika hanya tersenyum kecut. Dia tidak menyangka, kalau Dave akan bersikap posesif pada mantan kekasihnya.


"Baiklah, Via aku pergi dulu. lain waktu kita mengobrol lagi kalau sudah tidak ada penggaggu." Andika langsung pergi dengan senyum miring meremehkan sikap Dave yang seperti ketakutan mainannya akan direbut.


Setelah kepergian Andika, Dave segera menghampiri Sevia yang sedang duduk menyender ke kepala ranjang.


"Bagus ya, suami keluar cari makanan yang kamu inginkan, sedangkan kamu asyik berduaan dengan mantan pacar," sarkas Dave dengan melipat tangan si dada.


"Bukan seperti itu, Dave. Kamu jangan salah paham. Dia datang sendiri ke sini.


Katanya istri dia mau melahirkan," jelas Sevia.


"Lalu Rani ke mana? Apa sengaja nyuruh dia keluar agar kamu berduaan dengan dia?" tuduh Dave.


"Dia membeli obat. Tadi disuruh oleh dokter untuk menebus obat agar cepat fit kondisi akunya," jelas Sevia.


"Oke kali ini aku mengerti. Tapi tidak lain kali. Ingat Via, aku tidak mengijinkan kamu berhubungan dengan lelaki manapun tanpa seiijinku." Dave langsung memberi ultimatum pada Sevia.


"Iya, sayang. Tadi kan aku tidak bisa mengindar karena aku tidak boeh jalan ke mana-mana. Jangan marah lagi ya!" pinta Sevia.


"Iya, tapi kamu tetap saja tidak boleh menanggapi ucapannya. Kamu harus dihukum Sevia." Dave langsung mecodongkan badannya ingin meraup candunya.


Namun, Rani dan Harry yang baru masuk ke dalam kamar inap, menggagalkan keinginan pria bermata biru. Dave pun hanya mendengus kasar karena keinginannya tidak tercapai.


"Sayang, sabar ya!" Sevia mengelus lengan kekar itu dengan lembut. Membuat semua kekesalan hati Dave seperti menguap entah ke mana.


"Ayo, buburnya di makan! Apa mau aku suapi?" tanya Dave menawarkan diri pada istrinya.


"Sayang, aku hanya sakit perut. Tangan dan kakiku masih bisa aku gunakan," sahut Sevia.


"Baiklah kalau tidak mau aku suapi," ucap Dave.


Akhrnya keempat orang dewasa itu makan bersama dengan lahap. Setelah selesai makan, Harry dan Rani pun pamit pulang karena anak-anaknya sudah mulai rewel ingin mimi susu.

__ADS_1


...***...


Tiga hari sudah Sevia berada di rumah sakit. Kini kondisinya sudah benar-benar membaik. Dokter pun sudah memperbolehkannya pulang.


"Via, tadi Harry bilang mau jemput kita pas jam makan siang. Soalnya sedang meeting penting dengan klien," ucap Rani seraya membereskan barang-barang sahabatnya.


"Iya gak apa-apa. Rani, apa tidak sebaiknya kita naik taksi saja. Rumah kita kan gak jauh dari rumah sakit," ucap Sevia.


"Jangan, Via! Kami kan tahu seperti apa suami kamu. Kita tunggu saja, jangan cari masalah," sahut Rani.


"Ya udah deh, aku mau tidur dulu. Kamu juga mending tidur saja sini samping aku!" ajak Sevia pada Rani.


"Gak akh, aku mau nonton gosip saja," tolak Rani.


Sevia pun langsung memejamkan matanya kembali. Sementara Rani asyik menonton televisi. Sampai terdengar sebuah lagu lawas dari soundtrack film yang ditonton oleh Rani.


Tak ada sedikitpun sesalku


Tlah bertahan dengan setiaku


Walau diakhir jalan


Kuharus melepaskan dirimu


Dulu, saat aku begitu berharap untuk bisa bersama dengan kamu. Kamu malah dengan terang-terangan mengkhianati aku dengan sahabat aku sendiri. Sekarang, di saat aku sudah bahagia dengan lelaki lain yang mencintai aku, kamu meminta aku untuk kembali. Kamu sangat telat mengungkapkan penyesalan kamu karena semua itu sudah tidak berarti lagi buatku, batin Sevia.


Sevia terus larut dalam pikirannya, sampai tanpa dia sadari sudah ada seseorang yang sedang duduk memperhatikannya.


