
Melihat istrinya menangisi kematian mantan kekasihnya, hati Dave merasa tidak terima. Dia berpikir kalau cinta Sevia masih untuk mantannya itu. Meskipun tubuhnya dia yang memiliki.
"Hapus air matamu! Jangan menangisi lelaki lain di depanku!!!" sentak Dave.
Sevia mendongak ke atas melihat wajah suami brondongnya yang sudah merah padam. Dia tidak mengerti kenapa Dave bisa marah. Sampai berbicara dengan nada seperti itu padanya. Sementara Rani yang mengerti dengan apa yang terjadi, langsung berbisik pada sahabatnya.
"Via, jangan menangisi Andika di depan Dave. Lihat dia cemburu," bisik Rani.
Mendengar apa yang Rani katakan, Sevia pun langsung menghapus air matanya dengan ujung baju yang dipakainya, sehingga sedikit tersingkap ke atas dan memperlihatkan sedikit bagian perutnya.
"Sevia!!!" Dave langsung menghampiri istrinya dan menghalangi pandangan Harry pada Sevia.
Kenapa lagi nih brondong, dari tadi marah-marah mulu, sungut Sevia dalam hati.
"Rani, ayo bawa barang-barangnya! Kita ke parkiran duluan sambil urus administrasinya," ajak Harry yang sudah merasa Dave sedang tidak bisa mengontrol emosinya. Dia tidak mau ikut kena dampak kekesalan sahabatnya.
Setelah kepergian Harry dan Rani, Dave pun langsung mengungkung istrinya, membuat Sevia menjadi bingung dengan sikap suaminya.
"Via, apa selama ini kamu tidak mencintaiku? Kenapa kamu masih menyimpan nama orang itu di hatimu? Apa tidak bisa hanya aku saja yang memenuhi ruang dalam hatimu? Aku tidak suka ada nama lelaki lain di hati kamu, karena hatiku pun sudah dipenuhi oleh namamu." Dave terus meluapkan isi hatinya. Dia sangat tidak suka jika Sevia mengingat mantan pacarnya apalagi sampai menangisinya.
"Dave maafkan aku! Aku menangis karena merasa kasihan dia harus berakhir tragis. Kamu tahu, istrinya baru saja melahirkan. Kasihan anak-anaknya masih kecil sudah yatim," jelas Sevia dengan menatap dalam ke manik biru suaminya.
"Dave, dari semenjak kita bersama lagi, aku sudah memantapkan hati kalau kamu pelabuhan terakhir cintaku. Apalagi sekarang kita akan punya anak kembar, lebih baik kita fokus pada mereka daripada harus cemburu buta yang menguras hati."
"Baiklah, aku percaya padamu."
Dave langsung mendekatkan wajahnya dan secepatnya meraup candunya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk menyesap dan mengeksplor seisi mulut Sevia. Sampai suara decakan dan decapan itu terdengar merdu di pendengaran dua insan yang sedang berbelit lidah.
"Permisi ...." perawat yang baru datang untuk membereskan kamar dibuat mematung di ambang pintu. Dia menyesal sudah datang di waktu yang tidak tepat. Tetapi, dia merasa sayang jika harus melewatkan pemandangan di depannya. Sampai terdengar suara orang di belakangnya, barulah perawat itu mengalihkan perhatiannya
"Kenapa Anda mematung di situ?" tanya Harry yang baru datang untuk menyuruh Dava agar segera berkemas.
"Maaf Mister, saya menghalangi jalan Anda!" Perawat itu membungkukkan badannya sedikit dan memberi jalan untuk Harry.
Sementara Dave yang mendengar suara orang mengobrol di pintu, dia langsung melepaskan pagutannya. Dave merasa kaget saat melihat Harry dan seorang perawat berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
"Sedang apa kalian di situ? Apa tidak bisa sebelum masuk mengetuk pintu dulu?" tanya Dave.
"Ayo kita pulang, anak-anak nangis di rumah!" Harry tidak menggubris pertanyaan Dave. Dia malah mengalihkannya.
Dave pun langsung memapah Sevia agar duduk di kursi roda. Tanpa bicara lagi, dia langsung berlalu pergi dari kamar inap itu dengan mendorong kursi roda.
"Saya permisi dulu, makasih ya Mbak untuk semuanya!" pamit Sevia pada perawat untuk itu.
"Sama-sama, Mbak. Semoga cepat pulih lagi," sahut perawat itu.
Dave terus mendorong Kursi roda dengan Harry di sampingnya. Sampai pada saat akan berbelok ke arah parkiran, tanpa sengaja mereka bertemu dengan seorang wanita muda yang sedang dipapah oleh wanita paruh baya. Melihat yang Sevia yang sedang duduk di kursi roda, dia pun segera menghentikannya.