Cup


Sevia langsung membuka matanya saat merasakan ada benda kenyal yang dingin menempel di pipinya. Dia sangat kaget saat melihat orang yang ada si depannya.


"Andika, apa yang kamu lakukan?" tanya Sevia kaget.


"Tidak ada. Aku hanya ingin mengucapkan salam perpisahan sama kamu. Mungkin, kita tidak akan bertemu lagi. Via, aku hanya ingin mengatakan sama kamu, kalau aku sangat menyesal telah meninggalkan kamu." Andika menghentikan ucapannya sejenak seraya mengambil napas dalam dan menghembuskan-nya.


"Aku terlambat menyadari perasaan aku, kalau kamu perempuan yang sangat berarti dalam hidupku. Aku harap, kamu akan selalu bahagia bersama suami dan anak-anakmu. Via, aku mencintaimu. Aku mencintai sahabat yang selalu bisa aku andalkan. Maafkan aku atas semua kesalahanku."


"Aku sudah memaafkan semua kesalahan kamu, Di. Aku harap kamu juga bahagia bersama dengan anak dan istrimu yang sekarang."


"Makasih, Via! Saat kamu pulang kampung, berkunjunglah ke rumahku dan cari kotak beludru yang berwarna hitam di laci meja belajar aku. Itu hadiah ulang tahun kamu yang tidak sempat aku berikan. Aku pergi ya! Jaga dirimu baik-baik!"


Andika langsung pergi begitu saja tanpa melihat pagi ke arah Sevia. Membuat Sevia terus memanggil namanya.


"Andika tunggu! Andika tunggu!" Sevia terus saja memanggil nama Andika membuat Rani yang sedang menonton televisi menjadi kaget.

__ADS_1


"Via bangun! Kamu pasti mengingau." Rani menggoyangkan tangan Sevia agar sahabatnya itu terbangun dari tidurnya.


Sevia yang terbangun dari tidurnya langsung mengerjap-kan matanya. Dia melihat ke sekeliling ruangan mencari sosok yang tadi dia temui.


"Via, kamu mimpi apa? Kenapa manggil nama Andika? Nanti kalau Dave tahu, dia bisa uring-uringan lagi."


Tanpa menjawab pertanyaan dari Rani, Sevia malah balik bertanya. "Rani apa tadi Andika datang ke sini?"


"Andika? Aku dari tadi nonton televisi, gak ada yang datang ke sini," jawab Rani


"Tadi dia datang pamit sama aku. Dia juga nyuruh aku main ke rumahnya dan mengambil sebuah kotak," tutur Sevia


"Sudahlah! Ayo kita bersiap, Harry dan Dave sudah jalan dari kantor menuju ke sini," ujar Rani.


Iya, mungkin tadi aku hanya bermimpi, batin Sevia.


Tak berselang lama kemudian, Dave dan Harry datang dengan wajah yang tegang. Mereka langsung meminum air mineral yang tersedia di atas nakas.


"Dave, kamu kenapa tegang begitu? Apa dikejar wanita jadi-jadian?" tanya Sevia.


"Bukan, tadi ada kecelakaan di perempatan depan rumah sakit. Mobil minibus tertabrak mobil tronton saat akan berbelok ke arah sini," jelas Harry. "Katanya korban meninggal di tempat," lanjutnya.


"Kasian sekali," ucap Sevia.


"Cepat sekali sudah masuk televisi saja. Lihat mobilnya sampai penyok gitu," tunjuk Rani.


"Rani, bukankah itu mobil-mobil Andika. Aku-aku-aku ingat plat nomornya," ucap Sevia dengan napas tersengal saat dia melihat plat mobil yang penyok itu.


"Apa??? Andika??!!" pekik Rani.


"Ma-ma-maksud kamu, mantan kekasih kamu itu?" tanya Dave memastikan.


"Iya, berarti tadi dia benar datang ke sini dan berpamitan padaku," lirih Sevia dengan air mata yang mengalir di pipinya. Dia terus teringat kata-kata perpisahan yang diucapkan oleh Andika.


Dulu, aku juga sangat mencintaimu, Di. Cintaku tanpa syarat padamu. Tapi sekarang hatiku telah memilih untuk mencintai suamiku. Semoga kamu tenang berada di alam sana. Selamat jalan cinta pertamaku, selamat jalan sahabatku, semoga Husnul khotimah.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite...


...Terima kasih!...


Sambil nunggu Brondong up, yuk mampir juga ke karya Author Jblack yang keren ini.


__ADS_1


__ADS_2