"Puas kamu, gara-gara kamu kembali ke kehidupan suamiku, sekarang aku harus kehilangannya. Dasar murahan tidak tahu malu tidak bisa bersyukur. Sudah punya suami tampan juga masih saja menggoda suami orang. Awas saja, aku akan merebut suami kamu!!!" Risa yang terpukul dengan kepergian Andika setelah mereka bertengkar akibat salah paham, membuat dia kehilangan akal dan menganggap Sevia penyebab kematian suaminya.
"Kamu siapa? Aku suaminya Sevia tidak berminat padamu. Sebaiknya kamu menyingkir jangan menghalangi jalanku," tegas Dave.
"Sudah Risa jangan bertengkar di sini! Maaf Mister, putri saya baru kehilangan suaminya," ucap ibu paruh baya itu seraya membawa Risa pergi dari sana.
Setelah kepergian Risa dan ibunya, Dave pun langsung melanjutkan perjalanannya menuju parkiran seraya bertanya, " Via, apa orang tadi istri mantan kamu yang meninggal itu?"
"Iya, Dave. Kita kan sudah pernah bertemu di taman waktu itu," jelas Sevia.
...***...
Kedatangan Sevia disambut meriah oleh orang rumah. Apalagi mendadak Icha datang ke rumah Dave bermaksud untuk mengajak Dave sekeluarga untuk berlibur ke negeri tirai bambu sekalian menjenguk Zee yang baru saja lahiran. Namun ternyata dia mendapati kalau ternyata menantunya sedang sakit dan akan pulang hari ini. Icha pun berinisiatif untuk membuat pesta kejutan menyambut kedatangan Sevia dari rumah sakit.
"Makasih Tante untuk pestanya," ucap Icha.
"Sama-sama, Via. Bagaimana keadaan cucu Tante? Sehat kan?" tanya Icha dengan mengelus lembut perut Sevia yang sudah mulai terlihat menonjol.
"Alhamdulillah sehat, Tan."
"Kak Via beruntung yang membuat pesta kejutannya Mama. Coba kalau Oma Dewi, sudah pasti disawer pake uang koin. Aku juga pernah disawer sama Oma,udah gitu kena kepala lagi," celetuk Elzio.
"Oh ya, memangnya gak pake payung pas disawer? Kalau di kampung Kakak pasti pakai payung," jelas Sevia.
__ADS_1
"Boro-boro pake payung, Oma Dewi hanya asal sawer-sawer aja. Udah gitu, ujungnya minta ganti uang yang bekas saweran."
"Hush! Gak baik ngomongin orang tua, nanti Om Oryza dengar loh," tegur Icha pada putra bungsunya.
"Mama gak seru! Sini Barbie sama Om ganteng saja." Elzio langsung mengambil Devanya dari gendongan mamanya dan membawanya bermain di taman belakang.
"Via, tadinya Tante mau mengajak untuk pergi ke Shanghai besok. Zee lahiran tadi malam, anaknya cowok. Wah Tante jadi bingung nih buat jodohin Deva dengan siapa? Keano apa anaknya Zee ya?"
"Tante, biar mereka yang memilih sendiri. Kita orang tua hanya perlu mengarahkan saja. Lagian, Devanya batu satu tahun."
"Iya seh benar. Tapi Tante sudah tidak sabar ingin melihat anak-anak tumbuh besar. Tante takut tidak bisa melihatnya," ucap Icha sendu.
"Via berharap, Tante panjang umur agar bisa jadi penengah di antara anak-anak kalau terjadi keributan," ucap Sevia.
"Aamiin."
Saat mereka semua larut dengan obrolan satu sama lain, Bu Lina datang dari arah dalam untuk memberitahu kalau makan siang sudah siap.
"Ayo, Tan kita makan siang dulu!" ajak Dave seraya mendorong kursi roda yang Sevia duduki
Semua orang pun mengikuti dari belakang menuju ke meja makan. Kini Semuanya nampak tenang menikmati hidangan yang tersedia. Dave sesekali menyuapi Sevia bergantian dengan menyuapi dirinya sendiri.
"Dave, nanti tolong kamu bantu Om Kevin dan Om Oryza untuk menyiapkan pesta pernikahan Zee. Om akan memboyong Zee kembali ke tanah air. Om tidak tega membiarkan dia mengurus bayinya sendiri. Selain itu, Om tidak mau orang-orang berpikiran buruk pada pernikahan Zee," ucap Al setelah semuanya selesai makan siang.
"Apa Om sudah siap berhadapan dengan Keluarga Winata?" tanya Dave hati-hati.
"Kita tidak bisa terus menerus bersembunyi. Kenyataan itu harus dihadapi bukan dihindari. Lagipula, sekarang mereka sedang mempersiapkan diri untuk maju ke periode berikutnya, sudah pasti mereka akan menjaga image di depan orang-orang."
"Om benar, mungkin sekarang kesempatan kita untuk membongkar kedok keluarga terhormat itu kalau mereka berulah," ucap Dave.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment vote, rate, gift, dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1
...Sambil nunggu Brondong update, yuk kepoin juga karya Author keren yang satu ini...